Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM31. Pilihan dari Canda


__ADS_3

"Aku tak tau, Mas."


Canda hanya menghela napasnya saja. Ia memejamkan matanya, yang terlihat mengantuk menurut Givan. Padahal mereka tengah berbicara akan hal yang serius, tapi respon Canda begitu terlihat tidak peduli.


"Canda, kau tak percaya ke suami sendiri kah? Kenapa respon kau begini?" Givan terus mengamati mata istrinya yang terpejam.


Canda amat penasaran, hanya saja kebenaran itu terdengar seperti bualan semata. Kepercayaan Canda pada suaminya sudah sirna begitu aja.


"Aku tak tau, makanya bingung mau respon apa. Memang Masnya gimana? Terus maunya gimana? Planning kedepannya gimana? Udah pernah kasus begini, kali ini mau terserah aja anaknya mau dihidupi atau dimasak rica-rica. Udah cukup Key, udah cukup Zio. Kalau mau besarin anaknya yang masih di perut orang itu, silahkan bawa juga anak-anaknya yang lain. Aku tak mau pakai nama aku lagi, untuk di akte lahir mereka. Aku tak mau anak Mas yang selanjutnya itu manggil aku biyung, karena itu bukan anak aku. Mas mau pergi ya silahkan. Tapi kalau Mas bertahan di rumah ini, atau bawa ibu dari anaknya ke rumah ini juga, berarti aku yang pergi. Anak kita kan empat nih, sama yang lagi aku kandung. Kita bagi dua aja, yang perempuan silahkan sama Mas. Barangkali mereka nikah butuh wali. Nah yang aku kandung dan anak laki-laki aku, mereka bakal ikut aku pergi. Menurutku, itu cukup adil. Karena aku tak punya hak untuk Key dan Zio, lebih baik mereka ikut ayah biologisnya daripada ikut aku yang orang lain ini. Ceysa pun otomatis aku bawa, karena Mas tak ada hak untuk Ceysa." Canda membuka matanya dan terpejam kembali.


Canda pun tidak mengerti, kenapa mulutnya mengatakan hal demikian. Tapi rasa sesak itu cukup plong, ketika kalimat tegas itu keluar dari mulutnya.


Ia akan menerima semua konsekuensinya, jika akhirnya ia harus menghidupi anaknya sendiri. Pikirnya, biaya pendidikan Ceysa pasti aman dengan peninggalan usaha dari ayah kandungnya. Chandra pun, memiliki usaha sendiri bagian dari ayah kandungnya Ceysa. Sedangkan dirinya, ia akan mengambil alih usaha konveksinya nanti untuk menghidupi dirinya sendiri dan anaknya yang berada di dalam perutnya.


Ia tak mau ambil pusing. Apalagi jika mengingat kandungannya yang lemah karena tekanan darahnya yang cenderung rendah itu, Canda memiliki resiko bayi lahir lebih dini dan berat badan rendah.


"Canda, kau lupa mimpi kita? Mimpi kita udah di depan mata, Canda. Kenapa kau malah milih perpecahan kek gitu?" Givan menepuk pipi Canda pelan, agar mata istrinya terbuka kembali.


"Mimpi kita udah retak, sejak Mas milih untuk ngeluarin milik Mas untuk perempuan lain. Semudah itu kan? Aku juga tak perlu mikir banyak hal, begini-begitu. Aku sayang nyawa aku, aku tak mau mati gara-gara laki-laki kek Mas. Karena Mas pun, semudah itu tak memikirkan tentang perasaan aku dengan tindakan Mas yang tak bisa jaga dirinya sebagai suami aku. Aku malu, karena suami aku kek Mas. Aku merasa tak berguna, karena untuk perkara begituan aja suami cari barang lain. Mas mempermalukan aku secara tak langsung." Canda membuka matanya ketika berbicara. Namun, ia langsung memejamkan matanya kembali ketika selesai berbicara. Canda meredam rasa pedas pada matanya, dengan memejamkan matanya.

__ADS_1


"Canda, aku dendam ke Ai."


Mencari pembenaran yang semakin membuat Canda muak, adalah hal yang tidak berguna menurut Canda.


"Boleh aku dendam sama Mas? Mas perkosa aku, aku tak dapat perlakuan baik, aku tak dapat ekonomi yang baik di awal pernikahan kita, aku tak dapat hunian yang nyaman, aku tak dapat pakaian yang menunjang, perutku lapar, aku bau badan, rambutku tak terurus, kulitku busik, apa boleh aku balas itu semua? Apa ada, aku berlaku tidak baik ke Mas juga? Apa ada, aku balik melakukan kekerasan dalam hubungan ranjang? Apa ada juga, aku tak urusi Mas? Perkara dendam, apa harusnya aku maklumi itu? Jangan banyak beralasan, Mas. Kita udah sama-sama dewasa, Mas mau empat puluh, aku mau tiga lima, masa menyikapi sikap dendam perlu dibenarkan juga? Padahal jelas, dalam agama pun tidak dibenarkan tentang dendam itu."


Givan merasa amat terpukul, dengan ucapan istrinya yang begitu jelas. Ia dibutakan dendam dalam berselimut sakit hati, tanpa sadar dirinya sendiri pun patutnya perlu menjadi sasaran dendam untuk istrinya sendiri. Tapi, tidak dilakukan oleh istrinya. Ia semakin merasa menyesal dan merugi, karena melancarkan rasa dendamnya pada Ai.


"Canda, aku nyesal." Jakunnya naik turun.


"Boleh juga aku nyesel karena milih hidup sama Mas?"


Givan tidak mengerti, kenapa Canda membalikkan semuanya padanya. Ia sadar hari ini, bahwa ia adalah salah satu manusia yang tidak pandai bersyukur. Terlebih lagi, ia malah membesarkan dendamnya dengan tak berhati. Bahkan berniat begitu buruk pada Ai, tanpa memikirkan resiko yang harus ia ambil. Givan begitu fokus, untuk bisa merusak hidup Ai.


"Aku tetap di rumah ini, dengan Mas yang harus angkat kaki dan kita hanya jadi partner orang tua yang baik. Atau Mas yang di rumah ini, dengan aku yang pergi dan mulai bagi anak."


Givan bertambah terpukul, dengan keputusan Canda yang tak berhati tersebut.


"Canda, tandanya itu kita tak sama-sama lagi." Givan amat takut dengan perpisahannya dengan Canda. Akan jadi apa dirinya, jika tidak mendapat doa dari Canda kembali.

__ADS_1


"Itu terserah Mas. Cerai, ya aku jabani. Kita sama-sama, tapi kita tak seatap lagi. Silahkan datang kembali, jika masalah Mas udah selesai. Tapi kalau aku bukan pilihan, dengan Mas nekat bawa dia. Mas siap-siap nunggu surat dudanya sampai. Aku tak mau repot, aku tak mau ikut campur. Kita masing-masing aja," tegas Canda, dengan dirinya mencoba duduk dari posisinya.


"Boleh aku tinggal di rumah anak-anak kita, Canda?" Givan mengikuti Canda yang bangkit dari posisinya.


"Sebaiknya jangan. Aku tak mau anak-anak terbawa-bawa dengan masalah Mas." Canda memegangi kepalanya, karena rasa berputar itu begitu terasa kalau dirinya bangkit dari posisi yang begitu rendah.


"Canda, tapi kita suami istri." Givan mencekal lengan Canda yang akan bangkit dari duduknya.


Canda mengurungkan niatnya. Ia memutar posisinya, kemudian menatap dalam mata suaminya yang merah tersebut.


"Begitu ya? Jadi, mau Mas gimana?" Canda terlihat begitu tidak takut jika Givan akan meninggalkannya.


"Kita serumah, Canda. Kita suami istri yang sah menurut agama ataupun hukum. Untuk apa, suami istri tapi tak serumah lagi? Kenapa aku tak boleh pulang ke istri sendiri?" Givan masih tidak habis pikir, dengan keputusan tidak berhati dari Canda.


Karena hal itu, sudah seperti karma yang begitu besar untuknya. Dari perubahan istrinya saja, Givan sudah tidak merasa bahwa istrinya masih untuknya.


"Masih pantas ya kalau suami istri, tapi suami buat perempuan lain mengandung dengan alasan apapun? Kek yang Mas pernah tawarkan aja. Lebih baik, kita jadi partner orang tua aja setelah ini. Karena aku yakin, lepas masalah ini surut pun, mimpi kita udah tak sama lagi. Dengan kita tak seatap, itu cukup adil biar kita tak saling menyakiti. Aku bebas, Mas pun bebas di luar sana. Kita berkumpul di tempat anak-anak, untuk mendidik anak-anak kita. Lepas itu, Mas bisa pergi dengan kebebasan Mas lagi. Terserah Mas aja sih sebetulnya, Mas mau opsi yang mana? Aku pergi dengan Chandra dan Ceysa dan Mas di rumah dengan orang baru, atau aku bertahan dengan status partner orang tua tapi kita tak serumah."


Pilihan yang membingungkan dan merugikan untuk Givan. Jelas, itu bukan pilihan yang enak untuknya. Itu bukan keadilan yang berpihak padanya. Ditambah lagi, ia kini harus menyelesaikan masalahnya dengan Ai tanpa dukungan dari istrinya.

__ADS_1


Canda sudah tidak peduli dengannya.


...****************...


__ADS_2