Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM129. Penyadaran penuh


__ADS_3

"Terus kenapa Aa bedakan Canda dan perempuan sebelum Canda? Aku tau, aku itu spesial untuk Aa."


Giginya bergemletuk, Givan ingin sekali rasanya mengunyah Ai hidup-hidup dan melepehnya kembali. Ia ingin sekali menyakiti Ai, untuk menuntaskan amarahnya.


"Kan jelas beda, Ai! Canda terikat pernikahan dengan aku, dia istri aku. Mantan-mantan aku, termasuk kau, kan tak aku nikahi. Sespesial apa kau untuk aku? Apa karena perkara aku datang dan minta kau lanjutkan pertunangan kita itu???" Givan sampai menjelaskan setiap kosa kata yang keluar dari mulutnya.


Ai mengangguk samar. Givan masih menjadi fokusnya sekarang.


"Aku tadi udah bilang! Perjuangan aku, ya hanya untuk masa itu. Bukan untuk masa depan, atau masa kita bertemu lagi. Hati orang cepat berubah, kau tak akan tau itu. Harus sekasar apa, aku bilang ke kau? Harus sedetail apa, aku jelaskan ke kau?!!" Mimik wajah Givan sudah amat menakutkan.


Ai masih terus memandang wajah penuh amarah itu. Ia mencoba mencari kebenaran sendiri, dalam wajah rupawan yang tengah menjelma menjadi sosok menyeramkan itu.


"Gini deh, Ai!" Givan mengatur napasnya sejenak. "Kalau aku masih berharap bisa sama kau, cinta dan sayang sama kau. Aku tak mungkin biarkan kau tetap jadi LC, lepas kita pertama kali bertemu itu. Aku bakal tarik kau dari dunia malam, terus aku pekerjakan kau di tempat aku. Nah, itu contoh tindakan aku yang pertama. Tapi, tidak aku lakukan kan?" Givan menunggu persetujuan contoh kecilnya dari anggukan kepala Ai.


Tepat, beberapa saat kemudian Ai mengangguk tanda mengerti dan membenarkan ucapan Givan. Givan berpikir, Ai masih waras dan ada pikiran di dalamnya.

__ADS_1


"Nah, yang kedua begini.... Kau datang ke sini, aku tak mungkin pergi dan hindari kau. Tapi, aku ambil tindakan mengindari kau karena aku tak pernah ingin kau datang dan ada di sini. Mengerti?!!"


Ai mengangguk kembali.


"Dari pengakuan kau yang menjadi korban ini, harusnya aku ini berbelas kasih sama kau. Cuma, aku malah memikirkan bagaimana perasaan istri aku. Aku tak punya pikiran sama sekali, bagaimana kau, tapi yang aku pikirkan bagaimana Canda, anak aku dan Canda yang masih di perutnya dan pernikahan aku dan Canda. Aku tak berhati dan punya hati sama kau, nama kau tak ada di hati aku lagi. Cukup jelas dan mudah dimengerti bukan?" Givan menatap tajam, ia menunggu reaksi Ai.


Dalam beberapa menit, ia hanya terdiam sembari memberanikan diri untuk terus menatap mata Givan. Akhirnya, ia mengangguk mendengar ucapan logis dari Givan.


"Yang terakhir! Kau dengar ini baik-baik dan kau pahami! Kalau aku benar-benar ingin kita sama-sama lagi, udah dari kau datang dan mengaku hamil, harusnya aku udah nikahin kau. Tapi, aku cuma fokus ke Canda. Aku tak mau dia stress, aku bujuk dia, aku berusaha untuk selalu dan selalu mampu untuk dia. Bukan malah ngurus kau, atau urus pernikahan kita. Dengar!!! Harusnya udah dari awal aku nikahin kau, sejak kau bilang kau hamil. Tapi tidak aku lakukan! Paham????" Givan menggoyangkan jarinya di depan wajah Ai.


"Aku tau gimana Aa, aku tau Aa gak mau kesalahan ada di Aa karena tiba-tiba harus nikahin aku. Aa cuma lagi cari timing yang tepat, untuk nikahin aku."


"SEMUA ORANG YANG JATUH CINTA, TAK BAKAL MIKIR KESALAHAN SIAPA DULU KETIKA HARUS MENIKAH DENGAN KEADAAN WANITANYA HAMIL!!!" bentakan keras, cukup memekakkan telinga Ai dan Kenandra.


Kenandra hanya mampu menelan ludahnya, dengan kembali memperhatikan dua orang yang sejak tadi tengah beradu argumen tersebut. Ia tidak berniat untuk pergi, karena khawatir keadaan Givan akan salah jika kembali harus berduaan dengan Ai di dalam ruangan.

__ADS_1


"SEKALI ADA KESEMPATAN, PERNIKAHAN DENGAN KONDISI WANITANYA HAMIL DAN ATAS DASAR CINTA SAMA CINTA. TAK AKAN MEMANDANG DAN MEMIKIRKAN PERASAAN DAN PIHAK LAIN, SELAIN KEPENTINGAN MEREKA PRIBADI! JADI KAU HARUS PAHAM DI SINI, AI!!! BAHWA AKU TAK NIKAHIN KAU, ITU KARENA TAK CINTA SAMA KAU DAN TAK INGIN HIDUP BERSAMA DENGAN KAU!!!"


Seperti melempar Ai di atas gunung kenyataan. Dari tempatnya, Ai bisa melihat perbukitan dan setumpuk alasan Givan yang benar-benar tidak ingin bersamanya. Namun, sayangnya egonya tetap menguasainya.


"Tapi Aa yang buat aku begini." Ai memukul pelan dadanya sendiri.


"Oke! Kalah kau berpikir bahwa aku yang buat kau begini, tapi asal kau ingat bahwa kita dalam posisi jual beli. PSK tak melulu dipakai yang membelinya Ai. Bisa jadi, mereka dijadikan bingkisan ulang tahun sahabat dekat. Bisa jadi mereka jadi pemeriah sebuah acara, atau peringatan hari jadi geng mereka. Sekalipun aku membeli, tapi bukan untuk diri aku sendiri, dengan kata lain kau dipakai teman aku, itu tak masalah, karena kau udah dibeli! Kau penjual dan aku pembeli. Kau minta keadilan??? Dari awal aku siap dihukum, diberi sanksi dan denda. Tapi kau tak mau, karena tuntutan kau cuma pernikahan. Tak ada cerita dengar alur logis, di mana PSK hamil dan dinikahi pembelinya. Terlalu tinggi kau berhalusinasi, terlalu tinggi harapan kau! Pembantu jadi pelakor, hamil dan dinikahi majikan laki-lakinya, itu ada dan logis. Dengan catatan, pembantunya masih muda, cantik, menarik, bukan pembantu seusia mamah aku. Nah, cerita kek gitu logis dan pernah ada itu. Meski, seribu satu cerita kek gitu. Jadi, apa kau udah melek sekarang? Keadilan itu diadili, mendapat kesepakatan bersama, bukan memaksa minta dinikahi! Kau menuntut, tapi konflik yang kau bawa kurang tepat. Lain kali, kalau mau jadi pelakor, minimal logis aja. Masalah cantik, pintar, mungkin itu hanya relatif aja. Yang terpenting logis, masuk di akal, mauan dan memiliki selang*angan yang bersih."


Kini Ai hanya bisa tertunduk. Ia sadar sesadar-sadarnya sekarang. Bahwa, masalah yang ia bawa cukup cacat. Mungkin berbeda ceritanya, jika ia berusaha untuk mendekati Givan kembali sebelum menyerahkan dirinya. Ia hanya berpikir, bahwa mungkin saja cerita Fira dan Givan bisa diadopsi dan mendapatkan kesuksesan jika diperankan olehnya. Sayangnya, tidak. Ia kini hanya menerima malu, terinjak dan dipandang sebelah mata.


Semua yang Givan katakan benar, ia kini kembali mengusap perutnya membayangkan kehidupannya setelah ini. Ia salah langkah dan ia malah memikirkan langkah selanjutnya, untuk bisa mendekati Givan dengan rasa iba padanya.


Dengan adanya anak Givan, Ai berpikir bahwa Givan amat menyukai anak kecil.


"Ya udah, A. Kalau kaya gitu, mungkin jalan terbaiknya kita besarkan anak ini sama-sama."

__ADS_1


Otot tangan Givan langsung menonjol. Tangannya sudah begitu ringan, untuk dilayangkan ke wajah seseorang. Sayangnya, pikirannya masih bisa berpikir sehat. Menghajar wanita yang tidak berdaya seperti Ai, hanya akan menyusahkan dirinya sendiri.


...****************...


__ADS_2