
"Tuh?" Canda langsung merengut kesal, kemudian ia langsung memeluk suaminya.
"Udah pesan tiket, Canda. Sebentar aja kok, nanti tetap ke Lhokseumawe, hadiri pernikahan Shauwi. Besok kan Ceysa dijemput dari Lhokseumawe, kau bisa kangen-kangenan sama Ceysa dulu." Givan menyimpan anak rambut Canda ke belakang telinga Canda.
"Tapi tuh, Mas. Aku kan baru-baru selesai nifas, masih jarang dipakai. Eh, udah ditinggal holiday aja sama Mas."
Givan tertawa renyah, kemudian menciumi wajah istrinya habis-habisan.
"Ya udah, yuk dikuras dulu. Naikin aku, Canda." Givan menghadap plafon kamar, dengan posisi pasrahkan.
"Ayo sih, Canda." Givan menoleh ke arah istrinya dengan sorot tidak sabaran.
"Bosan tapinya, jangan di kamar sih." Canda menginginkan suasana baru.
"Di ruang tamu kah?" Givan terkekeh kecil. Tangannya sudah berkelana, malah ia sudah membuat ASI istrinya merembes ke pakaiannya.
"Di garasi aja yuk?" Canda sudah membayangkan kegiatannya seperti film aksi yang pernah ia lihat bersama suaminya.
"Agak gila kau!" Givan terkekeh geli dengan memencet hidung istrinya.
"Di walk in closet aja deh. Yuk? Tarik sofanya satu." Canda langsung bangkit.
"Menyusahkan aja kau! Malam-malam begini, aku suruh tarik sofa. Di tempat kerja aja yuk? Lama kita tak mau di sofa seluncuran." Givan pun menapakkan kakinya ke lantai.
"Boleh, yuk?" Canda berjalan lebih dulu.
Saat ia keluar kamar, ia menyaksikan ayah mertuanya sudah terlelap di kasur busa lipat yang paling dekat dengan tembok. Perhatiannya teralihkan, karena laki-laki muda yang paling dekat dengan posisinya berdiri, gelagapan menyimpan ponselnya.
"Wah, Kakak bilangin Abang kau nih!" ancam Canda cepat.
Canda sempat melihat, gambar wanita bergerak tanpa busana di ponsel Gibran.
"Apa, Canda?" Givan sudah berdiri di belakang Canda.
"Itu, Mas. Dia lihat film dewasa," adu Canda cepat.
__ADS_1
"Biarin! Suruh pusing sendiri." Givan merangkul istrinya dan berlalu ke ruangan kerjanya.
Ia tidak mau ambil pusing. Ia merasa sudah menasehati adiknya dan menyarankan agar adiknya segera menikah. Harusnya, Gibran perlu menahan dirinya untuk tidak melihat tontonan dewasa sampai pernikahannya. Namun, hal itu sudah seperti kebiasaan untuk Gibran.
"Aku pakai cincin nanti, Canda." Givan mengunci pintu kamar ruang kerjanya.
"Cincin?" Canda memicingkan matanya.
"Alat bantu, biar rasanya agak lain. Cuma was-was sendiri aku ini, takut tak tahan juga." Givan bergerak mencari sesuatu di laci meja kerjanya.
Ia menemukan bungkusan berwarna pink tersebut. Ia langsung memperlihatkan isinya pada istrinya, setelah menyobek bungkusnya. Cincin itu terbuat dari karet, dengan sedikit mahkota yang menjadi pemberi sensasi jika dihidupkan.
"Apa itu?" Canda memerhatikan dengan jeli.
"Coba kau e*** dulu, nanti aku kasih tunjuk sama kau." Givan langsung menurunkan celananya.
"Gantian ya?" Canda mau menurunkan kepalanya.
"Kau tak perlu minta, Canda. Pasti aku kasih timbal balik yang lebih dari yang kau kasih." Givan memasrahkan benda lembeknya. Ia yakin, miliknya tak akan terluka terkena gigi istrinya. Ia yakin, istrinya sudah lihai melakukannya.
Ia memejamkan matanya, mencoba menikmati kepatuhan istrinya. "Cukup, Canda. Udah keras." Givan membantu istrinya bangkit.
"Di bawahnya kepala." Givan mulai memasangkan ke miliknya.
"Loh, kok begitu?" Canda terheran-heran.
"Kenapa? Tak pernah ya? Kasian." Givan tertawa meledek.
Canda mengamati suaminya yang memasukkan pusakanya ke dalam celana lagi. "Kalau begitu sih, ya yang enaknya cuma Mas aja."
"Lah, ya kan nanti masuk ke punya kau. Enak cuma aku aja gimana? Aku yang pakai pun, untuk enakin kau lah." Givan mengangkat tubuh istrinya, lalu mendudukkannya di atas meja kerjanya.
"Katanya mau di sofa seluncuran?" Canda diam saja, ketika suaminya mulai meloloskan penghalang kecil yang ia gunakan.
"Cobain dulu lah, sekali-kali dong kek CEO-CEO yang main di meja kerja." Givan terkekeh dengan menurunkan kepalanya di tengah kaki istrinya.
__ADS_1
"Oke, aku sekretarisnya." Canda menyangga tubuhnya ke belakang.
Meski tindakan kakaknya yang kekaur dari kamar dengan menggiring kakak iparnya mengundang kecurigaannya, tapi Gibran tidak berniat sedikitpun untuk mencari tahu kegiatan apa yang akan suami istri itu lakukan. Ia tahu, sangat tidak sopan untuk mencari tahu tentang kegiatan malam kakaknya.
Ia memilih untuk memejamkan matanya, dengan menghadap ke arah kakaknya yang tidur di antaranya dan ayahnya. Denyutan pada intinya, akan membawanya untuk mandi besar lagi esok hari karena mimpi yang sengaja ia undang.
Pagi ini, Dendi bertolak kembali ke bandara dengan membawa Givan dan Gavin. Kakak beradik itu, akan melakukan perjalanan jauh ke kota Brasilia.
Givan tak lupa mengabari adik iparnya, bahwa ia akan sampai ke Brasilia untuk menyelesaikan masalah Gavin. Seperti kesempatan untuk Ria, ia sengaja datang untuk merasakan kehangatan keluarga yang sebulan lebih tak ia rasakan.
Givan selalu memberi nasehat, agar hati adiknya tegar saat pintu rumah yang ia berikan untuk hunian istrinya dibuka perlahan. Gambaran laki-laki lain, kini ada di depan mata Gavin dan Gibran.
"Oh...." Laki-laki itu rupanya mengenali siapa yang datang.
Ia berbalik dan memanggilkan seseorang. "Ajeng....," serunya dengan lepas.
Tanda mereka tinggal serumah, menandakan bahwa ada tali yang sepertinya tersambung kembali menurut Gavin. Ia tahu Ajeng, perempuan tersebut sangat menjaga dirinya. Padanya pun, Ajeng tidak berani mengambil keputusan untuk tinggal satu atap tanpa pernikahan. Bukan karena alasan itu saja, Givan pun memang tidak berniat sekalipun untuk berzina.
Ketidakpercayaan Ajeng, melihat tamunya yang datang. "Yah...." Anak di dekapannya sudah begitu girang dengan merentangkan kedua tangannya, bersiap menyambut seseorang yang sangat ia kenal saat ia lahir ke dunia.
"Elang sayang, udah bisa terbang kah?" Gavin langsung menyambut pelukan Elang, kemudian mengambil alih dekapan ibu untuk Elang.
"Yayah...." Elang begitu girang, dengan menepuk-nepuk pundak Gavin berulang kali.
"Jadi, Elang ini terbang atau jalan nih?" Givan mencolek pipi anak tersebut.
Suasana cair sementara, karena Canda tawa berbaur bersama. Hingga tawa itu lenyap, barulah Ajeng mempersilahkan tamu-tamunya untuk masuk.
Hidangan kecil ia berikan, dua gelas kopi ia hidangkan, dengan sebotol susu dalam dot untuk mengunci perhatian Elang agar mau diam.
"Heh, Jeng. Kau bersalin sendiri, tak jadi sundel bolong kah?" tanya Givan menikam tajam.
Ajeng tertunduk, ia merasa bersalah. Namun, ia sulit mengatakan apa yang ia rasakan. Sampai akhirnya, ia mengambil keputusan yang sulit itu.
Ia bukan ibu yang baik. Ia pun merasa, bahwa dirinya begitu jahat. Namun, dengan ia mengetuk pintu rumah tersebut. Ia ingin penghuninya tahu, jika ada seorang bayi yang ia letakkan di sini. Lagi pun, ia merasa masih memiliki nurani karena berjuang untuk melahirkan bayi itu, kemudian mengantarkannya pada keluarga yang tepat.
__ADS_1
"Bang Givan, Bang Gavin...." Ajeng menatap satu persatu tamunya.
...****************...