Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM221. Mencari biyung


__ADS_3

Chandra seperti melihat mimpi buruknya, ketika ayahnya datang ke rumah mereka dengan menggendong seorang bayi. Senyum bahagia ayahnya, tidak membuat logika anak tersebut berjalan. Ia masih terngiang-ngiang dengan mimpi buruknya, yang serupa dengan pemandangan Minggu pagi ini.


"Bang, Adek Cala ini," seru Givan dengan berjalan ke arah teras rumah anaknya.


Keceriaan anak-anak yang mendengar, langsung mengerubungi Givan yang baru duduk di teras dengan bayi yang terlelap tersebut. Givan tak akan bisa mengenalkan Cala, jika tidak dengan cara seperti ini. Karena anak itu selalu tertidur di siang hari dan hanya sesekali bangun.


"Ayah, Ayah jangan buat aku takut. Biyung aku mana?" Chandra sampai tidak teralihkan sama sekali, dari bayi kecil yang tengah menggeliat tersebut.


"Biyung? Tidur lah." Givan menjawab enteng, karena memang hal itulah kebenarannya.


"Tidur? Tidur gimana?" Chandra khawatir yang dimaksud tidur oleh ayahnya adalah tidur untuk selama-lamanya.


"Tidur molor," terang Givan cepat.


"Masa? Bohong ya?" Chandra teralihkan dan bergeser sedikit, karena para adik perempuannya ingin duduk di sebelah ayahnya.


"Sana tengok sendiri di rumah nenek." Givan tidak berpikir, jika anaknya memiliki pikiran buruk tentang ibunya.


"Oke, awas aja kalau Ayah bohong." Chandra meninggalkan teras rumahnya dan keceriaan yang ada di sana.


Langkah cepat anak tanggung tersebut, membawanya lekas sampai di teras rumah neneknya. Ia hanya mendapati suasana sepi di rumah tersebut, sampai ia menyusuri dapur, ia tidak menemukan ibunya sama sekali.


Chandra mulai panik. Ia ketakutan, jika ibunya tidak pulang ke sini. Melainkan, ke pemakaman.


"Tak mau aku, Mah. Masih kecil, beli bakso aja minta uangnya ke Mamah."


Chandra teralihkan dengan suara pamannya yang masih muda. Ia berbalik arah dan melongok ke dalam pintu kamar yang terbuka tersebut.


"Pak Cek.... Nenek....," panggil Chandra kemudian.


Ia melihat neneknya yang tengah memasukkan sarung bantal dan juga pamannya yang tengah memasang seprai.

__ADS_1


"Hm? Masuk." Adinda mengizinkan cucunya untuk masuk ke kamar dobel bed tersebut.


Ranjang yang satunya, seharusnya ditempati oleh Gavin. Tapi karena Gavin memiliki ekor, ia diminta pindah oleh Gibran.


"Biyung mana, Nek?" tanyanya dengan duduk di tepian ranjang yang seprainya tidak diganti.


"Tidur di kamar nenek. Ayah kau baru bangun, tidur dari Subuh, ke sana kan ayah kau?"


Chandra mengangguk mendengar pertanyaan dari neneknya. "Mau lihat biyung, Nek." Chandra tidak hentinya mengkhawatirkan ibunya.


"Ya sana di kamar Nenek. Jangan dibangunkan, baru merem keknya." Adinda tahu, sejak tadi menantunya mencoba menidurkan cucunya yang terus menyusu itu.


"Ya, Nek." Chandra langsung bergerak pergi untuk melihat sendiri bagaimana kondisi ibunya.


Ia mengusap dadanya dan tersenyum lega. Benar, ibunya ada di sana dengan mulut yang terbuka. Canda terlihat kelelahan, dengan dengkuran halus yang terdengar.


Setelah tenang melihat keberadaan ibunya secara langsung. Chandra langsung pulang kembali ke rumahnya, untuk menyambut keberadaan adik barunya. Ia sampai melalaikan adik barunya, karena fokusnya pada ibunya saja. Setelah ia melihat keberadaan Canda, barulah ia tenang dan percaya.


"Dua puluh tahunan kan kau?" Adinda kembali membujuk anaknya untuk menikah saja.


"Akhir tahun nanti dua puluh dua, sekarang masih dua puluh satu." Gibran menyelesaikan pekerjaan untuk memasang seprai yang ketujuh dalam tujuh hari belakangan.


"Tuh, udah punya gelar juga. Nikah aja ya? Mamah biayai." Adinda tidak mau satu-satu anak lajangnya memiliki drama pernikahan.


"Tak mau aku, Mah. Nikah sama siapa? Pacar aku tak punya, tengok teman perempuan, aku ilfeel sendiri sama kelakuannya. Tak mau, tak mau. Masih kecil aku." Gibran cemberut mendengar bujukan ibunya itu.


"Udah tak apa. Mau ya? Papah carikan ya? Mau perawan yang kek mana?" Adinda mencolek pinggang istrinya.


Gibran hanya terdiam. Tiada angin, tiada hujan, tiba-tiba ia diminta untuk menikah. Rasanya, ia tidak terpikirkan ke arah sana saja.


"Perempuan yang di mimpi kau deh. Siapa dia?" Adinda menggeser posisinya untuk lebih dekat dengan anaknya.

__ADS_1


"Perempuan di mimpi aku?" Gibran menoleh ke arah ibunya dengan mengerutkan keningnya.


"Iya. Siapa dia?" Adinda cukup paham tentang tema mimpi basah laki-laki.


"Mia Khalifah."


Seketika, Gibran mendapat cubitan kecil di tangannya. Ia mengaduh, dengan mengusap-usap bekas cubitan itu.


"Kau mimpi basah, karena kau lihat video dewasa dulu sebelum tidur. Udah kebaca, Mamah udah paham nih. Awas aja kau, malam nanti tak ada main HP menjelang tidur." Adinda meletakkan bantal di ranjang Gibran, kemudian ia keluar dari kamar anaknya.


Gibran memperhatikan gerakan ibunya, sampai keluar dari kamarnya. Kemudian, ia melepaskan tawanya yang sejak tadi ia tahan. Ia tidak menyangka, ternyata rahasia sebelum tidurnya terbongkar karena ia menyebut nama salah satu artis video dewasa favoritnya.


"Nikah, punya bayi nanti aku stress juga. Mending begini, keluyuran, main bola, paling cuma mamah sama papah yang marahi. Beristri nanti, istri marah, anak nangis minta ikut. Belum lagi kalau punya anak bayi, rewel segala ngamuk terus karena ibunya bad mood. Hufttt, menyeramkan." Gibran berbicara sendiri dengan bergidikan membayangkannya.


Ia berkata bukan tanpa alasan. Tapi ia bercermin dari rumah tangga para kakak-kakaknya yang ia lihat di depan matanya sendiri. Ditambah lagi, ia baru merasakan masa kebebasan dari pendidikan, membuatnya masih ingin menikmati masa-masanya yang terpangkas pondok pesantren selama delapan tahun. Sejak kelas lima SD, ia sudah beraktivitas di dalam pondok pesantren.


Ia membereskan seprai kotor dan sarung bantal kotornya. Kemudian, ia membilasnya lebih dulu sebelum meninggalkannya di dalam mesin cuci ya beroperasi.


Ia menitipkan cucian kotornya, kemudian keluar dari rumah untuk menghampiri ayahnya yang sudah lebih dulu pergi ke ladang. Ia menyadari minatnya kurang untuk ladang, tapi ia pun belum mengetahui ia condong untuk berwirausaha apa. Ia hanya mengambil ilmunya saja, ketika ia terus mengekori ayahnya di lahan usaha ayahnya.


Pikiran Adinda bertambah runyam. Ketika ketua RT datang, untuk menyampaikan kabar untuk Ai. Adinda teringat, ia masih memiliki tanggung jawab pada keluarga Ai yang belum kembali ke kampungnya.


Ketua RT tersebut menyampaikan beberapa informasi dan aturan, untuk Jum'at nanti dilaksanakan eksekusi hukuman untuk Ai. Adinda mengangguk beberapa kali, tanda ia mengerti tentang kabar yang datang padanya tersebut.


Ia mengerti, jika ketua RT segan datang ke penginapan Nafisah. Kerja beliau tahu, jika Awang bekerja meski di hari libur.


"Nanti, sampaikan aja ke teungku haji. Kalau ada hal yang perlu ditanyakan, teungku haji boleh langsung hubungi keuchik saja." Ketus RT menyampaikan amanat dari kepala desanya.


"Nah, itu kan Ai udah bayar denda. Gimana itu hitungannya?" Adinda merasa jumlah yang disebutkan, tidak sesuai informasi awal yang ia dapat.


"Oh, iya. Nanti diterangkan ulang sebelum eksekusi. Denda sudah masuk kok, Bu Dinda. Biar nanti Saya tanyakan juga ke keuchik." Ketus RT tidak mengetahui pasti, ia hanya diminta untuk menyampaikan saja.

__ADS_1


"Oke, oke. Nanti Saya kasih tau orang-orang bersangkutan." Adinda manggut-manggut mengerti.


...****************...


__ADS_2