Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM209. Kabar mengejutkan


__ADS_3

"Ya hallo, kenapa Naf?" Adinda mengalihkan perhatiannya dari baju-baju yang sudah rapi itu.


"Mamah ada di mana sekarang?" Suara gugup Nafisah, membuat Adinda khawatir.


"Ada apa memang, Naf? Di sana baik-baik aja kan?" Adinda langsung berpikir, bahwa terjadi sesuatu dengan Ai.


"Eummm, pulangnya kapan ya Mah?" Nafisah tidak kunjung mengatakan hal yang terjadi di sana.


"Keknya sih besok, Canda masih dalam observasi katanya." Adinda melirik pada menantunya yang masih membereskan tumpukan baju.


"Eummm, Mamah bisa pulang malam ini?" Nafisah khawatir keceplosan untuk mengatakan hal yang sebenarnya.


"Ada apa? Jujur aja!" Adinda makin yakin, bahwa terjadi sesuatu di rumah.


"Mamah pulang aja deh." Nafisah ragu untuk mengatakan, karena khawatir membuat keadaan Adinda terburu-buru dalam perjalanan.


"Terus terang aja, Naf. Anak kau mau bayaran biaya UTS kah? Atau gimana?" Adinda mencoba berpikir positif.


"Bukan, Mah." Nafisah berjalan bolak-balik, dengan melirik ke pintu ruang inap rumah sakit tersebut.


"Ya ada apa? Terus terang aja. Jangan kek main tebak-tebakan gini." Adinda mulai kehilangan kesabarannya.


"Sebenarnya, papah...." Nafisah ragu untuk mengatakan keadaan suami dari Adinda tersebut.


"Papah kenapa? Ada apa sama papah?" Adinda langsung berjalan ke arah jendela. Ia menatap hamparan kelap-kelip dari balik jendela gedung tinggi tersebut.


"Mamah pulang aja deh." Nafisah yakin, Adinda langsung panik di sana.


"Jawab, Naf!!!" Adinda membentak dalam panggilan teleponnya.


"Papah jatuh pingsan, sekarang di rumah sakit," jawab Nafisah dengan satu tarikan napas.


Adinda merasa jantungnya lepas dari tempatnya. Ia memeluk dirinya sendiri, dengan tangan kanan yang masih memegangi ponsel di dekat telinga tersebut.

__ADS_1


"Aku sama a Awang udah di rumah sakit terdekat. Ada Zuhdi dan Ghava juga nemenin, tapi mereka lagi sibuk ngurus dokumen dan administrasi lain. Tadi papah bangun, beliau pesan ke aku suruh hubungi Mamah, beliau suruh Mamah pulang sekarang." Akhirnya, Nafisah berhasil menyelesaikan amanat tersebut.


"Iya, Mamah pulang sekarang." Adinda menatap anak sulungnya yang tengah menggendong bayi.


"Ya, Mah. Ati-ati, jangan buru-buru." Nafisah khawatir orang tua tersebut ceroboh dalam perjalanan.


"Ya, Naf." Adinda langsung meraih tasnya dan mematikan sambungan teleponnya.


"Papah kenapa, Mah?" Canda mendengarkan suara Adinda tadi.


"Di rumah sakit, papah pingsan katanya. Pasti terjadi sesuatu di sana, papah tak mungkin tiba-tiba pingsan. Pasti, papah shock atau ada yang mancing emosinya di sana. Kau di sini sama suami dan anak kau aja ya, Canda? Mamah harus pulang dan Ghifar temani Mamah, Mamah khawatir Mamah kenapa-kenapa di jalan. Mamah udah gemetaran, takut papah kenapa-napa." Adinda menjelaskan dengan mengemasi barang-barangnya.


"Ghifar ke mana tadi, Mas?" Adinda menoleh ke arah suaminya.


"Mau cari angin di depan katanya. Coba telepon aja, Canda." Givan mendekati brankar istrinya.


Canda berjalan perlahan ke arah meja nakas, kemudian ia mengambil ponselnya dan menghubungi Ghifar. Satu panggilan tak terjawab, terlewat begitu saja. Canda mengulangi panggilan teleponnya sampai tiga kali, barulah Ghifar menerima panggilan teleponnya.


"Ya hallo, aku lagi beli martabak di ruko depan jalan rumah sakit. Ada apa, Canda?" Ghifar langsung memberitahu keberadaannya.


"Loh, kok mendadak?" Ghifar mengerutkan keningnya dengan memperhatikan jalanan yang tengah ramai.


"Iya, udah cepat ke kamar aja." Canda enggan mengatakan hal yang sebenarnya.


"Oke, oke. Martabaknya udah mau jadi juga nih." Ghifar melirik pesanannya.


"Ya, oke." Canda langsung mematikan sambungan teleponnya, kemudian menghampiri ibu mertuanya dengan berjalan perlahan.


"Mah, jangan buru-buru gitu. Pelan aja, Mah." Canda mencoba membantu mengemasi barang-barang Adinda.


"Mamah takut, papah udah tua betul sekarang. Mana Mamah tak ada di sampingnya, Mamah khawatir sama nyawa papah." Adinda hanya takut tidak bertemu dengan suaminya lagi, jika ia tidak cepat.


"Ya jangan ngomong jelek, Mah. Papah kan sering pingsan itu kan?" Canda mencoba menenangkan ibu mertuanya.

__ADS_1


"Kita bareng aja, Mah. Aku ke dokter dulu ya?" Givan meletakkan anaknya di atas brankar tidur Canda yang sudah pulas tersebut.


"Ya udah, cepat! Pokoknya malam ini, kita harus udah di perjalanan." Adinda menoleh ke arah anaknya.


"Tapi, Mas. Tadi kan kita ngobrol, kita ngontrak di daerah sekitar bandara dulu sampai satu bulanan. Tunggu anak kita kuat dari tekanan udara di pesawat katanya? Kan dokter yang nyaranin untuk itu?" Canda teringat tentang pesan dokter untuk bayi prematurnya.


"Ya aku tanya lagi, mana tau udah bisa sekarang sih." Givan bergegas keluar dari ruangan tersebut.


"Udah, Canda. Misal bayi kau belum boleh, biar Mamah sama Ghifar dulu. Nanti kita bisa tukeran kabar. Yang terpenting, Mamah pulang dulu, karena papah butuh Mamah sekarang." Adinda yakin, jika sadar nanti, pikiran suaminya tengah runyam. Adinda yakin, ada sesuatu yang benar-benar terjadi di sana.


"Iya deh, Mah. Gimana baiknya aja. Bukan aku tak khawatir sama papah, tapi aku bingung mau aku titipkan ke siapa si Cala." Canda melirik sekilas pada putrinya.


"Udah, kau urus dulu sama Givan. Givan udah terlatih ngurus anak bayi, dari bayi Ra kan dia telaten ngurusnya. Kalau belum bisa mandikan, diseka aja pakai air hangat tuh. Lagi pun, belum diizinkan untuk mandi kan? Karena berat badannya masih di bawah dua koma lima kilo." Adinda menurunkan kopernya yang isinya sudah ditata, dari singel bed tersebut.


"Iya, Mah. Nanti aku bilangin ke mas Givan." Canda mengangguk beberapa kali.


"Gimana, Mah?" Ghifar masuk ke dalam ruangan, dengan menenteng paper bag berlogo nama martabak yang sudah ternama tersebut.


Adinda menoleh pada anaknya yang selalu terlihat kalem tersebut. "Papah masuk rumah sakit, pingsan di rumah. Tadi udah bangun, kata Nafisah, papah nyuruh Mamah pulang. Papah udah tua, Far. Mamah takut papah kenapa-napa." Suaranya bergetar, menunjukkan bagaimana kekhawatirannya yang sebenarnya.


"Ya udah ayo, Mah." Ghifar meletakan tentengannya di atas meja sudut, kemudian ia mengambil kopernya.


"Kau pesan tiket pesawat sekarang, Far. Biar Mamah sama Canda yang beres-beres baju kau." Adinda berjalan, kemudian mengambil alih koper anaknya.


Ghifar merogoh sakunya, kemudian ia duduk di sofa yang tersedia. Aplikasi pembelian tiket onlinenya sudah terbuka, Ghifar tengah mencari jadwal pesawat yang terbang malam ini.


"Waduh, adanya setengah dua belas malam. Sampai sana paling pagi, Mah." Ghifar fokus pada ponselnya.


"Penerbangan yang lebih cepat ada tak?" Adinda bertanya, dengan mengemasi pakaian Ghifar yang baru dilaundry juga.


"Ada, tapi keknya udah tutup. Dari sini ke bandara kan butuh waktu, Mah. Sedangkan, pesawatnya take off satu jam lagi." Ghifar memperhatikan waktu yang tertera.


"Ya udah, ambil yang setengah dua belas itu." Adinda tidak memperhatikan kerapian pakaian tersebut, ia hanya berpikir agar pakaian tersebut terkemas semua.

__ADS_1


"Oke, Mah." Ghifar tidak memperdulikan tiket pesawat yang cukup mahal tersebut.


...****************...


__ADS_2