
"Ngomong itu memang gampang, Bang." Gavin tertunduk memperhatikan lantai ruangan tersebut.
"Ya, memang. Tapi kalau kau terus mikirin, apa itu kasih jalan keluar? Tak juga, tapi yang ada kau bakal stress. Canda pergi bawa anak dalam keadaan marah. Abang tau dia kecewa luar biasa, tapi Abang tanamkan keyakinan dalam diri Abang sendiri bahwa dia akan balik dengan alasan apapun. Keyakinan itu bisa terwujud loh, Vin. Tapi saran Abang, kau tak perlu yakin dan ingin Ajeng untuk datang ke sini. Karena kenapa? Karena nantinya dia malah buat kacau di sini. Belum nanti kalau anak kau udah besar, tambahlah dia banyak bertanya-tanya tentang ibunya. Kau harus yakin, bahwa kau akan tetap baik-baik aja dengan keadaan ini. Kek step Abang selanjutnya setelah Canda pergi dulu, yaitu fokus perbaiki diri. Perbaiki diri, bulan menyangkut tentang ibadah dan akhlak aja. Nyatanya setelah perempuan Abang pergi, Abang malah jauh dari Tuhan Abang. Tapi, perbaiki kualitas dan produktivitas diri. Keluyuran itu yang sekiranya menghasilkan uang, tak pulang itu sekiranya ada tujuan yang menghasilkan. Di rumah keingat Canda terus, ya Abang di luar rumah terus. Pulang kalau benar-benar ngerasa butuh istirahat aja, jadi pulang itu bisa langsung tidur tepar kecapean. Ya di luar rumah, Abang gunain waktu sebaik mungkin. Ada celah usaha, masuk perlahan, tak apa modal nekat aja dulu. Kek makelar tanah dulu, yang pernah Abang jajal. Itu kan tak perlu modal, cuma harus banyak ketemu banyak orang dan ngobrol aja. Sebelum buat usaha furniture itu kan, Abang fokus ke makelar kayu dulu. Makin nguasain, makin berani ambil resiko. Nah, kau bisa tak kek gitu? Alihkan pikiran kau, alihkan perhatian kau ke hal-hal yang lebih berguna. Jangan mikirin aja Ajeng, ingat masa depan kau dan anak kau aja dulu. Dulu yang jadi semangat buat Abang apa? Bukan karena anak, karena Key pun udah terpenuhi dari Ghifar juga. Tapi karena Abang sendiri kepengen bergelimang kemewahan. Abang pengen jam tangan mahal, pengen parfum mahal, pengen punya mobil dan pengen punya rumah. Dulu cuma Abang, anak mamah yang tak punya apapun. Katakanlah, gila harta. Tapi nyatanya secara tidak langsung, Abang menata perekonomian Abang sendiri untuk masa depan Abang." Givan menceritakan tentang dirinya sendiri, agar semangat pada dirinya bangkit.
"Kenapa Abang bisa mikir, untuk tidak mengejar kakak ipar masa itu?" Seperti Gavin yang saat ini begitu ingin mendatangi Ajeng di sana dan meminta keterangan yang akurat.
__ADS_1
"Karena kita tak bisa paksakan orang. Abang tau kakak ipar kau begitu marahnya, begitu kecewanya, jadi mungkin kepergiannya itu bisa buat amarahnya luntur. Tapi nyata kok, setelah dia datang lagi, dia udah tak begitu marah ke Abang. Kakak ipar kau udah biasa aja, udah tak selalu nyalahin Abang juga. Memang, sebab musabab Abang gelap mata sama perempuan lain itu, ya ada alasan di baliknya. Tapi, yang dilihat dan dipahami orang kan hanya puncak masalah. Abang yang buat masalah, Abang yang buat dia pergi. Jadi ya udah, terimong nyoe kenyataan." Givan bersenandung kecil di akhir kalimatnya.
"Tapi aku tak buat salah ke dia, Bang." Gavin tidak mudah menerima, karena dia tidak mengerti di mana letak kesalahannya.
"Pernikahan siri tanpa restu orang tua. Kau harus yakin, kalau kesalahan kau ada di situ. Lain kali, harusnya kau tak ulangi dan lakukan lagi. Oke? Dimengerti kan?" Givan menarik sudut bibirnya agar adiknya yakin.
__ADS_1
"Masalahnya, tanpa sepengetahuan orang tua. Sedangkan, sampai kapanpun itu anak laki-laki tetap milik orang tuanya dan tetap tanggung jawab keluarganya. Kau tak mampu nafkahi istri kau itu, wajib orang tua kau mengulurkan tangannya untuk ngerangkul kau biar kau bisa nafkahi istri kau. Abang sama Nadya tanpa restu dan sepengetahuan orang tua lagi, apa yang terjadi? Kan berantakan juga. Ghavi tanpa sepengetahuan orang tua, ya rusak juga. Ghifar pun sama, bahkan dia udah pisah tempat sama istrinya dalam waktu yang lama. Itu karena istrinya hamil udah kadung besar aja, makanya dia ditarik kembali. Kalau keadaannya tak begitu, mungkin pisah lah itu mereka. Orang tua itu jangan dilangkahi, Vin. Bahkan ada pribahasanya di Cirebon sana. Mimi jimat e kula, mama pusaka e kula. Artinya, ibu jimatnya saya, bapak pusakanya saya. Kau tau kan tentang jimat? Jimat, Azimat atau Tamimah adalah sejenis barang atau tulisan yang digantungkan pada tubuh, kendaraan, atau bangunan dan dianggap memiliki kesaktian untuk dapat melindungi pemiliknya, menangkal penyakit dan tolak bala. Nah, itu jimat. Diibaratkan, ibu kau itu jimat kau dalam orang sana. Sedangkan pusaka dalam pribahasa itu disebut, pusaka sebagai senjata. Bukan pusaka dalam bentuk warisan, atau tengah-tengah tubuh kau. Jadi, penjabarannya tuh si pusaka ini adalah sumber kekuatan kau. Jadi, bapak kau itu sumber kekuatan kau. Begitu, Vin. Apa-apa tuh, orang tua jangan dilangkahi. Begitupun, setelah orang tua kau tiada. Kau masih punya wali, meski kau anak laki-laki. Ada abang-abang kau yang sedarah sama kau, ada abang yang harus kau tuakan juga untuk nalar kau misal kau perlu pendapat orang tua. Kau nikah, macam kau mau kawin aja. Langsung hap lalu ditangkap aja. Ada prosesnya, pernikahan meski siri itu sakral. Kau tak merasa bersalah karena itu, kau tak merasa berdosa karena udah ngelangkahin orang tua kau. Kau pikirkan juga dampak kekecewaan orang tua kau, karena kau tak minta izin dan pendapat mereka. Mereka merasa jadi orang tua yang tak dibutuhkan, mereka merasa jadi orang tua yang tak berguna untuk anaknya. Kecewa loh mereka ini, Vin. Apalagi kau ada anak, yang pasti mau tak mau, orang tua kau campur tangan di sini. Pada akhirnya, kau ngerepotin mereka, kau membebani mereka. Udah begini, kau perbaiki hubungan kau sama orang tua kau. Bukannya sama Ajeng, sama Ajeng sih udah tak ada urusan. Sekalipun anak kau ada di Abang, tapi anak kau itu keturunan orang tua kau juga. Repotnya Abang ngurus anak, orang tua Abang yang paling dekat dengan Abang juga kerepotan ngurus cucu. Kau jangan dikira orang tua lepas tangan dan lepas tanggung jawab kalau kau udah nikah, mereka masih berperan penting. Kesannya kau kek sombong, dengan tindakan kau begitu. Abang sih orangnya cepat kapok, Vin. Ngerasain begini-begitu tuh, terus coba tak buat kesalahan yang serupa. Ajeng yang kau pikirkan, waktunya dia datang ya kek kakak ipar kau. Tak disangka kepulangannya sama Ghifar, dengan keadaan ngandung juga. Dia bawa kandungan suaminya saat itu, tapi pulang dia ke kita. Masanya gimana Ajeng datang, ya udah gimana nanti aja. Anggap aja, udah selesai antara kau sama Ajeng. Kau tengok anak perempuan kau yang mirip Giska itu, kalap kasih sayang dia ini. Pengen didekap terus, tak mau dia digoler di kasur. Nah, ada apa kan tuh? Seminggu di tangan kau, kau buat apa ke dia, sampai anak kau selalu pengen di tangan aja?" Givan menyudutkan Gavin untuk mengalihkan pikiran anak itu.
"Aku biarkan dia nangis lama di kasur," aku Gavin penuh penyesalan.
Bukan tanpa alasan, ia sendiri tengah dalam kondisi stress dan frustasi. Ia tidak siap, dengan kedatangan bayinya.
__ADS_1
...****************...