
Canda memandang dari luar pagar rumah ibu mertuanya. Perempuan berkerudung hitam yang duduk di teras rumah tersebut, membuat napas Canda bercampur dengan sesaknya lara dan emosi yang menyala.
Gelak tawa lepas seseorang di masa lalunya, begitu familiar di telinga Canda. Sosok Ghifar yang tengah dikejar oleh dua anak perempuan di halaman rumahnya itu, mengundang perhatian Canda.
Senyum gelinya langsung terukir, melihat salah satu anaknya terjatuh dengan posisi lucu. Langkah kakinya berbelok menuju ke rumah milik Ghifar tersebut, garis bibirnya masih bertahan ke atas melihat anaknya yang bangkit dan kembali mengejar Ghifar.
Setelah ini, Canda berniat ingin mengajukan diri untuk menjadi istri kedua Ghifar. Kekonyolan pikirannya itu, mencoba menghibur dirinya sendiri.
"Biyung tuh." Ghifar menunjuk Canda.
Sedetik kemudian, Ghifar berlari cepat ke arah Canda. Karena kedua anak perempuan tersebut mengejarnya.
"Biyung, tolong aku." Givan langsung mengerem laju kakinya dan bersembunyi di balik punggung ringkih ibu hamil tersebut.
Ghifar memegangi bahu Canda dan memutar tubuh Canda, saat kedua anak perempuan tersebut sampai di hadapan Canda dan berniat untuk menggapai tubuh Ghifar. Ghifar malah tetap berlindung di balik punggung Canda tersebut.
"Papa gendong." Rengekan Ra, membuat suasana ceria itu kacau.
"Udah, Papa. Aku capek." Anak sambung Ghifar tersebut, menggaruk kepala yang terlapisi hijab dengan kedua tangannya.
"Gerah ya? Yuk, masuk yuk. Kita ngadem di dalam rumah." Ghifar menggiring kedua anak perempuan tersebut. Namun, Canda malah ikut masuk dalam barisan.
Pikir Ghifar, Canda pun ingin main ke rumahnya. Karena sudah biasa, mantan pacarnya itu berkunjung dan berghibah bersama istrinya.
Keadaan menjadi lain, saat kedua anak perempuan tersebut melarikan diri ke kamar tamu. Di ambang pintu kamar tamu tersebut, Canda malah langsung memeluk suami orang yang masa bujangnya pernah ia kejar-kejar itu.
Canda menumpahkan kelemahannya pada tempat yang salah. Ia sudah menahan-nahan rasa cengengnya, sejak melihat mantan kekasih suaminya yang tengah mengandung tersebut duduk di teras rumah ibu mertuanya. Meski gelak tawa anak-anak mengalihkan perhatiannya, nyatanya ia tetap tak mampu menjadi untuk tetap kuat pada laki-laki yang begitu mirip dengan ayah mertuanya tersebut.
"Hei, kenapa?" Ghifar tanpa canggung langsung menenangkan kakak iparnya sekaligus mantan kekasihnya tersebut.
__ADS_1
Usapan lembut dan rangkulan hangat, mendorong Ghifar untuk membawa Canda masuk ke dalam kamar tamu tersebut. Kedua anak perempuan yang sedari tadi berloncatan di atas ranjang tersebut, mendadak bingung saat isakan pilu Canda menarik rasa takut mereka.
"Biyung kenapa?" tanya dua anak tersebut bersama-sama.
Mereka langsung mendekati dua panutannya yang duduk di tepian ranjang tersebut. Mereka mulai terisak, dengan saling memeluk kedua orang dewasa tersebut.
Sifat dasar Ghifar yang begitu lemah dan cengeng, terbawa suasana tangis pilu dari perempuan yang memberikan trauma hebat untuknya tersebut. Bukan karena Canda menyakitinya, tapi karena Canda mendapatkan pelecehan yang membuat Ghifar merasa begitu menyesal.
Ghifar tidak mengerti kenapa ia menangis juga. Secara tidak sadar, perasaan sedih Canda seolah ikut dirasakan olehnya juga.
Empat suara tangis dan isakan yang berbeda tersebut, menarik perhatian istri Ghifar yang tengah memasak di dapur. Ia segera mematikan kompornya, kemudian mendorong anak bayinya yang berada di dalam stroller baby tersebut, guna mencari sumber suara tangis itu.
"Papa lagi ngeprank kakak kah, Dek?" tanyanya pada bayi yang belum genap berusia empat puluh hari tersebut
Sampai akhirnya perempuan yang dipanggil mama tersebut melongo saja, melihat suaminya berpelukan dengan iparnya tersebut. Yang membuat dirinya semakin tidak mengerti, karena dua anak perempuan yang meramaikan rumahnya tersebut ikut menangis dalam pelukan dua orang dewasa itu.
Istri Ghifar membelokkan stroller baby ke dalam kamar tamu tersebut. Ia menyaksikan dengan dekat suaminya yang basah karena air mata, dengan mencoba menenangkan mantan pacar kekasihnya tersebut.
"Kenapa nih?" tanya istri Ghifar dengan bingung.
Ghifar mendongak menatap wajah istrinya, kemudian telapak tangan lebarnya merengkuh pinggang istrinya yang memiliki cekungan indah sampai membuatnya gila tersebut. Ghifar lanjut menangis dengan bersandar pada perut istrinya yang menggunakan korslet bersalin tersebut, istri Ghifar pun hanya mampu mengusap-usap kepala suaminya. Karena dirinya sendiri kebingungan dengan kejadian yang menumpahkan air mata ini.
Canda merasakan kehadiran orang lain. Ia mengusap banjir bandang dari matanya tersebut, kemudian melihat sekelilingnya. Bukannya takut dimarahi, Canda malah mengikuti Ghifar untuk menangis di perut wanita yang masih dalam masa nifas tersebut.
"Ada apa sih?" Kedua tangan istri Ghifar mengusap kedua kepala orang dewasa tersebut.
Ghifar menggeleng. "Tak tau." Ghifar mengusap air hidungnya pada baju istrinya.
"Dih, ngelawak." Istri Ghifar malah tertawa, dengan melepaskan kepala Ghifar dari perutnya. Ia tidak ingin bajunya kotor dengan cairan hidung suaminya.
__ADS_1
Canda pun sedikit terhibur, dengan tingkah Ghifar yang apa adanya tersebut. Ia baru sadar bahwa Ghifar ikut menangis, padahal ia belum bercerita apapun pada Ghifar.
"Udah, Kak. Jangan nangis! Papa kalian lagi ngeprank." Istri Ghifar menenangkan kedua anak yang pulang bersekolah pukul sepuluh pagi tersebut.
"Memang ada apa, Pa?" Salah satu anak tersebut mulai tersadar dan kebingungan dengan situasi yang ada.
Ghifar melepaskan pinggang istrinya, kemudian ia menghapus air matanya dan menoleh ke arah anaknya. Ghifar pun baru tahu, jika mereka semuanya menangis tanpa alasan.
"Tak tau ada apa." Ghifar melempar pandangannya pada Canda. "Biyung nih, bikin kita nangis aja."
Canda menjatuhkan rahangnya. Ia disalahkan dengan alasan yang belum ia lontarkan.
"Kenapa kau?" tanya istri Ghifar, dengan memandang wanita yang dulunya dipanggil 'dek', tapi sekarang ia harus memanggilnya dengan tambahan 'kakak ipar' tersebut.
"Ceritanya panjang." Canda menghela napasnya, dengan menyingkirkan kotoran di matanya.
"Tentang apa?" Ghifar mulai membuka rasa ingin tahunya.
"Gih mainan, Biyung udah tak apa-apa." Istri Ghifar meminta dua anak perempuan tersebut untuk pindah tempat mereka. Ia khawatir, para anak kecil itu ikut mendengarkan cerita mereka yang bukan untuk konsumsi otaknya.
"Biyung jangan nangis lagi ya?" Anak kandung Canda mengusap sisa air mata Canda, kemudian ia mendaratkan kecupan kasih di pipi ibunya tersebut.
"Ya, Sayang. Maaf ya buat Ra nangis bingung?" Canda memamerkan senyum, dengan merapikan rambut anaknya yang basah karena keringat tersebut.
"Ya, Biyung." Kedua anak tersebut berlari menuju tempat bermain yang aman dan nyaman untuk mereka.
Istri Ghifar melirik bayi yang anteng di dalam stroller tersebut, kemudian ia menyekat posisi duduk suaminya dan Canda. Ghifar reflek bergeser kebelakang, dirinya terima saja dipunggungi istrinya itu.
"Ada apa, Kakak Ipar? Tumben-tumbenan nyari bahu suami orang, suami kau ke mana?" Istri Ghifar mengamati perubahan wajah Canda, dengan memegangi lengan Canda.
__ADS_1
...****************...