
Serba salah, Ai merasa dirinya begitu sial sekarang. Pernikahan tak ia dapatkan, ia sudah mengandung dan keberadaannya di sini malah membuatnya mendapat hukuman. Harusnya, ia mengikuti saran temannya untuk tidak melanjutkan kehamilannya. Ia pun tidak tahu juga, jika kehamilannya bermasalah seperti ini.
"Ya udah diatur aja, Pak." Ai memikirkan anaknya, jika ia kabur dari sini. Setelah ini, mungkin ia membujuk Canda agar mau mengambil alih anaknya. Atau mungkin, bisa jadi ia akan memilih pergi dengan meninggalkan anaknya.
Namun, di awal ia akan berusaha membesarkan anaknya dulu. Sampai ia memiliki tabungan dari jatah yang Canda berikan. Barulah setelah dirinya stabil, ia akan mencoba untuk memberikan anaknya pada Canda.
Ia mulai menghitung sekarang, karena ia pun akan diusir dari kampung. Ia harus segera memiliki tabungan dari jatah-jatah yang Canda berikan, setelah masa kurung mandirinya habis dan dirinya harus pergi meninggalkan kampung tersebut.
"Bang Givan nih, bagaimana baiknya?" Kepala desa menepuk pundak Givan.
Givan tersenyum ramah. "Lanjut naik aja, Keuchik. Khamar dan khalwat." Jika itu yang memungkinkan untuk dirinya mendapat hukuman, lebih baik ia mengikuti langkah tentang hukum tersebut.
"Oke, Jum'at nanti naik hukum. Dek Ai juga siap-siap ya? Jaga kesehatan dan pola makan. Dek Ai tuh udah mulai isolasi mandiri lah kasarnya, udah harus di rumah aja." Kepala desa mengingatkan akan hukuman Ai karena sudah menyebar fitnah.
"Iya, Pak." Ai sudah mendapatkan surat untuk menjalankan masa hukuman mandiri tersebut.
"Apa ada yang perlu dibahas lagi?" Mediasi segera diakhiri.
"Tak ada." Semua orang menjawab serentak.
Mereka semua berbondong-bondong keluar dari aula, dengan keluarga masing-masing. Sedangkan Ai, ia hanya seorang diri dengan melamuni segalanya.
Ia harus bagaimana?
Ia merasa tabungannya tidak akan cukup, jika mengandalkan jatah anaknya nanti. Bagaimana caranya ia pulang? Ia diusir dari kampung pun tidak mungkin disertai dengan ongkos juga. Sedangkan, kendaraan untuk melewati beberapa kota dan menyebrang pulau itu hanyalah pesawat.
"Ayo, Ai. Kita antar ke penginapan." Kenandra mengajak Ai untuk keluar dari aula tersebut.
Ai bangun dengan meringis, perutnya tidak baik-baik saja sekarang.
"Kok?" Kenandra menghampiri Ai segera.
"Kenapa, Bang?" Ai menatap bingung wajah Kenandra yang terlihat panik tersebut.
"Kau berdarah." Kenandra menunjuk kursi plastik berwarna hijau yang Ai duduki tadi.
__ADS_1
Aku memutar kepalanya, untuk melihat bagian belakang roknya. Tanpa disangka, tetesan darah itu sudah membasahi seluruh alas duduknya. Ia terkejut, ia khawatir dan panik. Kekalutannya menjadi satu, menghantarkan gelombang kejut yang membuat dirinya kembali ambruk.
"Ya Allah...." Kenandra tergesa-gesa untuk membenahi posisi Ai.
Ia celingukan, sampai akhirnya ia segera melambaikan tangannya pada rombongan keluarga Adi's Bird yang sudah berada di ambang pintu aula.
"VAN..... VA..... VI.... FAR...," teriak Kenandra mencoba menarik perhatian mereka semua.
Banyak dari mereka yang mendengar, mereka langsung menoleh dan mendapati Kenandra yang tengah berjongkok dengan melambaikan tangannya. Tubuh sintal yang lunglai di lantai aula, terlihat seperti kain yang jatuh di lantai karena jarak pandang mereka cukup jauh.
"AI PINGSAN!" seru Kenandra kemudian.
Tiga dari empat laki-laki yang dipanggil tersebut, langsung berlarian kembali ke dalam aula. Berbeda dengan Givan, yang tetap memilih untuk merangkul wanitanya. Canda tidak siap, jika harus melihat dirinya berlari ke arah mantan kekasihnya. Ia paham akan hal itu.
"Kenapa ini?" Mereka mencoba membagi diri mereka, untuk bisa mengangkat tubuh tinggi nan berisi itu.
"Drop lagi dia. Duh, mana BPJS belum jadi." Kenandra membuat tiga laki-laki tersebut tidak kuat mengangkat tubuh Ai karena malah tertawa lepas.
"Ya kan kau yang nanggung kek kemarin, Bang," celetuk Ghavi yang mengangkat bagian kaki Ai.
"Tukeran dengan Bunga yang tak aku kasih jajan, biar Givan yang jajanin itu tuh."
"Kau pikir? Gratis begitu? Hmmmmm, entah-entah kalau keluarga kita." Kenandra bertugas membawa tas milik Ai. Ia berjalan lebih dulu, untuk membukakan pintu mobil agar Ai masuk ke dalam mobilnya.
"Drop lagi kah, Ken?" tanya Adinda dengan seruan.
"Ya, Mah. Ingetin Keuchik suruh buatkan BPJS PBI tuh." Kenandra menyindir langsung kepala desa yang berada di teras aula tersebut.
"Ehh, loh???" Kepala desa nampak terkejut, melihat Ai digotong beramai-ramai.
"Besok harus jadi, Pak. Mana tau langsung ambil tindakan." Kenandra berlari kecil menuju ke mobilnya di parkiran.
"Oh, iya. Iya, Saya usahakan." Kepala desa tersebut mengangguk beberapa kali.
Kepergian mereka, cukup menarik perhatian karena Ai yang tak berdaya tersebut. Mereka semua berpikir, bahwa Ai kembali shock dengan putusan yang ia dengar.
__ADS_1
"Mas...." Canda masih memperhatikan mereka yang sibuk di satu mobil.
"Udah, tenang aja. Jangan mikirin yang bukan-bukan." Givan berpikir bahwa Canda mengkhawatirkan kandungannya sendiri.
"Mas, gimana kalau anaknya tak tertolong? Usia kandungannya masih trimester kedua, tak mungkin kan dilahirkan?" Canda menoleh ke arah suaminya, bertepatan dengan Givan pun menoleh ke arah Canda.
"Tak tau, Canda. Bagaimana yang terbaik aja, aku tak bisa berpendapat kalau kelahiran. Hari perkiraan lahir, atau HPL yang dari bidan aja kan kadang tak tepat. Waktu Chandra aja, kau lahir lebih cepat dari HPL kan?" Givan masih mengingat bagaimana perjuangan Canda menghadapi persalinan pertamanya.
"Hufttt.... Jangan diingat waktu punya Chandra dulu deh, aku jadi ingat lagi galaknya Mas ke aku." Canda seolah dihidangkan cerita kelam, jika teringat bagaimana suaminya yang kurang komunikasi dengannya dulu.
"Aku pun jadi ingat kau melototi aja Ghifar!" Givan serasa begitu ingin mencubiti Canda jika teringat akan hal itu.
Canda terkekeh, kemudian bersembunyi di lengan suaminya. "Masnya galak terus sih, jadi aku pandangi yang teduh-teduh aja." Alasan konyol Canda dikeluarkan.
"Ya kau bayangkan aja, kalau kau berjodoh sama dia. Kau teduh, apa-apa nangis. Ghifar pun sama. Saking teduhnya, apa-apa tuh orang tua. Udah tuh, hubungan kalian melalui pihak ketiga." Mereka berdua berkahir terkekeh geli.
Sampai akhirnya seseorang menepuk punggung Givan. Givan segera menoleh, dengan mendapati istri Ghifar yang berwajah datar. Sepertinya, ia mendengar celetukan Givan tadi.
"Tak mau ditambahkan kah? Apa-apa istri juga?" Ucapannya segera disertai dengan tawa lepas mereka bertiga.
"Tapi kau pun demen aja." Givan merangkul istri Ghifar, lalu menjepit leher istri Ghifar dan melepaskannya lagi.
"Kau pun Canda nguras kesabaran, kau demen aja!" Di luar hubungan ipar, mereka semua seperti teman nongkrong yang tidak memiliki batasan panggilan sopan.
Givan tertawa geli sebelum menjawab. "Berarti kita kenapa nih?" Canda memperhatikan wajah suaminya dari samping, yang tidak menampik kata demen yang mengacu pada dirinya.
"Kita agak gila." Givan langsung tertawa lepas, bersamaan dengan istri Ghifar yang mengatakan hal tersebut. "Bodoh karena cinta. Berjuang setengah mati, setelah dapat rasanya sih begini-begini aja, udah ketebak gitu alur rumah tangga tiap harinya. Tapi tak berjuang, mati aku kalau dia sama yang lain." Berakhir dengan mereka semakin kuat tertawa.
Canda hanya diam dengan menyimak. Siapa tahu, ia menemukan jawaban dari keragu-raguan hatinya pada suaminya.
"Iya betul. Udah ketebak sih tiap hari bakal gimana kalau hidup sama dia, tapi kalau bayangkan dia sama yang lain tuh keknya lebih tak bisa gitu. Nanti bagaimana kita? Nanti bagaimana dia juga? Hubungan antara aku dan dia gimana? Kau yang belum pernah nikah cerai sama pasangan aja, udah membayangkan kan kalau dia sama yang lain? Apalagi aku yang udah ngerasain panasnya mantan istri ditiduri sama suaminya sendiri." Givan mengusap-usap dadanya sendiri.
Berakhirnya dengan kalimat Givan, istri Ghifar tertawa lebih keras lagi. Ekspresi wajah frustasi Givan meski hanya akting itu, terlihat sekali penggambaran bagaimana diri Givan saat hal itu terjadi.
Apa Canda bisa memahami jawaban yang berbelit-belit tersebut? Begitu jelas juga, karena Givan mengatakan lewat mulutnya sendiri.
__ADS_1
Bagaimana Givan ke dirinya, sebagai pasangannya. Hal itu cukup jelas dikatakannya.
...****************...