
"Papah tuh pantas jadi caleg. Calon DPRD lah, Pah." Givan terkekeh dengan menggendongi ayah sambungnya yang tengah duduk di tepian ranjang itu.
"Jangan! Banyak cewek naksir nanti!" Adinda langsung melarang dengan nada tidak sukanya.
"Oh ya? Masa iya ada yang mau sama Pak tua ini? Tak apa lah, Dek. Jadi bupati deh lah," tawar Adi iseng.
"Tak boleh!" Adinda langsung melirik suaminya tajam.
"Kirain boleh." Adi terkekeh renyah, dengan menarik dagu istrinya.
"Tapi belum tua-tua betul kok, Pah. Masih bisa dapat yang tiga puluh tahunan." Gibran membenahi kerah baju ayahnya.
Tiga laki-laki itu tertawa lepas, saat Adinda pergi dengan amarahnya. Givan tidak mengerti, kenapa sekarang ibunya terlihat begitu mencintai ayah sambungnya lagi. Padahal, ia pernah melihat titik di mana ibunya tidak terlihat respect pada ayah sambungnya.
"Apa peletnya?" tanya Givan ambigu, dengan menunjuk ibunya yang telah berlalu.
Adi menoleh ke arah yang Givan tunjuk. Ia masih bisa melihat Adinda yang berjalan sampai di ambang pintu kamar tersebut. "Pelet Jepang. Ada uang, abang kau sayang. Tak ada uang, abang kau tendang." Adi malah bersenandung.
"Tak ah, yang atur uang kan mamah juga." Givan menurunkan nada suaranya, agar tidak ketahuan ibunya kalau ia membicarakan ibunya.
"Tak tau, Van. Karena tiap hari sama-sama terus kali. Cuma kan, karena udah adanya kesalahan dia malah lebih waspada. Kek dicurigai terus lah, wajar sih karena kita pun pas dikasih kelonggaran kebebasan malah nodai kepercayaannya. HP, seluruh medsos, mbanking pun tak luput dicek sama mamah kau. Macam Gmail aja, cek teratur loh. Mau bilang risih juga gimana, itu kesalahan Papah sendiri. Sadar diri gitu, udah buat luka." Adi berbicara serius dengan nada lirih.
"Memang ada permasalahan apa antara Papah sama mamah?" Gibran tidak tahu apapun, karena masa retaknya rumah tangga orang tuanya, ia berada di pesantren.
"Papah pernah buat kesalahan dulu. Kau jadi gimana sama Mariam?" Adi menepuk pipi anaknya, sengaja mengalihkan perhatian anaknya.
"Disuruh ke sana coba, Pah." Gibran mengacak-acak rambutnya. "Duh, takutnya aku. Aku mana berani, Pah." Gibran membayangkannya saja sudah begitu teruji mentalnya.
"Kalah sama Chandra. Alibi teman, teman, teman, ngapel terus dia. Cuma sekarang aku batasi, bukan apa-apanya, Pah. Masih sama-sama kecilnya, ibunya Izza minta Izza ditali sama Chandra. Dikhitbah begitu semacamnya, kalau tunangan kan laki-laki perempuan, itu sih cincin untuk perempuannya aja. Duh, beratnya hati. Aku mau Chandra fokus dulu, bukan perempuan terus gitu. Karena nih, Pah. Belum tentu juga si jodohnya ini Izza, namanya juga cinta monyet. Aku dulu pacaran bertahun-tahun sama Fira, awetnya sih sama Canda." Givan lebih takut jika anaknya mengalami kegagalan rumah tangga, jika melakukan pernikahan terlampau dini. Setidaknya, ia ingin Chandra memantapkan hatinya terlebih dahulu.
"Duh, biar apa? Anak masih SMP. Nanti kalau ngomong lagi, suruh ke sini aja. Bilang aja, Papah masih punya anak bujang gitu. Apa anaknya mau dilempar ke sini aja, untuk bujang Papah." Adi hanya bercanda, terbukti dari ia menimpalinya dengan tawa.
"Aku tak mau, Pah," tolak Gibran langsung.
Adi terkekeh. "Udah mentok rupanya sama Mariam yang berisik itu katanya? Bisa kau praktek di ranjangnya nanti?" Adi sengaja tidak menyampaikan pada anaknya, jika pak Taleb melarang pernikahan anak-anak mereka dengan alasan Gibran belum mampu dalam bidang ekonomi.
__ADS_1
"Ya bukannya karena mentok sama Mariam juga. Cuma tak enak aja, dari awal dia yang aku respon. Pasti nyesek banget, di kemudian hari aku nikahinnya perempuan lain. Insha Allah lah bisa, nanti sambil lihat toturialnya di HP."
Tawa Adi dan Givan langsung pecah. Mereka paham apa yang dimaksud oleh Gibran tersebut.
"Berisik aja tuh! Udah malam!" Gavin muncul di ambang pintu kamar yang mengeluarkan banyak suara tawa tersebut.
Beberapa hari ini ia masih fokus beristirahat, ia tengah memulihkan kondisi tubuhnya agar siap bertolak ke Brasil.
"Sorry, Brey. Ayo kita berangkat, Bran," ajak Givan kemudian.
Ia tidak mau pekerjaannya terbengkalai, karena asik bersenda gurau.
"Ayo, Bang." Gibran menaruh kembali map yang berharga untuk kehidupannya itu.
"Jadi aku boleh coret-coret kamar, Pah?" tanya Gibran, kala ia tengah membereskan map-nya di dalam lemari.
"Boleh, kamar kau aja. Kamar lain jangan, nanti dikira penginapan anak TK." Adi beranjak dari ranjang tersebut.
"Oke, Pah. Makasih, Pah?" Senyum Gibran terukir lebar.
Setelahnya, Gibran bangkit dan bergegas menyusul kakaknya yang sudah menunggu di depan rumah. "Mah, aku berangkat sama bang Givan," seru Gibran dengan melangkah keluar.
"Ya, ati-ati," jawab Adinda yang berada di ruang kamarnya.
Di usianya, ia sudah tidak tahan untuk begadang.
"Ayo sih, Dek." Adi memasuki kamar, setelah mengunci dan mengecek beberapa pintu dan jendela.
"Aduh, Pak tua. Ngantuk nih." Adinda menepuk bantal di sebelahnya.
"Sangu dulu, kan mau ke Cirebon. Nanti Abang di Canda, rumah sih pasti ditengok dan dibersihkan. Tapi tinggal di sana."
Adinda sudah menebak arah pikiran suaminya. Adinda tidak mengerti, kenapa hal ranjang bisa dikatakan untuk 'sangu'? Padahal, kebutuhan tersebut akan terus butuh meski ditekan untuk tidak melakukannya.
"Ya udah, terserah Abang aja. Aku mohon maklumnya aja, biar anak-anak kita semua yang kita anggap anak pun, bisa bahagia di masa mendatang. Kasian, kalau Ken harus hidup dalam pola pandang yang salah terus. Mumpung Alvi dan bang Harisnya masih hidup, jadi bisa ditanyakan langsung." Adinda memperhatikan suaminya yang naik ke atas ranjang.
__ADS_1
"Iya juga sih, biar Ken tak salah paham. Tapi Abang bisa salah paham nih, kalau Adek nolak. Berapa hari lagi coba? Abang harus kejar target, biar nantinya tak rindu-rindu terus." Adi memainkan jemarinya mengukir garis di wajah istrinya.
Hal itu malah membuat uapan Adinda lebih lebar.
"Janganlah tidur!" Adi mengguncang tubuh istrinya.
"Oh, oke-oke." Adinda mendadak membuka matanya kaget.
"Ish! Dodolnya!" Adi langsung menempatkan posisinya.
Beberapa hari setelah hari ini, Givan kedatangan rombongan Awang dan keluarga kecilnya yang berpamitan ke rumahnya. Masalahnya masih sama, Givan khawatir dengan ocehan Ai, karena istrinya begitu mudah terpengaruh.
"Nanti mau ke mamah kok, repot-repot ke sini jadinya." Canda menyambut hangat tamu yang datang ke rumahnya.
Givan tengah menggoyangkan tubuhnya, mencoba menidurkan Cala. Sayangnya, mata Cala tetap terbuka lebar menangkap gambar yang sudah jelas di matanya. Ia tidak ingin tertidur setelah mandi kali ini.
Suaranya melengking lepas, Givan tahu jika anaknya tidak suka pada posisi tersebut. Ia merubah posisi anaknya, kini tangannya menyangga tubuh Cala yang tengah tengkurap di lengannya. Wajah imut Cala terpampang jelas, mata yang serupa dengan milik ayahnya pun mengamati tamu yang datang.
"Malam kerja ya, Van? Pagi, tetap urus anak ya." Awang terkekeh kecil.
"He'em, alhamdulilah semua anak ngerasain diurus tangan anaknya. Yang kenyang sih yang tinggal sama Ghifar itu, si Ra. Astaghfirullah itu anak, mesti aja di tangan ayahnya." Givan geleng-geleng kepala, teringat masa saat Ra kecil.
"Mana besar ya dia, Mas?" timpal Canda, dengan menyajikan air mineral kemasan gelas yang tersimpan di bawah meja tamu tersebut.
"He'em, dari perut udah besar. Jadi gendong-gendongnya cukup buat encok."
Ketegangan mereka tercairkan dengan basa-basi membahas anak.
"Si bungsu juga lahiran besar, dua belas bulan, empat koma lima kilo," tambah Nafisah kemudian.
"Bisa normal itu?" Canda bertanya dengan ekspresi kagetnya.
"Normal, lahiran normal. Tapi setelahnya dirujuk, karena air ketubannya udah keruh. Khawatir keracunan atau gimana gitu kan, padahal sih tak apa, sehat alhamdulilah," jelas Nafisah bercerita.
"Pada bahas anak, jadi aku harus bahas anak yang diurus ayahnya juga?" Ai menatap tajam Givan, seolah Givan lah ayah yang tidak bertanggung jawab pada anaknya.
__ADS_1
...****************...