Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM156. Pendapat Nafisah


__ADS_3

Mereka terkejut melihat pemandangan kamar yang begitu urakan. Adinda menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kemudian menoleh ke arah Nafisah.


"Maaf ya, Mah? Aku udah tau kebiasaan Ai, memang begini anaknya. Jarang-jarang beresin rumah, waktu tinggal bareng pun aku terus yang beres-beres di rumah mertua." Nafisah merasa tidak enak hati sendiri, karena Ai tidak bisa menjaga kamar inap yang dipercayakan padanya.


"Di sini kek kost-kostan, jadi sapu atau alat pel itu disediakan di kamar," ungkap Adinda dengan memasuki ruangan tersebut.


Bau tidak sedap dan bau lembab menjadi satu. Yang paling tidak mengenakan pemandangan adalah bungkus snack yang berceceran di mana-mana.


"Canda malas, Ai lebih-lebih ternyata. Winda yang selalu malas cuci baju, ada Ai yang lebih malas gerak untuk ngurus baju sendiri," gerutu Adinda dengan melirik tumpukan baju kotor yang berada di pojok ruangan.


"Ya begitulah, Mah. Di rumah aja, laundry terus. Makanya ibunya Ai dulu kepikiran pas Ai merantau di Kalimantan." Nafisah memunguti beberapa bungkus snack yang berceceran.


Adinda mengingat kembali beberapa tahun silam, saat Ai tengah mengambil posisi sebagai calon menantunya. Ia teringat dengan rambut Ai yang begitu terurus, ia teringat dengan pakaian Ai yang begitu mahal, ia teringat akan style Ai yang selalu terlihat indah dan wangi.

__ADS_1


Ia pun membandingkan dengan kondisi Canda saat itu juga. Wanita sederhana, yang selalu meminta pendapat ketika ia mencocok pakaiannya. Keseharian Canda yang sering mengenakan sarung santri, dengan cilak berwarna hitam yang membuat sorot matanya tajam. Ia tidak menyangka, ternyata perempuan sederhana itu yang memenangkan posisi sebagai menantunya sekarang.


Kesederhanaan, apa adanya dan penurut, adalah hal yang sederhana tapi memberi nilai plus untuk seorang perempuan. Mereka akan dinilai perempuan baik-baik, apalagi jika bisa menjaga ibadahnya.


"Ai di Kalimantan, ya Givan yang jamin." Meski ia tidak tahu pasti, tapi ia tahu bahwa anak sulungnya royal pada siapa saja. Jangankan pada perempuan yang mereka sukai, pada teman pun mereka selalu membagi rezekinya jika ia tahu temannya sedang kesusahan. Adinda pun tahu, akan anak sulungnya yang selalu meminjamkan uang pada teman-temannya, tapi tidak berani menagih. Yang terpenting, ia sudah bisa membantu temannya. Hal sederhana itu, Givan pelajari dari sosok ibunya yang begitu royal pada siapa saja.


"Iya kayanya sih, Mah. Ke kampung tuh, ngirim uang ya utuh gajinya terus. Ibu mertua di sana dulu nanya tuh ke Ai, digaji berapa neng. Waktu itu kan, Ai gajinya sekitar enam jutaan ya? Katanya dia cukup buat uang lembur aja, makanya gajinya buat di kampung semua. Tapi dia kerja kan gak lama itu, dia pulang lagi ke rumah."


Adinda duduk di tepian ranjang. Ia tahu karena apa Ai meninggalkan pekerjaannya itu.


"Pendapat aku tentang Ai.... Ya mungkin karena aku ipar perempuan kali ya, Mah. Perempuan itu kan ratu, satu kerajaan itu hanya punya satu ratu. Jadi gak bisa tuh di rumah itu punya dua ratu, atau dua perempuan. Makanya, misal punya anak perempuan juga, ibu di rumah tersebut pasti selalu ribut dengan anak perempuannya. Itu contoh antara ibu dan anak aja, apalagi kalau dengan ipar perempuan. Hubungan aku, kurang baik dengan Ai." Nafisah tersenyum getir.


"Aku pernah diusir dari rumah sama Ai, makanya aku coba tutup mata aja pura-pura gak tau gimana Ai setelah kabur dari rumah. Padahal aku tau, aku punya HP android, aku bisa internetan, gak kaya a Awang. Ya a Awang pun bisa juga, dia bukan orang kuno. Tapi, dia itu kaya gak punya waktu buat main HP gitu, Mah. Di rumah, ya ngobrol sama aku, tidur, beresin barang di rumah yang rusak. Di jalan, ya dia fokus nyetir kan gitu. Aku tau, karena aku pernah ikut dia antar barang ke Jawa Tengah. Dengerin musik, kata a Awang lebih enak dari flashdisk, isi lagu yang sepuluh ribu itu lima puluh lagu katanya. Rehat di jalan, ya makan, tidur. Begitu terus siklus aktivitasnya, hidup itu gak neko-neko, Mah." Kala membayangkan kejadiannya yang diusir oleh adik iparnya, mata Nafisah sudah berkaca-kaca saja.

__ADS_1


Ia merasakan begitu sakit hati pada Ai, meski ia selalu mencoba memaafkan Ai karena kejadian itu pun sudah lama terjadi. Ia pun masih baik-baik saja dan jauh dari kesedihan, meski berumah tangga dengan kakak Ai dengan tabiat adiknya yang seperti itu. Meski dari satu rahim dan satu darah yang sama. Menurut Nafisah, suaminya jelas sangat berbeda sekali dengan Ai.


"Jadi, pendapat kau?" Adinda mencoba fokus memburu jawabannya.


"Ai salah, Ai tidak pandai dengan resikonya berjualan itu. Aku tau, mereka itu plus-plus semua, Mah. Jarang, ya mungkin hampir gak pernah ada yang lurus itu. Aku waktu masih gadis, aku kan bantu orang tua aku jualan nasi itu. Aku ngelayanin pembeli, terus pernah ada pembeli nawarin untuk kerja ikut dia, dia datang pakai mobil mewah. Nawarinnya katanya kerja jadi penyanyi, satu malam bisa buat kebeli motor katanya. Aku kan lulusan SMP, Mah. Aku gak tau apa-apa, ya hampir aku kebawa mereka. Untungnya, para supir semen yang lagi pada makan itu langsung ketus aja ke pembeli itu, terus suruh aku masuk ke warung ibu. Terus orang tua aku, sama supir semen ngobrol kan. Katanya, ya mau dijadikan pemandu lagu itu katanya. Malah katanya lebih mending penyanyi dangdut organ tunggal, daripada pemandu lagu yang di dalam gedung itu. Ya kalau niat jual diri sih, memang di mana aja bisa, bahkan sekarang mudah aja, yang penting punya aplikasi M*chat itu loh, Mah. Tapi katanya tuh gitu, pemandu lagu pasti ya sekalian 'jual-beli' juga." Nafisah membuat tanda kutip dengan jarinya.


Adinda mengangguk. "Selain itu, pendapat kau gimana lagi?" tanya Adinda kemudian.


Mereka sudah duduk bersama di tepian ranjang, dengan pintu kamar penginapan itu yang terbuka lebar. Sirkulasi udara berjalan lancar, tidak sebau saat mereka baru membuka pintu kamar tersebut.


"Aku pernah dengar cerita tentang katanya kapten kapal, yang kalau sandar itu kasih jajan perempuan untuk ABK yang mau. Nah, menurut aku itu mirip kasus Givan ini. Cuma kan, Givan ini pergi sebelum kasih tau kalau Ai itu dijadikan mayoran. Jadi kaya, ya Givan gak salah juga, Mah. Ai yang jual diri, dengan Givan dan teman-temannya yang beli. Orang beli kok disalahkan? Harusnya yang jual kan yang disalahkan? Misalkan keracunan makanan yang dijual orang pun, orang jualannya bertanggung jawab kan?"


Adinda masih mencoba memahami pola pikir Nafisah. Karena menurutnya, hal yang aneh jika keluarga Ai malah menyalahkan Ai seperti itu. Kecuali, Nafisah benar-benar membenci Ai.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2