Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM216. Kesensitivan Cala


__ADS_3

"Kenapa?" Tangan Givan terulur, untuk menyentuh apa yang istrinya pijat.


"Pump-nya tolong ambilkan, Mas. Penuh, sakit betul." Canda senagaja menyumbatnya dengan ujung jarinya di luar pakaian, agar ASI-nya tidak terbuang percuma.


"Oke, biar aku bantu." Givan bergerak cepat, meski keadaannya baru bangun tidur.


Ia menelan ludahnya, saat memasangkan alat pump ASI untuk istrinya. Kelegaan Canda begitu kentara, saat ASI-nya mulai keluar dengan lancar.


"Tak usah dipegangin, Mas." Canda mencoba memindahkan tangan suaminya yang berada di dadanya.


"Tapi mau pegang." Givan berkata apa adanya.


Canda mengerutkan keningnya. Canda terlihat merasa aneh, ketika sorot suaminya fokus memperhatikan dadanya yang terpampang jelas itu.


"Ada apa, Mas?" Canda yakin, suaminya tengah mengamati perubahan dalam dirinya.


"Aku kepengen." Givan memasang ekspresi sedih dengan meluruskan pandangannya, untuk menatap wajah istrinya penuh harap. Kemudian, tangannya memukul tempat tidur tersebut karena kesal.


"Kepengen apa?" Pikir Canda, suaminya menginginkan ASI-nya. "Tak boleh loh, Mas. Suami jangan sampai minum ASI istrinya, tiga tetes aja, katanya udah kehitung jadi anak," lanjutnya yang membuat Givan menghela napasnya.


Ia pun tidak berniat menjelaskannya pada suaminya, karena takut muncul pernyataan baru yang membuatnya semakin tercengang.


"Cium." Givan membelai pelipis istrinya.


Canda mengajukan wajahnya, kemudian memberi kecupan singkat di pipi suaminya. Kecewa yang Givan rasakan bertubi-tubi. Ia mengharapkan ciuman buas, bukan kecupan ringan seperti itu.


"Apa sih? Kok kek murung gitu?" Canda mengusap area rahang suaminya.


Pandangan Givan sudah merajalela. Sorotnya begitu buas, dengan taring yang seolah keluar dari gusinya.


"Sini aku bantu pump." Givan mencari kesempatan dalam kesempitan.

__ADS_1


"Kan ini elektrik, tak perlu diutak-atik." Canda menunjuk lampu indikator yang menyala.


"Eummm...." Givan tidak bisa menahan gerakan tubuhnya. Tangannya kembali mengganggu alat yang tengah bekerja tersebut, bibirnya langsung mendekat mengincar indra pengecap istrinya.


"Apa sih, Ananda?" Canda memundurkan kepalanya, mencoba menghindari cumbuan suaminya.


"Tadi nawarin dikeluarkan kah. Sekarang kok mundur-mundur terus?" Givan mengusap-usap dada yang tidak tertutup alat tersebut.


"Ya pakai tangan aja, sesekali aku bantu ****. Kek yang pernah kita lakuin, waktu aku nifas Cani. Memang Mas mau apa ini?" Canda berhasil membingkai wajah suaminya yang begitu intens menciuminya.


"Mau dij****." Tangannya merambah menyentuh perut istrinya.


"Tapi kan aku sesaran, Mas. Nanti dong, setelah empat puluh hari gitu. Yang sayang nyawa aku dong, Mas?" Canda ketakutan sendiri.


Givan baru teringat akan hal itu. "Cepatlah pump, Canda. Terus rebahan, biar aku yang kerja sendiri." Givan pun berharap ia bisa mengontrol dirinya saat mencari pelepasan untuknya sendiri.


"Mas serius kah, Mas? Uratnya agak lain, Mas menyeramkan." Canda kembali mendorong lembut dada bidang suaminya.


"He'em, kek nampak mau makan pas lagi lapar-laparnya gitu loh. Mas nampak buas betul, kek serigala mau nerkam mangsanya." Canda mencoba menjabarkan ekspresi suaminya.


"Oh, serigala toh? Aku kira, ke macam buaya." Givan mampu mencairkan suasana, ia mengundang gelak tawa untuk istrinya.


"I love you, Mas Givan." Canda menyentuh pipi suaminya.


"I love you too, Canda. You are my life." Givan mengajak Canda beradu mulut dalam arti sebenarnya.


Canda terlena, ia memasrahkan dirinya pada suaminya. Ia hanya berharap, semoga suaminya bisa mengontrol dirinya untuk tidak melakukan hal yang menyakitinya.


Givan belajar dari sini, bahwa sebaiknya memperindah istri bukanlah di masa nifas. Karena taruhannya adalah keimanan kita sendiri, untuk tidak memakan istri di masa nifas.


Pelajaran berharga, yang patut ia kemas dengan nasehat yang lebih halus untuk pemahaman anak cucunya kelak. Ia tidak mau, ada anak atau cucunya yang melakukan kesalahannya, atau bahkan lebih salah dari yang ia lakukan hari ini. Karena, menggunakan istri di masa nifas apalagi dengan riwayat sesar, adalah besar resikonya. Yang melahirkan normal saja, nyawa yang akan jadi taruhannya. Apalagi, jika pasca operasi sesar.

__ADS_1


Beberapa menit Givan berusaha, ia makin kelabakan kala anak bayinya menginginkan ASI. Givan memberi ruang untuk istrinya, agar bisa memberi ASI untuk Cala dalam posisi miring. Ia bekerja dari belakang sekarang, ia mencari tempat ternyaman untuk mencari meraih pelepasannya.


Sayangnya, anaknya tidak nyaman dengan posisi tersebut. Ia menangis lepas, dengan suara yang sudah nyaring. Cala tidak bersuara seperti anak kucing lagi sekarang, suaranya sudah seperti anak manusia.


Givan makin kelabakan, karena sebentar lagi ia akan mendapatkan tujuannya. Gerakan cepat dengan telapak tangannya terpaksa ia lakukan, karena ia merasa pelepasannya sudah sampai di ujung tanduk.


Tangis Cala bersahutan, dengan raungan ayahnya yang seperti T-rex. Canda sampai bingung untuk meladeni siapa, karena konsentrasinya terbagi oleh keduanya. Bersamaan dengan ambruknya Givan, bertaburan cairan yang berantakan. Cala juga menangis lepas, dengan langsung mengigit ujung dadanya dengan gusinya yang terasa tajam.


"Aduh.... Allahuakbar." Canda merasakan perih pada ujung dadanya.


Tangis Cala kembali terdengar, setelah tertutup dengan ujung dada ibunya, karena ayahnya meraih apa yang tengah ia nikmati. Givan tidak tahu, anaknya tengah menikmati makanan pokoknya. Ia hanya mencoba menuntaskan rasa yang belum habis ia nikmati sensasinya.


"Mas Givan! Lagi apa tuh! Rebutan aja sama anaknya dari tadi. Pegang kiri, Dodol! Cala lagi ASI kanan!" Canda kesal bukan main, karena suaminya dua kali membuat anaknya menangis tak terkontrol.


"Ehh...." Givan bangkit dari belakang istrinya. Ia melongok ke arah anaknya yang tengah mengamuk tersebut.


"Lap punggung aku yang kena nih, Mas. Aku mau bawa Cala bangun. Jadi tak mau dia ASI-nya, udah terlanjur kesal."


Givan tidak tega, melihat istrinya mengayun dan mengASIhi anaknya dengan tanpa pakaian. Setelah mengusap airnya yang menempel di punggung istrinya, Givan mencoba menutupi tubuh bagian bawah istrinya. Jika hanya seperti itu, Givan merasa geli karena istrinya seperti tuyul besar.


"Aduh, Cala. Maaf ya, Nak? Ayah tak tau kalau Cala lagi ASI." Givan mencoba mencium pipi anaknya yang berada di dekapan istrinya.


Cala bersuara mengagetkan, ketika pipinya tertusuk bulu kumis ayahnya. Malam ini, Cala begitu sensitif karena kekesalannya. Ia banyak menangis dan mengamuk, karena tragedi pabrik ASI-nya yang direbut ayahnya.


Givan merasa bingung dan geli sendiri, karena Cala terus menangis ketika ia dekati. Sedikit ia memahami sifat anaknya kali ini. Kekesalan Cala baru berangsur membaik, kala ia ditinggal mandi oleh ibunya. Mau tidak mau, ia diayun bersama ayahnya.


Namun, jiwa iseng Givan terus mengerjai Cala. Ia beberapa kali mencium anak bayinya, membuat si kecil Cala terus mengeluarkan suaranya meski akhirnya reda kembali.


"Mas Givan! Nanti rewel anaknya!" seru Canda dari dalam kamar mandi, karena mendengar anaknya terus merengek dan Givan tertawa lepas.


Canda tahu, Givan tengah mengisengi anaknya yang sensitif tersebut.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2