Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM110. Suasana ruang tamu


__ADS_3

"Duh, ngapain kalian datang semua?" Givan berakting menangis.


"Kok Mas sama aku begitu ngomongnya. Kalau aku tak nemenin Fir'aun, aku tak tau Mas keluyuran tanpa bilang." Canda menyindir suaminya.


Givan mencekal pergelangan tangan Canda, kemudian menariknya perlahan sampai Canda berdiri di depannya. "Putri minta antarkan, Canda." Givan mengeluarkan suara penuh kesabaran tersebut.


"Mana ada! Aku tak minta antar, Givan mau mastiin aku di sini," elak Putri kemudian.


Fira terkekeh, ia paham bahwa ayah dari anaknya itu tengah salah tingkah karena mantan kekasihnya berkumpul bersama istrinya. Padahal, Fira tidak tahu pasti dengan Ai. Ia hanya berpikir, bahwa Givan tidak suka dengan keberadaannya dan Putri dalam satu ruangan tersebut.


"Pulang lah, Mas. Anteng tuh!" Canda berkata dengan penuh kekesalan, ia langsung duduk di pangkuan suaminya.


Givan meringis, karena merasakan linu pada pahanya. Istrinya meski bertubuh kecil, tapi tubuhnya begitu padat dan berisi.


"Iya si Mas tuh keluyuran aja." Fira langsung menyodorkan kantong plastik yang ia bawa untuk Adinda.


"Salim atau apa, Fir! Nanti anak kau tau, kau disebut kafir lagi!" Givan seperti memarahi adiknya.


"Untungnya tak jadi mantu," celetuk Adinda yang hanya bergurau saja.


Mereka semua tertawa geli, mereka paham bagaimana cara Adinda bergurau.


"Buat suami Mamah, aku belikan sarung tapi motif khas Bali. Tapi katanya sih, sholatnya sah kok. Cuma motif aja, bukan patung Tuhan mereka." Fira menunjuk kantong plastik sudah berpindah tangan ke tangan Adinda.


Adinda membuka kedua sisi kantong plastik tersebut, kemudian bergulir memandang Fira. "Kau kapan datang? Yoka kenapa tak diajak?"


Yoka adalah salah satu kakak dari menantunya.


"Lagi hamil muda. Paling bener tuh jadi janda, Mah. Hamil begini, suaminya lupa komitmen. Usaha ada, uang punya, rumah, mobil pun punya. Menurut aku sih udah aja ya? Tak usah nikah tuh, tak ada fungsinya laki-laki tuh kalau kita udah punya uang." Fira berpendapat seperti ini, karena ia pernah mengalami memiliki suami. Sayangnya, pilihannya adalah laki-laki yang salah kembali. Membuatnya, benar-benar trauma untuk menikah.

__ADS_1


"Tak enak, Fir. Kau mau nyuruh siapa, untuk garukin punggung kau? Ngepel teras yang basah juga siapa? ART ada pun, ya beda rasanya kalau memerintah suami. Terus, kalau kau mau beli sesuatu, siapa yang mau kau suruh?"


Semua orang terkekeh kecil, tidak termasuk dengan Ai.


"Lebih dari konsep itu, Canda. Kita menikah ini, karena ingin dimuliakan dan tak capek kerja. Tapi kalau kita tetap nyari makan sendiri dan bahagiakan diri sendiri, ya udah aja menjanda." Pemikiran Canda dan Fira amatlah berbeda.


Canda seperti mengingat sesuatu. "Tapi, aku pernah jadi janda tuh tak enak. Biarpun anak-anak ada yang jatah juga, tapi tak enak tidur sendirian. Anak nangis tengah malam, tak ada yang gantikan. Aku sakit, tak ada yang urus. Tetap sih harus cari nafkah, plus jaga anak juga. Repot, Fir. Enak punya suami, sakit diurus, anak rewel ya gantian, ada yang disuruh pergi beli sesuatu. Gotong gas, ganti lampu, tinggal perintah. Uang pun dikasih, kepenuhan dipenuhi. Meski dulu aku pernah miskin pun, tapi tetap pandangan aku enak punya suami. Dulu miskin pun, suami aku setengah mati hidupi aku, kasih aku nafkah semampu. Tidur ada yang nemenin, batin terpenuhi juga. Tak ngeces, masanya datang rasa minat ke laki-laki."


Givan terus tertawa, mendengar pendapat istrinya. Ia merengkuh perut istrinya, kemudian menaruh dagunya di pundak istrinya.


"Ya tak, Put?" Canda mengisyaratkan dagunya pada Putri. Ia mencari kubu, untuk mengikuti pendapatnya.


"Aku gadis, Canda. Jangan minta pendapat aku, bagaimana rasanya jadi janda." Putri memutar bola matanya malas.


Adinda tertawa lepas, dengan beberapa suara bercampur. Berbeda dengan Ai yang terjebak bingung di sini. Ia tidak tahu, siapa dua perempuan asing tersebut.


"Gadis rasa janda, pada ngasih anak ke Mas Givan." Canda bangkit, lalu mencari tempat duduk sendiri di sebelah Putri.


Adinda sampai meraup wajah Fira, karena ngotot-ngotot berbicara pada Canda. Seperti gurauan, mereka semua tertawa renyah tanpa beban.


Ai memperhatikan wajah Fira, ia mencoba mengingat kembali perempuan tersebut. Jawaban sudah diberitahukan, tapi Ai masih tidak tahu pasti dan tidak percaya dengan perempuan tersebut.


"Mamah Fir'aun...." Seorang anak perempuan berusia tiga belas tahun tersebut berlari masuk.


Semua orang kembali tertawa, mendengar panggilan tersebut. Minus dengan Ai saja, ia diam karena tidak tahu apa-apa.


"Key! Mamah aja dong! Masa Mamah Fir'aun???" Fira sudah memasang wajah sedih ingin menangis.


"Maaf ganggu." Key merasa tidak sopan, karena ternyata banyak terdapat orang dewasa di ruangan ini. Sopan santunnya di gunakan.

__ADS_1


Key langsung duduk di pangkuan ibunya, yang duduk di samping neneknya.


"Mah...." Key mendongak dan berbicara lirih. "Aku minta uang, mau ke Aniq. Mau beli chicken, terus pulang." Key tahu, sangat tidak sopan meminta uang pada orang tuanya di depan banyak tamu. Ia banyak diajarkan tentang sopan santun dan budi pekerti. Maka dari itu, ia memilih untuk berbisik-bisik dengan ibu kandungnya.


"Ada Mamah kok masa main?" Suara Fira tidak bisa bisik-bisik.


"Beli chicken, terus pulang lagi," jelas Key kemudian.


"Ya udah yuk, sama Mamah. Key izin dulu ke Ayah sama Biyung." Fira menurunkan anaknya dari pangkuannya. Kemudian ia berdiri, hendak pergi bersama anaknya.


"Mamah udah masak, Fir." Adinda menawari Fira makan. Tempat mereka berdekatan, Adinda mendengar maksud Key datang dan mendekati ibunya.


"Keynya minta chicken, Mah. Tadi juga bu Muna udah bilang juga, kalau dia udah masak. Membuat dasarnya Key berusaha nguras uang Mamahnya, Mah," sindir Fira yang membuat Key malah memeluknya malu-malu.


"Kata Ayah kan, Key anak Mamah. Suruh minta bagian usaha dan belajar usaha sama Mamah." Wejangan kecil disampaikan secara tidak langsung, agar perlahan anak itu mengerti bahwa ia bukan ahli waris dari ayahnya. Karena, keadaannya yang ada tanpa pernikahan.


Ai sejak tadi hanya menyimak, mencoba menyusun puzzle yang sulit dimengerti oleh dirinya.


"Iyalah! Mamah tak punya anak lain selain Key, jadi Key harus jadi penerus Mamah," ujar Givan, ketika Key sudah sampai di hadapannya.


Mau tidak mau, banyak Givan sepakati tentang hal itu. Ia hanya berharap, bahwa anak laki-lakinya kelak bisa mengontrol sesering mungkin saudari satu ayahnya ini. Untuk mengecek keadaan Key, yang jauh di pandangan matanya karena usaha Fira berada di Bali.


Banyak lagi pembahasan akan hal itu, hingga adanya satu syarat keluar tentang Key yang boleh pergi ke Bali ketika sudah bersuami saja. Rencana itu masih pembahasan saja, belum matang dan belum diputuskan secara tertulis. Agar bilamana mereka telah tiada, Key tetap bisa melanjutkan usaha Fira lewat surat wasiat tersebut.


"Ayah, aku izin keluar sama Mamah kandung aku." Key langsung memberikan pandangan penuh harapnya, agar diizinkan oleh ayahnya.


Seolah puzzle yang tersembunyi itu keluar. Ai langsung mampu terkoneksi dan menyusun semuanya di dalam pikirannya. Ia sekarang paham, apa hubungan anak pertama Givan itu, dengan perempuan yang duduk kembali di sebelah Adinda.


"Ini.... Anak Aa sama orang lain?" tanya Ai tanpa sungkan, dengan menunjuk Key dengan ibu jarinya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2