
"Oke, Biyung. Aku udah ngerti. Terus, gimana caranya kalau kena pakaian. Soalnya, beberapa celana aku udah ketempelan juga. Apa itu suci, meski udah aku gosok pakai sabun?" tanya Jasmine, ketika mereka baru keluar dari kamar mandi untuk mencontohkan caranya mencuci pembalut sebelum dibuang.
Canda mempercayai, jika pembalut yang belum dicuci akan mengundang jin dan makhluk astral lainnya.
"Biyung dapat ilmu begini, Dek. Sini ke kamar dulu, Biyung ceritakan." Canda mengajak Jasmine untuk duduk di kamarnya kembali. Mereka duduk bersama di sofa panjang, yang berada di dekat jendela.
Givan permisi keluar, sejak Canda mencontohkan caranya untuk memasang pembalut. Kini, Jasmine pun sudah mengenakan pembalut. Givan kedatangan temannya, yang bertugas menjaga gudang toko material besar yang ia miliki.
"Datang seorang perempuan kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dia berkata, salah satu dari kami mengenai baju kami dengan darah haid, bagaimana kami menggunakan baju ini lagi. Lalu Rasulullah SAW menjawab, gosokklah bajumu, kemudian sikatlah dengan jari-jari dan kuku-kukumu dengan air kemudian siramlah dengan air lalu sholatlah dengan baju itu. Hadits riwayat Muslim. Ada lagi begini, Dek. Syekh Mohamed Mutawally Al-Sh’aarawi 1911-1998, dia seorang ulama kontemporer dalam kitabnya Fiqh al-Mar’ah al-Muslimah menjelaskan makna tahuttuhu memiliki makna tahukkuhu yang artinya menggosok, menyikat dan menggaruk. Sedangkan tuqrishuhu memiliki makna tadullukuhu bi al-ashoobi’ wa al-izhfaar ma’a shobb al-maa’ ‘alaihi hattaa yadzhaba atsaruhu, menyikat dengan jari dan kuku dan disiram dengan air sampai hilang bekasnya. Sedangkan tandhuhuhu memiliki makna taghtasiluhu yaitu menyiramnya dengan air mengalir. Nah, jelas kan? Jadi baju yang terkena haid, boleh dipakai sholat kalau udah disucikan dengan cara yang Biyung jelaskan tadi," ungkap Canda dengan perlahan.
"Aku pengen pintar kek Biyung." Jasmine menggenggam punggung tangan ibu asuhnya.
"Kenapa tak mau masuk pesantren? Biyung masuk pesantren dari SD." Canda teringat jejak pendidikannya yang hanya mengutamakan agama ketimbang akademik.
"Nanti SMA aja ya, Biyung? Aku belum berani jauh dari Biyung, jauh dari ayah." Alasan Jasmine serupa dengan Key.
"Tanggung kalau menurut Biyung sih, Dek." Canda latah menyebutkan semua anak perempuannya 'dek', jika tidak ada orang lain.
"Tak tanggung tak apa kok, Biyung. Kan aku mesti tetap sekolah juga."
Canda memiliki kebingungan di sini. Karena dari SMK, lalu masuk perguruan tinggi saja, mereka harus mengejar materi yang tidak diajarkan di sekolah. Karena basic anak SMK, ya dunia kerja. Canda mendengar cerita ini, dari teman kuliahnya dulu.
__ADS_1
Ditambah lagi, ia memiliki pengalaman masuk perguruan tinggi dari lulusan MA. Ia pun sama halnya seperti anak lulusan SMK, ia mengejar materi yang tidak diperdalam di sekolahnya. Karena Canda pun merasa, MA tempat ia sekolah sekaligus mondok dulu, lebih banyak belajar tentang ilmu agama.
"Nanti masalah itu Biyung ngobrol sama ayah deh, kan nanti kak Key dulu yang masuk SMA. Biar enak kan gitu, biar kalian bisa satu sekolah lagi." Urusan pendidikan, anak menantu Adi Riyana menyekolahkan anak-anak mereka di satu sekolahan yang sama. Bahkan, kakeknya memiliki hibah bangunan di sekolah cucu-cucunya menimba ilmu.
Semata-mata, mereka hanya ingin anak-anak mereka bisa saling menjaga dan melindungi. Mereka pun ingin, anak-anak mereka saling berangkat dan pulang bersama meski terkadang ada saja anak yang pulang ngaret seperti Chandra.
"Ya, Biyung. Biar enak, satu angkot isinya saudara semua." Jasmine terkekeh kecil.
"Iya begitu." Canda mencubit dagu anaknya. "Gih istirahat, kalau haid jangan terlalu capek ya? Jangan banyak aktivitas berat, jangan sampai perutnya kena tendang, kena dorong, apalagi kena pukul. Karena rahim Adek lagi tumbuh." Canda bingung ingin menjelaskan secara medis, karena ia tidak paham ilmunya. Tapi ia percaya, perempuan yang tengah haid, rahimnya sangat sensitif.
"Ya, Biyung. Yang hitam ini, aku pakai di malam hari. Yang hijau ini, aku pakai di siang hari ya? Terus tiap dua sampai tiga jam sekali, aku harus ganti dan cuci pembalut kotornya, terus buang di tempat sampah ya?" Jasmine mengulangi aturan pakai, yang sudah Canda jelaskan saat mencontohkan caranya untuk memasang dan mencuci pembalut.
"Iya, betul sekali. Kalau kram perut, sakit perut, sakit pinggang. Bilang ke ayah ya? Nanti ayah belikan plester haidnya." Canda tidak menyetok ini, karena ia pun membeli ketika haidnya merasa kurang nyaman saja.
"Wa'alaikum salam." Canda melirik ke arah jam dinding.
Sudah sore, suaminya ke mana lagi? Canda beranjak. Ia bercermin sebentar, kemudian melangkah ke luar kamar dengan menggenggam ponselnya.
Suaminya ada di ruang tamu, ia tengah mengobrol. Canda pun tahu kesopanan, ia tidak ingin mengganggu suaminya yang tengah serius berdiskusi.
Ia melipir ke arah belakang sofa Givan. Kemudian, ia membisikan sesuatu pada Givan dari tempatnya.
__ADS_1
"Aku keluar ya? Entah ke mamah, atau ke ibu," bisiknya pelan di telinga suaminya.
Givan menoleh ke belakang. "Di ibu aja ya? Jangan ke mamah." Givan memberikan sorot mata dalamnya. Ia ingin Canda mendengar pesannya, agar tidak datang ke rumah ibunya. Karena Givan tahu, jika di rumah ibunya ada tamu dari pihak Ai.
Canda merasa kegeeran sepersekian detik. Ia tersipu, dengan tatapan dalam suaminya yang jarang ia dapatkan. Ia salah memaknai sorot mata penuh larangan dari suaminya tersebut.
"Kenapa kau?" Givan menarik hidung istrinya, merasa aneh dengan bias merah di wajah istrinya.
Canda terkekeh malu dan menggeleng. "Gih, ke ibu. Nanti aku jemput ke sana, naik motor aja ya? Kita jalan-jalan ke pasar malam berdua," bisik Givan di depan wajah istrinya.
Canda mengangguk. "Aku ke ibu dulu, Mas." Canda memberanikan diri untuk memandang wajah suaminya. Kemudian, ia melipir dengan sopan setelah mendapat izin dari suaminya.
Canda mengerutkan keningnya, ia cukup bingung dengan beberapa mobil yang terparkir di depan rumah mertuanya. Pintu yang terbuka lebar, dengan beberapa pasang sepatu menandakan adanya tamu di rumah tersebut.
Pantas saja suaminya melarang dirinya untuk datang ke rumah mertuanya. Rupanya, tengah ada tamu yang dirahasiakan darinya.
Benar, Canda berpikir tamu tersebut dirahasiakan darinya. Kemungkinan besar, Canda memprediksikan tamu tersebut ada sangkut pautnya dengan suaminya. Namun, suaminya tidak ingin dirinya tahu.
Dengan begini saja, rasa penasarannya yang berkadar lima puluh persen. Kini, tumbuh seketika berkadar seratus persen. Antara ingin masuk ke dalam rumah mertuanya langsung, atau kembali ke rumahnya dan bertanya pada suaminya. Canda dilema, karena rasa penasarannya yang semakin menjalar.
Kakinya melangkah mendekat ke arah pagar. Ia menimbang-nimbang ingin membuka pintu pagar tersebut, kembali ke rumahnya, atau melanjutkan langkahnya menuju ke rumah ibunya.
__ADS_1
...****************...