
Author POV
"Mas Givan...," panggil Canda cepat, saat melihat suaminya terbatuk-batuk dengan miring ke arah kiri.
Canda bisa melihat jelas wajah merah suaminya, yang tengah batuk keras tersebut. Givan seperti tengah berusaha untuk mengeluarkan sesuatu dari tenggorokannya, ia merasa seperti tersedak.
"Panggil dokter, Far!" pinta Adinda segera.
Ghifar mengangguk cepat, ia menarik tangannya yang mengusap-usap tubuh bayi Canda. Langkah lebar dan cepatnya segera menjauh dari ruangan tersebut, Ghifar langsung menyerukan suaranya ketika baru sampai di depan ruangan dokter yang menangani Givan.
Dokter pun berlari kecil, untuk memenuhi panggilan darurat tersebut. Givan sudah duduk dengan mengatur napasnya, ketika dokter masuk ke ruangannya.
"Kenapa, Pak Givan? Apa yang Bapak rasa?" Dokter langsung bersiap untuk memberi tindakan.
"Saya keselek bakso pedas, Dok."
Seperti ada suara jangkrik yang menyertai kalimat tersebut. Semua orang saling memandang, dengan tatapan bertanya-tanya.
"Loh, katanya baru bangun kan, Pak Ghifar?" Dokter tersebut menoleh ke arah Ghifar.
"Iya memang, tak ada bakso juga, Dok. Ada nasi sama ayam goreng K*C aja tuh, Dok." Ghifar menunjuk meja yang dekat dengan jendela yang terbuka.
Dokter yang terlihat masih muda tersebut menggaruk kepalanya. "Obat anastesinya kelebihan dosis kah?" Ia bertanya-tanya seorang diri.
"Masa, Dok? Padahal dulunya si Givan pernah masuk rehabilitasi." Adinda masih mengusap-usap punggung anaknya yang masih mengatur napasnya.
Mereka sama-sama tahu, obat anastesi yang dipakai adalah jenis narkotika yang legal sesuai dosis medis.
"Aku jadi bayangin Bang Givan pas dalam pengaruh, Mah." Ghifar terkekeh kecil, dengan memperhatikan kakaknya.
Pikirannya langsung membayangkan tentang kakaknya yang tengah halusinasi melakukan aktivitas tertentu, padahal ia tidak di tempat yang sesuai untuk melakukan aktivitas tersebut.
"Saya periksa dulu, Pak Givan." Dokter tersebut tidak mau bertambah bingung dengan situasi yang ada.
__ADS_1
Givan pasrah dengan berbaring kembali, kala dokter menekan titik tertentu di bagian perutnya. Beberapa pertanyaan pun diajukan oleh dokter tersebut, untuk memastikan keadaan Givan.
"Nanti perawat datang bawakan obatnya. Boleh makan, setelah lima belas menit mengunyah obat yang diminum sebelum makan." Dokter tersebut mengalungkan stetoskopnya kembali.
"Udah stabil kah keadaannya, Dok? Gimana tensinya?" Adinda aktif mengajukan pertanyaan tentang kondisi anaknya.
"Stabil, Bu. Nanti Hb-nya kami cek kembali, untuk darah sudah normal." Mendengar jawaban dokter tersebut, Adinda merasa lega karena tensi anaknya tidak tinggi lagi.
"Nanti perawat datang, Saya permisi dulu." Dokter tersebut undur diri dengan sopan.
"Iya, terima kasih, Dok." Adinda memasang senyum simpulnya.
"Sama-sama, Bu." Dokter tersebut membalas senyum ramah Adinda.
Givan menarik air hidungnya, ia masih merasa tenggorokannya begitu pedas. Mimpi tentang dirinya yang kelaparan dan memakan bakso yang dibeli istrinya dengan terburu-buru, membawanya terbangun dari mimpi dalam pengaruh biusnya.
"Mana itu si Cendol?!" Givan memegangi tengkuknya, dengan menoleh ke sekeliling.
Ia mendapati istrinya yang menatapnya dengan bingung, bayi yang berada di dekapan istrinya seolah tidak terlihat jelas di mata Givan. Sorot tegas Givan, seolah ingin memarahi istrinya dengan lepas.
"Mas sini, peluk. Aku kangen." Canda mengulurkan satu tangannya, yang tadi digunakan untuk menopang punggung anaknya.
Ia bisa menggendong bayinya dengan hanya menggunakan tangan kirinya saja.
"Tau ah! Kau tau aku tak suka makanan yang terlalu pedas, kau sandingkan aku makanan pedas! Sakit betul tenggorokan aku." Givan memegangi lehernya sendiri.
Canda mengerutkan keningnya. Ia tahu tentang hal itu, seumur ia mengabdi pada suaminya pun, ia tidak pernah menyandingkan makanan yang terlampau pedas. Bahkan, untuk membuat sambal pun. Canda selalu mengeluarkan biji cabainya, agar sambal buatannya tidak terlalu pedas meski begitu merah.
Jadi jelas, Canda merasa bingung dengan tuduhan suaminya. Apalagi ia tahu, mereka sama-sama terbangun dari mimpi aneh mereka masing-masing. Canda tidak menyangka, jika suaminya bermimpi memakan bakso. Karena mimpinya, terlihat buruk dengan laki-laki yang ia rindukan.
"Iya maaf gitu, Canda." Adinda memberikan kedipan rapat.
Canda mengangguk setelah melirik ibu mertuanya. "Aku minta maaf ya, Mas? Aku janji tak sandingkan makanan pedas lagi."
__ADS_1
Ghifar tertawa lepas, bayi dalam dekapan Canda pun tersentak kaget kembali mendengar tawa Ghifar yang menggema. Karena merasa kenyamanannya yang terus terganggu, anak perempuan tersebut melepaskan suara tangisnya.
Givan masih memandangi istrinya. Ia melirik ke arah punggung tangannya yang terpasang infus. Ia terdiam dengan mengingat hari-hari sebelumnya. Ia senantiasa mengajak istrinya berbicara, agar istrinya cepat terbangun. Rekaman video tangis anaknya, ia putar untuk menyadarkan alam bawah sadar Canda.
Rupanya, yang ia nantikan telah sadar dengan menggendong anak bayi mereka yang sempat mereka kesampingkan karena kondisi mereka masing-masing yang tak memungkinkan. Givan menggerakkan kakinya untuk turun dari singel bed tersebut, ia menarik tiang infusnya agar mengikuti arah gerakannya.
"Far, Far.... Tahan berat badan Abang kau. Mana tau dia masih lemes," pinta Adinda dengan membantu anaknya untuk bangkit dari posisinya.
Ghifar segera siaga untuk membantu kakaknya berjalan. Givan mampu untuk melangkahkan kakinya, meski Ghifar sudah bersedia untuk menjadi kakaknya sebagai tempat berpegangan.
Haru menyelimuti.
Isakan Givan lepas, tatkala ia mampu menyentuh istrinya. Tangis ayah dan anak tersebut berbaur, mengundang haru untuk Adinda dan Ghifar. Berbeda dengan Canda yang malah bingung dengan situasi yang terjadi, ia tidak mengerti dengan kejadian yang terjadi di depan matanya.
"Jangan hamil-hamil lagi, aku vasektomi aja untuk kau." Givan sesenggukan, dengan merengkuh leher istrinya.
"Aku siap hamil anak Mas lagi. Kenapa Mas ngomong gitu? Apa tak mau anak dari rahim aku lagi?" Canda sedikit tersinggung, mendengar pernyataan suaminya.
"Aku takut, Canda. Jangan lagi-lagi begini, Canda. Kita mati bareng-bareng aja, Canda. Jangan biarin aku sendirian kek kemarin. Kau tau, aku bisa mati kalau kau kenapa-kenapa." Kalimatnya terpenggal-penggal, dengan rintikan kelemahan yang tumpah dari netranya.
"Mas kok ngomongnya gitu." Canda tak mampu mendengar ungkapan dalam dari suaminya.
"Izinkan aku vasektomi setelah ini, Canda. Biar kau tak hamil lagi, karena perbuatan aku." Givan benar-benar kapok untuk meminta seorang anak dari istrinya lagi, karena kejadian ini.
Ia pernah bertekad untuk melakukan hal serupa, saat istrinya melahirkan Ra. Namun, ketidakseimbangan terulang kembali. Canda diberi karunia seorang anak di rahimnya, kala tengah mengistirahatkan tubuhnya dari KB.
"Iyain, Canda. Kau diam aja, buat suami kau berisik terus." Adinda tidak mau melihat drama tersebut berkepanjangan, sudah banyak air matanya jatuh karena drama mengharukan dari anak sulungnya dan menantu tertuanya itu.
"Tapi, Mah. Tapi, Mas...." Canda memutar bola matanya bergantian menatap satu persatu nama yang ia sebut.
"Tapi apa, Canda!" Givan membingkai wajah istrinya.
"Tapi........
__ADS_1
...****************...