Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM35. Rahasia dalam video


__ADS_3

Seperti sudah diatur ketepatannya. Kebetulan sekali, Ai keluar dari dalam kamar tempat ia tinggal untuk membuang sampah bekas makanannya. Ia tidak menyadari ada istri Givan di area penginapan itu.


Ai kembali masuk ke dalam kamarnya, setelah ia selesai dengan membuang sampah-sampah miliknya. Canda kini semakin yakin, untuk tidak mempercayai suaminya.


Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, bahwa Ai keluar dan masuk kembali ke dalam kamar penginapan itu. Ditambah lagi, sedikit penjelasan dari Gavin dan Ajeng yang mengatakan suaminya semalam datang dan dikenalkan pada Ajeng.


"Jam berapa abang kau ke sini?" Canda menoleh ke arah Gavin.


"Setengah sebelas malam, kalau tak salah." Gavin sudah terlanjur tidak enak. Ia tidak sengaja membocorkan dan memperkeruh rumah tangga kakaknya.


Canda ingat, bahwa jam delapan malam dirinya baru kembali dari rumah sakit. Karena pengaruh obat, ia langsung terlelap tanpa memikirkan suaminya yang masih terjaga itu.


Ia akan mencatat ini dalam ingatannya, bahwa suaminya pergi tanpa izin darinya. Sudah dua kali, Givan melakukannya menurut Canda. Meski sebenarnya, sudah lebih dari dua kali itu.


Saat pertama kali Givan pergi tanpa izin, adalah saat dirinya mencari suaminya lalu dirinya diantar pulang oleh Gavin. Suaminya berdalih, bahwa ia baru pulang dari menjemput Gavin di bandara.


Lalu, yang kedua adalah informasi dari Gavin ini. Canda benar-benar yakin, bahwa suaminya bukan dua kali ini saja mengendap-endap untuk menemui Ai.


Keputusan untuk mencari kebahagiaannya sendiri dan tidak memperdulikan suaminya kini makin bulat. Canda semakin ingin menadah kebenaran lainnya yang belum terungkap.


Karena ia sadar bahwa dirinya tidak bisa mencari tahu sendiri. Ia akan menjadi pendengar dan penadah informasi saja, biarkan semesta menguak semuanya perlahan. Canda akan terima itu, dengan coba membatukan hatinya terhadap rasa lara dari suaminya.


Hal itu sudah dilakukan oleh suaminya, Canda tidak bisa mencegah, apalagi menangisinya. Karena hal itu sudah terjadi, Canda tidak bisa melakukan apa-apa.


"Udah dong, kenapa jadi tegang gini?" Kenandra membuka satu persatu tentengan yang ia bawa dari mobilnya.


Canda tersenyum melihat salah satu makanan yang ia sukai. Ia akan mulai mencari kebahagiaannya sendiri dari hal-hal kecil.


"Salak pliek, kesukaan aku ini." Canda langsung merebut setepak makanan dengan citarasa unik tersebut.


"Super tebai juga ada, nih seukuran tepak ini juga." Kenandra membuka wadah lainnya. "Abang tadi ke studio antarkan ini untuk mamah, super tebai sama salak pliek. Lewat Ghava aja, karena biasanya jam segini mamah lagi repot masak untuk makan malam. Nanti aku malah disuruh beli Royko sapi lagi ke warung, kalau datang di jam mamah masak." Kenandra mencoba menciptakan tawa ringan dan itu berhasil.

__ADS_1


"Kek apa sih rupa mamah, Bang?" Ajeng bertanya, dengan mencomot salah satu makanan yang tersuguh di depan matanya tersebut.


"Kek Kak Canda, pendek segitu. Tapi wajah mamah judes, tak teduh kek Kak Canda. Nanti ya kalau suasana udah kondusif, Abang bawa kenalkan. Di rumah lagi ada masalah soalnya, mamah pun belum minta Adek ke rumah." Dari kalimat Gavin ini, Canda menyimpulkan bahwa Ajeng adalah wanita Gavin.


"Vin, ini anak kau? Kau udah nikah di sana?" Canda menyentuh lengan anak laki-laki yang berada di dekatnya itu.


Elang tengah berjalan dengan berpegangan pada tembok, ia tengah mencoba berpindah dari satu pegangan ke tempat yang bisa ia jangkau.


Satu kebenaran yang belum terkuak di rumah megah.


"Ini anak sambung aku, Kak. Memang udah ada akad di sana. Tapi pas aku bilang mamah untuk ajuin nikah siri, mamah sama papah langsung tak suka dengarnya. Mau aku ceritakan aslinya pun gimana, orang baru bilang begitu aja udah nampak marah."


Mulut Canda membentuk lingkaran sempurna. Anak laki-laki keluaran pesantren ternama itu, ternyata berani menikah secara diam-diam.


"Makanya udah ngamer aja mereka, ngerasa udah sah," timpal Kenandra, yang duduk menghalangi pintu.


Canda menoleh ke arah Kenandra. Ia masih tidak percaya fakta bahagia yang harus disembunyikan sementara itu. Ia yakin, beban pikiran mertuanya sudah begitu rumit. Mertuanya pasti begitu shock, jika mengetahui ternyata mereka sudah memiliki menantu baru.


"Ngaku-ngaku sih bisa kali, mana bukti nikahnya?" tanya Canda kemudian.


"Siri, Kak. Nih...." Gavin menunjukkan salah satu video yang berada di galeri ponselnya.


Video akad nikah berbahasa Indonesia yang dihadiri dua orang saksi yang Canda kenal, membuat Canda percaya seketika. Ada Hala dan Sifa, dua orang anak sahabat dari mertuanya hadir dalam video tersebut.


"Bisa-bisanya?" Canda menggeleng lemah. "Papah bisa pingsan loh, mamah bisa ngamuk juga." Canda membayangkan seramnya suasana mencekam di rumah megah mertuanya.


"Aku takut berzina, Kak." Gavin tertunduk sesaat. Kemudian, ia memandang wajah kakak iparnya kembali. "Ajeng masih proses cerai, makanya aku tak bisa bawa dia resmi. Padahal Ajeng udah tak sama suaminya, sejak dia ngandung lima bulan. Sekarang Elang udah sembilan bulan di luar perut, dia pun tak pernah nampak rupa bapak kandungnya." Gavin menjadikan tempat pegangan untuk anaknya, kala Elang mencoba berjalan ke sisi lainnya.


"Ya Allah." Canda malah ikut bingungnya saja.


"Ngajuin cerai sejak hamil tujuh bulan, Kak. Cuma ditunda, karena posisi lagi hamil. Terus baru dilanjutkan lagi, setelah selesai nifas," tambah Ajeng kemudian.

__ADS_1


Canda beralih memandang wajah Ajeng. Canda agak samar mengingat tentang hukum pernikahan yang rumit seperti itu, ia sedikit lupa tentang ajaran itu yang ia dapat dari pesantrennya dulu.


"Memang kau bujang real kah, Vin?" Canda melontarkan pertanyaan yang membuat Kenandra tertawa lepas.


Ria terganggu dalam tidurnya. Ia menggeliat, kemudian membuka matanya perlahan. Klise keramaian membuat nyawanya langsung terkumpul, apalagi ada laki-laki yang amat ia hindari pertemuannya tersebut.


Ria cepat-cepat mengusap air dari mulutnya yang leleh di atas bantal tersebut. Kemudian, ia membenahi hijabnya yang rusak karena dibawa tertidur tersebut.


"Mbak, ada di sini?" Ria lebih dulu menyapa wanita yang selalu membayarkan paket COD-nya dulu.


"Sini makan salak, Dek." Canda melambaikan tangannya pada adiknya.


Ria sudah tahu akar masalah rumah tangga kakaknya dan orang ketiga tersebut. Dengan adanya Canda di sini, Ria membayangkan lemahnya kakaknya menghadapi segala ucapan dari Ai. Ria khawatir dengan kondisi kakaknya yang tengah mengandung muda tersebut, ia tidak menghendaki kakaknya ada di sini.


"Mbak di sini? Balik yuk?" Ria turun dari ranjang.


Ini adalah opsi yang paling aman untuk Canda menurut Ria.


"Cuci muka aja dulu gih, terus sini duduk," perintah lembut Canda tak terbantahkan.


Ria mengangguk patuh, untuk membasuh wajahnya dan akhirnya berkumpul bersama memakan cemilan tersebut. Belum lagi Kenandra mengeluarkan beberapa cemilan renyah yang ia beli dari minimarket.


"Mbak jangan main di sini. Siapa sih yang ngajak ke sini?" Ria berbaur tapi terlihat tidak suka dengan keberadaan kakaknya.


Bukan apa-apa, Ria khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan.


"Bang Ken, kenapa memang?" Canda terlihat santai dan Ria tidak percaya dengan Canda yang bisa tertawa bersama orang-orang terdekatnya itu.


"Kan ada anu." Ria ragu-ragu mengatakannya.


"Nah, mumpung lagi kumpul. Jadi gimana rencana yang sebelumnya kita bahas itu. Kita minta kerjasamanya dari Canda juga." Kenandra menoleh ke arah Canda, ia membuka obrolan yang lebih serius sekarang.

__ADS_1


Semua perhatian tertuju padanya.


...****************...


__ADS_2