
"Nah, dah begini tuh. Terus maunya gimana? Katanya, kau kurang setuju anak kau diambil alih Abang?" Givan mendengar ini dari istrinya.
"Bukan tak setuju, tapi aku mau di akte kelahirannya, aku yang jadi ayahnya. Aku pengen diakui bukan cuma ucap di bibir aja, tapi dengan bukti nyata." Gavin menunjamkan rokoknya di asbak yang tersedia. Meski Givan tidak merokok, tapi beberapa orang kepercayaannya yang mengobrol di ruang kerjanya tentu pasti akan merokok.
"Jadi, kau mau nikah sama siapa? Kau siap nikah dalam waktu dekat?" Sebenarnya Givan tidak setuju adik ipar menikah dalam waktu dekat. Ia hanya menantang adiknya saja, karena ia yakin adiknya pun belum memiliki calon.
"Nah itu masalahnya." Gavin menggeleng berulang. "Aku tak punya calon. Aku pun tak mau nikah dalam waktu dekat, karena khawatir Ajeng tau dan berpikir kenapa dia tak cepat diresmikan. Sedangkan, orang baru langsung diresmikan. Pasti ada rasa irinya, pas dia tau kalau aku nikah dengan orang baru secepat itu dan langsung ambil resmi." Gavin tidak ingin ia dituduh demikian oleh Ajeng.
"Kan keadaannya pun beda, Vin. Misal nanti kau langsung resmi, kan karena perempuannya udah beres juga. Memang kalau kau langsung ambil resmi si Ajeng kemarin, dia udah siap kah dengan dokumennya? Kan tak demikian." Givan mencoba membuka pikiran Gavin.
"Yaaa, ya iya sih."
Givan lega, sedikit demi sedikit adiknya membuka pikirannya dan mau mengerti.
"Kau mau ambil step apa? Abang bantu." Givan meregangnya pinggangnya yang lelah karena mengobrol dalam waktu yang lama.
"Singkirkan Ajeng dan bapaknya Elang dari usaha mamah," jawab Gavin dengan menundukkan kepalanya.
Matanya terpejam, ia mencoba untuk tega mengambil keputusan itu. Satu yang ia pikirkan, yaitu kesejahteraan Elang. Ia tidak mau anak laki-laki tersebut tumbuh dengan kebutuhan yang kurang tercukupi, ia khawatir orang tuanya egois dan hanya memikirkan diri mereka masing-masing. Namun, ia tidak memiliki kuasa untuk meminta Elang untuk hidup dan tumbuh di tangannya.
"Oke." Givan merogoh kantongnya.
Gavin ingin tahu, apa yang dilakukan oleh kakaknya. Karena satu jawaban singkat itu cukup ambigu.
"Hallo, Huna...."
Matanya membulat, Gavin tidak percaya kakaknya langsung menghubungi orang kepercayaan orang tuanya, yang memegang kendali atas usahanya di sana.
"Ajeng sama suaminya pindahkan ke posisi awal, di mana dia pertama kali di-required untuk posisi apa."
__ADS_1
Gavin mendengarkan jelas ucapan kakaknya. Ia tidak menyangka, jika kakaknya langsung memberi perintah secepat itu.
"Ya kau alasan aja perputaran pegawai yang berprestasi, sedangkan pendidikannya pun tak cukup untuk posisinya saat ini gitu. Lepas sebulan dia dapat gaji dari posisi semula, terus proses PHK mereka berdua ya? PHK umum aja, kasih surat keterangan dan kasih pesangon. Alasannya ikut umum, pengurangan karyawan atau absensi karyawan," ungkap Givan yang didengarkan Gavin dengan jelas.
"Oke, oke. Aku tunggu dokumen pemindahan posisinya ya? Salam untuk anak dan suami kau. Assalamualaikum." Givan langsung memandang wajah adiknya yang tegang, setelah ia selesai berbicara pada anak dari ayah angkatnya itu.
"Udah beres. Habiskan kopi kau. Terus, mau ikut Abang tak ke rumah furniture. Abang dapat pesanan meja kantor dari Ghifar dalam jumlah banyak, jadi mau arahkan dulu ke lapangannya." Givan bangkit dari sofa, dengan memegangi pinggangnya. Ia tidak menyangka, di usianya yang sudah menginjak empat puluh tahu. Kini, ia lebih mudah untuk kelelahan. Duduk dan diam saja, ia sudah merasa amat pegal.
"Ikut, Bang." Gavin tidak mau berdiam diri, karena ia akan terus memikirkan masalah yang belum mampu ia lupakan.
"Ya? Untuk anak ikut dokumen Abang aja ya?" Givan menoleh ke belakang, sebelum dirinya melangkah mendahului untuk keluar dari ruang kerjanya.
"Ya udah, aku manut aja dulu sekarang. Aku bingung, aku serba bingung." Gavin merapikan rambutnya dengan jemari tangannya.
"Oke, yang penting ikhlas aja dulu. Kau bersyukur lah, anak ada di kau. Dulu Abang sama kakak ipar kau, Chandra dibawanya. Pusing juga mikirin jagoan rewelnya kek apa, di tengah hidup berdua dengan biyungnya yang tukang ngebo." Givan sudah membuka pintu ruangannya.
Gavin cepat-cepat menghabiskan kopinya yang tinggal sedikit, kemudian ia membawa keluar dua gelas kopi yang sudah tandas itu. Ia berjalan ke arah dapur dan mengucek dus gelas bekas kopi tersebut. Ia tahu, jika wastafel cuci piring milik kakaknya tidak pernah terdapat perkakas kotor. Karena pemilik rumah selalu disiplin, untuk lekas mencuci perabotannya kembali setelah menggunakannya.
Bu Ummu dan Aliyah terkekeh kecil, melihat Givan mulai mengganggu istrinya. Mereka berdua diminta menginap, untuk bergantian menjaga Cala dan Cali. Rupanya, dua bayi tersebut aktif di malam hari. Mata mereka sudah terbuka lebar, di tengah kantuknya orang-orang dewasa di sekitar mereka.
"He'em, Mas." Canda tidak mau membuka matanya.
"Aku pergi cari janda ya?" Givan sengaja mengisengi Canda, agar istrinya lekas membuka matanya.
Benar saja, mata Canda langsung mencilak dan memelototi suaminya. Ia menarik kerah baju suaminya, hingga Givan terduduk di tepian sofa tersebut.
Ia terkekeh, ia merasa geli melihat reaksi istrinya.
"Aku hamil lagi aja deh, biar Mas anteng."
__ADS_1
Tidak disangka, tiga orang dewasa yang mendengar ucapan Canda tersebut langsung tertawa lepas. Mereka tidak menyangka, Canda malah mengatakan hal tersebut. Termasuk Givan, ia tidak menduga rupanya istrinya malah berkata seperti itu.
"Tak kok, bohong aku. Aku mau ke rumah furniture, sama Gavin. Tadi Ghifar nembusin, katanya mau pesan meja kantor yang cukup banyak. Bahannya minta dari kayu, jadi agak semangat nih aku. Kalau dari bubuk kan, malas juga aku geraknya," ungkap Givan dengan menurunkan tangan istrinya dari kerah bajunya.
Bukan tidak memikirkan resiko, Givan membuka cabang mebel kembali di Jepara. Itu semua ia lakukan, karena ia merasa cukup laba dari usahanya. Ilmu itu, ia dapatkan dari percobaannya membuka rumah furniture di kampungnya ini. Makelar kayu yang ia tekuni dulu, sudah membawanya menjadi pengusaha mebel dan furniture yang sukses.
"Pulangnya jam berapa?" Canda bangkit dengan berpegangan pada lengan suaminya.
"Entah, nanti kalau mau pulang aku chat deh. Mau beli makanan kah nantinya?" Givan membenahi kancing daster menyusui yang dikenakan oleh istrinya.
Ia khawatir Gavin tengah memperhatikan mereka semua dari ambang pintu.
"Iya, barangkali ada sekoteng atau apa gitu." Canda meregangkan lehernya.
"Iya, nanti aku chat dulu kalau ada. Pindah ke ranjang gih tidurnya, biar tak sakit leher. Satu aja yang jaga, nanti bangunin Canda kalau salah satu dari mereka mau ASI. Ibu, tidur aja dulu, Bu." Givan menoleh ke arah ibu mertuanya.
Siang tadi ia sudah berkunjung ke rumah ibu mertuanya dengan membawa Cala. Ia banyak bercerita tentang kejadian di rumah sakit Tangerang. Ia sengaja tidak menghubungi dan mengabari ibu mertuanya lewat telepon, tentang keadaan mereka di sana. Karena ibu mertuanya adalah orang yang panik dan ceroboh, Ghifar malah khawatir terjadi sesuatu pada ibu mertuanya, jika ia mengabari keadaan mereka di sana kemarin.
"Iya, Van. Baru setengah sembilan juga. Canda sih memang gampang molor, tadi aja orang lagi ngobrol kok," sahut bu Ummu kemudian.
"Iya, Bu. Nempel, molor. Aku keluar dulu, Bu. Nitip anak-anak sama Canda." Givan beranjak keluar dari kamar, setelah mencium pipi istrinya sekilas. Hal yang biasa Canda minta, ketika dirinya tengah mengandung dulu. Ditunaikan Givan, tanpa permintaan dari istrinya. Namun, nampaknya Canda lupa dengan kebiasaannya dulu yang meminta cium para suaminya, sebelum suaminya akan keluar rumah. Ia malah terheran-heran, dengan menautkan kedua alisnya menyaksikan suaminya yang melenggang pergi keluar kamar.
"Di-pump aja, Ndhuk. Biar anak-anak ngerengek bareng, tak keburu ngamuk nunggu gilirannya." Bu Ummu meletakkan Cala di atas tempat tidur dengan hati-hati, kemudian ia memberikan alat pump ASI pada anaknya yang masih duduk di sofa panjang.
Tangis lepas Cala mulai terdengar. Anak itu tidak mau dibiarkan sendirian di atas tempat tidur, jika keadaan matanya tengah terbuka. Ia ingin, jika dirinya menjadi pusat perhatian orang tuanya.
"Iya, iya. Cala cantik, ini Ibu datang." Bu Ummu bergegas menghampiri Cala kembali.
Cala suka mendengar pertanyaan yang dilontarkan orang terdekatnya padanya, dengan cara mencolek-colek dagunya. Ia merasa diajak berdialog, dengan suasana kenyamanan dan perhatian yang penuh.
__ADS_1
Cali pun demikian, ia merespon dengan bibirnya tanpa suara. Jika, Aliyah mengajaknya mengobrol.
...****************...