Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM107. Putri minder


__ADS_3

Jasmine seolah tidak melihat keberadaan Putri. Ia fokus memandang ibu asuhnya, yang tadi memanggilnya.


"Ada Ammak ini, Nak. Salim dulu." Canda menyentuh lengan Putri.


Barulah, Jasmine menoleh ke arah perempuan yang melahirkannya dua belas tahun silam.


"Ammak...." Ia tersenyum manis, dengan mencium tangan ibu kandungnya.


"Peluk Ammak, Sayang." Putri terlihat begitu rindu dengan anaknya.


"Jangan lari-lari, Hadi! Adik kau di belakang jangan ditinggal!" teriakan Canda membuyarkan perasaan yang tersalurkan lewat pelukan tersebut.


Putri melirik ke arah seseorang yang mengagetkannya itu. Canda tidak sadar, bahwa ia telah mengagetkan orang lain karena suaranya.


"Kakak Ipar, siapa yang datang?"


Fokus Putri dan Jasmine terganggu, dengan ibu hamil berperut besar, tengah berjalan ke arah Canda dan menahan pinggangnya.


Canda menunjuk Fira dengan dagunya. "Mamah Fir'aun." Nama ledekan Fira dikumandangkan.


Giska terkekeh, lalu duduk di sebelah tempat Canda. Namun, ia melirik sejenak ke arah sisi kanan Canda.


"Ehh, ada anu." Giska lupa dengan tamu tersebut. Ia hanya ingat dengan wajahnya, tidak dengan namanya.


"Ini Ammak aku, Manda." Jasmine memanggil Giska, dengan sebutan yang Giska kenalkan pada keponakan mereka.


"Oh iya." Giska kini ingat siapa perempuan tersebut.


"Kapan datang, Kak?" sapa Giska ramah dengan mengulurkan tangannya.


Mereka berjabat tangan. "Baru," jawab Putri tidak kalah ramahnya.


Pandangan Jasmine sudah mengarah ke kumpulan saudaranya, yang masih sibuk dengan barang-barang. Ia takut ketinggalan momen dan tidak mendapat barang yang sama seperti saudaranya.


"Ammak, aku izin ke sana ya?" Jasmine menoleh pada ibunya sekilas, lalu pandangannya terarah pada perkumpulan saudaranya.


"Ammak kangen, Nak." Putri tidak ingin diabaikan oleh anaknya.


"Sebentar aja." Jasmine tidak bisa mengalihkan perhatiannya pada tumpukan barang tersebut.

__ADS_1


Putri hanya bisa mengangguk lemah. Jasmine pun, langsung berlari ke arah saudaranya yang masih memilih dalam keseruan.


Putri langsung murung, wajahnya langsung terlihat sedih. Andai saja jika ia memiliki banyak uang, ia tidak akan diabaikan seperti itu oleh anaknya. Baru kali ini, ia menyesal pernah menghambur-hamburkan uang. Ia bertekad untuk menabung, agar bulan depan bisa memberikan banyak barang juga untuk para saudara anak-anaknya. Dengan begitu, ia mungkin akan diperhatikan oleh anaknya.


"Canda...." Putri menyentuh bahu Canda, yang tengah mengobrol membahas buah belimbing bersama adik iparnya itu.


Canda menoleh, mengalihkan perhatiannya pada Giska. "Ya, Put. Kenapa?"


"Aku boleh tak minta waktu dan tempat yang private untuk aku dan Jasmine?" Putri ingin memberikan barang bawaannya pada Jasmin, tanpa diketahui oleh saudara-saudaranya Jasmine.


"Eummm.... Untuk itu, nanti bilang aja ke mas Givan ya? Nanti dia bentar lagi balik kok." Canda tidak bisa memutuskan hal itu. Ia takut disalahkan, jika terjadi sesuatu pada Jasmine karena doktrin ibu kandungnya yang tidak ia ketahui.


Putri hanya mengangguk, ia kembali memperhatikan anaknya yang tengah tertawa bersama orang-orang terdekatnya. Putri sadar kali ini, bahwasanya kehidupan Jasmine bukan lagi tentangnya. Anaknya sudah punya kehidupan sendiri dan kebahagiaannya sendiri tanpanya.


"Gih, istirahat." Givan muncul dari pintu samping.


Ia sudah biasa saja, beraktivitas di luar rumah. Masyarakat tidak berani memandangnya lain, meski akhirnya membicarakannya di belakang. Karena Givan dan orang tuanya adalah orang yang berpengaruh di kampung tersebut, membuat mereka segan untuk melirik mengejek pada keluarga juragan.


Canda mengangguk, lalu ia undur diri. Sebelum ia masuk ke dalam rumah, ia melambaikan tangannya pada suaminya. Dari tempatnya, Putri dan Giska tidak melihat keberadaannya karena ia sudah berada di ambang pintu. Sedangkan mereka, berada di undagan tangga teras.


Givan menaikan dagunya, sebagai isyarat bertanya.


"Apa?" tanya Givan, setelah berada di hadapan istrinya.


Canda menempatkan telapak tangannya di dada kanan suaminya, kemudian ia mengusap dada lebar tersebut dan memandang wajah tegas suaminya. "Mas yang setia ya? Ingat tujuan kita, katanya pengen menua bersama?"


Givan mengerutkan alisnya. Apa ucapan istrinya ini, berhubungan dengan keberadaan Putri di sini? Tanyanya dalam hati.


"Kau komitmen terkuatku, Canda. Kenapa ngomong kek gitu?" Senyum samar Givan terlihat menenangkan.


Andai saja Canda mengerti, bahwa senyum setulus itu hanya untuknya.


"Aku tau itu, Mas. Aku istri Mas, aku paham itu." Rupanya, Canda mengartikan lain lagi. Komitmen yang Givan maksudkan, karena ia menjalin hubungan dengan Canda. Karena orang tersebut adalah Canda, seseorang yang menaklukkan hatinya dengan paksa karena kepatuhannya. Bukan hanya karena Canda adalah istrinya, tapi Canda adalah hidup Givan.


"Jangan nethink dong, Canda." Jemarinya mengusap pipi merona istrinya. Givan bisa memahami arti kalimat Canda tersebut.


"Mau aku keloni kah?" Givan menawarkan dirinya.


Namun, Canda langsung menggeleng. Ia khawatir anak-anaknya akan diculik oleh Putri.

__ADS_1


"Mas jagain anak-anak aja." Canda hanya mengambil pelukan sekilas di tubuh suaminya. Ia menyesapi aroma khas yang selalu membuatnya nyaman.


"Aku rebahan dulu ya?" Permohonan izin Canda langsung diangguki Givan. Ia paham, Canda banyak memiliki keluhan kelelahan ketika hamil. Belum lagi, bawaan Canda yang selalu tertidur ketika hamil.


Givan duduk di tempat istrinya tadi. Ia menimbrungi obrolan Giska dan Putri.


"Kau udah berapa bulan, Dek?" tanya Givan, dengan mengusap perut adiknya.


"Eummm.... Seusia kandungan Ai deh, sama keknya, Bang."


Putri menoleh, ia merasa pernah mendengar nama itu.


"HPL kau sama kek dia?" tanya Givan kembali.


"Beda satu mingguan, dia dulu." Giska mengingat secuil dialognya bersama mantan kekasih kakaknya, saat berada di rumah Adinda.


"Ai itu.... Bukannya mantan kau ya, Van?" Putri mencoba membaurkan dirinya dengan pembahasan yang tengah terjadi.


Givan menoleh sekilas ke arah Putri, lalu ia meluruskan pandangannya pada beberapa mobil yang terparkir tersebut. Mobil pink yang tertutupi sarung mobil anti air tersebut, menjadi kenangan bahwa istrinya pernah cemburu besar pada Ai dan berusaha membuat Ai panas hati melihat yang Givan berikan padanya.


"Ya begitulah." Givan ingat, bahwa ia pernah memberitahukan hal itu pada Putri.


"Dia hamil? Dia ada di sini?" Putri ingat juga, bahwa Ai adalah perempuan asal Jawa Barat.


"Ya begitulah." Givan tidak menampik kebenaran itu, tapi ia tidak mengatakan kejadian yang sebenarnya juga.


Putri hanya manggut-manggut, ia tidak mau melanggar batasannya dalam bertanya.


"Clear belum sih, Bang?" Yang Giska maksudkan adalah masalah kakaknya bersama Ai. Givan pun, langsung mengerti arah pembicaraan Giska.


"Test DNA, terus selesai." Givan mengatakan step akhir dari rencananya.


Putri mengerutkan keningnya. "Kok DNA? Apa itu berhubungan sama kau, Van?"


"Ya, Begitulah." Jawaban yang sama, yang Givan berikan.


Putri semakin tercengang. "Lagi ada orang ketiga, Van? Apa, ini ada hubungannya tentang hukuman kau kemarin?" Nyatanya jiwa penasaran Putri meronta-ronta.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2