
"Minggu? Kenapa katanya mamahnya kok ikut?" Givan pura-pura tidak tahu.
"Ken sih, mumpung hidupnya masih bisa diselamatkan. Tak kek Kin, yang udah terlanjur betul kronis. Papah tuh jadi curiga, jangan-jangan Kin awalnya dari rumahnya juga. Maksudnya, punya selisih paham sendiri yang tak pernah diluruskan orang lain tuh. Nah, jadinya kan dia sendiri yang hancur. Keknya tuh, waktu Kin bukan karena cemburu aja. Penyebab awalnya, mungkin iri hati dari rumahnya dulu, atau bisa jadi karena ada kekerasan yang dia dapat di sana. Kalau mamah tak cerita barusan, papah tuh tak bakal tau kalau dulu di rumah tangga Ghifar itu ada KDRT. Pantas aja, dipisahkan sementara. Pantas aja, Ghifar sempat minta untuk poligami. Mungkin kan, alasannya karena ingin lari dari Kin. Tapi misalkan cerai, Kin kan jelas tak pernah mau. Karena dia ngerasanya udah paling terbaik, udah pemenang sesungguhnya."
Givan manggut-manggut. Ia menjadi kasihan pada adiknya, karena di masa itu Ghifar pasti tengah dalam masa sulitnya. Tapi kekesalannya timbul, karena teringat sorot mata Ghifar yang seolah berbicara setiap melihat istrinya.
"Tapi tak istri kakaknya juga. Itu sih cari mati," timpalnya dengan kembali memesan tiket sesuai tujuan.
"Kalau udah katanya kirim tiketnya ke email sama aplikasi chat mamah." Adi tidak mau anaknya mengingat kekesalannya pada anak kandungnya.
"Ya, Pah." Givan reflek mengangguk.
"Harus ada datanya, Pah. Aku chat Awang dulu." Givan menyentuh ikon kembali ke layar utama, kemudian masuk ke dalam room chatnya bersama Awang.
Sebuah pesan ia ketikan, agar Awang mengirim data yang ia minta. Cukup lama menunggu, hingga Givan akhirnya memutuskan untuk menelpon saja. Sialnya, nomor tersebut tengah tidak terhubung. Ada kemungkinan, bahwa ponsel Awang dalam keadaan mati, atau kuota data Awang habis.
"Keknya aku ke penginapan aja deh, Pah. Aku telpon Gibran dulu, biar sekalian pergi ke rumah furniture. Kebiasaan, malam itu barang baru selalu datang. Tak cek sendiri, aku kurang puas." Givan mengenakan sweaternya yang tersampir di bahunya.
"Gimana? Gibran sama kau masih suka lihat film dewasa tak?" Adi memperhatikan anak tirinya yang tengah mengenakan sweater tebal tersebut.
__ADS_1
"Tak sih, orang banyak aktivitas. Tapi tuh, jajan aja. Berrrr lagi, pergi nyari bakso. Izin minta keluar dan minta uang lagi, untuk beli kopi, gorengan. Tempatnya tuh agak ke dalam, aku khawatirnya pas Gibran bolak-balik ngelewatin ladang itu, motornya papasan sama b*** hutan. Apa tak main seruduk aja tuh? Kalau misalkan orang, ya Insha Allah tak ada lah. Nah, binatang buas ini." Givan membenahi sweaternya agar pas di tubuhnya.
"Ya nanti Papah bilangin. Kata pak Talebnya tuh, katanya anak teungkunya diajarin cari uang dulu. Bukannya apa-apa, dia khawatir anaknya tak makan katanya. Papah tuh kira si Gavin yang sulit diajarin cari uang, ternyata Gibran. Soalnya kan, dari kecil ini Gavin paling malas, tidur tuh susah bangun. Ya sampai sekarang sih, makanya Cali waktu di tangan dia nangis aja. Mariam sih siap-siap aja jadi ibu rumah tangga, udah diajarin sejak dini tentang tugas-tugas rumah tangga. Gitu juga kata bapaknya. Papah udah sampaikan itu, si Gibran cuma bilang cari uang tuh yang kek mana, kan banyak caranya. Mencuri juga bisa dapat uang, minta juga bisa dapat uang." Adi membagi sedikit cerita tentang anak bungsunya pada anak sulungnya.
"Kita ini hanya belum paham keminatannya di mana. Bisa jadi, dia ini tau keminatannya cuma dirahasiakan. Ghifar yang diam-diam aja begitu kan, keminatannya di jalanan, di travel. Dia pabrik, dia karena warisan aja. Buktinya tuh, rajin dia ke sana untuk cek sendiri, golang sendiri. Nanya-nanya sedikit wajar, namanya tak yakin, wajar aja untuk meyakinkan dirinya sendiri." Givan pun merasa adik bungsunya tidak memiliki keminatan di dunia furniture.
"Apa ya? Di rumah cuma rajin nata-nata barang aja. Katanya bosen susunannya begitu-begitu aja. Mamah kau aja nurut aja, suruh beli barang baru, furniture baru. Barang-barang lama, lempar ke Ghavi semua karena kosong rumahnya. Ngecat kamar, tiap tembok ada warnanya beda-beda. Apa desain interior kah?" Adi sedikit kesulitan untuk menebak keminatan anak bungsunya.
"Nanti deh aku pelajari perlahan, Pah. Soalnya, di sana pun kupingnya ditutup headset terus. Musikan terus sampai manggut-manggut sendiri. Jadi kek cuma nemenin aku, diajarin jenis kayu begini begitu, dia kek tak peduli. Kek cuma ngincar upah seratus ribu sekali nemenin ini. Entah-entah kalau adik perempuan kek Ria, aku bakal jatah sekalian. Nah ini adik laki-laki, dijatah ya dia nambah malas." Givan ingin adik laki-lakinya maju dan sukses.
"Ya atur aja, Van. Nanti tinggal bilang ke Papah aja. Ati-ati berangkatnya, Papah mau ke Ghifar dulu ya?" Adi bangkit dan berjalan ke arah pintu samping.
"Siapa ya orangnya yang pandai di bidang perkayuan? Udah capek keluyuran malam, pengen ngerami telur aja di rumah," gerutunya seorang diri dengan berjalan ke arah motornya yang terparkir.
Ia melajukan motornya ke rumah ibunya, untuk menjemput adik bungsunya lebih dulu. Kemudian, ia langsung menuju ke penginapan milik orang tuanya. Ia ingin langsung menemui Awang, untuk meminta data diri mereka. Karena data diri ibunya dan kakak angkatnya, sudah tersimpan di ponselnya.
"Bang, nanti beli makanan dulu dong. Nasi goreng gitu, atau sih paket ayam geprek. Makanan aku dihabiskan bang Ken, mamah lupa masak dibanyakin," ucap Gibran di bahu kiri kakaknya.
"He'em! Tak usah alasan makanan kau dimakan bang Ken, tiap-tiap hari pun kau minta beli makanan tiap masuk ke rumah furniture. Baru datang padahal kau, udah mikirin mie rebus dan segala macam. Herannya Abang, kenapa tak berubah gendut kau ini?" Givan melirik adiknya dari spion kirinya.
__ADS_1
Gibran terkekeh kecil. "Kan work out aku ini, biar masa otot tak hilang. Memangnya Abang?" Ia terkesan meledak Givan.
"Memang Gue kenapa?! Loe kira masa otot Gue pada kabur? Work out juga cuy, cuma memang tak ajak-ajak kau." Kegiatan work outnya sering dilakukan ketika ia tidak begadang di rumah furniture. Ia pun tak luput mengajak dua bujang tanggungnya, yang memiliki impian memiliki badan gagah dan tinggi tegap.
"Masa iya?" Gibran memijat lengan atas kakaknya, kemudian memencet dada bidang kakaknya.
"Sialan kau!" Givan tertawa geli.
"Iya sih, beneran." Gibran tertawa malu, karena ternyata kakaknya memiliki masa otot.
"Ya iyalah! Olahraga cukup dua puluh persen, delapan puluh persen jaga pola makan. Kalau kau memang mau masa otot kau lebih besar, perbanyak makan daging. Abang sih pemakan segala, jadi cenderung lambat pertumbuhan ototnya. Susu tinggi protein pun jangan lupa, cuma seratus ribu untuk seminggu. Masa tak bisa, dari Abang seratus ribu kadang lebih." Givan mulai membelokan stang motornya ke arah penginapan milik orang tuanya.
"Cukup sih, tapi kan lebih enak minta mamah." Ia terkekeh kecil. "Uang aku buat pegangan, mana tau Mariam minta jemput kuliah. Kan itu dia selalu mampir beli makanan."
"Nah, kau ada pikiran untuk jajanin perempuan. Berpikir dong, caranya dapat uang lebih banyak itu gimana. Kau percaya tak, di balik istri yang penurut itu, ada keinginan istri yang kesampaian terus. Paketan, kakak ipar kau jalan terus. Ke swalayan, tinggal ambil, masalah bayar, urusan Abang. Pengen makanan yang tak bisa dia buat, tinggal bilang, Abang yang usahakan beli entah pergi sendiri atau pakai antar online. Kau terus terang ke Abang, biar diarahkan. Abang tak maksa kau harus pintar di ladang, di furniture, atau di bisnis. Kamu semua support, asalkan baik dan diniatkan untuk masa depan kau. Bukan untuk buang-buang uang aja." Givan telah memberhentikan kendaraannya persis di kamar yang Awang tempati.
"Hmm...." Gibran masih memikirkan untuk itu, ia khawatir keminatannya malah dihalangi oleh semua keluarga karena sering dipandang negatif untuk sebagian orang yang tidak mengerti.
...****************...
__ADS_1