
"Aku minta maaf untuk kejadian yang udah terlewat itu, aku pun minta maaf kalau kau sakit hati atas ucapan aku sekarang. Aku pengen kau pergi ke daerah kau lagi, dengan perasaan plong dan perselisihan yang udah selesai. Biar aku tentram di sini, kau pun bahagia di sana." Harapan Givan begitu sederhana, karena usianya sudah menjelang empat puluh tahun. Ia ingin mimpinya dengan istrinya segera terwujud, tanpa perpecahan atau keretakan yang semakin meluas.
Ai mengangguk mengiyakan. "Aku pun minta maaf sama Aa, sama Canda." Ia butuh kalimat kepastian, sebelum ia benar-benar pergi dari kehidupan Givan.
"Aku maafkan. Untuk sama Canda, baiknya kau sampaikan langsung aja ke dia. Dia pemaaf kok." Givan ingin Ai menyampaikan sendiri pada Canda. Karena jika lewat dirinya, Canda akan berpikiran bahwa ia banyak mengobrol dengan Ai dan akhirnya ia disidang untuk menceritakan ulang obrolannya dengan Ai.
"Untuk perasaan aku dulu. Jujur, kau adalah pelarian dari Fira. Aku dan Ghifar diduakan Fira, aku pacaran empat tahun sama dia, selama itu aku cuma sama dia punya status tuh, tapi ternyata Fira punya status juga sama Ghifar selama dua tahun. Intinya, aku pengen ninggalin Fira tapi tak bisa. Jadi, aku jadikan kau tempat ternyaman biar aku bisa lupa ke Fira tanpa harus susah-susah move on dari dia. Untuk itu, aku minta maaf ya?" Givan berkata perlahan, dengan sesekali memandang wajah Ai.
Ai hanya diam, ia tengah mengingat waktu yang sudah lama terlewat. Pantas saja hanya hitungan hari Givan bisa mengatakan tertarik padanya dan ingin menjalin kasih dengannya, rupanya Givan menjadikannya orang ketiga agar dirinya tidak begitu sulit melupakan Fira.
"Apa Aa cinta sama aku?"
__ADS_1
Jawaban seperti itu, nyatanya tidak mampu memuaskan batin Ai. Givan mendadak teringat dengan Canda.
"Tertarik secara fisik awalnya, Ai. Aku suka dengan pembawaan kau yang ramah, aku suka dengan bentuk tubuh kau." Givan sedikit menyesali ucapan jujurnya, tapi hanya itu yang ia mampu ucapkan saat Ai menanyakannya.
Ai terisak dan memeluk tubuhnya sendiri. "Jadi, selama itu Aa cuma tertarik ke tubuh aku?" Suara yang dikeluarkannya pun sudah bergetar hebat.
Givan menggeleng. "Tak. Aku sempat cinta sama kau, karena kita sering bersama. Waktu kita singgah ke Bali setelah dari Papua pun, aku sempat berhubungan badan sama Fira dan tak sengaja buat dia hamil. Anak kekesalan aku dan kesalahan aku masa itu, Key yang kemarin datang ke Fira pas kita semua ngumpul dan ngobrol, Key datang ke Fira untuk minta uang beli chicken. Aku jalin hubungan yang baik dengan Fira sampai hari ini, bukan karena aku masih ingat dengan rasa cinta aku sama dia. Tapi, karena anaknya ada sama aku. Meskipun Key darah daging aku, rupanya sampai mirip sama mamah. Tapi, Key nashabnya ikut ibunya. Aku ajak Fira kerjasama, mamah bantu Fira bangkit sekuat mungkin. Biar apa? Biar masa depan Key tak sulit nantinya. Meskipun dia dapat secuil bagian dari aku, yang pastinya bisa hidupi dirinya sendiri kelak nanti. Tapi Key adalah ahli waris Fira, sekalipun mulut mamah sering jahat ke Fira, tapi niatnya baik. Fira pun tak punya ahli waris lain selain Key, dia pun tau perihal kerjasama usaha dan tentang kehidupan Key setelah ini." Givan mengunci pandangannya pada Ai yang tengah memperhatikannya.
Anggukan kecil dari Givan adalah jawabannya. "Aku belum putus sama Fira, aku pun tak pernah ucapkan kata putus. Aku cuma bilang kita selesai, masa aku tak pernah datang lagi dan tak pernah kirimin dia uang lagi. Aku paham, tak sepantasnya aku kek gitu. Tapi sekarang udah terlewat, aku dan Fira udah saling memaafkan." Begitu seperti drama kehidupannya.
Karena awalnya Canda meminta Givan untuk meminta maaf pada Fira, dengan alasan ia selalu mimpi buruk dan melihat suaminya dikejar Fira yang membawa kapak. Rengekan Canda membuatnya terpaksa bergerak untuk meminta maaf dengan Fira, lalu terjadilah hubungan silaturahmi yang lebih intens.
__ADS_1
"Apa Aa ninggalin aku juga, dengan cerita yang sama? Dengan adanya orang ketiga?"
Givan memicingkan matanya mendengar pertanyaan Ai. Memang kapan ia meninggalkan Ai? Yang ada, Ai menolak permintaannya untuk kembali secara tidak berhati.
"Kau yang milih pergi, Ai. Untuk perasaan, aku mudah untuk lupakan seseorang dengan aktivitas aku atau dengan kehadiran orang baru. Buktinya dulu, kalau aku jauh, aku bisa begitu lama tak hubungi kau kan? Aku kan udah pernah bilang sebelumnya, aku malu karena kau ninggalin aku. Bukan berarti dalam sejarah hidup aku, kau ini satu-satunya perempuan yang berani ninggalin aku. Tapi, hubungan asmara kita ini udah diketahui banyak relasi bisnis. Tentang rencana pernikahan kami ini, udah didengar kolega bisnis. Kau udah banyak aku kenalkan ke banyak teman bisnis, tapi kau malah pergi. Karena kejadian itu pun, aku sampai enggan beresin bisnis aku yang down selama pernikahan aku dengan Canda. Karena aku malu ketemu mereka yang pasti akan nanyain, ke mana dek Ai, kenapa nikahnya sama orang Solo. Nah, harus kujawab apa? Aku rela bangkrut, masa bodo perusahaan dipegang siapa, yang penting keadaan hati aku baik-baik aja tanpa pertanyaan itu. Aku tau itu bukan masalah besar untuk pembisnis, hiburan pembisnis adalah wanita. Tapi, komitmen pembisnis itu dilihat dari caranya menguasai perempuan dengan satu wanita. Satu wanita aja, tak mampu dikendalikannya, apalagi mengatur perusahaan yang jelas resikonya lebih besar dari seorang wanita. Kolega bisnis aku pasti berpikiran seperti ini, misal mereka tau kalau aku benar-benar tak jadi nikah sama kau. Mudah juga aku lupakan kau, setelah penolakan kau berulang kali setelah aku nikah itu. Aku pun bisa cinta ke Canda, sayang ke Canda, anggap dia istri, anggap dia tempat aku pulang. Tapi kenyamanan berhubungan badan dengan kau di masa itu tuh sering terbayang, karena porsi idaman semua laki-laki itu ada di badan kau. Meski ada keinginan untuk jajan, atau selingkuh, tapi aku tak pernah lakuin. Aku nerima, sekalipun hubungan fisik aku dengan Canda itu monoton, karena aku paham dia porsi kebahagiaan yang cukup untuk aku, dia pun tempatnya aku mendapatkan pahala." Givan teringat akan pertengkaran mereka di atas ranjang, tatkala Canda selalu menolak untuk mencoba gerakan yang baru.
"Aku paham itu, aku ngerti kalau fantasi Aa tak pernah puas kan dengan Canda?"
Givan mengerutkan keningnya. Ia mencoba memahami sudut pandang Ai, ia mengerti yang Ai tanyakan hanya masa sekarang.
"Aku bisa maksa Canda sejak lama, Ai. Tapi tak pernah aku lakukan, karena aku sadar bahwa aku ini pelaku pemerkosa dirinya. Aku tak mau dia trauma ke suaminya sendiri, aku tak mau dia takut ke suaminya sendiri. Aku jaga kepercayaan Canda sama aku, untuk menghindari hal yang lebih buruk dari hubungan aku masa itu. Setelah......
__ADS_1
...****************...