
Ghifar memandang terus menerus bayi kecil yang bergerak dalam kotak khusus. Sedikit rasa senangnya, bayi itu bergerak dengan aktif. Namun, ia tidak mengerti maksud gerakan bayi tersebut. Itu adalah gerakan meronta karena sakit, atau bayi itu memang butuh gendongan dan dekapan dari seseorang.
Hingga pemberian susu formula pun diberikan, Ghifar menatap dengan serius bayi yang terlihat seperti kelaparan itu. Ia terkekeh seorang diri, dengan air mata haru yang membasahi pipinya. Ia teringat anak Canda yang tinggal bersamanya, Caera.
Secuil pertanyaannya, apa bayi tersebut sebringas Ra? Ia teringat Ra yang lincah dalam bergerak, cepat dalam beraktivitas. Bahkan, makan pun menjadi kegiatan singkat untuk anak perempuan yang hiperaktif tersebut.
Bayi kecil itu terlihat dibantu untuk bersendawa. Setelahnya, bayi itu kembali diletakan dalam tempat khusus yang memiliki kehangatan sedang.
"Bayi perempuan, kau mau diberi nama siapa, Nak?" Ghifar bertanya seorang diri, dengan memperhatikan bayi yang tidak mau diam dalam tempatnya tersebut.
Terlihat perawat pun ikut memperhatikan. Karena tidak menangis, bayi itu dibiarkan dan diawasi dengan ketat. Karakter bayi itu ternyata memang tidak mau diam, meskipun ia adalah seorang bayi prematur.
"Ceysa udah, Caera udah, Chandini udah. Kita kehabisan nama stok huruf C, Nak." Givan bertanya lirih pada dirinya sendiri di balik kaca tersebut.
"Calandra, Chiara, Chessy, Casey, Clara atau Cailah?" Ghifar menyebutkan nama yang bermunculan di otaknya.
"Apa itu, Pa?"
Ghifar tidak menyadari, ternyata anak sulung Canda sudah berada di sampingnya.
"Itu adik bungsu kau. Gerak terus dari tadi, kek Ra, tak mau diam dia. Padahal udah dikasih susu, udah dicek lagi." Ghifar menunjuk bayi yang berukuran paling kecil di ruangan tersebut.
"Eummm.... Keknya mirip ayah ya, Pa? Bentuk hidungnya tuh, kek ayah." Chandra hanya memperkirakan saja.
"Iya, memang cenderung mirip ayah kau. Pas tadi Papa adzani, dia memang mirip ayah kau. Warna kulitnya masih merah, jadi tak tau jelas kulitnya kek siapa. Tapi tak beda jauh kulit ayah sama biyung kau, mereka sama-sama terang dan bersih. Alisnya itu nyatu terus, kek kau gitu loh. Lucu betul itu bayi, caper dari tadi." Ghifar terkekeh, ketika tangis kecil dari bayi tersebut membuatnya harus ditimbang oleh perawat yang mengenakan pakaian steril.
"Dia kesakitan tak ya, Pa?" Chandra memperhatikan adiknya sedari tadi.
"Kata perawat sih sehat, cuma namanya bayi prematur tuh ya gimana gitu." Pandangan Ghifar tidak lepas dari bayi yang tengah ditenangkan tersebut.
"Rambutnya banyak tak, Pa?" tanya Chandra kemudian.
__ADS_1
"Lumayan." Ghifar tetap memperhatikan bayi yang diletakan kembali ke tempatnya dengan keadaan yang lebih tenang.
"Adik aku perempuan lagi kah, Pa?" Chandra tidak tahu dengan informasi ini.
"Iya, perempuan lagi. Tugas kau berat, Chandra. Saudara kau perempuan semua." Ghifar menepuk-nepuk pundak Chandra.
"Aku udah mikirin itu, Pa. Tengok Ra pun galak betul, aku kepikiran gimana nanti didiknya. Mending Cani yang cengeng gitu, dia bisa diarahin dan patuh. Adek Ceysa lagi, apa itu anak." Chandra geleng-geleng kepala. "Kalau dikasih perintah, yang berkedip matanya aja. Aku sering mikirnya, ini Ceysa pasti tak ngerti bahasa manusia gitu." Ghifar langsung tertawa lepas, begitu Chandra menuntaskan kalimatnya.
"Rupanya???" Ghifar menggantungkan pertanyaannya.
"Rupanya dia ngerti maksud kita, tanpa kita jelaskan segamblang mungkin," terang Chandra kemudian.
"Papa mau kasih nama dia siapa?" lanjut Chandra dengan menunjuk ke arah adiknya berada.
"Tak tau, bingung. Calandra, Chiara, Chessy, Casey, Clara atau Cailah?" Ghifar mengajak Chandra duduk di bangku yang tersedia.
"Aku suka Calandra, namanya mirip aku." Chandra duduk di samping pamannya tersebut.
"Papa harus saranin nama itu ke ayah." Pandangan mata Chandra masih tak lepas dari adiknya.
"Kalau ayah itu maunya tau jadi. Adik-adik kau kan, yang ngasih nama ya Papa semua." Ghifar mengungkap fakta tersebut.
"Aku taunya tentang Cani, yang katanya nama calon anak Papa dan biyung dulu." Mendengar penuturan Chandra, Ghifar langsung dilanda malu.
"Yaaa.... Gimana ya? Pernah berpikir gitu tuh, kalau anak itu ya namanya harus campuran dari orang tuanya." Ghifar hanya menarik alasan sembarang.
"Ayah hargai kok, Pa. Tenang aja, ayah tak marah." Chandra seolah tengah memberikan kalimat penenang untuk Ghifar.
Ghifar tersenyum dan mengangguk. "Kalau kata Papah sih, namanya Calandra Sheeva Luna, artinya unik dan mempesona."
Chandra langsung terkekeh. "Kek apa aja, mempesona. Mempesona, aku mempesona." Chandra malah bersenandung.
__ADS_1
"Terpesona, aku terpesona! Masa aku mempesona?" Ghifar ikut tertawa setelah membenarkan lirik lagu tersebut.
Chandra dan Ghifar membaurkan tawanya yang belum reda. Mereka masih terkekeh geli, dengan suara tawa yang diredam selirih mungkin.
"Soalnya anaknya caper, Bang. Dari tadi dia buat perawat bingung aja, usrek terus tangannya. Kaki tangan nendang dan mukul ke mana-mana, padahal tak nangis." Bukan tanpa alasan, Ghifar memberikan nama yang mengandung arti mempesona.
"Jadi Papa nanti saranin Calandra Sheeva Luna ke ayah?" tanya Chandra yang diangguki Ghifar.
"Sejauh ini sih, ayah kau pasti terima aja selagi artinya bagus. Kek Caera Nazua, Caera nama dari kakek, Nazua dari Papa. Dia tak mikir banyak atau hitung-hitungan lagi, langsung kasih nama itu aja." Ghifar memahami karakter kakaknya yang sering kali tidak mau ambil pusing. Selagi arti dan maknanya bagus, Givan yakin anaknya akan tumbuh sesuai harapan banyak orang.
"Nanti dipanggilnya apa, Pa? Chandini aja, jadi Cani terus." Chandra memperhatikan kembali adiknya yang digendong oleh perawat.
Rupanya, bayi tersebut cenderung rewel dan banyak drama seperti ibunya. Terlihat dari gerak-gerik bayi tersebut, menandakan bahwa dirinya ingin diperhatikan terus menerus.
"Cala, kalau feeling Papa sih. Kalau diambil depan sama belakangnya, nanti sama kek nama kau." Ghifar pun memusatkan perhatiannya pada bayi yang tengah diayun pelan dalam gendongan perawat.
"Baru tau ada bayi prematur begitu." Ghifar geleng-geleng kepala, kala melihat kaki bayi tersebut menendang tak tentu arah.
"Keknya dia bakal jadi perempuan yang galak juga deh, Pa." Chandra menebak sifat adik bungsunya.
"Ya tak apa galak, asal nurut ke orang tua atau kakaknya aja," timpal Ghifar kemudian.
"Iya ya, Pah? Biar dia bisa jaga diri gitu ya?" Chandra menoleh sekilas pada Ghifar.
"Iya, betul. Kek Ra, nanti dia bisa jadi security orang-orang terdekatnya. Hifzah kena toel orang pun, dia tak izinkan. Awalnya Papa tuh toel-toel pipi Hifzah, kata mama tuh, jangan papa belum cuci tangan. Nah, mulai dari situ Ra over protektif. Orang noel, katanya jangan karena tangannya kotor. Ya gimana orang tak ketawa ya? Katanya, bukan ke adiknya sendiri tapi bawel sih. Orang-orang tak tau aja, gimana bawelnya Ra untuk semua orang yang dia kenal." Ghifar dan Chandra tertawa renyah.
"Betul, Pa. Aku kalau pakai sandal kan asal cepat aja gitu, dimarahin sama dia. Katanya, kaki kanan dulu pakainya bang. Sambil ngotot-ngotot tuh ngasih taunya." Chandra tahu tentang tabiat salah satu adiknya yang banyak bersuara itu.
"He'em, mama tuh di rumah juga ribut aja sama Ra. Tambah besar tuh anak, tambah banyak omongnya. Nahda aja, aduh pusing aku tuh Ra bawel. Gitu kata Nahda." Ghifar terkekeh geli membayangkan keributan di rumahnya.
"Betul, orangnya ngasih saran tapi caranya ngotot. Jadi buat emosi aja tuh." Chandra tahu jelas tentang adiknya yang setiap hari berseliweran di lingkungan mereka, meski tidak tinggal bersama.
__ADS_1
...****************...