
"Kapan aku bisa ketemu Jasmine di rumah kau?" Putri menahan air mata harunya dengan mengalihkan perbincangan mereka. Ia tidak mau terlihat cengeng di depan mata Givan.
"Aku belum punya waktu untuk itu. Nanti aku bicarakan dulu sama istri aku." Givan sengaja tidak memberitahu Putri, bahwa ia akan menjalani masa hukuman mandiri selama satu Minggu.
Putri mengangguk, kemudian mengambil sesuatu dari tote bag miliknya. "Hubungi nomor aku, kalau aku diizinkan datang untuk nemuin Jasmine. Untuk alamat di kartu nama itu, aku pakai alamat rumah aku di Jakarta. Aku udah tak punya rumah di Sulawesi. Orang tua aku, mereka meninggal di rumah pusaka milik nenek aku. Kau pasti tau kan, tentang beberapa usaha aku yang disita pemerintah? Aku mulai dari nol lagi, ngandelin pendidikan aku. Aku ikut bibi aku di Jakarta, alamat rumah itu alamat bibi aku." Putri memberikan kartu namanya.
Givan condong ke depan, untuk mengambil kartu nama tersebut. Putri tidak berada di dalam tenda, ia berdiri di ambang pintu tenda tersebut.
Givan membaca sekilas alamat yang tertera. "Tak ada keuntungannya kau bohong, Put. Kau tak punya rumah, tapi Jasmine cerita kau naik mobil." Givan tidak langsung percaya dengan pengakuan Putri.
"Itu mobil kantor." Putri mengacak-acak sesuatu dari dalam tasnya.
"Ini." Ia menunjukkan STNK kendaraan yang ia gunakan tersebut.
Givan melihat juga STNK yang diulurkan padanya. Benar, mobil tersebut atas nama perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi naungan pemerintah.
"Aku benar-benar dari nol lagi, Van. Jujur, aku kaget hidup kek gini. Dari kecil, aku tak pernah merasakan kelaparan. Tapi sekarang, bahkan aku selalu nungguin nasi bungkus jatah makan siang. Terserah kau mau percaya atau tak, aku tak pengen belas kasih dari kau. Aku cuma mau ngasih tau aja, meski tak penting untuk kau. Bahwa, keadaan aku udah tak kek dulu lagi. Masih untung kemarin aku tawarkan Jasmine uang, dia minta cuma beberapa lembar aja. Aku tak bisa bayangkan, kek mana kalau Jasmine ambil semua uang aku. Bukan aku pelit, atau perhitungan ke anak, nyatanya pun, aku sampai kasih dia uang. Tapi, itu gaji pertama aku. Yang bilamana diambil semua, aku tak punya pegangan uang."
Givan teringat dengan cerita Jasmine versi lengkap. Putri menawarkan uang, dengan Jasmine hanya meminta delapan lembar.
Namun, ia malah berprasangka bahwa Putri mencari belas kasihnya. Kemudian, ia memperkejakan Putri pada usahanya. Lalu, usahanya dihancurkan Putri secara perlahan.
Givan memberikan kembali STNK milik Putri. "Ya udah, nanti aku hubungi kalau istri aku sepakat izinkan Jasmine ketemu sama kau."
__ADS_1
Tetapi, tiba-tiba Putri maju beberapa langkah dan bersiap memeluknya. Secepat mungkin, Givan memasang tangannya di depan tubuhnya. Agar, Putri mengurungkan diri untuk memeluknya.
"Aku di hukum karena berduaan di ruangan dengan perempuan yang bukan muhrim aku. Jadi, kau harus hati-hati untuk hal ini." Givan langsung memberikan peringatan.
Benarkah?
Putri bergidikan ngeri, karena hukuman itu bisa saja menghakimi mereka dalam posisi yang salah. Cepat-cepat, ia memundurkan langkahnya dan menjaga jarak dengan Givan.
Padahal, hukuman tersebut terjadi jika mengarah pada perbuatan zina. Namun, urung atau belum dilakukan karena hal-hal tertentu.
"Aku di sini selama proyek tol itu dibangun. Aku harap, kau bisa hubungi aku lebih cepat. Karena jujur aja, aku tak mau dituduh sebagai penculik anak sendiri. Apalagi, aku tak punya dokumen pendukung yang mengklaim bahwa Jasmine anak kandung aku." Ada secercah harapan Putri pada Givan.
"Aku pikir, kau tak akan butuh dokumen itu. Besarkan anak itu tak mudah, Put. Apalagi, penjagaan untuk mengawasi anak perempuan. Aku berharap, kau tak mengusahakan punya dokumen itu, karena dalam negara, mangge Yusuf tetap orang tuanya, meski aku orang tua asuhnya." Givan menjelaskan bahwa Jasmine bukan anaknya dalam dokumen. Ia pikir, hal itu perlu diketahui Putri.
"Ya, aku dengar kabar itu. Aku juga dengar, kalau Jasmine punya usaha atas nama dirinya dari Lendra."
"Usaha memang atas nama dirinya. Tapi, itu dalam aset dan kuasa Canda. Besar nanti, Jasmine cuma bisa menjalankan dan melanjutkan usaha tersebut. Tidak bisa menjual, atau membaginya dengan siapapun." Ada kekhawatiran tersendiri, saat ia menarik nama istrinya untuk terlibat dalam kebenaran ini. Ia takut, Canda masuk daftar manusia yang ingin dihancurkan oleh Putri.
Mata besar berlensa abu-abu itu melebar seketika. "Aku tak percaya kau buat hal itu, Van."
"Bukan aku, tapi Lendra. Dua pemilik aset, Lendra dan Canda. Sejak Lendra meninggal pun, tak pernah aku urus pencabutan izin atas nama Lendra. Sengaja, biar tak bisa dijual atau dibagi karena orangnya udah tiada. Lendra berpikir kan, mereka bakal menikah. Jadi, udah tersusun rapi dokumen duniawi biar hidup berkecukupan. Bukan cuma Jasmine, anak kandung aku si Chandra pun dapat juga. Ceysa apalagi, dia dapat jatah terbesar dan paling menguntungkan sekarang. Kau tau, anak sambung aku itu kloningan Lendra?" Sedikit keakraban menyelimuti perbincangan kali itu. Givan hanya ingin Putri mengerti dan tidak mengacak-acak segalanya.
"Maksudnya gimana?" Putri teringat akan saran nama yang ia berikan, Mamonto.
__ADS_1
"Kelak nanti kau pun pasti tau adiknya Jasmine itu. Menurut aku, malah lebih dari Lendra. Lendra mengunci pandangan lawan bicaranya, kalau udah berbicara ke hal yang penting atau serius. Tapi Ceysa, dia belum ngomong apa-apa pun tapi matanya udah menghakimi duluan." Dari penjelasan Givan, Putri malah teringat ibu kandung Nalendra yang pernah dikenalnya dulu.
"Usahakan buat umur dia panjang, Van. Maaf kalau tersinggung, tapi riwayat keluarga Lendra itu mati muda. Maaf, kalau aku kurang sopan. Ibu kandung Lendra meninggal di usia tiga puluh lebih, waktu itu aku masih SD dan ibu aku melayat karena sesama Islam. Di sana, Islam minoritas. Lendra pun, meninggal di usia tiga puluh lebih juga. Ibunya Lendra pun dulu misterius, bahkan kami sangka dirinya kurang waras dulu. Karena memang diam, tapi kalau ngelihatin orang itu sampai ujung matanya."
Givan mencoba mengingat sorot mata anak perempuan yang pertama kali lahir dari rahim istrinya. Anak perempuan, yang biaya persalinan ibunya dibayarkan olehnya untuk perihal hadiah menyambut lahirnya seorang anak.
"Ceysa tak begitu, tak dilihat sampai ujung matanya. Kau pun bakal tau sendiri lah, Put." Givan tidak memikirkan perihal umur yang Putri ceritakan.
Ia paham kelahiran, rezeki, jodoh, kematian, sudah yang kuasa gariskan. Yang terpenting untuknya sekarang, perubahan besar untuk menjadi semakin baik lagi. Karena, ia sudah melakukan sholat Taubat ulang karena kelakuannya pada Ai.
Putri manggut-manggut. "Semoga anak-anak dalam asuhan kau sehat-sehat selalu, Van. Maaf, aku belum mampu kasih Jasmine jatah atau kebutuhannya untuk lain." Ada sedikit rasa tidak enaknya pada Givan, karena sekian tahun Jasmine diasuh tanpa pergantian biaya sama sekali. Meski ia paham, Jasmine memiliki usaha dari bagian ayah kandungnya. Tapi ternyata, usaha tersebut aset Canda, bukan aset Jasmine sendiri. Yang artinya, usaha tersebut tetap milik Canda. Apalagi, jika Givan tidak bisa mengayomi perusahaan tersebut. Sudah pasti, tidak ada hasil yang memuaskan dari usaha tersebut.
"Kau tenang aja. Aku cuma mau, kau jangan usik aku. Bukan aku mengancam, tapi kau harus ingat bahwa anak kau dalam asuhan aku. Bisa aja kami berbicara yang tadi baik tentang kau, tapi dari dulu tak pernah kami lakukan. Bahkan, aku dan Canda sering nunjukin foto kau versi berhijab. Bukan versi b*k*ni, bisa malu nanti anak kau." Givan tidak bermaksud mengancam, ia hanya memberi peringatan pada Putri.
"Aku tak berminat untuk lakukan itu, Van. Aku udah capek." Putri merasakan kewalahan sendiri, menghadapi keluarga Givan. Ia yakin akan kelelahan, jika kembali mengulang untuk mengusik kedamaian yang ada. Ia yakin, dengan hadirnya di sini pun keluarga tersebut sudah bersiap-siap kembali.
Satu hal yang membuatnya sangat jera adalah. Bukan hanya perusahaan tambangnya yang ikut disita, tapi perusahaan kosmetiknya juga dan usaha orang tuanya. Banyak fakta yang mengalahkannya, salah satunya karena uangnya berkumpul dalam satu rekeningnya.
"Baguslah."
Putri mengangguk. "Aku pergi dulu.
Ia segera berbalik badan dan hendak melangkah. Sayangnya, langkah kakinya terhenti karena dirinya hampir bertubrukan dengan seseorang.
__ADS_1
Matanya melebar, "Ya ampun.....
...****************...