Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM258. Membahas Ria dan Kenandra


__ADS_3

"Hei! Dari mana?" Givan panik, ia menghampiri istrinya yang berada di teras rumah.


"Dari Ra, Mas. Dia minta tidur siangnya di rumah Ghifar. Kenapa?" Canda melepaskan satu persatu sandalnya.


"Ra?" Mata Givan memerah karena tidak siap bangun terburu-buru.


"Iya. Kenapa gitu?" Canda menghampiri suaminya.


"Bukan dari bang Ken kan?" Ini yang Givan khawatirkan.


Canda menggeleng. "Tak, Mas. Ayo masuk." Canda menggandeng tangan suaminya, untuk masuk ke dalam rumah.


Ia masih tidak mengerti dan belum menyadari, jika suaminya melarangnya bertemu dengan Kenandra. Givan merasa Canda tetap akan membuka, jika tidak diberitahukan kejadian yang sebenarnya.


"Aku pengen ngobrol serius deh. Ayo kita ke ruang kerja." Givan menarik langkah Canda, untuk melewati ruang tamu mereka.


"Nanti aku diperdaya lagi." Canda kurang suka berhubungan suami istri di siang hari, karena ia malu mencuci rambutnya siang-siang seperti ini.


"Memang kenapa sih? Tak enak kah?" Givan melirik istrinya dengan menahan senyum. Ia pasti akan melihat wajah merona istrinya, jika ia menanyakan hal tersebut.


"Enak, cuma malu siang-siang ngamer aja. Siang-siang, rambutnya basah." Canda diam saja, ketika suaminya menutup pintu ruang kerja tersebut.

__ADS_1


"Masa iya? Aku tak malu kok." Givan terkekeh kecil, kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa panjang.


"Sini, Canda." Ia menepuk tempat di sebelahnya.


Canda mengangguk, ia melangkah beberapa langkah lagi kemudian duduk di tempat yang suaminya maksudkan. "Apa, Mas?" Canda duduk menyerong menghadap suaminya.


"Aku mau banyak cerita, kau jangan kaget ya? Aku minta dukungan kau, aku minta kau jaga rahasia ini, aku minta kau bantu aku untuk selesaikan ini semua dengan baik." Givan menggenggam kedua tangan istrinya, dengan pandangan yang fokus memandang sorot teduh istrinya.


Canda mengangguk berulang. "Iya, Mas. Apa itu?" Canda begitu penasaran.


"Aku lagi tak akur sama bang Ken." Givan mengatakan sedikit demi sedikit permasalahan mereka.


"Kenapa? Kok bisa, Mas?" Canda mengerutkan keningnya.


"Panik lah aku ini. Di atas, di kamar bang Ken, ada Ria, tanpa Bunga, ngapain kan gitu? Aku cepat jalan ke atas, langsung aku buka pintunya tanpa ketok-ketok dulu. Hmm, ketahuan." Givan mengambil napas lebih banyak dulu.


"Ria lagi ada di bawah bang Ken." Givan melanjutkan kalimatnya berbarengan dengan buangan napas panjang.


"Ngapain?"


Givan langsung tepok jidat. Ia tidak mengerti, kenapa harus istrinya bertanya seperti itu. Ia ingin menjelaskan secara detail, ia malu karena yang menjadi objek pembicaraan mereka adalah adiknya Canda. Ia tengah menceritakan aib dari Ria.

__ADS_1


"Menurut kau? Tadi kau ngapain di bawah aku?" Givan melirik ke arah istrinya.


Canda memutar bola matanya seperti mengingat. "Maksudnya.... Lagi begituan?" Canda seperti tidak yakin dengan jawabannya.


"He'em." Givan langsung tertunduk lesu.


Canda manggut-manggut. Ia tengah menyimak ulang di pikirannya, tentang cerita yang suaminya ceritakan tadi.


"Astaghfirullah!" Barulah ia mengusap-usap dadanya sendiri, setelah sekian detik menyelami kalimat yang masih berulang di otaknya.


"Kok begitu? Masa sih, Mas?" Suara Canda langsung bergetar.


Givan mengangguk lemah. Kemudian, ia mengedikan bahunya. "Memang keadaannya begitu. Mau aku tepis kenyataannya, memang yang aku lihat posisinya kek gitu. Bang panik, Ria panik. Mereka masih ngumpet di bawah selimut, aku langsung pukuli bang Ken. Dia kan memang tinggi besar, sekali dorong, aku jatuh, Canda." Givan geleng-geleng kepala.


"Terus dia bilang, kasih dia waktu. Aku sengaja duduk di lantai beberapa menit, setelah aku jatuh didorong itu. Terus dia pakai celana. Aku bangun, terus minta Ria pakai pakaiannya di bawah selimut. Di situ, aku adu mulut sama bang Ken. Yang tak aku pikirkan sebelumnya, malah terjadi di situ. Aku murka benar-benar murka. Kau percaya tak, kalau bang Ken malah jelek-jelekin Ria, malah ngerendahin Ria. Dia bilang, siapa yang datang ke sini dan menghidangkan. Aku percaya, Ria datang itu untuk nuntut kejelasan. Karena pas mereka minta restu, tak aku kasih izin dan bang Ken ngomong ya udah tak jadi nikah sama Ria pun tak apa. Pokoknya, dia tak ambil pusing tuh. Feeling aku sih begitu, atau memang Ria diminta datang ke dia. Gitu, Canda. Tapi dia malah rendahin Ria, di situ juga Ria langsung shock dan nangis. Udah berpakaian, aku langsung bawa Ria keluar dengan ancam dia. Aku tak akan bawa-bawa polisi, karena nantinya akan mati kutu, soalnya kata Ria itu bukan kejadian yang pertama, tapi keempat. Coba kau bayangkan, udah empat kali Ria digagahi bang Ken." Givan menunjukkan empat jemarinya.


Canda masih terdiam, tak percaya. Ia tidak menyangka, ternyata nasib adiknya lebih hina dari dirinya. Ia merasa paling kotor, paling tidak beruntung, karena menikah dengan alasan korban pemer******. Rupanya adiknya dengan sembunyi-sembunyi, melakukan apa yang tak mungkin ia duga.


"Aku tak banyak ngomong ke Ria, aku tau dia lagi shock. Sampai akhirnya, aku sampai di tempat Keith nginap. Aku bilang Keith untuk atur pendidikan Ria di Sao Paolo Brasil. Aku minta Keith antar Ria sampai sana, aku minta Keith urus izin tinggal Ria dan semacamnya. Ria nampak kaget, tapi dia pasrah aja. Sampai ke ibu, sampai ke kau, aku izin kan untuk pemberangkatan Ria. Aku sengaja kek gitu, ini semua pun atas dukungan mamah dan papah. Mereka setuju, untuk aku pinta Ria pergi. Karena Ria pasti nantinya akan diperbudak bang Ken terus. Mulutnya manis, Novi aja yang cuma cemceman dia aja, bisa hampir ditiduri lagi sama dia. Padahal, Novi punya Ghifar masa itu. Riska aja, kenapa dia sampai nutup akses Bunga ketemu bang Ken. Karena itu alasan aja, soalnya pada akhirnya Riska pun kena jerat bang Ken. Tak cuma Riska, mantan-mantannya yang lain itu pasti kena jerat setiap ketemu bang Ken. Tiwi, terus entah siapa lagi. Kau bayangkan aja, Canda. Kenapa, mereka sampai kalah. Ya berarti, bang Ken saking hebatnya bujuknya. Asal kau tau aja, Canda. Memang, hukum tak tertulis dan tak selalu. Tapi, papah kandung aku b****** wanita. Aku ini apa kemarin? Aku sama kek sumber benih aku, kek sumber darah aku. Apalagi, kalau abi Haris dan bang Ken. Kau pasti pernah dengar, kalau abi Haris ini pelaku KDRT sama umi Sukma. Ya sama bunda Alvi pun, dia sama. Apalagi keturunannya. Makanya kenapa, Kin bisa kasar ke Ghifar. Mungkin, karena turunannya. Kin kan masih keturunan dekat, anak dari adik kandung abi Haris. Kan mungkin aja tuh. Wataknya kasar, gimana kalau akhirnya Ria hidup dengan orang berwatak kasar begitu? Aku mikirin ke masa setelah Ria jadi satu sama bang Ken, karena belum nikah aja bang Ken berani rendahin istrinya." Givan langsung menampakkan urat sedih dan wajah murungnya.


Canda tak bisa menerima kabar ini. Ia langsung merasa benci, dengan seseorang bernama Kenandra tersebut. Padahal, ia hanya mendengar ceritanya saja.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2