
"Tak! Aku tanya ya, Canda. Sebenarnya, kau ini lagi mikirin siapa? Apa yang ada di otak kau, bisa-bisanya kau tak respon aku?"
Wajah galak suaminya terpampang di depan wajahnya. Canda tidak ingin memberitahukan yang sebenarnya, ia takut suaminya lebih marah. Tapi, ia sadari bahwa dirinya tidak memiliki skill untuk berbohong.
"Kan aku udah minta maaf, Mas." Canda membingkai wajah suaminya.
Givan menurunkan jemari istrinya yang mengganggu wajahnya. "Udah berapa kali kau begini, Canda?! Ini bukan yang pertama! Aku kan sering bilang ke kau, kau ngomong kalau aku ada kurangnya. Bukan malah kau bayangkan laki-laki lain!" Suara Givan terlalu lantang untuk diajak berbicara berhadapan seperti ini.
"Aku tak bayangkan laki-laki lain." Canda mengusap dada suaminya.
"Terus???" Givan masih belum bisa meredakan emosinya. Satu kata yang keluar dari mulutnya pun, terdengar penuh emosi.
"Aku ingat bang Daeng aja," jawab Canda lirih, ia tidak berani menatap wajah suaminya.
Givan menghela napasnya. Ia tahu, dirinya akan selalu kalah dengan mendiang Nalendra. Givan tidak akan pernah menyalahkan orang lain yang pernah menabur benih di rahim istrinya itu, karena ia tahu kedudukan Nalendra saat dulu pun adalah suami Canda. Tapi, ia menyalahkan kondisi yang membuat Canda malah teringat dengan laki-laki lain, di saat mereka tengah menikmati waktu bersama.
"Kau mau aku gimana, Canda?" tanyanya dengan nada menurun.
Canda meluruskan pandangannya lagi ke wajah suaminya, kala mendengar suara pelan itu.
"Ya mau tetap sama-sama, Mas. Masa karena hal gini aja, Mas mau kita pisah."
__ADS_1
Pikiran Canda rupanya tidak sampai dengan apa yang Givan maksudkan.
"Kau mau aku kek Lendra?" Givan mengerucutkan pada satu pertanyaan, agar Canda lebih memahami pertanyaannya.
"Tak, Mas. Aku tak mau Mas kek bang Daeng, nanti mati muda."
Dengan dirinya seperti ini pun, Canda akan mampu membuat Givan mati muda. Givan langsung mengacak-acak wajahnya sendiri, kemudian napasnya berhembus kasar.
"Kalau apa-apa kau ingat Lendra, aku tak mau lakukan apapun yang Lendra lakukan ke kau. Aku tak bakal mau turunkan kepala aku lagi, kalau hal itu yang sering Lendra lakukan." Bukan memberi ancaman, Givan hanya tak ingin jika Canda selalu teringat Lendra ketika ia melakukan aktivitas fisik yang Lendra lakukan dengan cara yang sama.
"Duh, jangan dong, Mas. Kalau tak dapat dari Mas, aku dapat dari siapa?"
Ada benarnya ucapan Canda. Givan memikirkan ulang, karena ia tidak mau istrinya berselingkuh karena tidak mendapatkan hal-hal yang ia inginkan dalam aktivitas ranjang mereka.
Ia tidak mungkin mengatakan, bahwa dirinya cemburu. Dengan Canda seperti itu saja, itu cukup menyakiti hatinya. Apalagi, jika Canda tahu bahwa suaminya pencemburu. Givan berpikiran, pasti Canda akan lebih bisa mengaturnya sesuai kenangan yang pernah ia lalui bersama orang lain.
"Ya cuma ingat aja, Mas. Karena hal itu pernah aku lakukan sebelum pernikahan." Pengakuan Canda membuat Givan terkejut. Pasalnya, ia tahu bahwa Canda dicium sebelum pernikahan saja akan ketakutan.
"Kau tak pernah bilang kalau kau pernah berhubungan sebelum nikah sama Lendra, Canda. Jadi, untuk apa laporan kau yang ngaduin ke aku kalau Ardi cium kau, Ardi bawa tangan kau masuk ke celananya? Nyatanya, kegilaan kau sama Lendra lebih dari aduan kau ke aku." Givan menarik nama mantan kekasih Canda yang pernah membuat Givan melayangkan pukulannya.
"Aku tak lakuin hubungan suami istri juga, Mas. Tapi bang Daeng pernah **** aku, pas kita belum nikah. Itu pengalaman yang tak bisa buat aku lupa, karena dia mampu sampai buat aku keluar dari **** aja. Kegiatan itu, setelah dia minta bantuan aku untuk pinjamkan paha aku ke dia untuk dia gesek-gesek. Selebihnya, ya cuma sentuhan kecil aja atau ciuman."
__ADS_1
Sepanjang Canda bercerita, alis Givan menyatu dengan sempurna. Meski tidak seliar bayangannya, rupanya kegiatan tersebut tetap saja membuatnya geram.
"Aku bisa lebih bisa kasih sensasi yang tak pernah kau dapatkan, Canda. Tapi selama lima tahun pernikahan kita, kau selalu nolak untuk lakukan hal baru. Aku tak pernah maksa itu, karena aku tau aku adalah trauma terbesar kau. Kau bikin aku malu, dengan kau kalap sentuhan laki-laki setelah jadi janda aku. Pasti mulut kau pun ceritakan yang bukan-bukan tentang aku, padahal kau sendiri yang selalu nolak inisiatif yang aku tawarkan." Givan semakin meradang, dengan pikirannya yang sudah bercabang ke mana-mana.
Givan tidak memahami saja, jika mendiang Nalendra pun memahami sifat Canda. Maka dari itu, ia pun mengerti akan pengakuan Canda akan Givan dulu.
"Kok Mas marahnya ke mana-mana?" Canda sudah bersiap akan menangis.
"Ck, nangis. Andalan betul!" Givan meluruskan punggungnya menghadap plafon.
"Mas, aku kan udah minta maaf. Tapi Mas bahasanya jadi ke mana-mana. Kek Mas tak pernah punya kenangan sama mantan-mantannya aja. Kek Mas tak pernah punya pengalaman sama mantan-mantannya aja." Canda malah membalikkan keadaan dan mulai menyudutkan suaminya.
Canda tidak mengerti, jika masalah semakin meluas jika telinganya harus mendengar bagaimana Givan bersama para kekasihnya dulu.
"Punya, Canda! Tapi aku tak pernah ingat sedikitpun tentang mereka, apalagi di dalam aktivitas kita. Aku tau kau tak bakal tau, masa aku bayangkan seorang perempuan yang lebih indah dari kau. Tapi aku paham, kalau kau kau kau akan sakit hati. Aku tak lakuin hal itu, karena coba ngerti di posisi kau, jadi istrinya seorang Givan. Apa kau ada pikiran begini, Canda? Tak ada kan? Karena kau memang maunya dimengerti aja, tak mau ngertiin perasaan pasangan kau. Seenak jidat kau, kau bayangkan c*m*uan laki-laki lain, di aktivitas kita. Kau pikir aku tak punya perasaan? Kau pikir aku tak merasa? Kau pikir kau tak bakal ketahuan?" Givan bangkit dari posisinya, kemudian ia duduk di tepian ranjang dengan kaki menyentuh lantai. Ia memunggungi istrinya.
"Mas cuma tau marah, dari dulu juga aku tau Mas tak punya perasaan sama aku. Makanya sampai ke anak-anak juga, semuanya mirip aku. Karena cuma aku yang cinta sama Mas, tidak sebaliknya."
Meluas sudah, Canda kembali merasa bahwa dirinya tidak mendapatkan cinta dari suaminya karena suaminya tidak pernah mengatakannya.
Apa hubungannya kemiripan wajah dengan rasa cinta? Givan mulai aktif dengan pertanyaan yang tidak masuk di logikanya. Key mirip dengan ibunya, apakah ia memiliki api asmara dengan ibunya masa itu? Rasionalnya mulai cacat, jika ia memahami pemahaman Canda. Karena jelas wajahnya pun tidak mirip dengan ibunya, hanya warna kulitnya yang mirip dengan ibunya.
__ADS_1
...****************...