
"Ya ampun, pagi-pagi udah keringat begini." Adinda geleng-geleng kepala melihat anaknya yang ngos-ngosan seperti itu.
Karena pintu utama belum terbuka, Givan cepat berlari untuk mempersilahkan ibunya untuk masuk karena terus memanggil dari bel rumah yang bisa merekam pesan suara. Sesi percintaannya dengan Canda belum selesai, tapi sudah ada tamu yang tidak bisa ia nomor duakan lagi.
"Bentar ya, Mah? Aku mau cuci dulu."
"He'em." Adinda paham anaknya tengah berbuat apa. Meski ada rasa tidak enak, karena sudah mengganggu aktivitas anaknya. Tapi, ia merasa bahwa sebaiknya ia cepat menyampaikan sebelum matahari muncul dan ia sudah menikmati kerepotan di pemakaman bayi Ai.
Dalam ringisan penuh kenyiluan, Givan menyiram intinya dengan air dingin agar miliknya cepat menyusut meski belum dikeluarkan. Ia paham, nantinya dirinya pasti akan merasa sakit kepala setelah ini. Satu yang cukup beruntung untuknya, karena Canda sudah mendapat pelepasan.
Menyadari miliknya tak kunjung tertidur, Givan lebih milik menutupinya dengan sebuah kaos miliknya saat dirinya menghampiri ibunya kembali. Ia pun duduk dengan menutupi intinya menggunakan bantal sofa, agar tidak menjadi gangguan mata mereka yang tengah mengobrol.
"Udah sarapan, Mah? Canda belum buat sarapan." Basa-basi Givan kemudian.
"Belum, tapi Mamah ke sini bukan mau minta sarapan. Mamah mau ngasih tau, kalau papah udah cari orang untuk gali kuburan makamnya anak Ai. Nah, lepas pemakaman nanti selesai kan Awang sama istrinya pasti ke rumah tuh. Berhubung Ai belum sehat, dia pun masih di rumah sakit, jadi Mamah sama papah berpikir untuk obrolkan ini tanpa kau. Jadi cuma Mamah, papah, Awang dan Nafisah. Nanti kalau Ai udah sembuh dan kakaknya masih butuh penjelasan, ya Mamah nanti kumpulkan kau sama Ai dan Awang juga, kita jelaskan masih-masing kronologisnya begitu." Adinda menjelaskan secara perlahan.
"Ohh, jadi nanti siang aku tak gabung ngobrol sama Mamah ya begitu? Aku ikut aja, Mah. Gimana baiknya aja, aku ikut jalan keluarnya yang menurut Mamah betul." Givan mengerti, bahwa ia belum sepenuhnya lepas dari masalah Ai.
"Iya, nanti kita tanyakan juga gimana maunya si Awang untuk Ai ini. Mamah coba transparan aja. Karena kalau orang yang ngerti, mereka pas cukup bijak nyikapin hal ini." Adinda menyandarkan punggungnya dan memperhatikan anaknya yang masih terlihat tidak nyaman tersehat.
__ADS_1
"Ya kalau aku mesti ganti rugi, ya aku coba penuhi. Nanti aku ngobrol dulu gitu kan sama Canda, biar pas pulang-pulang Canda tak langsung manyun aja." Givan ingin terbuka di segala hal pada istrinya.
"Iya, kau pasti lebih kenal Canda. Terus, ini Canda udah selesai belum? Nanti ngambek tak ini dia?" sindir Adinda dengan tersenyum geli.
"Mamah...." Givan terkekeh malu, karena ibunya seperti tahu jelas apa yang ia sedang lakukan bersama Canda.
"Saran aja, Van. Jangan terlalu sering dulu, ini trimester pertama. Apalagi, Canda ngandung bayi kembar. Butuh tempat yang besar untuk mereka, jangan kau desak terus. Nanti setelah nifas, kalian pun bakal puas-puasan lagi. Untuk sekarang, dibatasi dulu karena trimester awal. Resikonya besar, Mamah tak mau Canda kenapa-kenapa." Adinda cukup pengalaman, karena dirinya pun pernah mengandung bayi kembar.
"Terbawa suasana aja, Mah. Baru-baru ini juga bisa rutin lagi sama Canda. Pas awal Aku ke sini, sebulan paling sekali dia kali aja." Givan paham apa yang dimaksudkan ibunya.
"Iyalah, mumet tau jadi istri yang suaminya ketahuan main perempuan katanya. Mamah waktu awal-awal baru tahu papah punya istri lain pun, Mamah total tak mau diajak berhubungan." Saat kejadian itu terjadi, Adinda merasa seperti menjadi janda padahal memiliki suami. Cerita ini, ada di novel Belenggu Sang Pemuda.
"Sulit ya ternyata, Mah?" Givan memijit kepalanya yang mulai berdenyut. Givan tidak mengerti, kenapa bisa saling berhubungan antara kepala atas dan bawah.
Givan gagal fokus dengan satu kata di kalimat ibunya. "Kok malu, Mah? Malu karena apa?" Dahinya sampai berkerut.
"Ya malu, Van. Kita kan istrinya, kenapa suami kita sampai ada perempuan lain. Suami kita loh, begitu malah. Ya pasti malu lah, orang-orang pada ngomongin apa coba tentang rumah tangga kami. Udah punya istri, tapi suaminya masih main perempuan lain, kek istrinya kurang hot kurang panas aja. Nah, kan secara tidak langsung lagi memperlakukan kita sebagai istri," jelas Adinda kemudian.
"Iya sih, Mah. Orang-orang pasti berpikir, ini pasti istrinya tak pandai ini tak pandai itu, sampai-sampai suaminya cari perempuan lain. Padahal kan, untuk suami yang sengaja berselingkuh itu, karena mereka tak bisa jaga diri mereka sebagai seorang suami. Aslinya itu egois, cuma memikirkan hal enaknya aja karena berselingkuh, jadilah para suami ini pada punya tekat untuk mendua," tambah Givan menurut pendapatnya sendiri.
__ADS_1
"MAS.... NGAPAIN SIH?! LAMA BETUL."
Givan menepuk jidatnya sendiri, ia lupa memberitahu istrinya jika aktivitas mereka harus terhenti.
Adinda malah tertawa puas. Ia merasa geli sendiri, sudah mengganggu anak menantunya di pagi ini.
"Biasanya tuh aktivitas di jam berapa sih? Biar kalau ke sini Mamah pikir-pikir dulu," tanya Adinda kemudian.
"Mau ke sini sih tinggal ke sini aja, Mah. Tak usah pikir waktunya, kek mau bertamu ke orang penting aja. Orang datang ke rumah anak sendiri, segala nanya waktunya jam berapa. Ini sih salah aku aja, tadi lupa bilang Canda. Aku cuci di kamar mandi belakang soalnya, bukan di kamar mandi kamar. Orang begini sih, tak setiap waktu juga. Cuma pagi ini, sayangnya bertepatan aja."
Adinda terkekeh geli, mendengar anaknya menjelaskan seperti itu. Ia paham, bahwa anaknya tidak pernah ingin menutup pintunya untuk dirinya. Dalam ucapan Givan, mengandung pemahaman bahwa pintu rumah Givan selalu terbuka untuk orang tuanya. Hanya saja Givan yang selalu berbicara tidak langsung merujuk pada maksudnya, tapi hal itu sudah dipahami oleh Adinda jika anaknya memang sering berbicara seperti itu.
"Ya udah gitu aja ya? Kau tak usah ke rumah dulu, nanti malah jotos-jotosan lagi. Atur emosi kau, yang tau tempat dan keadaan. Terus, nanti diselesaikan masalah sama Awang ini. Udah beberapa tahun, masih aja mendidih gitu. Masalahnya yang pernah kau ceritakan itu kan?" Adinda menyelipkan sedikit nasehat.
Givan mengangguk. "Iya, Mah. Kek trauma sendiri buat aku, kalau ingat hal itu udah pengen ngamuk aja bawaannya."
Adinda mengerti, jika harga diri anaknya begitu tinggi. Saat seseorang memberikan kesan meremehkan atau merendahkannya, Givan tidak main-main dalam membalasnya. Adinda memahami karakter anaknya yang seperti itu, sayangnya sejak dulu ia tidak bisa merubah karakter tersebut.
"Ya nanti lebih dikondisikan lagi. Ingat, kau panutan anak dan keponakan kau." Adinda bangkit dari duduknya, ia melangkah dan menepuk bahu Givan. "Sekalipun besar nanti anak-anak bakal paham keburukan ayahnya, tapi mereka harus memiliki kesan ayahnya itu sosok terbaik. Biar, keburukan itu tak menutupi semua kebaikan yang udah kau pupuk ke anak-anak kau. Sekalipun mereka tau kau tak sebaik pemikiran mereka, tapi mereka paham bahwa kau ingin selalu memberi yang terbaik untuk keluarga kau. Contoh lah Adi Riyana yang baiknya aja, jangan yang buruknya juga. Kau tau ayah sambung kau itu tak sebaik apa yang kau tau, tapi kau juga percaya bahwa ayah sambung kau itu tetap yang terbaik untuk anak-anaknya. Dia tak pernah lepas tanggung jawab, apalagi sama anaknya sendiri. Semua sifat manusia itu hampir semuanya sama, yang membedakan cuma keimanan dan tanggung jawab mereka. Tak semua orang itu bisa bertanggung jawab atas semuanya, termasuk pada keluarganya. Tak semua orang juga tahan godaan, karena keimanan mereka berbeda-beda. Tapi, orang-orang yang bertanggung jawab dan beriman itu cukup condong dan mendapat predikat baik." Adinda menasehati lebih cenderung seperti berbisik. Karena ia tahu, anaknya pun hanya menerima perkataan halus ketika mendengar nasehat.
__ADS_1
"Iya, Mah. Aku coba selalu ikutin saran Mamah, biar aku mampu jadi panutan anak-anak aku dan didik mereka dengan baik. Apalagi, sekarang ini Chandra udah.....
...****************...