
"Oh begitu ya, Dok?" Givan mencoba menerima saran terbaik dari dokter anak untuk Cala.
"Iya, Pak." Dokter tersebut memberikan senyum ramahnya.
"Kalau begitu, Saya permisi dulu." Givan langsung mengajak Canda untuk keluar dari ruangan tersebut.
"Iya, silahkan." Dokter tersebut mempersilahkan Givan dan Canda untuk keluar.
"Mas, mau gantian gendong tak?" Canda mencoba mengambil alih anaknya yang berada di dekapan Givan.
"Tak usah. Duduk dulu di kursi taman depan, Canda. Kan banyak tempat teduhnya tuh. Aku mau pesan taksi, sekalian ambil barang di tempat penitipan." Givan lebih dulu menitipkan beberapa koper mereka di tempat penitipan rumah sakit mewah tersebut, sebelum mengajak Caka untuk cek up.
Hasil dan saran yang sama, Cala diperbolehkan untuk ikut penerbangan di usai dua bulan lebih. Selama beberapa minggu ke depan pun, Cala memiliki jadwal cek up ulang.
Sembari memulihkan kondisi mereka, Givan sudah membooking sebuah kamar hotel di dekat rumah sakit tersebut. Ada keinginannya untuk mengajak Canda berjalan-jalan di swalayan besar dan berbelanja. Namun, ia teringat akan suhu ruangan di swalayan yang begitu dingin. Tempat tersebut tidak cocok untuk bayi prematurnya.
Alhasil, ia kembali mengajak anak istrinya untuk beristirahat dan memulihkan tenaga mereka dengan menikmati tidur siang mereka.
Waktu istirahat Givan, kembali terganggu karena tangis Cala yang sering tidak didengar oleh Canda. Dua hari berlalu, rasanya Givan begitu ingin mengigit istrinya yang begitu pulas ketika tertidur.
"Marah-marah terus sih, Mas! Sini dikeluarkan dulu!" Canda mendekati suaminya yang duduk di sofa yang menghadap ranjang mereka.
"Udah sana tidur! Nanti malam gantian begadang." Givan menyangga kepalanya.
Canda duduk di samping suaminya, ia menempatkan salah satu tangannya di atas paha suaminya. "Sini nih aku keluarkan, Mas." Canda mengusap-usap paha suaminya.
__ADS_1
Givan melirik malas istrinya. Tubuhnya terasa linu-linu, karena jam istirahatnya begitu terganggu. Ia sudah menebak malam-malamnya akan seperti itu, ia pun menyadari bahwa memang kondisi memiliki bayi pasti jam istirahatnya terganggu. Tetapi, ia sedikit berharap agar Canda tidak sulit dibangunkan ketika anaknya ingin ASI.
Stok ASI yang berada di lemari pendingin tidak begitu banyak, karena bayi tersebut terus dan terus meminta asupan nutrisinya. Cala seolah tidak kembung dan tidak puas, menikmati ASI.
"Apa yang dikeluarkan?" Givan memperhatikan anaknya yang menggeliat di atas ranjang, lalu kepalanya menghadap ke arah mereka berada.
Begitu signifikan pertumbuhan anak tersebut. Berat tubuh Cala sudah bertambah berat, ketika dua hari lalu dirinya dibawa cek up ke dokter anak. Bayi itu sudah memiliki berat yang cukup, yaitu dua koma lima kilogram. Namun, karena kelahirannya yang lebih dini. Membuatnya memang butuh kontrol secara berkala.
"P***"
Givan menoleh dengan tatapan bodohnya. Canda malah meringis kuda, membalas tatapan mata suaminya.
"Kau mau buat aku duda?!" Urat tidak suka Givan langsung kentara sekali.
Sejak istrinya mengalami persalinan secara sesar, Givan begitu hati-hati untuk melakukan hubungan percintaan mereka di ranjang. Bahkan, sampai sudah lewat empat puluh hari. Givan masih ragu untuk memenuhi kewajiban dan melampiaskan kebutuhannya, karena khawatir terjadi sesuatu pada luka bekas operasi istrinya.
"Lagi tak n**** buat begituan aku, Canda." Givan hanya mencoba menahannya selalu, karena ia sadar bahwa akan membutuhkan waktu yang begitu lama jika ia ingin menuntaskannya.
"Ah, masa? Padahal tak ikut KB apa-apa, masa udah tak n**** aja? Nanti gimana kalau beneran ikut KB? Aku bakal kekeringan dong?" Canda bersandar mesra di dada suaminya yang berkeringat.
Pendingin ruangan sengaja tidak dihidupkan, karena alasan bayi mereka. Givan rela tidur kepanasan, yang penting anaknya selalu aman dalam suhu yang sesuai.
Toh, kamar yang ia pesan memiliki jendela yang cukup besar. Ventilasi khusus yang berada di ruang laundry pun, tidak membuat kamar itu terasa pengap.
"Sekalipun dirutinkan juga, kau bakal tetap kekeringan. Aku tak mau kau hamil lagi, aku tak akan tabur benih di dalam rahim kau lagi." Tangannya terulur mengusap-usap kepala Canda yang bersandar di dadanya.
__ADS_1
"Kenapa tak tanda tangan untuk steril aja pas operasi." Tangan Canda sudah berada di atas perut suaminya. Ia memperhatikan beberapa bulu halus yang berpola seperti garis lurus terarah ke bawah.
"Tak mau! Aku tak mau sesuatu dalam diri kau tak seimbang." Givan menggosok-gosok hidungnya, karena mencium aroma kurang sedap dari rambut istrinya.
"Mau perawatan ala-ala salon tak? Aku panggilkan orang salon hotel ke sini ya?" Givan paham, tentang ibu nifas yang tidak boleh mencuci rambutnya dan memakai wewangian selama empat puluh hari.
Tapi, menurutnya itu perlu dilanggar karena cukup menggangu menurutnya. Ditambah lagi, menurut Givan hal itu malah terlihat kotor. Keinginannya semakin bertambah kuat, karena ia merasa tidak ada ibunya di sini yang akan selalu mengingatkan akan hal itu.
"Boleh. Mau cat kuku juga, kan aku lagi tak sholat." Canda mengangkat tangannya yang berada di atas perut suaminya.
"Oke, mumpung masih jam tujuh malam. Aku hubungi dulu ya pihak hotelnya." Givan beranjak bangun, membuat Canda yang berada di dada Givan langsung tersingkirkan.
Tak lama kemudian, Givan memilih untuk sholat dan terlelap sebentar. Ia membiarkan Canda yang tengah diurus oleh pegawai hotel khusus jasa salon kecantikan, yang tengah mempercantik tampilan dan aroma istrinya.
Biaya pun sudah dikirimkan, Givan yakin istirahatnya tidak akan terganggu karena Canda meminta uang pembayaran. Sayangnya, semua itu meleset.
Hidungnya yang cukup peka malah menangkap aroma yang menggoda di tengah tidurnya. Wewangian bayi dan minyak telon, mengalahkan harum madu yang Canda keluarkan dari hasil perawatannya selama dua jam tersebut.
Canda asyik merebahkan tubuhnya, dengan sesekali memandangi kukunya yang memiliki warna kacang tersebut. Ia merasa kagum dengan kukunya sendiri, yang tidak disangka bisa seindah itu. Sebelumnya, ia tidak pernah melakukan pengecatan kuku karena ia berat pada ibadahnya.
Ia tidak tahu, jika sedari tadi suaminya membuka matanya dan terus memperhatikannya. Hal kecil yang Givan berikan, membuat Canda cukup senang. Tetapi, efeknya malah membuat Givan gelisah seketika.
Sesuatu dalam dirinya yang selalu ia tahan, akhirnya bangkit dan tak tertahankan. Belum diapa-apakan saja, ia merasa sudah berdenyut. Apalagi, jika ada pergerakan yang terjadi.
Semakin ditelusuri, bentuk istrinya semakin terlihat menarik. Beribu-ribu perempuan yang jauh lebih menarik dari istrinya, tetap hanya istrinya yang halal dan berkah untuknya. Hanya itu yang Givan terapkan, jika ia tergoda dengan bentukan wanita di luar sana.
__ADS_1
Canda merasakan ASI dalam pabriknya penuh. Ia memijat pelan dadanya sendiri, guna meminimalisir rasa sakit itu. Sayangnya, gerakannya itu malah membuat Givan semakin bertambah panas.
...****************...