
Givan merasa ini bukanlah tempatnya, ia kurang nyaman berada di tengah-tengah orang yang berpengaruh pada kampung ini. Meskipun ia ikut andil memberi sarana untuk kenyamanan kampung, tapi ia tidak suka terlalu terlibat dengan urusan tersebut.
Ia beranjak menuju ke rumah ibunya, meninggalkan keramaian kampung yang tengah mempersiapkan eksekusi hukuman cambuk untuk Ai. Langkanya bergerak santai, tapi begitu lebar karena kaki panjangnya. Ia segera sampai ke rumah orang tuanya, yang dari masjid tersebut saja sudah terlihat jelas.
Isakan seorang wanita, membuat khawatir Givan bahwa itu adalah Ajeng. Ia berpikir bahwa Ajeng bertandang ke rumah orang tuanya, dengan rasa penyesalan. Ia tidak yakin, tapi menurutnya itu mungkin saja terjadi.
"Ai....," sebut Givan lirih.
Ai bersimpuh dan berlutut pada Adinda, dengan tangis penyesalan yang menguar. Ia memohon maaf pada Adinda, dengan segenap rasa hormatnya.
"Udah, udah...." Adinda terus menepuk pundak Ai dengan pelan.
"Mamah maafin aku gak?" Ai mendongak memandang wajah Adinda.
"Mamah maafin. Ayo kita ke Canda dan Givan juga, mereka harus dapat permintaan maaf dari kau juga." Adinda tidak menyadari bahwa anak sulungnya berada di ambang pintu.
"Jangan ke sana deh, Mah. Cani lagi mainan di teras rumah." Suara Givan membuat orang-orang sadar akan kehadirannya.
"Ya udah, Candanya panggil ke sini aja. Lagi apa dia?" Adinda memandang wajah anaknya.
"Lagi nyusuin, nanti aku panggilkan. Bentar, aku mau minta sebungkus garam dulu. Kehabisan stok garam aku di sana." Givan melangkah masuk melewati mereka semua.
"Cari garam di dapur Mamah, bukannya ke warung sana." Adinda sampai memutar kepalanya menatap tajam anaknya.
"Malu belinya, anak-anak disuruh pada alasannya cuaca panas, takut hitam," jawab Givan sedikit seru, karena posisinya sudah jauh dari ruang tamu.
Ia mendapatkan apa yang ia cari. Ia membawa sebungkus garam yang masih utuh, untuk ia bawa ke rumah. Ia mampu membeli, hanya saja ia tidak percaya diri untuk berseru di warung untuk membeli garam saja.
__ADS_1
"Cepat ya, Van?" ujar Adinda, ketika Givan kembali dari dapurnya.
"Iya, Mah." Givan meninggalkan rumah orang tuanya.
Ia sedikit lega, karena bukan Ajeng yang bertamu dan mengemis maaf. Karena ia tahu, pikiran adiknya sedang tidak baik-baik saja. Ia khawatir keadaan Gavin memburuk karena kehadiran Ajeng.
Langkah cepatnya akhirnya mampu membawa Canda ke rumah orang tuanya. Canda yang kebingungan dengan situasi yang ada, karena menurutnya kehadirannya tidak penting berada di sini.
Ai melihat sekilas ke arah Canda, bayi yang berada di pelukan Canda menjadi perhatiannya. Namun, ia tidak terlalu lama berani memperhatikan bayi yang ditutupi dengan kain tersebut.
"Kenapa bawa anak, Dek?" Adinda mempersilahkan menantunya untuk duduk di dekatnya, posisi mereka sangatlah dekat dengan posisi duduk Ai.
"Lagi ASI, Cala kalau ASI itu lama. Sampai sakit pinggang aku, kalau nungguin Cala puas ASI." Canda duduk di tempat yang ditunjuk oleh ibu mertuanya.
"Sini sama Mamah, Ai mau ngomong sama kau katanya." Adinda mencoba mengambil alih anak Canda.
"Kekenyangan loh Adek ini. ASI secukupnya aja, Dek." Adinda memeluk cucunya, menempatkan kepala Cala untuk bersandar di bahunya.
Tangis bayi yang sudah nyaring itu terdengar, Adinda segera bangkit untuk mengayunkan tubuh Cala. Adinda tahu, bahwa anak itu masih ingin menyusu. Namun, dilihat dari keadaannya. Sepertinya, Cala sudah kenyang dengan ASI. Hanya saja, ia terus ingin meng*mpe*g pada induknya.
Ketika Adinda membelakangi mereka semua, Ai terkesima dengan wajah Cala. Bagaimana bisa, anak perempuan begitu mirip dengan ayahnya? Tanya Ai dalam benaknya.
Givan tidak menyadari, jika pandangan Ai mengarah pada anaknya. Ia hanya fokus membersihkan bekas muntahan sendawa anaknya, yang menempel pada baju Canda dan sofa. Ia terus menggosok dan mengelap sofa tersebut dengan tisu, agar bekas muntahan Cala hilang tanpa bekas.
"Kenapa, Ai?" Canda menyadari arah pandang Ai.
"Mirip ayahnya." Ai masih tidak berkedip dari sorot polos Cala yang belum bisa melihat dengan jelas tersebut.
__ADS_1
"Iya, ayahnya cinta betul sama biyungnya," timpal Givan yang teringat dengan perkataan Ai tentang anak-anaknya.
Givan sengaja mengatakan hal tersebut, agar Ai merasa tersindir dengan ucapannya.
"Iya kata orang sana juga gitu, Bang Givan. Kalau anak mirip ayahnya, katanya ayahnya cinta banget sama ibu dari anak tersebut. Kalau anak mirip ibunya, katanya ibunya cinta banget sama ayah dari anaknya." Nafisah menjelaskan tanpa maksud menginginkan Ai, ia benar-benar tidak tahu permasalahan itu.
"Iya, kata Ai juga begitu. Anak-anak aku tak ada yang mirip aku, katanya aku tak cinta sama ibu dari anak aku katanya." Givan terkekeh kecil dengan membawa tisu kotor bekas membersihkan muntahan sendawa Cala.
Ia bergerak keluar ruang tamu, untuk membuang tisu kotor tersebut. Kemudian, ia kembali ke dalam ruang tamu.
"Padahal, fisik dominan Canda juga. Watak dominan aku semua. Ra tukang drama kek Canda juga, tapi kerasnya kek aku." Givan tidak menyombongkan diri, ia hanya bermaksud menjabarkan bahwa anak-anaknya yang mirip Canda pun tidak semuanya dominan seperti Canda.
"Anak Mamah, cuma Givan yang mirip sama Mamah betul. Yang lain, dominan papah semua. Yang terakhir, wajahnya mix Mamah papah, tapi memang banyakan cenderung ke papahnya. Cuma Ghifar, yang wataknya halus. Yang lain, ya kek papah semua. Alim kek Ghavi aja, kalau ngamuk sama istrinya ternyata nyobekin bantal. Baru tau Mamah dari cerita Tika, soalnya dulu dia marah itu ya keluar rumah," timpal Adinda dengan membawa duduk cucunya yang sudah tenang.
Bayi prematur itu, sudah terlihat seperti bayi prematur lagi. Bukan hanya berat tubuhnya yang sudah naik pesat, tapi perkembangannya setara dengan bayi yang dilahirkan sembilan bulan. Ia sudah bisa sesekali mengangkat kepalanya, ketika tengah ditengkurapkan.
Mata Ai terus tersorot pada Cali yang menyatukan alisnya seperti Givan. Kebiasaan anak bayi tersebut, sudah seperti kebiasaan ayahnya ketika berekspresi. Ai bahkan paham, ciri khas Givan adalah menyatukan alisnya begitu sering.
"Sok, Ai." Adinda mempersilahkan Ai untuk meminta maaf pada Canda, seperti saat Ai meminta maaf pada Adinda.
"Canda...." Ai mendekati Canda yang duduk di siku sofa yang seperti membentuk huruf L.
Ai tetap duduk di sofa, tetapi tangannya menyentuh lutut Canda. "Canda, aku minta maaf untuk segalanya. Aku gak tau, kalau anak aku benar-benar bukan anak A Givan." Ai menyempatkan diri untuk melirik Givan.
"Aku akui, aku bodoh, Canda. Tapi kamu pasti paham, rasanya ketemu lagi sama mantan yang dulunya ngejar-ngejar kita. Aku percaya masa itu, kalau A Givan masih cinta sama aku. Aku tampik sikapnya masa ketemu lagi sama aku itu, dengan keyakinan diri aku sendiri, karena aku tau sifat asli A Givan. Asal kamu tau, Canda. Sikapnya ke aku itu beda, masanya dia ada di depan kamu, sama kalau dia lagi ada di depan teman-temannya. Aku bisa yakin kalau dia masih punya rasa sama aku, karena sikapnya dia itu manis masa di depan teman-temannya pas ada aku di situ. Memang dia ketus kalau kami papasan di lorong hotel, di lobi atau di lift hotel. Tapi aku tahu sifatnya yang satu itu. Dulu pun, dia manis ke aku kalau sepi orang aja. Di lingkungan kantor, dia profesional dan cenderung ketus. Tapi lain, kalau kami udah ada di ruang kerjanya, atau di ruangan yang sepi."
Adinda dan Givan saling memandang. Mereka bingung, karena di awal Ai meminta maaf. Tapi, di akhir kalimat Ai seolah membuka permasalahan baru lagi.
__ADS_1
...****************...