Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM253. Kakak tertua


__ADS_3

"Aku tak pernah berpikir sejelek itu, Bang." Keith menggelengkan kepalanya berulang.


"Baguslah, kalau kau sungguh-sungguh." Givan masih belum percaya sepenuhnya pada Keith. Tapi, ia mencoba untuk tetap mendukung kesungguhan Keith untuk menikahi Shauwi.


"Assalamualaikum...."


Perhatian mereka berdua tertuju pada dua manusia yang berada di ambang pintu. Kerumitan dalam pikiran Givan bertambah runyam, ia merasa kepalanya penuh dengan masalah yang belum mampu ia selesaikan.


Ia menghela napasnya, kemudian mempersilahkan Kenandra dan Ria masuk ke ruangan lain, untuk menemui istrinya lebih dulu. Karena ia belum selesai berbicara dengan Keith.


Ia menjalani malam ini dengan emosi yang meluap. Tidak hanya pembicaraan saja yang mengundang emosinya, rupanya kejadian yang tak terduga membuatnya semakin meluap-luap. Ia tidak menyangka, adik iparnya sudah ternodai oleh kakak angkatnya.


Malam itu juga, ia mengirim adik iparnya ke luar negeri. Agar tidak terjangkau oleh Kenandra, karena ia tahu bagaimana tabiat Kenandra.


Banyak beban pikirannya, tapi begitu sulit ia bagi dengan orang terdekatnya. Ingin banyak bercerita dengan ibunya, ia khawatir ibunya banyak terpikirkan tentangnya.


Bertambah kekagetannya, karena malam itu juga ia mendapat kabar bahwa Kenandra mendapat kemalangan. Meski ia sudah berucap bahwa ia tidak menganggap Kenandra sebagai saudaranya lagi, tapi nyatanya ia tetap peduli kala mendengar kabar bahwa Kenandra kecelakaan.


Ia mengajak adik ipar Kenandra, untuk mengurus Kenandra di rumah sakit yang diberitahukan dalam pesan tersebut. Givan bergegas pergi di hari menjelang malam ini, meninggalkan anak dan istrinya yang tengah terlelap. Ia tidak tega membangunkan istrinya, dengan kabar buruk tersebut.


Urat tidak sukanya tetap terlihat, saat melihat Kenandra ada di depan matanya. Ia tidak mengeluarkan sepatah katapun, ia hanya memandangi Kenandra dengan wajah datarnya.


"Ngapain sih malam-malam keluyuran sejauh ini, Bang?"


Givan melirik ke arah Hafidz, kakak sepupunya yang menikahi adik sepupunya itu. Ia hanya terdiam dengan bersedekap tangan.


Banyak perbincangan yang terjadi antara Hafidz dan Kenandra, hingga akhirnya Hafidz menitipkan kakak iparnya pada Givan, karena ia ingin menjenguk dan memberikan uang ganti rugi untuk bapak-bapak yang mobilnya tersenggol oleh mobil Kenandra.


"Makasih, Van." Kenandra menepuk dan mengusap-usap punggung adik angkatnya.


"Hm." Givan membuang wajahnya ke arah lain.

__ADS_1


"Aku janji nikahin Ria. Kau tenang aja," ungkap Kenandra lirih.


"Aku malah tak tenang kalau dia nikah sama kau." Givan langsung menoleh dengan tatapan tajam.


"Kau bisa tak, untuk tak sombong? Aku naik pitam terus, tiap kali dengar mulut sombong kau!" Kenandra menarik baju bagian belakang Givan pelan.


"Tak bisa! Otak kau juga tak waras untuk tak sombong nampaknya! Tak usah ada ngomong sama aku, kalau untuk bahas beginian. Karena aku tak pernah santai dengarnya!" Givan membentak Kenandra.


Kenandra langsung meraup wajah Givan. "Kau ngomong sama siapa?!! Mulut kau ini ya ampun, Van!" Kenandra menekankan suaranya lirih.


"Huh!" Givan berpindah tempat agar tidak terlalu dekat dengan Kenandra.


"Kalau aku lari, bolehlah kau semarah itu. Aku kan tak pergi."


Mereka tengah menunggu hasil pemeriksaan kepala Kenandra, yang Kenandra curigai bermasalah.


Givan mendekati Kenandra, dengan telunjuknya terarah ke wajah Kenandra. "Bukan masalah lari atau tetap tinggal. Tapi, karena kau hina adik aku!"


"Udahlah! Tak bisa kontrol emosi aku kalau ngomong sama kau!" Givan meninggalkan Kenandra di ruangan observasi sementara di rumah sakit tersebut.


Kenandra hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Givan meninggalkannya. Ia pun sama, tidak bisa mengontrol emosinya. Namun, ia bisa menahannya sampai di rumah.


Saat hasil tes keluar, Kenandra langsung diperbolehkan pulang dengan membawa selembar surat untuk cek up kembali empat hari mendatang. Di dalam mobil, Givan lebih memilih terlelap di kursi belakang. Ia tidak menghiraukan obrolan Hafidz dan Kenandra yang duduk di kursi depan, ia mempercayakan kendaraannya dikemudikan oleh Hafidz.


Subuh telah tiba, Givan kembali pulas tergeletak di atas karpet ruang keluarganya. Ia tidak memperdulikan orang tuanya yang tengah memberikan perhatian pada Kenandra, bahkan ayah sambungnya repot-repot pergi untuk mengurus kendaraan milik Kenandra bersama Hafidz.


Sampai seruan untuk makan dari ibunya, mengusik waktu istirahatnya. Givan mengucek matanya, kemudian mengedarkan pandangannya.


Rasa muak menghampirinya, kala melihat kakak angkatnya masih berada di sini. Ia memalingkan wajahnya, sebelum akhirnya bangkit untuk membersihkan diri.


"Mah, aku pulang ya?" Givan merasa berat untuk ikut makan bersama kakak angkatnya.

__ADS_1


"Sini sama Mamah, Mamah kangen kau." Adinda menepuk tempat di sebelahnya.


"Tapi aku kangen Canda, Mah." Bualan Givan langsung dipahami ibunya. Adinda tahu, bahwa anaknya hanya mencari alasan untuk berbohong.


"Sini sama Mamah, Van!" Perintah Adinda tak terbantahkan.


"Hmm, ya udah deh." Givan berjalan lesu menghampiri ibunya. Ia terpaksa duduk di samping ibunya, menerima sendokan nasi ke piringnya.


"Kau suka masakan Mamah, Van." Adinda menyendokkan banyak lauk ke piring anaknya.


"Kan biasanya juga dikirim." Givan memanyunkan bibirnya seperti anak kecil.


"Kau kebagian tak sih kalau Mamah kirim? Apa dimakan Canda aja?" Adinda membubuhkan lauk lainnya ke piring Givan.


Kenandra merasa iri, karena ia teringat kisah lamanya. Ia tahu bahwa Adinda dulunya menjanda, ia iri karena dirinya tidak dibawa ibunya saat ibunya menjanda seperti Adinda. Tidak seperti Givan, yang sampai sekarang masih ikut dengan ibunya.


"Kebagian, kadang barengan. Mamah apa yang habis, aku janjikan Canda ke swalayan. Sekalian beli apa gitu yang habis di dapur." Givan sengaja mengalihkan pembicaraan mereka, agar ibunya tidak menyerempet pembicaraan tentang permasalahannya dengan Kenandra.


"Nanti Mamah buat list. Mamah minta beras dua puluh lima kilo, satu karung aja. Tapi kasih ke Ghavi ya? Biaya baby sitter sama asisten rumah tangga dicover papah, Mamah pun sokong modal untuk Ghavi terus menerus. Tapi, rasanya sulit betul dia naik. Kau pernah dengar istidraj tak? Kok Mamah kepikiran, dulu ini dia kena istidraj gitu tuh."


Givan mengerutkan keningnya, ia baru tahu tentang satu adiknya itu. "Tapi dia tak pernah minta bantuan ke aku, aku kira dia udah stabil?"


"Tak, dia minta ke Ghifar. Dia tak enak sama kau, karena kau banyak tanggung jawabnya. Dibawa-bawa juga Mamah ini, katanya Mamah pun udah repotin Bang Givan. Mamah mikir, memang Mamah repotin apa? Mamah buat list untuk kau belanjakan pun, karena kau yang minta. Mamah pun tau, kalau kau lagi ada." Adinda menyeruput air putih, kemudian ia mengaduk sedikit nasinya dengan lauk.


"Lebay! Kalau aku lagi ada, dia minta tolong terus terang, aku biayain keluarganya pun tak apa. Yang penting dia ada datang, dia minta tolong ke aku. Aku tak mau terlalu campur urusan adik-adik aku, tapi kalau mereka minta tolong ya aku pasti bantu sampai mereka bisa berdiri sendiri. Semarah-marahnya aku sama Ghifar, dari kecil aku tak pernah tega tinggalin dia di tengah ladang. Dia dinakalin pun, aku orang pertama yang nolong, meski akhirnya di rumah aku buat dia nangis juga." Givan berhasil mengalihkan perhatian ibunya dari Kenandra.


"Tak ada salahnya kau kasih perhatian kecil, tanya gimana kondisinya saat ini." Adinda urung memakan isi piringnya, karena itu bukan kebiasannya untuk makan sembari mengobrol.


"Aku kakak tertua, Mah. Aku pengen dihormati." Givan memandang lurus Kenandra yang berada di hadapannya.


Adinda menyadari tatapan marah anaknya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2