
"Nih, Vin. Calinda Chakra, anak kau, Kakak bawa ya? Kau boleh temui dia, kau boleh kasih dia perlengkapan, kau boleh ajak dia main. Tapi, kau tak boleh ambil untuk asuh dia. Kau benahi hidup kau, selesaikan masalah kau dan stabilkan ekonomi kau. Kau tak perlu berpikir, berapa ya biaya susu Cali, biaya pakaian dan lainnya. Yang penting, kau sayangi dia dengan tulus. Ingat, ibunya sampai tinggalkan dia di teras. Cali tak diharapkan ibunya, Vin. Terus, kau pun sama kah? Daripada kau bertindak sama seperti ibunya, lebih baik Cali jadi anak Kakak aja. Dokumen, dia bakal ikut Kakak. Pikirkan gimana nanti kepentingan dokumennya untuk sekolah." Canda mulai membuka obrolan serius, ketika mereka berdua bersantai kembali di halaman belakang.
Gavin menghembuskan asap rokoknya. Untungnya, bayinya tengah berada di dalam kamar bersama Adinda.
"Aku pengen dia kenal aku ayahnya, Kak." Hanya harapan itu yang ada di benaknya.
"Besar nanti dia sakit hati, kalau dia tau ibunya ninggalin dia di teras. Kalau dia tau kau ayahnya, dia pasti nanya ke mana ibunya. Pasti akan muncul pertanyaan-pertanyaan baru, persis yang lagi Kakak alami sekarang." Canda mengambil keputusan itu, karena ia merasa sendiri rumitnya menjelaskan pengertian itu pada anak-anaknya.
"Tapi aku ayahnya, Kak." Gavin menunjuk dadanya sendiri.
"Ya penuhi tanggung jawab kau sebagai ayahnya. Biar Kakak sama abang kau, yang bakal tanggung jawab sebagai orang tuanya." Canda memperhatikan laki-laki muda tersebut dari samping.
__ADS_1
Urat wajah ayah mertuanya, begitu terlihat persis dari samping perawakan pemuda itu.
"Ceritanya gimana? Berarti dia di sini udah ngandung kan?" Canda tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
Meskipun konflik cerita datangnya Cali sudah ia ketahui. Tapi, alasan percikan konflik itu terjadi masih menjadi pertanyaannya.
"Aku belum tau dia ngandung, Kak. Cuma dia ke sini, awalnya memang aku ajak untuk aku kenalkan ke mamah papah." Gavin menjeda kalimatnya sejenak. Karena perutnya sudah terisi, ia merasa sedikit santai untuk mengobrolkan hal sensitif ini.
Kemudian, ia menoleh ke arah kakak iparnya yang masih fokus memperhatikannya dari samping. Ia menghela napasnya, kemudian menyandarkan punggungnya pada tembok teras halaman belakang itu.
"Sebenarnya, aku kurang tau juga ceritanya. Tapi yang aku tau, Ajeng datang ke Brasil ini tak sama suaminya. Aku tau rumah tangganya kek gitu, ya dari mulut Ajeng sendiri," tambahnya kemudian.
__ADS_1
Canda manggut-manggut. "Terus, masa dia di sini gimana? Seingat Kakak, dia lama loh di sini." Canda mengimbangi obrolan mereka, dengan snack yang ia beli di minimarket.
"Ya tak maksa, pas aku bilang keknya waktunya tak tepat. Apalagi, masa itu konflik bang Givan sama Ai lagi panas-panasnya. Iseng aja sebetulnya pas aku tawarin Ai kawin sama aku, tak betul-betul nawarin juga aku ini." Gavin menepuk pangkuannya sendiri yang kejatuhan abu rokoknya.
"Maksudnya, hubungan kau? Terus, gimana komunikasi Ajeng sama mantan suaminya?" Canda ingin tahu tentang masalah itu, karena ayah mertuanya menjelaskan bahwa Ajeng kembali pada mantan suaminya.
"Baik-baik aja, tak ada masalah. Elang juga taunya, ya aku ini ayahnya. Aku kalau udah cinta tuh, percaya aja meski dibohongi. Yang penting, dia masih di sisi aku. Udah, gitu aja. Aku tak muluk-muluk. Tapi, masalah datang itu masa dia minta balik ke Brasil. Ada kecurigaan aku, karena tiket pesawatnya tak menuju ke negara tujuan, meski aku paham ada transitnya. Tapi masa iya, kok transitnya di Gorontalo? Ya udah aja, aku percaya nih. Terus aku telpon kan dia, pas dia sampai di Gorontalo ini. Panas hati lah aku di situ, dia pulang ke mantan suaminya. Alasannya, dia mau urus perceraian mereka. Meski aku pura-pura percaya, tapi aku tak diam, aku cari informasi. Apalagi, Gibran ini kan bocor semua kalau kasih informasi. Pas Ajeng di Brasil lagi, Gibran cerita kalau badan Ajeng ini segar. Yaa... Kakak taulah, gimana bentukan perempuan hamil. Jadi aku tanya si Ajengnya, katanya iya udah ada isi, dia juga baru tau pas aku minta dia untuk testpack. Masih berhubungan jarak jauh tuh. Sampai Gibran dan kak Hala cerita, kalau bapaknya Elang ini ada di sana. Yang buat aku tak mau datang lagi ke sana, karena bapaknya Elang kerja di perusahaan distributor yang mamah pegang. Aku tanya banyak macam pertanyaan, dia bilang bapaknya Elang cuma mau kasih nafkah untuk Elang. Loh, kok jadi begini? Ke mana dia kemarin? Posisi Ajeng udah enak, posisi Elang udah sejahtera, dia datang dan minta pekerjaan dengan alasan untuk Elang. Tambah kecewanya aku, mereka ini tak kekurangan dana dari aku, Kak. Tambah marahnya aku, Ajeng ini berpenghasilan tapi ia seolah mengemis nafkah untuk Elang sendiri. Kalau laki-lakinya sadar, kalau laki-lakinya memang tak niat memanfaatkan, dari awal aja dia nafkahi Elang. Ngasih nafkah, bukan caranya minta pekerjaan dulu ke mantan istri, baru dijatah anaknya. Aku nasehati lembut, aku kasih wejangan dan ancaman juga. Tapi dia tak mau ngerti. Dia tetap berpikir, Elang harus dinafkahi ayah kandungnya. Dia tak ada pikiran, kalau Elang pun anaknya, di samping dia anak ayah kandungnya. Kalau dia mampu nafkahi Elang sendiri, ya biar aja kalau ayahnya tak nafkahi. Dosa-dosanya bapaknya Elang sendiri, ya kan? Dia sibuk urusi nafkah bersama. Terus turun tuh talak aku, aku ceraikan dia lewat video call dengan pengasuhnya Elang sebagai saksinya. Jujur aja, aku talak pun dalam tujuan nakut-nakutin dia. Pikir aku, dia pasti mohon-mohon aku rujuki, bahkan aku resmikan, karena dia lagi ngandung anak aku. Terlepas dari Ajeng yang dekat lagi sama mantan suaminya, aku tetap percaya kalau Ajeng ngandung anak aku. Tak sedikitpun ada di pikiran aku, kalau dia ngandung anak mantan suaminya. Tak sedikit pun, aku berpikiran dia sehina itu." Suaranya bergetar di akhir cerita. Ia tertunduk menekan kelopak matanya, agar tidak terang-terangan menangis di depan kakak iparnya.
Gavin menarik napasnya lebih dalam, ia mencoba menstabilkan tekanan emosi dan rasa cengengnya dalam dadanya. "Satu dua bulan, dia diam, aku berharap dia masih nunggu untuk aku rujuki. Nyatanya, di bulan dia habis masa iddah agama. Dia bilang.............
...****************...
__ADS_1