
Givan baru selesai mandi dan baru keluar rumah dengan mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Ia celingukan, memperhatikan rumah anak-anaknya yang terlihat sepi. Waktu menjelang Maghrib, ia tahu anaknya pasti ada di dalam rumah mereka masing-masing untuk menunggu waktu Maghrib.
"Hai, Bang." Gavin bangkit dari duduknya di teras rumah Chandra, ia melambaikan tangannya ke arah kakaknya.
Givan mengajukan pertanyaan dengan isyarat dagunya. Ia berjalan ke arah samping rumahnya, untuk menaruh handuk kecil tersebut. Kemudian, ia mengenakan kaos yang tersampir di bahunya.
"Apa, Bang? Tadi nyariin Ayah, kenapa?" tanya Givan pada anaknya.
"Ayah dari mana sih? Ayah berarti denger aku manggil-manggil?" Chandra sedikit curiga dengan merah pias yang berada di dekat jakun ayahnya.
"Tidur tadi. Ada apa?" Givan masih berdiri di hadapan mereka berdua.
Ia sengaja tidak menyahuti panggilan anaknya. Karena ia paham, konsentrasi mereka berdua akan terganggu. Lalu nantinya, bukan tak mungkin ia harus memulai dari awal lagi.
"Mau ke Izza tadi. Sekarang sih udah gelap, malas lah aku pergi." Chandra mengurungkan niatnya untuk berkunjung ke rumah teman wanitanya.
"Besok pulang sekolah, ajak mampir ke sini. Berapa kali seminggu kau main ke dia?" Givan masih memperhatikan penuh anaknya yang duduk di samping adiknya.
"Tiap hari ketemu di sekolah, seminggu sekali pun tak nentu main ke sana," aku Chandra jujur.
"Suruh main lagi ke sini nanti." Givan duduk di samping anaknya.
"Iya, Yah. Aku ada acara camping di sekolah nanti Sabtu malam Minggu, Yah."
Gavin tidak ikut obrolan ayah dan anak tersebut. Ia masih menyelami kerumitannya, untuk menyelesaikan satu persatu kekalutan hatinya.
"Iya, boleh. Jangan satu tenda sama Izza." Givan tahu itu tak akan mungkin jika acara dari sekolah.
"Ya tak, Yah. Satu tenda sepuluh orang. Kalau murid laki-laki ya sama laki-laki, murid perempuan ya sama perempuan. Pakai tenda besar gitu, Yah. Yang dari terpal, terus baru dibuat tenda." Sebenarnya Chandra tidak tahu pasti.
Ia tidak berselera untuk ikut acara tersebut, jika bukan program sekolahnya. Ia tidak ingin ikut acara tersebut, tapi sifatnya harus mengikuti semua.
__ADS_1
"Iya, Ayah tau. Ayah anak Pramuka dulunya. Sering camping, tidur di tenda. Ayah aktif di ekskul pas masih SMP, pas SMA ini malas. Capek, soalnya sekolahnya full day. Kalau ekskul, nanti acaranya di hari Minggu. Waktunya istirahat di rumah, malah ekskul. Jadi, Ayah malas lah." Givan teringat kelelahannya di masa SMA. Ia sendiri meminta masuk SMA di sekolah itu, tapi ia sendiri yang banyak mengeluh.
"Ayah kan udah pacaran aja."
Givan melongo saja mendengar celetukan anaknya. Sedikit kekhawatirannya pada anaknya, jika anaknya tahu bagaimana tabiat buruknya dulu.
"Masa?" Givan bingung ingin menanggapi apa, ia cukup panik di sini.
"Ya buktinya aku SMP udah ada ser-seran ke perempuan, keknya Ayah juga begitu."
Giliran Gavin yang bersuara, ia tertawa lepas begitu puas mendengar jawaban anak kedua Givan tersebut. "Besar sedikit, duduklah di warung kopi. Semua orang siap menceritakan aib Ayah kau dulu," tambah Gavin kemudian.
"Kalau tau memang mau apa, Pak Cek? Yang tak nampak di mata aku, tak mau aku tiru, kecuali bawaan nurani aku aja. Yang nampak di mata, kek hal-hal yang baik, keunggulan yang baik-baik, pasti aku coba tiru, karena mana tau bawa keberhasilan di masa mendatang aku nantinya. Apalagi kan nanti aku, dengan segudang aset dan tanggung jawab dari Ayah. Aku pasti harus contoh hal-hal yang aku tau tentang keberhasilan Ayah, biar hasil usahanya pas di tangan aku tak bangkrut." Chandra berkata dengan pandangan lurus ke depan.
"Kek yang tau dapat aset banyak?" Givan merapikan rambut anaknya.
Chandra menoleh ke arah ayahnya, yang tengah menata rambutnya itu. "Ayah kan cuma punya anak, Ayah tak punya peliharaan sejenis kucing atau macan."
Gavin dibuat tertawa geli sendiri. Tas itu seolah menular, Givan ikut berbaur tawa dengan adiknya.
"Sialan kau!" maki Givan lirih dengan tawa ringannya.
"Beban akhirat Ayah juga itu sih nantinya." Mendengar tambahan Chandra, Gavin makin puas tertawa.
"Kata siapa kau tau beban akhirat?" tanya Givan pelan dengan merangkul anaknya.
"Ya kan dosa istri, Ayah yang tanggung." Mendengar jawaban anaknya, Givan manggut-manggut. Ia merasa ucapan anaknya tidak salah, ia merasa ucapan anaknya tidak keliru juga. Ia merasa anaknya cukup cerdas.
"Kalau istrinya berdosa pada suami, apa suaminya juga yang tanggung? Kan tak begitu, Gam. Dosa istri yang kek tak sholat, tak puasa, tapi suami diam aja. Ya itu yang bakal diminta pertanggungjawaban suaminya. Bukan bulat semua dosa istri, suaminya yang tanggung. Makanya diceritakan kan, kenapa di neraka lebih banyak perempuan. Karena sekalipun dia jadi istri, dia tetap punya dosa juga." Gavin melontarkan sedikit ilmunya pada keponakannya.
Givan menepuk-nepuk bahu anaknya. "Tuh dengerin Pak Cek yang enam tahun mondok di pesantren. Makanya, Ayah gembar-gembor biyung harus sholat harus puasa."
__ADS_1
Chandra menoleh ke arah ayahnya. "Tapi Ayah sendiri yang tak puasa."
Tawanya begitu lepas, Gavin cukup terhibur duduk berbarengan dengan mereka.
"Ya nanti Ayah belajar full." Givan sedikit malu dirinya diolok-olok oleh anaknya.
"Aku dari SD kelas empat, udah puasa full. Ayah empat puluh tahun, baru mulai puasa full." Chandra geleng-geleng kepala.
Gavin terpingkal-pingkal, sampai menepuk-nepuk tiang beton penyangga teras yang berdiri kokoh di sampingnya. Ia sulit mereda tawanya, karena terasa begitu menggelikan.
"Biarin! Ngeledekin Ayah terus kau dari tadi. Buat emosi aja." Givan menunjukkan ekspresi gemasnya dan seperti akan mencubiti pipi anaknya dengan kencang.
Tanpa pikir panjang, Chandra langsung lari dan masuk ke dalam rumahnya. Ia menyelamatkan dirinya, dengan tawa renyah yang tak mampu ia tahan.
Givan hanya bisa geleng-geleng kepala, karena melihat adiknya begitu puas mentertawakan dirinya sampai memeluk tiang beton.
"Abang khawatir kau gila. Tadi kau murung betul, sekarang kau malah tak bisa berhenti ketawa." Givan menggeser alas duduknya, kemudian ia merangkul Gavin dan menepuk-nepuk lutut adiknya tersebut.
"Abang sama anak Abang, ngelawak terus dari tadi. Aku ketawa ada sebabnya lah, bukan mendadak ketawa." Gavin meredam tawanya, dengan melirik sinis adik iparnya.
"Oh, iya kah? Baguslah kau ketawa berarti." Givan menggoyang-goyangkan rangkulannya pada adiknya.
"Butuh tempat privat, sama segelas kopi, Bang," ujar Gavin kemudian.
"Dua dong. Ayo masuk ke rumah, nanti Abang minta kakak ipar kau buatkan. Tapi Abang tinggal sholat sebentar ya?" Givan bangkit dan membersihkan alas duduknya.
"Aku ikut sholatnya." Gavin seperti anak kecil, yang mulai memberatkan kakaknya ketika kakaknya ingin pergi main.
"Ayo, ayo. Kita sholat berjamaah." Givan membawa adiknya masuk ke dalam rumahnya.
Ia cukup paham, jika adiknya butuh teman. Ia cukup mengerti, jika adiknya butuh teman bercerita. Ia cukup tahu, jika pikiran adiknya tengah begitu stress sekarang.
__ADS_1
Namun, ia tidak bisa datang sebagai teman. Ia ingin adik-adiknya sendiri yang mencarinya dan merasa butuh akan peranannya. Jikapun ia datang pada adiknya, ia khawatir niat baiknya malah direspon kurang baik karena kekacauan pikiran adiknya.
...****************...