Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM81. Tidak mau dibagi


__ADS_3

"Aku harap, tuntutan hukum itu masih bisa dicabut dan diselesaikan secara kekeluargaan aja." Ai memainkan jemari tangannya sendiri.


"Kekeluargaan gimana maksudnya?" Canda yang mengeluarkan suara lebih dulu.


Ai memandang lurus pada Canda. "Aku yang jadi korban di sini, tapi aku yang dihukum. Aku rasa, itu gak cukup adil untuk aku. Aku minum minuman keras pun, bukan kehendak aku. Tapi, aku malah ditarik dengan keterangan itu juga. Ini terlalu berat, Canda. Aku lagi mengandung, ditambah harus menjalani masa hukuman setelah nifas nanti. Belum sampai di situ aja, aku pun ditarik dengan permasalahan yang aku sebagai korbannya. Apa kamu gak ngerti, Canda? Aku ini korban di sini, aku mengandung di sini. Gimana ceritanya aku malah kena pasal tentang khamar, kena pasal tentang zina itu? Namanya dicekoki, dalam kondisi mabuk, ya aku gak sadar lah. Kok malah aku yang bersalah di sini?" Ai merasa ada aliran kecil dari jalan lahirnya, ia yakin itu adalah pendarahannya.


Ia mengusap-usap perutnya, yang mulai kembali dengan rasa tidak nyaman itu. Wajahnya langsung terlihat pucat, karena ia merasa sedikit tercekik ketika bernapas. Ia dalam kondisi tidak baik-baik saja.


Canda menjadi kasihan dengan ucapan Ai. Benar, Ai adalah korban di sini, ia yang malah dibuat mengandung dengan tidak diketahui siapa yang menghamilinya.

__ADS_1


"Terus maunya gimana? Kekeluargaan yang kek gimana?"


Givan menoleh cepat pada istrinya. Ia paham, tentang istrinya yang gampang iba terhadap orang lain. Canda tidak mengerti, jika Ai adalah lawan terbesarnya.


"Pernikahan siri dan tanggungan biaya hidup anak aku, aku rasa itu cukup."


Givan sebenarnya bisa menebak jawaban Ai.


Ekspresi Givan berubah-ubah. Ia serius, tertawa sebentar, kemudian terheran-heran dan serius kembali.

__ADS_1


"Kenapa kamu ngomong kaya gitu?" Ai merasa terhina karena disebut janda oleh Canda secara tidak langsung.


"Karena kau cantik, power kau kuat, perawakan kau menarik dan kau bisa kerja. Tenagaku, maksimum cuma bisa gotong tabung gas melon aja udah. Itu pun kalau yang isi, aku ngotot-ngotot bawanya. Aku pernah kerja dan rasanya capek, aku kalah dengan rasa kantukku sendiri. Ditambah lagi rekam jejak sakit aku, masa aku kelelahan karena jualan seblak. Pokoknya titik, aku tetap mau jadi istri orang aja. Terutama, laki-laki yang susahnya sama aku. Aku tak mau, pas dia sukses, terus dia bahagiakan orang lain. Aku tak bakal ikhlas itu. Masa Mas Givan duda pun, aku nyesel betul menjandakan diri sendiri masanya dia bangun rumah langsung mewah. Padahal waktu hidup susah sama aku, dalaman sobek pun kujahit. Kau tak bakal tau juga, masanya aku isengin dia tiap waktu minta dirujuk. Kau pun tak bakal tau, dengan dapat dirinya ini, aku harus menukarnya dengan laki-laki hebat yang tak kurang apapun. Kau tak bakal tau perjuangan aku, sulitnya jadi aku, pengorbanan aku, duka laranya aku, hingga sampai di titik aku bisa sama-sama lagi sama dia dengan jalur langit. Terus, lagi di posisi enak ekonomi, harmonis rumah tangga, sehat badan dan karunia keturunan, kau minta sama aku untuk bagi itu?" Canda menjeda kalimatnya sejenak. "Oh, tidak bisa! Aku nunggu ini lebih dari sepuluh tahun, aku mendambakan kebahagiaan yang sempurna ini lebih dari setengah hidup aku sendiri. Aku tak mau bagi itu, meski kau minta baik-baik. Sekalipun dengan alasan kau dan suami aku suka sama suka, tapi aku punya kekuatan hukum untuk rampas dia untuk aku lagi. Dia mesin uang aku, dia indung benih anak-anak aku, dia pengingat waktu sholat aku, dia bantal guling aku, dia pun tukang ojek aku, tukang angkat galon, angkat gas, angkat jemuran, angkat belanjaan, pengunci pintu kamar dan jendela, tukang kosrek WC aku juga, plus ahli gizi aku setiap saat. Terlalu banyak uang yang harus aku keluarkan, misalnya buang dia, terus pekerjaankan orang-orang di setiap posisi kosong tersebut. Aku tak mau bagi dia, dia terlalu berharga dan berguna untuk kehidupan aku. Kau paham, Ai?! Paham ya? Masa tak?" Canda tersenyum amat lebar setelah menuntaskan kalimat super panjang tersebut.


Ketahuilah, Givan malah tertawa geli dengan memukul-mukul pangkuannya sendiri. Pengakuan hebat dari Canda yang secara tidak langsung tengah memujinya dan menyebarkan aibnya ketika di rumah tersebut, seperti tengah menerbangkan banyak kupu-kupu, capung, belalang dan banyak serangga lainnya di hatinya.


Antara percaya dan tidak, ketika Canda tengah menceritakan secara singkat alur hidupnya tersebut. Ai berpikir, Canda tengah memberinya omong kosong belaka. Menurutnya, Givan tidak akan mungkin mau memakai dalaman yang tidak layak. Ia pun yakin, Givan tidak mau berjongkok di lantai kamar mandi dengan menyikat lantainya. Ia pun tidak percaya, jika Givan mau disuruh Canda untuk melakukan ini dan itu seperti yang Canda bicarakan.


Meski faktanya, bahkan Givan melakukan lebih dari yang Canda ucapakan. Agar Canda hidup dengan sehat, aman dan nyaman. Ia tidak akan pernah membiarkan lantai kamar mandi basah, kecuali dalam shower box, apalagi sampai licin, karena khawatir Canda tergelincir dan berakibat fatal. Canda adalah hidup Givan, Givan tidak akan bisa hidup jika terjadi sesuatu pada Canda. Mungkin ini terdengar berlebihan, tapi seperti itu kadar sayang, cinta dan kasih Givan pada istrinya.

__ADS_1


Ia tidak tahu, cara untuk berterima kasih pada Canda karena telah memberinya banyak keturunan yang baik. Karena sudah mau mendidik akhlak anak-anaknya, meski bukan dari rahim Canda sendiri. Karena telah mampu memberinya kebahagiaan yang berlimpah dan tawa yang tiada hilang setiap harinya, sampai akhirnya dirinya bertekad untuk selalu bisa menjaga Canda dan memberikan kenyamanan yang terbaik untuk Canda. Sebagai bentuk rasa terima kasih dan syukurnya, karena telah dihadiahkan seorang istri seperti Canda.


...****************...


__ADS_2