Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM222. Keleraian kerumitan


__ADS_3

"Kakak Ipar, kau susuin anak aku?" Gavin terlihat panik, ketika ia melihat kain yang anaknya kenakan terlihat menjuntai dari dekapan Canda yang sedang menyusui bayi.


Canda menggunakan penutup kain ketika menyusui, membuat Gavin tidak tahu pasti siapa yang Canda susui.


Dengan entengnya, Canda menganggukkan kepalanya. "Siapa anak kau? Ini anak Kakak." Canda sedikit menyibak kain penutup menyusuinya, meski tidak sampai memperlihatkan proses menyusuinya.


"Ya Allah, betul anak aku. Kak, Kakak yang bener coba?!" Gavin menggoyangkan lengan Canda.


"Bener. Jajan gih, ke minimarket. Atau, belikan sop iga depan jalan sana." Canda merogoh kantong dress-nya.


Gavin melihat kakak iparnya tak percaya. Pengalihan pembicaraan tersebut, sungguh terlihat jelas. Canda tidak bisa memperhalus pengalihan pembicaraan, karena memang ia tidak ingin.


"Kak! Kakak waras tak sih?!" Gavin menampakkan wajah seramnya para kakak iparnya.


Ia mudah sekali emosi akhir-akhir ini. Pikiran anak muda tersebut tidak baik-baik saja.


"Waras lah! Masa gara-gara sesar tiga kali jadi gila?" Canda melirik adik iparnya sinis. "Tadi Ra sama Nahda minta uang, beli sosis besar di minimarket sendiri aja. Kakak tak dibelikan juga, malah dibalikin uang kembaliannya." Canda menunjukkan uang pecahan dari kantong dress-nya.


"Gih belikan, lima belas ribu kan paling? Cukup nih beli dua sosis besar. Sisanya empat puluh ribu beli sop iga aja, Vin. Beli satu aja, nanti kita makan barengan sama nasi." Canda menaruh uang pecahannya di pangkuan adik iparnya.


"Otak Kakak tuh makanan aja!" gerutu Gavin lirih.


Canda mendengar itu, ia tidak mau ambil pusing dengan gerutuan adik iparnya. Karena ia memang berniat untuk mencoba mengalihkan pikiran adik iparnya yang tengah tidak baik-baik saja.


"Mau tak? Atau Kakak ikut?" Canda menggoyangkan lengan Gavin.


Gavin hanya diam, ia memandang lurus ke depan tidak menanggapi ucapan Canda.


"Ya udah. Kakak minta uang dulu ke mamah, abang kau udah pulang duluan keknya. Kau jangan tak mau, Kakak udah stress betul tau. Masuk minimarket aja, Kakak tak pernah karena Cali masih tak boleh kena hawa pendingin ruangan. Di camper van, ngap betul. Kudu sepoi-sepoi dari jendela mobil aja. Belum lagi Kakak itu tak sadar sepuluh hari loh, Vin. Ck, udah kek mati kek hidup. Kau tak mau senangkan Kakak ipar kau?" Canda mencoba mengambil rasa iba pada diri Gavin.


Gavin hanya melirik. "Kak...." Gavin berat untuk mengiyakan. Ia merasa kepalanya begitu rumit, hingga membuatnya malas untuk pergi ke mana-mana.


"Cali di sini aja sama nenek, Biyung sebentar aja kok." Canda mengintip ke dalam alat penutup menyusuinya. Ia berbicara pada anak yang sudah menyusui empat puluh menit lebih dari kedua dadanya.

__ADS_1


Canda membenahi pakaiannya dulu. Kemudian, ia mengangkat tubuh Cali untuk disendawakan terlebih dahulu.


Gavin mengamati anak itu. Itu benar-benar anaknya, anak yang ia kurang bersamanya dengan kekacauan pikirannya.


"Kak, itu benar anak aku. Kok dipanggil Cali?" Gavin mengerutkan keningnya.


"Udah dikasih hak nama yang baik dong. Namanya, Calinda Chakra, anak bungsu Biyung." Canda mencolek-colek pipi anak yang baru saja bersendawa tersebut.


Cali sudah tidak banyak menangis. Adinda pun mengurungkan niatnya untuk membawa Cali ke rumah sakit, karena melihat perubahannya setelah mendapat ASI dari Canda sejak Subuh. Mata anak itu pun, sudah tak begitu cekung karena dehidrasi.


Adinda pun sengaja tak mengenakan diapers pada anak itu, agar tahu seberapa banyaknya Cali buang air kecil. Dengan tanda-tanda yang Cali tunjukan, Adinda yakin Cali sehat-sehat saja sekarang.


Tarikan napas dan detak jantungnya pun stabil, tidak seperti bayi yang menunjukkan bahwa tubuhnya sedang tidak baik-baik saja.


"Ihh, mirip Biyung sih jadinya." Canda berbicara pada anak bayi tersebut.


Dalam hati, Gavin berkomentar bahwa anaknya tidak mirip kakak iparnya sama sekali. Dilihat dari sisi manapun, anaknya tetap mirip keluarganya, khususnya dirinya.


"Mah, pegang dulu sih. Mau jajan sama Gavin." Canda meneriaki ibu mertuanya, seperti meneriaki ibunya sendiri. Bahkan sejak Subuh, ia belum mengunjungi ibunya.


"Ya." Adinda mendatangi Canda yang duduk di teras halaman belakang.


Tadi mereka duduk bersama, dengan menikmati makan siang. Canda dan Adinda banyak mengobrol, dengan Canda sembari menyusui Cali.


"Mau jajan, Mah. Minta uangnya dulu, nanti mas Givan ganti." Canda menengadahkan tangannya ke arah ibu mertuanya.


"Jajan apa?" Adindanya merogoh sakunya.


"Sop iga sama ke minimarket." Canda mendapat dua lembar uang berwarna merah dari ibu mertuanya.


"Pelan bawa motornya, Vin. Kakak ipar kau belum pulih." Adinda berjongkok dan mengambil alih bayi tersebut.


Cali cenderung mudah tenang, tidak seperti Cala yang heboh saja. Anak bayi yang berbeda sepuluh hari tersebut, sangat memiliki perbedaan meski dengan ukuran yang sama. Karena Cala prematur, tubuhnya terlihat sama dengan bayi yang sepuluh hari lebih muda darinya.

__ADS_1


"Ya ampun, Kak. Serius kah?" Gavin tidak percaya jika kakak iparnya memaksa mereka untuk pergi.


"Iya, Kakak lapar." Canda bangkit dari duduknya.


Tidak ada pilihan lain, kecuali menuruti permintaan kakak iparnya. Dengan langkah berat, Gavin membawa dirinya keluar dari rumah untuk pertama kalinya selama kurun waktu kurang lebih sembilan hari sejak kedatangan anaknya secara tiba-tiba.


Kendaraan metik roda dua tersebut, perlahan meninggalkan rumah megah. Canda mulai menunjuk ke arah minimarket terdekat.


Sesampainya di minimarket, Canda mulai mencari jajanan yang ia inginkan. Ia bebas makan apapun, tapi kemarin ia tidak bisa bebas memilih jajanan seperti hari ini karena selalu suaminya yang pergi berbelanja.


Sesampainya di kasir, Canda cekikikan karena pengeluarannya lebih dari uang yang ia kantongi. Gavin pun ikut tertawa geli, saat mengeluarkan uang dari dompetnya.


"Bisa-bisanya tak dihitung sambil belanja tadi? Biarpun kurang dua puluh ribu juga, tapi kan malu kalau aku tak bawa uang tadi," ujar Gavin setelah mereka keluar dari dalam minimarket.


"Perasaan bawa uang tuh banyak. Tujuh puluh ribu, sama dua ratus ribu dari mamah." Canda tertawa malu.


"Dah, yuk. Ke mana lagi?" Gavin mulai merasakan beban pikirannya berangsur luruh karena suasana keramaian dan pembawaan kakak iparnya.


"Kau masih ada uang kah? Ke sop iga dulu dong, Kakak cepat lapar nih. Ada tak empat puluh ribu? Katanya sih seporsi harganya empat puluh ribu." Canda mengusap perutnya. Ia sudah keroncongan, membayangkan nikmatnya sop iga tersebut.


Mungkin ia akan makan kembali setelah ini.


"Ada." Gavin membantu kakak iparnya untuk naik ke motor kembali.


Gavin menuju ke tempat yang kakak iparnya inginkan. Ia membeli tiga porsi sop iga, yang rupanya amat banyak sekali. Gavin tidak menyangka, jika satu porsinya itu hampir satu baskom.


"Yey, makan besar. Jadi ingat Kin." Canda kegirangan saat melihat sop iga tersebut dijadikan satu di sebuah baskom stainless steel besar.


"Ingat yang ada aja, Kakak ipar. Tolong ambilkan buat aku, Kak." Gavin memberikan mangkuknya pada Canda.


Adinda tersenyum samar. Rupanya, Canda sudah mampu sedikit mengalihkan kerumitan anaknya. Setelah ini, Adinda hanya menunggu aduan Canda tentang curhatan Gavin padanya. Adinda tahu, jika Canda dekat dan sering bercerita banyak dengan anak-anaknya. Ia bagaikan sebuah ember, yang diletakkan banyak air dari sumber air mana saja.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2