Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM210. Persiapan penerbangan


__ADS_3

"Canda, tetap tak bisa. Bayi kita, bayi prematur soalnya. Tetap harus nunggu beberapa bulan lagi, itu pun kita harus cek rutin. Katanya, bisa kok pergi kalau naik kendaraan darat. Berapa lama coba perjalanan dari Tangerang ke Aceh Tengah sama? Pasti makan waktu tiga harian lebih tanpa istirahat." Dari ucapan suaminya, Canda teringat akan bus jurusan Padang yang pernah ia tumpangi.


"Aceh Tengah ke Padang aja, kurang lebih dua puluh tiga jam, Mas," tambahnya kemudian.


"Ya ini jaraknya bisa tiga kali lipatnya ke Padang. Gimana menurut kau? Mau kah naik mobil? Apa aku harus beli mobil dulu? Karena ada tak travel yang mau antar sejauh itu. Paling bus, jelas aku tak nyaman. Aku bisa mabuk, malah di kendaraan umum yang banyak orangnya." Givan menggaruk kepalanya berulang.


"Udah tak usah lah, Van. Biar Mamah sama Ghifar aja. Kau tunggulah waktu yang cukup untuk anak kau bisa dibawa pulang. Doain papah kuat-kuat di sana. Mamah takutnya papah darahnya lagi tinggi, jatuh, terus setruk aja udah. Masih muda masih gagah, masa setruk coba? Semoga tak sampai begitu." Adinda membuang pikiran tersebut berulang kali.


"Semoga tak begitu lah, Mah. Kek biasa aja, papah kan suka pingsan memang kalau darahnya tinggi. Semoga pingsannya di tempat yang empuk, yang tak beresiko tinggi." Givan mencoba memberi ketenangan untuk ibunya.


"Ceritanya tuh gimana sih, Mah?" Ghifar memasukkan ponselnya ke saku kembali, setelah ia sudah mendapatkan tiket pesawat yang dikirim ke email-nya.


"Tak tau, Nafisah tak cerita apa-apa. Dia cuma bilang papah di rumah sakit, terus pas papah bangun, Mamah diminta untuk pulang. Dengan Mamah diminta pulang, pasti ada apa-apa di sana kan? Tak mungkin, kalau cuma papah drop aja, Mamah diminta pulang. Papah pasti di sana mikir juga, kalau mau minta Mamah pulang tanpa alasan yang kuat. Karena papah tau, di sini Mamah pun urus kalian yang memang lagi membutuhkan tenaga orang lain. Mamah sering teleponan sama papah, Mamah sering update kabar di sini biar papah ngerti. Sejauh ini pun, papah tak minta Mamah untuk pulang. Katanya ada Devi yang masakin, katanya pun Aca sering kirim makanan dan main ke sana." Adinda mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya.


"Maksudnya terjadi sesuatu di rumah begitu, Mah? Tapi apa? Siapa yang buat kejadian itu?" tanya Ghifar kembali.


"Masa Ghava? Tadi Ghava ada di rumah sakit, ngurus dokumen asuransi katanya. Zuhdi kah? Tapi Zuhdi ada di sana ngurus adminitrasinya. Apa Ghavi lagi yang berulah? Apa Fatimah kah namanya? Datang lagi kah dia ini?" Adinda menerka-nerka kejadian yang terjadi di sana.


"Apa Nadya datang lagi kah, Mah? Soalnya waktu itu, dia pergi dalam keadaan marah. Zio yang minta dia jangan temui dia lagi, apa Nadya geram karena itu?" tambah Givan yang menambahkan spekulasi lain.


"Apa Gibran berulah, Mah?" Canda menarik nama adik ipar paling bungsunya, yang belakang ini memang ada di rumah.

__ADS_1


"Masa iya? Kau kan tau, Gibran mana pernah main, apalagi berulah. Dia stay di rumah aja, paling ngintilin papah kau ke ladang atau main ke Riyana Studio." Adinda teringat kebiasaan anak bungsunya setelah datang dari Brasil.


Gibran menghabiskan waktunya di rumah, membuat kolam ikan hias di halaman rumah. Atau mencari kesibukan lain, dengan membenahi dan memindahkan letak barang di rumah, dengan alasan bosan dengan letak barang yang di situ-situ saja. Kamar miliknya yang berbarengan dengan Gavin pun, diubah total dengan warna cat yang sudah berubah.


Ia belum tahu dirinya condong untuk mempelajari bidang usaha apa, jadi dirinya membuat kegiatan positif untuk dirinya sendiri. Kembali ke Brasil untuk melanjutkan usaha orang tuanya di sana, Gibran merasa berat meninggalkan kampung halamannya kembali setelah dirinya pulang. Entah kenapa, ia merasa tidak tega meninggalkan orang tuanya yang sudah tua. Ia ingin selalu berada di dekat orang tuanya, apalagi ia merasa sudah terlalu jauh dengan orang tuanya, sejak kelas lima SD ia ikut ke pesantren bersama Gavin.


"Apa Gavin, Mah? Dia kan keluyuran aja tuh. Ya memang dia bantu usaha keluarga, tapi nampak dia kok tak anteng-anteng di rumah." Canda mengerucutkan kecurigaannya.


"Masa sih, Dek? Berantem kah? Tapi dia kemarin Mamah tanya tuh, dia lagi di Pintu Rime sama mangge Yusuf udah dari tiga harian. Mamah juga bilang, kau jagain papah kau di rumah sendirian. Katanya, ada Gibran sama Chandra yang suka nginep di sana." Adinda mulai pusing, karena ia tidak tahu apa-apa dengan keadaan yang terjadi di sana.


"Ya udah ayo, Mah. Kita siap-siap berangkat aja, dari sini ke bandara kan makan waktu juga." Ghifar bergerak untuk menarik kopernya.


"Bentar, Mamah ke kamar mandi dulu." Adinda berjalan ke arah kamar mandi berada.


"Mau naik travel kah? Ada tak yang mau antar sampai ke rumah tuh?" Givan tidak yakin jika memang ada. Ia tidak mempermasalahkan ongkos, karena jelas tabungannya masih cukup banyak hanya untuk sekedar ongkos saja.


Buktinya, ia mampu membiayai Canda dalam perawatan rumah sakit mahal.


"Ayolah, Mas." Canda menggoyangkan lengan suaminya.


"Iya, aku usahakan cari-cari travel yang mau." Givan berjalan ke arah sofa.

__ADS_1


Ia memegangi perutnya. Sesekali, perutnya terasa begitu menusuk. Ia mencari kebenaran minyak aromaterapi, kemudian membalurkan perutnya dengan minyak yang memiliki wangi khas tersebut.


"Sakit lagi kah, Bang?" Ghifar melirik ke arah kakaknya.


"Perih aja." Givan menutup kembali kaosnya.


"Makan tuh martabat, Bang. Perut kau tak boleh kosong betul." Ghifar menunjuk paper bag yang berada di meja sudut.


"Bolehkah aku makan martabak?" Givan bangkit dan berjalan ke arah meja yang Ghifar tunjuk.


"Entah, Bang. Menurut aku sih, kau cuma penyakit lapar yang dibiarkan aja." Ghifar memindahkan koper-koper tersebut ke dekat pintu.


"Hajar ajalah." Givan langsung meraih dan membawa makanan tersebut ke sofa yang ia duduki tadi.


"Kalau kau butuh travel, hubungi aja nomor yang aku kirim itu. Dia kawan pemilik travel juga, dia main di wilayah Jakarta. Ada juga mobil aku yang dia sewa, dia kekurangan armada kemarinnya." Ghifar bolak-balik untuk memindahkan barang-barang bawaannya dan menyusunnya dengan rapi.


"He'em, nanti Abang hubungi." Givan fokus melahap martabat yang lalai dimakan tersebut.


"Tapi kalau aku boleh saran sih, Canda. Kau jangan terlalu egois, kasian anak kau kalau tak siap tapi dipaksakan. Resikonya kan gendang telinganya kan kalau tak salah? Bayi yang lahir sesuai bulannya pun, baiknya nunggu empat puluh harian biar gendang telinganya tak kenapa-kenapa karena tekanan udara itu. Aku tau, pikiran kau pasti ke papah aja. Tapi, kau harus pikirkan keadaan bayi kau juga. Kau lahirkan dia sesusah ini loh, Canda. Kau selamatkan nyawanya sampai dia lahir, sampai kau bertarung nyawa, hilang kesadaran sampai sepuluh harian. Masa dia udah lahir, kau sepelakan keadaan kesehatan dan keselamatannya? Kan jangan begitu juga, lebih baik jaga baik-baik, kau ikuti bagaimana baiknya dia. Kau jangan egois." Ghifar menasehati dengan lembut, ia pun dekat dengan posisi Canda yang sudah duduk di tepian brankarnya.


Canda mulai memikirkan saran dari Ghifar. Benarkah ia egois? Benarkah ia tidak memikirkan bagaimana kondisi bayinya?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2