Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM242. Taman wanita


__ADS_3

"Ayah, ee." Cani mencoba turun dari gendongan kakeknya.


"Ayo, ayo." Givan langsung bangkit, meski ia sudah tak kuasa menahan kelopak matanya.


"Sama Nenek kan bisa, Dek. Ayah ngantuk itu." Adinda membantu Cani melepaskan celana dan diapers-nya.


Anak yang sudah terbiasa tanpa diapers itu, kini terpaksa harus menggunakan diapers lagi. Sayangnya, Cani tetap saja buang air kecil dan buang air besar di kamar mandi.


"Dilihat, Van. Waktu Icut, ee-nya darah kena DBD tuh," pesan Adi, saat Givan menggendong anaknya dan menarik tiang infus anaknya.


"Ya, Pah." Givan berjalan ke arah kamar mandi.


Beberapa saat kemudian, Cani sudah berada di dekapan kakeknya lagi. Givan mengatakan, bahwa kotoran anaknya tidak terdapat darah. Sedikit tenang untuk mereka, karena Cani lebih dini ditangani sebelum keadaannya begitu parah.


"Kau dengar tak?" Adinda menyenggol tangan anaknya yang berada di atas meja.


"Dengar, Mamah. Mamah tak sopan ah, masa nasehati aku yang lagi makan." Gibran melirik ibunya kesal.


"Ya kau terbang-terbang terus." Adinda menghempaskan punggungnya ke sofa, kemudian bersedekap tangan dengan memperhatikan anaknya yang tengah makan.


"Aku di rumah terus, baru siang tadi ngintilin aja Bang Givan udah dibilang terbang-terbang terus. Ya kali aja, masa iya aku suka laki-laki? Macam habis aja gadis-gadis dan janda-janda di kampung kita." Gibran fokus mengaduk makanannya dan menyuapkannya ke dalam mulutnya.


"Jangan janda lah, Bran. Udah cukup, masa bujang-bujang Papah banyakan sama janda?" Adi sedikit kesulitan untuk makan, karena anak yang berada di pangkuannya cukup besar.


"Ya maksudnya tuh, Pah. Kek apa aja aku ini? Aku suka kok perempuan." Gibran melirik ke arah ayahnya.


"Miyabi ya contohnya, Bran?" Givan mengambil satu buah styrofoam berisi makanan.

__ADS_1


Gibran tersedak, ia segera meminum air mineral kemasan gelas yang tersedia. Kemudian, ia menahan tawa dengan melirik kakaknya.


"Kulit-kulit Amerika dong, Bang." Dengan lontaran Gibran, para laki-laki yang mendengar langsung tertawa lepas.


"Nikah aja ya? Daripada nontonin aja begitu. Delapan tahun kau mondok, masa iya malah suka nonton film dewasa jadinya" Hanya Adinda yang tadi tertawa mendengar ucapan Gibran.


"Pas di sini ini, Mah." Gibran sulit mengelak, karena terlanjur diketahui orang tuanya.


"PMO kah?" tanya Givan dengan menyuapi anaknya makanan.


"Apa itu, Bang?" Gibran merasa tidak mengerti apa yang kakaknya pertanyaan.


"Po*n, mast***asi, orga**e," terang Gavin, dengan berjalan ke arah keluarganya sembari membawa tiang infus miliknya.


Ia tergugah, ingin menikmati makanan yang adiknya beli juga.


"Ohh, tak aku. Aku tak pernah c**i." Gibran tahu maksud yang dijelaskan kakaknya.


"Ya kek anak kecil Mamah sih, masa HP segala disita. Dia udah dewasa, tinggal carikan dan dekatkan perempuan aja. Udah lebih dari dua puluh tahun dia ini, ekonomi sembari merintis nanti. Daripada hilang perjaka masa bujang," saran Givan, dengan menyuapkan kembali makanan ke anaknya.


Ia sedikit tenang, karena Cani mau makan apa saja yang dirinya suapkan. Membuat tubuhnya tidak terlampau kekurangan nutrisi, apalagi sampai dehidrasi parah.


"Ya udah, nanti teman perempuan sebayanya suruh main," perkataan Adinda membuat Gibran menghela napas.


"Ada aku teman perempuan, Mah. Drama terus, baperan. Sekali direspon itu, nuntut terus minta respon. Sedangkan kan, dunia aku bukan tentang dia aja." Gibran dengan tidak sadar, seolah mengatakan bahwa dirinya memiliki perempuan yang dekat dengannya.


"Orang mana dia?" Adi jelas langsung memahami hal tersebut.

__ADS_1


"Ehh...." Gibran lekas minum air mineral kembali. Ia baru tersadar, bahwa ia tengah mengatakan kedekatannya dengan seseorang.


"Anaknya pak Taleb. Eh, Tholib kah Taleb?" Gibran merasa semuanya terlanjur untuk ditutupi.


"Pak Tholib, tapi biasa dipanggil pak Taleb. Dia perempuan kau?" Adi urung memakan makanannya, karena penasaran dengan kejelasan dari anaknya.


"Teman SD dulu. Dari dulu tuh sering inbox, dari pas aku pegang HP lagi, as aku udah di Brasil. Terus beberapa bulan di Brasil, dia minta no WA aku. Aku kasih, sering komunikasi. Cuma tuh risih, nanya terus lagi apa aktivitas apa. Aku jarangi kan, sampai beberapa tahun di sana aku jarang komunikasi karena aku sibuk, banyak tugas dan pengembangan diri di sana. Barulah balik, sering komunikasi lagi. Cantik sih cantik, menarik, cuma tuh cerewet betul. Ada aku kenal perempuan Asing di sana, orang Brasil sama orang Panama. Aku agak kurang suka, karena terlalu banyak debat dengan pola pandang kita. Ada juga kenal orang Jawa, dia dapat beasiswa juga di Brasil itu. Tak sabar aku nungguin dia ngomong, alus betul ngomongnya. Keluar logat aku kan, kalau ngomong bahasa Indonesia. Eh, kagetan terus dia. Dia pernah diam aja, pas aku tanya dia takut sama aku karena disangkanya aku ini bentak-bentak dia. Kek mana aku ini mesti ngomong ke dia, padahal udah aku 'dek-dek' dia."


Givan dan Gavin tertawa renyah, mendengar cerita adiknya.


"Mamah kau tak takut dengar logat Papah," timpal Adi mencoba terbuka, agar anaknya terus bercerita.


"Nah itu, entahlah. Orangnya itu cepat kagetan, Pah. Buku jatuh di ruang senyap kek perpustakaan gitu, sampai tersentak dia duduk itu. Dicolek, ditepuk, langsung tersentak lagi dia. Memang bawaannya keknya, soalnya pas kecilnya tak digubrak-gubrak suruh sekolah, keknya dia biasa bangun sendiri tanpa dibangunin orang tuanya."


Adinda tergeletak lepas, ungkapan anaknya seperti mengandung humor untuknya. "Ada juga pas bayi tak digubrak-gubrak kanan kirinya, jadi dia kagetan tuh," terang Adinda setelah berhasil meredam tawanya.


Kini mereka mengetahui, ternyata anaknya memang memiliki ketertarikan pada perempuan. Hanya saja, Gibran belum menemukan perempuan yang cocok.


"Jadi mau dilamarkan kah anaknya pak Taleb ini?" Adi tersenyum lebar, ia hanya berkata iseng pada anaknya.


"Kek Mamah dia, Pah. Aduh...." Gibran menepuk pangkuannya sendiri. "Cerewet betul, ada aja aturannya. Padahal tak aku pacarin, aku paham pacaran itu tak pernah ada izinnya dalam Islam. Meskipun aku buat list tentang type pacar aku harus bisa baca Al-Qur'an, berjilbab dan semacamnya. Macam sama kek cari b*bi yang halal. Paham pacaran haram, tapi nyari type perempuan yang halal menurut Islam. Apa tak kocak sekali itu?"


Mereka manggut-manggut, ucapan anak muda tersebut begitu masuk akal dan muda dipahami. Mereka pun membenarkan apa yang Gibran katakan, karena begitu rasional menurut mereka.


"Perempuan tak cerewet, rumah itu tak hidup. Tika yang kemayu aja, berisik dia kalau di rumah. Winda yang petakilan, tambah heboh rumah dia dengan dua anaknya. Kau bayangkan kalau istri kau tak bisa hidupkan rumah, duduk diam aja dia di pojokkan. Udah mirip-mirip rumah hantu, entah itu rumah duka. Makanya kenapa, istri itu disebutnya jantung rumah, nyawanya rumah. Selagi cerewetnya dan aturannya positif, ya tak masalah. Tapi kalau benar salah, dia salahkan terus, mungkin mental dia bermasalah itu. Anaknya pak Taleb cenderung yang mana? Cerewet benar, atau mentalnya terganggu?" Bukannya Adinda tidak terima karena dirinya disebut cerewet, tapi ia mencoba memberi pengertian pada anaknya jika cerewet itu tidak selamanya salah.


"Kakak ipar kau aja, tanpa dramanya mungkin rumah tak hidup. Karena dia tak cerewet, dia tak bawel dan tak banyak aturan. Boleh begadang, yang penting tidur siangnya banyak. Bebas kakak ipar kau itu, tapi dramanya menumpahkan sabar, tabah, ikhlas dan pasrah pasangannya. Betul kata Mamah, selagi cerewetnya positif dan tak keterlaluan, ya oke lah dipersunting," tambah Givan yang menyimak obrolan tersebut.

__ADS_1


"Hmm, dia ini.....


...****************...


__ADS_2