
"Maksudnya gimana, Van?" Bu Ummu terlihat bingung dengan perkataan singkat dari menantunya.
Givan teringat, jika Canda terlahir dari bu Ummu. Sudah pasti bu Ummu tidak jauh berbeda dengan Canda.
"Hmm.... Gini, Bu. Ria itu mau dipinang, sama duda beranak satu. Terus...," ucapnya menggantung karena ibu Ummu memangkasnya.
"Ya restui ajalah, kalau teman kau pasti baik kan?"
Givan menghela napasnya. Selalu tidak sesuai keinginannya, jika ia ingin berbicara dengan ibu mertuanya. Karena ibu mertuanya lebih suka memangkas ucapannya, bukan mendengarkannya dulu sampai selesai.
"Masalahnya, menurut aku dia bukan orang baik." Givan langsung memperjelas di awal.
Bu Ummu langsung terdiam, raut wajahnya terlihat tengah berpikir keras. "Memang siapa dia?" tanyanya kemudian.
"Dia.... Bang Ken." Givan mulai memahami, jika berbicara dengan ibu mertuanya harus sepenggal-sepenggal.
__ADS_1
"Kenandra? Anaknya mamah Dinda?" Mata bu Ummu mekar sempurna seperti tak percaya.
Givan mengangguk cepat. "Anak angkatnya mamah Dinda, anaknya umi Sukma dan abi Haris. Abi Haris tuh yang tinggal Cirebon tuh, Bu."
"Iya, dia?" Bu Ummu seperti tak percaya.
Givan mengangguk cepat bertanda jawaban.
"Kan udah berumur kan, Van? Dia tua, Ria muda, nanti gimana kalau laki-lakinya meninggal duluan?"
"Ibu tak masalah kalau dia duda beranak satu, tapi yang Ibu khawatirkan itu umur," terang ibu Ummu dengan memainkan jemarinya dengan gelisah.
"Suami Ibu, ayahnya Ria, beliau meninggal di usia berapa?" Belum mengatakan secara jelas, tapi ibu Ummu langsung mengerti ke mana arah pembicaraan mereka.
Bu Ummu langsung berpikir, usia seseorang adalah suatu misteri. Suaminya yang terlihat gagah dan muda saja dicabut nyawanya tak terduga, karena penyakit ringan saja. Ia pun teringat akan almarhumah Kinasyah yang meninggal di usia muda, karena menelan obat-obatan yang cukup banyak. Ditambah lagi, ayahnya Ceysa, mantan suami Canda, meninggal karena komplikasi pasca operasi usus buntu. Kinasyah dan Nalendra meninggal di usia muda, di usia tiga puluh tahunan.
__ADS_1
"Bukan aku mendukung, aku malah larang mereka," jelas Givan kemudian.
Ibu Ummu meluruskan pandangannya pada Givan. "Loh? Kenapa? Kenapa dilarang?"
"Karena aku tau tabiat laki-laki itu, Bu. Aku paham dengan segala sifat buruk laki-laki dan tipu daya mereka, aku pun tak mengaku suci dan lebih baik dari dia. Tapi, aku berubah untuk anak Ibu. Aku berubah untuk cucu-cucu Ibu, untuk diri aku sendiri dan untuk orang tua dan orang-orang di sekitar aku. Meskipun aku udah berumah tangga, aku yakin orang tua dan orang terdekat aku ikut memikirkan kalau aku terus berulah. Belum lagi, mereka akan repot di masa aku dapat akibat dari ulah aku sendiri. Orang tua dan orang terdekat aku aja memikirkan, gimana dengan istri aku sendiri? Pasti dia bakal stress karena suaminya berulah dan ngecewain dia terus. Aku pun tak mau dikenal jelek sama anak-anak aku, aku tak mau anak-anak aku tau kejelekan aku. Meminimalisir hal itu, caranya apa? Ya caranya aku tak berbuat jelek lagi, caranya aku menjadi contoh yang baik dan teladan untuk mereka. Bukan aku menyombongkan diri, terus ngomongin kalau bang Ken ini begitu buruknya. Tapi setau aku, ini cuma untuk informasi ke Ibu aja, bukan semata-mata aku mau jelek-jelekin dia, tapi dia ini masih belum berubah. Ditambah menduda, dia ini merasa lebih bebas. Ditambah lagi, wataknya. Ibu paham kan, kalau watak itu tak bisa dirubah? Semua orang bisa menerima watak pasangannya, kek aku dan Canda. Tapi, itu dengan catatan kami yang berwatak banyak buruknya ini harus bisa menahan diri. Kita harus bisa mengatur dan memanage watak yang nampak kurang baik ini. Pasangan kita memang bisa beradaptasi dengan watak kita, tapi itu terlalu menyakitkan jika salah satu dari mereka hanya ingin dimengerti aja, Bu. Kek aku udah sabar-sabar, tabah-tabah ngadepin Canda. Canda tak bisa semena-mena terus, dia tak bisa nguji kesabaran aku terus. Dia harus benahi diri dia juga, yang sekiranya jangan memancing kesabaran aku terus. Kalau cuma salah satunya yang mau beradaptasi, otomatis akan ada yang merasa menyerah karena ia selalu harus mengalah. Nah, bang Ken bisa tak begitu? Aku rasa tak, karena semua permasalahan apapun pun dia merasa wajib menang. Makanya dengan mudahnya, ini si mantan istrinya begitu mudah khulu dia. Padahal, sampai sekarang pun ibu kandungnya Bunga tak menikah lagi. Yang artinya, dorongan dia khulu suaminya itu bukan karena orang ketiga, tapi karena kemauannya sendiri. Aku pelajari ini dari cerita aku sendiri, Bu. Canda kenapa begitu mudahnya khulu aku? Karena ada laki-laki lain di luar sana yang tak sengaja ketemu Canda yang keadaan hatinya lagi down. Aku tau juga, kalau laki-laki itu nyuruh Canda balik ke aku. Tapi karena keadaan Canda yang merasa paling tersakiti saat itu, buat dia jadi iba dan mau bantu Canda untuk ke arah menceraikan aku. Ibu kandungnya Bunga tak ada laki-laki lain, aku ada nomornya dan kita sering komunikasi untuk cerita tentang pertumbuhan anaknya di sini. Yang ada, dia malah trauma untuk menikah lagi, untuk kenal laki-laki lagi, karena pengalaman buruk yang didapatkan dari rumah tangganya bareng bang Ken. Dia tak buka banyak, tapi kalau ditanya dia pasti jawab. Aku tau, tak semua perempuan itu berakhlak baik, tergantung bagaimana tempaan yang didapatnya dari dulu. Tapi, sepaham aku, perceraian mereka terjadi karena bang Ken sendiri. Kalau bang Ken tak bermain api, ibu kandungnya Bunga tentu tak akan seberani itu khulu suaminya. Pacaran bertahun-tahun, dia pun mampu bertahan sama bang Ken. Dia ini udah begitu capeknya, begitu lelahnya sama dia. Karena apa? Karena dari muda dia tak berubah, Bu." Givan menurunkan nada suaranya di akhir.
Ia mengatur napasnya, ia tidak biasa cepat dan banyak.
Bu Ummu terdiam, ia masih menyimak dengan pemahaman pribadinya. Ia berpikir, bahwa memang menantunya lebih tahu akan segalanya. Ucapan menantunya pun, ada benarnya juga. Ia merujuk pada kondisi dirinya saat disakiti ayah kandungnya Canda dulu.
"Ibu percaya sama kau, Van. Kau lebih tau yang terbaik untuk adik ipar kau, kalau kau tau gimana laki-lakinya. Kau laki-laki, kau lebih tau tentang gimana laki-laki. Restu kau, restu Ibu juga. Ibu pun punya pengalaman buruk tentang laki-laki, Ibu tak mau anak-anak Ibu ngerasain hal yang sama. Ibu pengen, anak-anak Ibu bahagia dengan rumah tangganya. Jangan sampai, anak-anak Ibu harus banyak sakit di rumah tangganya. Kalau menurut kau Ken tak baik untuk Ria, ya udah larang juga tak apa. Bagusnya gimana untuk mereka ini, jalan keluarnya gimana? Kau juga nasehati juga adik ipar kau, karena kau tau sendiri Ria ke Ibu itu banyak ngelawannya."
Givan mengangguk, ia tersenyum samar mendapat dukungan dari ibu mertuanya. Bukannya ia ingin memisahkan mereka, tapi ia tidak ingin Ria nantinya terluka semakin dalam. Ia tidak mau, adik iparnya menjadi korban dari Kenandra.
...****************...
__ADS_1