
"Iya, Yah. Terus dia ini prestasinya bagus, cantik dan putih juga. Dia masuk SMP aku ini, karena jalur prestasi. Dia pemenang pidato bahasa Arab tingkat kabupaten, pas kelas enam SD katanya. Nah, kan SMP aku swasta dan SPP-nya mahal. Kemarin dia nunggak, karena dia kan keluarganya orang tak punya. Aku kasian, Yah. Jadi, aku kasih tabungan sisa uang saku aku. Kata orang tuanya, nanti diganti gitu. Sekitar tujuh ratus ribu mungkin keknya, aku lupa karena udah tiga bulan yang lalu."
Givan manggut-manggut, ia menyimak dan memahami cerita anaknya. Ia jadi menghitung jumlah uang saku anaknya, karena tabungan anaknya cukup banyak.
"Perasaan, Ayah jatah uang saku kau ke biyung itu cuma dua puluh lima ribu. Pulang pergi angkot, kau sepuluh ribu. Lima ribu kau nabung di sekolah kan? Sisa sepuluh ribu, untuk dua kali istirahat. Apa sepuluh ribu kau tak habis buat jajan kau?" Bukan Givan pelit, hanya saja pikirnya cukup uang saku anaknya senilai itu. Belum lagi, Chandra selalu membawa bekal karena sekolahnya sampai jam dua siang. Anak itu pasti melewatkan jam makan siangnya, jika tidak membawa bekal. Givan masih tidak mengerti caranya anaknya membagi uang sakunya. Meski, itu adalah uang untuk sekolah saja. Belum terhitung jatah jajan Chandra ketika berada di rumah.
"Istirahat jam sepuluh pagi itu, kadang masih kenyang. Jajan gorengan, atau snack dua ribu sama air mineral gelas satu, udah. Istirahat jam dua belas, ya aku makan bekal. Paling jajan lagi itu pas pulang sekolah, itu pun sesekali aja. Angkot juga bolak-balik itu delapan ribu, Yah. Jadi uang saku itu dua belas ribu, ya sisa terus. Sesekali juga aku belikan jajanan untuk adik-adik di rumah, tapi sesekali, tak setiap hari," aku Chandra yang malah membuat Givan tersentuh.
Ia tidak menyangka, ternyata anak laki-lakinya benar-benar menurut. Sejak kecil selalu diberi peringatan dilarang minum es, rupanya sudah menjadi kebiasaan Chandra untuk tidak minum es sampai usianya sekarang. Kedisplinan yang dirinya terapkan, membuat anak itu cukup bijak dalam mengatur uang sakunya sendiri yang tidak seberapa. Padahal jika ditilik dari uang saku teman-temannya Chandra, uang saku Chandra hanya setengahnya saja.
Ditambah lagi, Key yang selalu mengeluh dan Givan yang selalu menambahkan jumlah uang saku anaknya. Padahal Key, Jasmine dan Chandra berada di satu sekolah yang sama. Tapi jumlah uang saku mereka berbeda-beda.
"Tak paham sama perut kak Key, Yah. Pagi udah sarapan, jam sepuluh dia makan mie ayam. Mie ayam kan delapan ribu, Yah."
Dengan seperti ini, Givan malah merasa bahwa anak-anaknya kekurangan perihal nilai dari uang saku mereka.
"Memang kau tak jajan mie ayam? Jajan kau apa aja sih?" Givan sampai garuk-garuk kepala.
"Kalau jajan berat kek gitu, aku pulang sekolah. Tapi kan tak tiap hari, Yah. Mie dalam jenis apapun kan, tak baik dimakan tiap hari. Sedangkan di sana kan, banyakan olahan mie. Mie Aceh, mie ayam, mie bakso, mie rebus atau mie goreng pun ada. Ya ada lah sisanya, Yah. Kalau jam sepuluh gitu, paling wafer, atau snack apa gorengan." Chandra mengutarakan apa yang menjadi pendapatnya tentang pemilihan makanannya.
"Besok Ayah tambahkan uang jajan kau. Ayah pernah masuk kantin, ada yang jual nasi kuning juga kok. Ada nasi bakar, kebab sama burger. Kau jajan dua ribu, keknya takut tak cukup kan sampai pulang sekolah? Kau tahan-tahan, karena ngerasa uang kau cuma sepuluh ribu." Givan malah menyangka hal yang tidak pernah Chandra pikirkan sebelumnya.
__ADS_1
"Terserah Ayah aja deh." Chandra malah bingung sendiri.
"Biar kau bisa nabung juga tuh, biar tak tahan-tahan kalau mau jajan yang lain juga tuh." Givan sudah membuka kalkulator dalam ponselnya, ia menghitung nilai yang menurutnya tepat, lalu dikalikan untuk sebulan Chandra bersekolah.
"Uang yang buat SPP-nya Izza aja kan, itu uang yang Ayah suruh aku nabung beli gitar. Eh, tak taunya kakek kasih gitar duluan meski barang second juga tapi tetap masih bagus."
Seperti mendapat kejutan lainnya. Ia tidak menyangka, ternyata anaknya benar-benar menabung untuk barang yang ia inginkan. Ia mengira, Chandra tidak akan melakukan perintahnya untuk menabung karena uang sakunya pas-pasan. Ia mengira ia berhasil melatih kesabaran anaknya, sampai ia membelikan gitar yang anaknya inginkan. Ia sengaja tidak langsung menuruti, agar Chandra tidak menjadi anak yang manja dan menuntut.
"Pantaslah kau kurus, Nak." Givan menyandarkan kepalanya di bahu ringkih anaknya.
"Ayah bandingkan aku dengan kak Key dan kak Jasmine, ya pasti beda. Perut mereka karet, abis makan porsi penuh kek aku, mereka bisa makan cilok, bakso kuah, roti isi dan roti Maryam."
Givan terkekeh, ia menjadi istrinya sebagai patokan para wanita. Mungkin umum menurutnya, karena istrinya saja berperut karet.
"Iya, Yah. Aku minta lapangan basket ya?"
Meski cukup merasa heran, Givan tetap mengangguk. Umumnya, seorang anak meminta bola basket. Tapi, anaknya malah meminta lapangan basket.
"Kau kumpulin ya? Nanti sisanya, Ayah tambahkan. Terus gimana lagi tentang teman perempuan kau itu? Apa dia mirip biyung? Atau mirip mama? Atau, mirip mamah Fira?" Yang Givan maksudkan mama adalah istrinya Ghifar.
"Aku punya fotonya. Menurut Ayah, dia mirip siapa?" Chandra menunjukkan sosial media, milik salah satu gadis yang merupakan teman satu kelasnya.
__ADS_1
Givan mengingat nama sosial media tersebut.
Wajah ayu nan teduh, diseduh dengan kemanisan alami dan kedamaian yang tercipta. Anak yang masih belia tersebut, sudah terlihat cantik sejak dini. Givan yakin, besar nanti Izza akan lebih cantik dengan perawatan dan polesan warna di wajahnya.
"Namanya Ismu Izza?" tanya Givan dengan memperhatikan kembali nama profil pribadi tersebut.
"Namanya Ismu Nurul Izza."
Nama yang cantik, Givan merasa takjub melihat beberapa piagam yang dipajang di beranda gadis idaman anaknya tersebut.
"Teman satu bangku kau kah, Bang?" Givan menoleh pada anaknya, yang berfokus pada ponsel android sederhana itu.
Metode pembelajaran yang semakin canggih, mau tak mau membuat Givan harus memberikan anaknya ponsel satu persatu. Terutama, mereka yang sudah duduk di bangku putih biru.
"Bukan, teman satu kelas aja. Apa Ayah kenal orang tuanya? Nama ayahnya, pak Fatur. Mereka orang kampung sebelah. Aku kan di Kenawat Redelong, dia di Bale Redelong." Kepolosan Chandra seperti ibunya. Hanya sedikit pertanyaan dari ayahnya, tapi langsung membuka segalanya.
Givan sukses menjadikan dirinya teman untuk anaknya bercerita. Setelah ia mengetahui bahwa anaknya sudah beranjak ke masa pubernya, ia akan sering mengajak anak-anaknya mengobrol ke masalah pribadi mereka.
"Ayah tak kenal, mungkin kalau lihat mukanya sih tau." Givan kembali memperhatikan layar ponsel anaknya yang masih menunjukkan profil lengkap seorang Izza.
"Kapan aku boleh nikah sama Izza?"
__ADS_1
...****************...