Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM241. Pertumbuhan Cala & Cali


__ADS_3

"Maaf, Bang. Aku udah banyak ngerepotin Abang." Gavin tiba-tiba merasa tak enak hati sendiri pada kakaknya.


"Tak apa, kalau Abang butuh bantuan pun, pasti yang Abang mintai pertolongan yang saudara terdekat dulu. Abang ngerti posisi kau, tapi kau pun harus paham kondisi saudara kau. Jangan sampai ucapan kau yang kek tadi terdengar sampai di telinga mereka, karena mereka pun sama sensitifnya ngadepin masalahnya, kek kondisi kau sekarang. Abang coba leha-leha, karena kalau Abang stress, Abang sakit, semua urusan Abang bakal lebih-lebih rumit. Kadang berpikir, kok hidup ada aja sih ujiannya. Abang ngerasa tak udah-udah gitu, ada aja masalah di keluarga kecil Abang. Tapi apa kan daya, masalah itu memang akan selalu ada sampai habis usia kita. Mungkin, segini Abang belum terlalu pusing. Gimana, kalau Abang udah di titik orang tua dari anak-anak yang dewasa. Kek mamah sama papah gitu, Vin. Sedih loh mereka ini kita begini, Vin. Mereka mikirin juga loh, kenapa kau jadi begini, kenapa Abang begini, kenapa cucu-cucunya begini. Tapi kan, tergantung bagaimana kita menyikapi masalah, mereka pun alhamdulilah tak sampai sakit karena memikirkan permasalahan yang ada di anak-anaknya. Mereka bantu, ulurin tangan, terus bantu tak ada bosan, terus datangi tak ada bosan. Berapa kali sehari, papah datangi Giska untuk lihat keadaan Giska dan cucu-cucunya apa udah pada makan, apa ke-handle. Berapa siang, mereka kirim makanan ke Tika, karena khawatir ada yang tak kebagian makanan di sana. Berapa kali, mamah bantu urus anak perempuan Ghava, karena kasarnya dia besar sendiri, dia terlantar, perhatian fokus ke Adib. Mereka paham, karena kondisi mereka yang memang harus lebih fokus ke Adib, karena Adib yang lebih ekstra butuh perhatian lebih. Kejangnya tak tertolong itu, bisa fatal akibatnya. Ghifar tak ditengok, orang tua tak pernah tau gimana kondisi rumah Ghifar yang kapal pecah. Wajar Ghifar sulit berkunjung, sulit untuk keluar rumah setelah kerja. Aca hamil pun, malah disembunyikan sama mereka. Tuh, begitu abang kau yang satu itu kalau ada masalah. Dipegang sendiri aja, dipendam sendiri aja. Kita tak pernah tau, kalau Hifzah tukang begadang, tidur harus diayun dulu. Ra dan Nahda yang kek sepakat hancurin rumah. Mau main, mereka pun mikir, ini di rumah aja keadaan rumah sampai begini, gimana kalau dibawa main, otomatis rumah orang tua mereka yang diberantakan duo aktif itu." Rasa kantuk Givan tiba-tiba hilang karena menasehati adiknya.


"Kau sekarang, jangan terlalu stress. Kau sakit, yang mikirin itu orang tua kau. Kasian, beban pikiran mereka udah banyak. Ajeng tak mungkin mikirin, kalau kau hampir gila di sini. Yang sayang kau sama orang tua kau, sama Cali, sama diri kau sendiri. Karena, kalau bukan kau yang pandai jaga diri. Ya harus siapa lagi? Kau udah besar, kau udah dewasa, kau yang bisa jaga diri biar orang tua tak khawatir terus sama kau."


Gavin tiba-tiba memeluk kakaknya, ia merasa ucapan kakaknya amatlah benar. Ajeng tak akan tahu bagaimana menderita dan rumitnya pikirannya di sini. Ajeng tak bakal paham, jika ia sesetress itu memikirkan permasalahan yang tak siap ia hadapi.


"Jangan memperparah kondisi. Sehat, baru kita pikirkan step selanjutnya. Kau harus tau, kalau kepala anak kau mulai tegak. Kau harus tau, badan anak kau udah begitu gemuk sekarang. Kau pun harus tau, kalau anak kau udah bisa lihat titik fokus di depan matanya. Dua bulannya Cali, itu satu bulannya Cala. Meski nampak kek bayi normal Cala sekarang, tapi pertumbuhannya tetap unggul Cali yang bayi lahir sembilan bulan. Abang sih yakin Cali lahir sembilan bulan, karena dilihat dari fisiknya yang cepat tumbuh kembang dengan cepat. Cala kan, awal datang suara pun masih samar. Semakin ke sini, semakin nyaring bunyi suara Cala. Nih, Abang punya video pas mereka dijemur bareng." Givan melepaskan pelukan adiknya, kemudian mengeluarkan ponselnya.


Gambar bergerak dengan suara penyerta, menjadi perhatian mereka berdua. Cali bergerak tidak mau diam, dengan mencoba melepaskan topi yang menutupi matanya. Garis bibir Gavin tertarik, karena tiba-tiba Cala memekik dan mengeluarkan suara tangis yang begitu lepas. Tubuh Cali sampai tersentak mendengar suara tangisan Cala, tapi ia menoleh samar ke arah Cala seolah mengerti jika saudara yang berada di sampingnya itu tengah menangis.


"Hebat, tak nangis dengar saudaranya nangis," ujar Gavin dengan pandangan fokus ke layar ponsel tersebut.

__ADS_1


"Itu belum seberapa, Vin. Nih, masih ada lagi. Di mana dua-duanya minta ASI, sedangkan biyung mereka lagi sama-sama pulas." Givan sengaja merekam kepanikan yang terjadi karena dua bayinya menangis tersebut. Ia meletakkan ponselnya, dengan kamera yang aktif, untuk merekam situasi yang terjadi.


Dua orang pengasuh mereka bergerak cepat, untuk merendam ASIP untuk dua bayi tersebut. Dengan Givan yang terlihat tengah mencoba menggendong dua bayi, dengan satu bayinya digendong dengan kain jarik. Mulut Givan pun tak henti-hentinya memanggil nama istrinya, karena kedua bayi tersebut sulit ditenangkan karena begitu kehausan.


"Pasti Cali merepotkan betul ya, Bang?" Gavin merasa semakin merepotkan saudaranya.


"Tak juga, repot sekalian. Punya satu bayi pun tetap repot kok. Nah, kau pun harus bantu Abang berjuang. Kau tak boleh drop kek gini, kau tak boleh buat anak kau merasa benar-benar tak punya orang tua kandung. Sering-sering tengok Cali, biar dia kenal sama kau. Abang tak minta bantuan dana untuk biaya hidup Cali, tapi Abang tak keberatan kalau kau kasih hadiah untuk Cali. Untuk beli hadiah, kau perlu uang. Kau harus lebih giat ngolah usaha kau, jangan terpaku main saham aja. Kau buka usaha apa kek apa di sini, biar kau dekat sama kita, anak kau dan orang tua kau. Udah yang di Brasil, kau percayakan dengan orang kepercayaan aja. Kau tau di sana ada kenangan yang buat kau luka, ya udah coba jauhi. Kau terlalu muda, untuk kenal semua ujian tentang perempuan. Kau dapat perempuan tak yang gadis dulu, yang seimbang kek pengalaman kau. Kau cari janda sengketa, ya kalah telak." Givan meraup wajah adiknya, membuat Gavin tertawa geli.


"Ish, Cani lagi mulai merem. Berisik aja pamannya ini," sewot Adi pada Gibran.


"Tak apa lah, nih makan dulu Adek Cani yang cantiknya kek biyung." Gibran malah mengganggu Cani yang sudah mulai mengantuk tersebut.


"Bang, aku dapat kartu nama perempuan loh. Model dia, dari kota sebelah." Gibran berjalan ke arah kakaknya, setelah menaruh kantong plastik berisi makanan tersebut ke atas meja.

__ADS_1


"Model apa?" Givan mengambil alih kartu yang jatuh di atas perutnya.


"Model pakaian muslimah modern," jawab Gibran dengan mengambil minum di bawah brankar Gavin.


"Ya kau simpan lah, Abang udah punya kakak ipar kau yang biasa jadi model b****i." Givan bangkit dan memberikan kembali kartu nama tersebut ada adiknya.


Mereka terkekeh kecil. "Ya buang aja udah, dia yang minta kenalan, bukan aku. Aku malas sama perempuan, Bang."


Bukannya senang, kini orang tua Gibran memikirkan tentang akhir kalimat anaknya tersebut. Ia khawatir anaknya benar-benar tidak ada ketertarikan pada perempuan.


"Bran, sini!" Adi melambaikan tangannya pada anak bungsunya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2