Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM127. Kesepakatan bersama


__ADS_3

"Udah dapat belum nomor keluarganya?" Kenandra keluar dari ruangan tersebut dan langsung menghampiri Givan yang masih melihat-lihat poster yang berjejer menarik perhatiannya.


Givan menoleh, memperhatikan rupa kalut yang dibungkus dengan terburu-buru di wajah Kenandra. "Belum," jawabnya santai.


"Ya Allah, Givan!" Kenandra menghela dan menggeleng lemah.


"Betul kah aku disuruh minta kontak keluarganya? Memang kek mana keadaan Ai sekarang?" Givan masih terlihat tenang dan santai.


"Gawat keadaannya. Tapi sekarang udah stabil dan lagi pemulihan. Tunggu badannya benar-benar kuat, nanti dia langsung dioperasi. Makanya aku minta kau untuk hubungi keluarganya, biar mereka datang dan urus Ai." Kenandra berbicara cepat bercampur kekesalannya pada Givan.


Menurutnya, Givan cukup keterlaluan karena terlihat tetap tidak perduli. Rasa kemanusiaan Givan seolah telah mati.


"Suruh Ai hubungi keluarganya sendiri, kalau dia udah sadar sih. Kenapa operasinya dipercepat? Katanya tiga mingguan lagi, biar anaknya kuat meski di NICU juga." Givan duduk, membuat Kenandra melakukan hal yang sama.


"Ya baru sadar, Givan! Jangankan main HP, buka mata aja berat. Dia pun masih di ruangan tindakan, belum dipindahkan. Kejang tadi penyebabnya eklampsia, kemungkinan darahnya tinggi karena stress. Udah macam-macam yang dia rasakan ini, takut mati di sini nanti gimana coba?!" Kenandra memberikan tekanan pada suaranya, agar Givan mau menghubungi keluarga Ai.


"Daripada kau nanti antarkan jenazah dia ke keluarganya," tambah Kenandra kembali.


Givan menoleh, ia terlihat merumit dengan pikirannya sendiri. Yang ia beratkan satu, ia tak mau teringat jelas tentang amarahnya pada kakak kandung Ai. Ia khawatir hal tersebut membuat emosinya yang sudah terkontrol rapi selama beberapa tahun belakangan, malah tidak terkendali kembali.


"Ya udah nanti, Bang," putusnya kemudian.


"Kok nanti? Ya sekarang dong, Van! Sebelum dirinya dioperasi!" Kenandra sudah meregangkan otot tangannya, ia sudah amat kesal sekali pada Givan.


"Coba ambil HP Ai, aku tak tau apa medsosnya, di mana harus aku cari kontak keluarganya." Givan malah memberi perintah lagi. Ia seolah tak ingin, jika tangannya sendiri digunakan untuk mempermudah Ai.

__ADS_1


"Percuma kasih kau perintah!" Kenandra malah dalam diam. Ia meninggalkan Givan di lorong ruangan tersebut. Ia kembali masuk ke ruang tindakan, di mana Ai masih berada.


Ada beberapa petugas medis yang tengah merapikan kembali alat-alat medis yang sudah digunakan. Dengan Ai, yang menatap kosong plafon ruangan tersebut dengan bantuan alat pernapasan.


Rasa tidak tega Kenandra semakin menjadi, apalagi jiwa medisnya yang selalu ingin menolong manusia yang membutuhkan bantuannya. Ia mengecek keadaan alat-alat yang menempel di tubuh Ai, kemudian ia menyarankan tim medis untuk memindahkan Ai kembali ke ruangannya. Karena menurutnya, keadaannya sudah stabil.


Para perawat pun mengerti dan menghargai saran dari dokter spesialis bedah, yang memiliki rumah sakit di Negeri Jiran tersebut. Apalagi dahulu sebelum memiliki rumah sakit, Kenandra pernah bekerja di rumah sakit tersebut.


Givan memandang dari jauh, brankar Ai yang didorong dan diikuti dengan Kenandra. Ia memiliki ketakutan tersendiri di kawasan rumah sakit, ia langsung bergegas untuk mengikuti rombongan, ketimbang harus menyendiri di lorong ini. Meski banyak lalu lalang, tapi tetap saja ia merasa ruangan rumah sakit memiliki tingkat kemistisan tersendiri.


Langkahnya dipercepat, ketika brankar Ai memasuki sebuah lift yang berukuran besar. Tepat, ia masuk beserta Kenandra yang terus menatapnya sinis.


"Tak guna kau, Van! Lepas ini balik aja kau! Kau repoti aku di sini, mending kau di rumah aja, kelonin istri kau," tukas Kenandra begitu sinis.


"Kan kau yang minta aku di sini?" Givan menoleh ke arah kakak angkatnya.


Kenandra membuang napasnya. "Ya karena aku pikir, kau bisa diberi perintah di sini. Bukan nambah bikin aku pusing sendiri. Tau begini, udah aja dari tadi aku tindak sendiri. Kalau perlu aku ingatkan juga, Ai ini masalah kau. Tapi, aku yang pusing dan repot di sini. Kalau Canda tak lagi hamil, kalau Bunga tak sama kau, tak punya rasa timbal balik aku sama kau. Sekalipun mamah yang nyuruh, papah yang kasih perintah, mungkin aku bakal pura-pura sibuk."


Dengan keluh kesah Kenandra, akhirnya Givan merasa tidak enak hati sendiri. "Ya udah, ya udah! Aku hubungi keluarganya nanti," putusnya dengan ketus. Ia terlihat tidak ikhlas menjalankan perintah tersebut.


Namun, Kenandra tidak ingin ambil pusing. Ia mencoba tidak peduli, dengan Givan yang setengah hati untuk membantunya tersebut. Lagi pula, ia hanya sekilas membantu di sini. Bukan harus benar-benar direpotkan seperti ini. Ia memahami, harusnya Givan yang sejak tadi repot di sini.


"Asal...." Givan menggantungkan ucapannya.


Kenandra menghela napas panjangnya. Ia pikir, bantuan Givan tidak bersyarat.

__ADS_1


"Asal apa lagi, Van?!!"


Pintu lift terbuka, seiring perdebatan antar saudara angkat itu belum terselesaikan.


"Asal masalah surat permohonan sampel, aku tak tau menau. Tes DNA pun, harus tetap dilangsungkan dan segera mendapat hasil."


Kenandra benar-benar merasa terjebak dalam uluran tangannya sendiri. Ia merasa, bahwa ia seperti tengah membantu menahan berat seseorang yang jatuh ke dalam jurang. Namun, ia malah terperosok bersama ke dalam jurang.


"Asal kau pun janji ya? Aku tak mau, Bunga tumbuh jadi anak yang pendiam. Aku tak mau, Bunga tumbuh jadi anak yang nir akhlak. Aku tak mau, Bunga tumbuh dalam keluarga yang kekurangan kasih sayang." Kenandra pun memberikan syarat.


Givan mengangguk mantap, kemudian mengajak Kenandra berjabat tangan. "Oke siap!"


Kesepakatan pun terjadi.


Sesampainya di ruangan Ai. Givan mulai mencari wangsit di sofa yang dekat dengan jendela. Sejak tujuh menit yang lalu, ia mulai membuka sosial medianya dan menstalking akun sosial media yang memiliki nama Ai Diah. Aku sosial media tersebut, benar-benar berisikan foto Ai dengan pakaian seragam yang didapat dari tempat karaoke tempat ia bekerja.


Givan tidak mengerti, kenapa Ai berani sekali mempublikasikan diri. Tak heran, tidak sedikit komentar dari kaum adam yang mengomentari tentang penampilan Ai dalam foto dengan balutan busana yang minim tersebut.


Sayangnya, tiga puluh menit berlalu. Beberapa nama saudara kandung Ai yang ia ketikan dalam daftar nama teman dalam sosial media Ai, tidak kunjung ditemukan juga. Pikirannya mengerucut pada Ai yang mungkin tidak hanya satu memiliki akun sosmed. Kemungkinan, di akun lain Ai tetap tampil dalam balutan busana sopan.


Ia memandang Ai, yang tengah duduk bersandar pada bantal. Dengan Kenandra yang tengah menyuapi Ai senampan makanan dari rumah sakit, agar tubuh Ai kembali bertenaga.


"Bang...." Givan berjalan mendekati dua manusia tersebut.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2