Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM257. Ranjang kasar


__ADS_3

"Lah, memang belum makan?" Perkataan Canda terpangkas, karena suaminya meminta untuk dibuatkan telor urak-arik.


"Belum, cepat buatkan." Givan hanya mengambil perintah sekenanya.


"Hmm, Ria juga tak aktif." Canda tertunduk melihat layar ponselnya.


"Iya udah sana buat!" Givan menarik tangan istrinya.


"Sama Mas juga? Mas temani?" Canda sudah bangkit dari duduknya, tapi ia terlihat bingung.


"Pulang aja, Van. Mamah kehabisan telor juga. Nanti Mamah buat daftarnya, tolong belikan ya, Canda?" Adinda ingin anaknya memberi wejangan dulu pada Canda. Agar, usaha anaknya untuk Ria tidak sia-sia.


Kenandra memahami, bahwa mereka berdua tengah mencoba untuk mengalihkan perhatian Canda. Kenandra pun paham, sepertinya Canda adalah sasaran informasi yang pas untuk ia beri pertanyaan seputar Ria.


"Oke, oke, Mah." Givan langsung menarik istrinya untuk keluar dari rumah.


Kenandra tersenyum miring, melihat Givan yang begitu tergesa-gesa membawa istrinya pulang. Tidak sekarang, Kenandra yakin Canda akan membukanya di lain waktu.


"Mas Givan bilang Mamah, kalau kita mau ke swalayan?" tanya Canda di sela langkah mereka.


"Mas, mobilnya ketinggalan. Masih di sini itu." Canda menunjuk mobil milik suaminya, yang terparkir di depan garasi kendaraan rumah mertuanya.


"Biar nanti, siang nanti kita kan mau keluar." Givan tak mau berlama-lama di sini hanya untuk memindahkan mobilnya saja. Ia khawatir istrinya membocorkan semuanya pada Kenandra.


"Ohh, iya. Kita kan mau ke swalayan ya?" Canda berpikir lurus saja.


"Keluarkan dulu tak apa, Canda. Aku kurang pulas tidurnya, aku butuh dibuat capek dulu biar pulas tidurnya. Toh, sekarang pun swalayan belum buka. Paling nanti lepas Dzuhur tuh, biar enak." Givan sengaja mencari pelepasan dari emosinya yang sempat terpendam tadi, karena suasana hatinya masih belum mambaik.


"Hmm, masa jam segini di kamar? Tak enak sama orang rumah." Mereka sudah menginjak teras rumah mereka.


"Ya tak apa, kan sama suaminya. Mau ya? Nanti aku belanjakan yang kau suka deh." Givan mengusap-usap tangan istrinya penuh minat.

__ADS_1


"Tapi kan Mas lapar, nanti kambuh lagi sakit magh-nya." Canda mendongak melihat wajah suaminya.


Wajah polos Canda membuat Givan gemas. Givan tidak mengerti, kenapa di usia Canda, Canda tetap terlihat polos dan lugu. Padahal ia pun tahu, istrinya tak sepolos yang dirinya pikir. Hanya saja, tatapan mata itu terlihat tidak tahu apa-apa dan tidak mengerti apapun.


"Aku udah sarapan, tapi aku memang kepengen telur urak-arik untuk masak selanjutnya. Kau tolong masakan itu untuk makan siang aku aja ya?" Givan sudah berhasil membelokkan istrinya ke kamar.


Ia selalu berhasil memperdaya istrinya.


"Oke, deh. Mau pedas tak, Mas? Dikasih potongan cabe tak gitu, Mas? Canda sudah mengingat-ingat resep telur urak-arik kesukaan suaminya.


"Boleh, cabenya lima aja untuk tiga butir telur." Givan yakin bahwa yang makan nanti bukan hanya dirinya.


"Mas udah mandi belum sih?" Canda menanyakan kebersihan suaminya, karena ia melihat bahwa pakaian suaminya masih sama.


Ia sedikit berontak, kala suaminya mulai mengajaknya naik ke atas ranjang.


"Udah mandi aku, cuma baju aku kan di kamar aku. Kamar aku dipakai Gavin, Gavin masih pulas karena jam duaan baru pulang kata Mamah. Jadi aku tak salin aja, Canda. Aku udah mandi, aku bersih." Bukan hanya Canda yang seperti itu, Givan pun tidak jarang menanyakan hal serupa.


Canda tertawa lepas. Ia tahu jika suaminya akan mengambil kesempatan lagi di kamar mandi. Meski ia merasa kamar mandinya nyaman, tapi ia tetap merasa tidak nyaman jika melakukan hal tersebut di kamar mandi.


"Mau yang kek gimana kali ini, Canda?" Givan sudah menarik ikat pinggangnya.


"Mau.... Yang.... Sedikit hard, deh. Tapi jangan aniaya aku." Canda memeluk suaminya yang tengah membuka pengait celana jeans-nya.


"Jadi diapakan? Dip****** aja kah?" Givan memberikan pilihan yang mengerikan untuk Canda.


"Jangan dong! Kek bang Daeng, Mas. Dikagetkan."


Mood Givan perlahan turun satu angka, karena istrinya menarik nama laki-laki yang paling ia cemburui. Sayangnya, laki-laki tersebut sudah tiada sehingga ia tidak bisa memberikan pelajaran pada laki-laki tersebut.


"Tapi orangnya, Mas. Maksudnya, mode hard yang kek gitu tuh. Kan aku pernah cerita." Canda membingkai wajah datar suaminya yang sudah mengungkungnya.

__ADS_1


"Coba ikuti permainan aku kali ini, barangkali kau suka." Givan sengaja tidak melepaskan pakaiannya. Ia hanya melepaskan ikat pinggangnya saja dan membuka pengait dan resleting celananya.


"Boleh, jangan sakit-sakit ya?" Canda pasrah pada suaminya.


"Tak, kapan aku nyakitin kau?" Senyum Givan terukir kembali.


"Kapan?! Kapan?! Tak nyadar kah Mas ini luka terhebatku?" Seiring lontaran kalimat Canda, Givan tertawa lepas hingga mempertontonkan jakun indahnya.


"Ngakak lagi!" Canda membawa wajah suaminya untuk menatap wajahnya.


"Kau ini, buat gemas aja." Givan langsung menyerang Canda dengan tergesa-gesa.


Canda tidak cukup siap, untuk mendapat serangan yang tiba-tiba tersebut. Ia cukup panik, kala suaminya mulai mengalahkan pertahanannya.


Tidak sampai di situ saja, Canda mendapat hentakan tak terduga setelah dress hariannya tersingkap. Ia baru merasakan, serangan suaminya hanya di bagian wajah, leher dan telinga saja. Namun, suaminya langsung memberi aksi mengagetkan di bawah sana.


Untung saja, ia sempat melihat saat Givan meraih gel pelumas di bawah bantal dan bekerja dengan satu tangannya untuk mengoleskannya. Jika tidak, ia bisa gagal berjalan-jalan ke swalayan siang nanti.


Rasa cemburu Givan yang sempat terbangkitkan, bercambang dengan amarahnya dengan Kenandra yang belum usai. Kekasaran Givan sedikit terlihat, tapi ia bisa memperkirakan jika kegiatannya tidak sampai membuat Canda kesakitan.


Bertambah yakinnya dengan caranya, ketika Canda mulai bersuara dan menyebutkan namanya dengan mesra. Meski pakaian menghalangi diri mereka masing-masing, tapi tetap memberikan sensasi yang cukup unik. Apalagi untuk seorang Canda, yang minim wawasan tentang hal dewasa.


Kelembutan Givan tetap terasa, meski cengkeraman kasar dan gerakan cepat ia berikan. Bahkan, Givan telah berhasil membuat istrinya dalam posisi bersujud. Sehingga, ia mampu memberikan tepukan mengagetkan untuk Canda.


Canda salah mengatakan keinginannya untuk mode kemesraan mereka saat ini, karena kondisi Givan tengah bercampur emosi. Membuatnya benar-benar mampu membawakan sentakan kasar itu untuk istrinya.


Tidak sampai di situ saja, kejutan lainnya Givan berikan sampai kegiatan mereka benar-benar selesai. Rasa nyaman dan lelah, benar-benar Givan dapatkan. Namun, Givan malah khawatir istrinya keluar dan banyak bercerita dengan Kenandra. Ia ingin memberikan wejangan, agar jangan sampai Canda banyak bercerita dulu.


Sayangnya, ia sudah tidak tahan untuk menahan rasa kantuknya. Dengan mata yang sudah sulit terbuka, Givan meminta istrinya untuk tertidur dan jangan keluar dari kamarnya sampai ia terbangun. Pelukan Givan begitu membelenggu, agar Canda tidak pergi dari dekapannya.


Ia tak kuasa mengalahkan rasa kantuk dan lelahnya. Ia hanya berharap, semoga Canda tak menemui Kenandra dan membocorkan semuanya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2