
"Ayah, kenapa aku tak ikut bang Chandra liburan?" tanya Zio, membuat Givan merasa tak enak hati.
Ia memikirkan bagaimana masa depan Zio nanti, karena hanya ia yang tidak mendapat bagian apapun. Fira turun tangan untuk masa depan Key, membuat Givan tidak merasa begitu kasihan pada Key. Mengajak Nadya membuka bisnis bersama, tentu tidaklah mungkin. Apalagi, keadaan Nadya yang tidak terbayangkan oleh Givan. Pasti, ia tengah kesusahan sepeninggalan suaminya. Karena Givan mengerti, makelar tanah yang dijadikan bisnis suami Nadya, tidaklah begitu besar, hanya skala kecil untuk perputaran yang cepat.
"Bang Chandra cuma lihat-lihat kerjaan di sana sama om Keith, kalau Ceysa kan pindah sekolah di sana. Adek Ceysa harus disekolahkan di sekolah untuk kalangan otak genius kek dia, sedangkan Ayah cuma tau sekolah untuk tempat adek Ces ya di sana." Givan mengusap-usap punggung anaknya tersebut.
Kadang ia memiliki keraguan, tentang darah yang mengalir di tubuh Zio. Tapi, jika dipandang lebih jauh. Toh, Zio sampai kapanpun akan tetap ikut nashab ibunya. Ia hanya bertugas membesarkan dan menata akhlak anak ini. Dari semua sejarah yang ada, ia pun sadar membuahi rahim ibunya Zio. Ia merasa dan ia tidak bisa mengelak, atau lari dari tanggung jawab. Kemungkinan besarnya memang itu adalah anaknya, tapi tidak menghapus kemungkinan jika Zio adalah anak suami Nadya.
"Apa bang Chandra nanti sekolah di sana juga kek adek Ceysa?" Zio memperhatikan wajah ayahnya yang tengah bingung menata kalimat.
"Itu sih apa kata nanti aja, Zio mau sekolah di sana ya tak apa. Tapi kata ayah sih di sini aja." Givan sedikit trauma untuk menyekolahkan anaknya di luar kota, ia teringat bagaimana masa pendidikannya dulu. Itu adalah masa-masa kelamnya, di mana kebencian dan iri hati selalu membuatnya mendatangi tempat hiburan malam mencoba untuk melupakan dirinya yang merasa luput dari perhatian orang tuanya.
"Aku pengen di sini aja sama ibu, sama biyung." Perkataan anak tersebut, membuat haru hati Givan.
"Sayang betul kah sama ibu? Sama biyung?" Givan mencoba tersenyum di tengah keharuannya.
Zio mengangguk. "Makanya aku tiap hari ke rumah ibu, nemenin ibu jualan. Cuma ibu penyelamat aku kalau ayah marah-marah, biyung malah suka lapor ke ayah kalau aku salah." Zio melirik ayahnya kemudian tertunduk takut.
Givan terkekeh, ia merangkul anaknya dan mengusap bahu anaknya. "Ayah marah karena mau Zio disiplin kek saudara yang lain. Disiplin itu susah, harus diterapkan dari kecil. Biar kelak nanti, hidup Zio bergerak sistematis dengan kerepotan yang ada. Biar Zio bisa atur waktu, bukan waktu yang mengatur Zio. Ayah kan kasih izin terlambat bangun juga kalau hari Minggu, Ayah kasih kebebasan untuk main juga kan di hari libur? Yang penting, Zio tau waktu dan bisa atur waktu. Mentang-mentang boleh terlambat bangun, main HP terus sampai malam. Kan tak begitu juga tuh, mending keluar ke warung kopi, ngobrol sama temen."
__ADS_1
Zio langsung memandang wajah ayahnya lain. "Masa aku ngopi sambil nongkrong? Itu sih Ayah kali."
Givan tertawa renyah, dengan meraup wajah anaknya. Ia tidak pernah melupakan perhatiannya pada anak-anaknya yang bukan berasal dari rahim Canda. Sekalipun pada Zio, ia tetap menyempatkan waktu untuk bercengkrama agar bisa menjadi sahabat anaknya.
"Jadi, nanti Zio kalau diajak pergi dari rumah bakal mau tak?" Pertanyaan Givan membuat Zio terheran-heran.
"Yah, aku tau modus penculikan. Sejauh ini, yang nawarin aku untuk nebeng ke motornya itu temen-temen Ayah, temen-temen kakek, temen-temen mangge Yusuf, ya aku cuma diantar ke jalan besar aja sampai angkot. Tak ada yang bawa aku pergi jauh, tak ada modus penculikan yang nyerang aku." Penjelasan Zio kembali membuat Givan terkekeh geli.
"Maksudnya, kalau ibunya Zio datang. Terus, ajak Zio pulang." Penjelasan Givan, membuat Zio diam dengan memandang wajah ayahnya.
"Apa aku di sini numpang, Yah?" Begitu terasa getir di telinga Givan, ketika anaknya mengatakan hal seperti itu.
"Tak, kan ini rumah atas nama Zio. Zio tak numpang, Zio tinggal di rumah yang nantinya untuk Zio dan istri Zio. Ayah kasih rumah Zio di sini, biar kita tetap dekat sampai kapanpun. Jadi tak ada cerita mudik, karena kita bakal kumpul terus." Ini adalah maksud terbesar Givan membangunkan rumah untuk anak-anaknya yang masih kecil.
"Ya Ayah cuma nanya, Zio," tutur Givan lembut.
"Katanya ini rumah aku, katanya aku harus di sini biar tak usah mudik. Ya berarti ini tempat aku pulang, aku tak akan ikut ibu kandung aku pulang." Jawaban Zio terdengar begitu dewasa menurut Givan.
Ia diam tidak percaya dengan ucapan anaknya. Sampai Zio merasa bahwa ayahnya menjadi aneh, karena tiba-tiba diam saja.
__ADS_1
"Ayah kenapa, Yah?" Zio menoleh dan menggoyangkan tangan ayahnya.
Givan menarik sudut bibirnya. "Makasih ya? Kita di sini sama-sama sampai kapanpun ya? Yang akur sama saudara, Ayah tuh sayang sama Zio, sayang sama saudara-saudara Zio. Buatkan rumah kalian sampai berdempetan gini, biar kalian itu merasa membutuhkan satu sama lain. Saudara tak punya beras, Zio bagi beras yang Zio punya. Zio tak punya air matang, saudara bagi air matang dari dapur mereka. Saling berbagi, saling menjaga, saling menyayangi, biar Ayah, biyung dan ibu bangga. Kami bakal senang dan bahagia, kalau anak-anak saling menyayangi. Zio tau kan ibu kalau sedih itu nangis aja sampai sakit? Zio tak mau hal itu terjadi sama ibu kan?" Givan mencoba merogoh hati Zio, agar merasa selalu berat pada keluarga yang membesarkannya.
"Aku kan selalu nurut dan tak pernah nakal, Yah. Aku masih kurang ya jadi anak baik?" Zio merasa heran dengan sikap ayahnya. Ayahnya menasehatinya seperti itu, seolah ia telah berbuat kesalahan.
"Tak kok, Zio udah patuh dan baik sama saudara." Givan mengayunkan bahu mereka yang berangkulan.
"Tapi, ibu kandung Zio mau nengokin Zio. Zio pernah lihat kak Key dan kak Jasmine ditengok ibunya?" lanjut Givan kemudian.
Zio mengangguk. "Aku ngerti, Ayah. Jadi, harus aku panggil apa ibu kandung aku? Mamah kek kak Key? Atau ammak kek kak Jasmine?" Zio mengerti ada panggilan khusus seperti dua orang saudaranya tersebut.
"Hmmmm...." Givan mengingat panggilan Nadya untuk dirinya sendiri kala mengurus Ziyan.
"Bunda keknya," jawab Givan kemudian.
"Terus, aku harus gimana? Aku harus ngobrol apa? Aku harus bilang apa? Aku samar-samar ingat ada orang yang mirip foto yang pernah Ayah tunjukkan, yang katanya ibu kandung aku. Tapi dia diam aja, aku pun diam aja. Karena aku tak kenal, aku pun bingung mau nanya dan ngomong apa. Lagi pun, dia nampak tak ramah kek mamah atau ammak, jadi aku sungkan tegur sapanya. Aku malas nyapa, kalau urat wajah orangnya tak ramah. Takut tak disahuti, soalnya aku pernah begitu. Jadi malu, mending tak usah nyapa kalau sama orang yang seram."
Givan berkedip cepat. Givan berpikir sepertinya Zio tahu dan mengenal Nadya yang bertamu di rumah ibunya, sayangnya memang watak Zio yang seperti itu membuatnya enggan membuka obrolan dengan Nadya.
__ADS_1
"Di mana Zio lihat?" Givan ingin memperjelas dugaannya.
...****************...