Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM254. Mengemas obrolan


__ADS_3

"Van, Mamah hargai pendapat kau. Tapi, kau harus paham kalau orang yang lagi tak punya uang itu sensitif. Mereka udah merasa amat rendah, dengan dia harus bertamu dan minta pertolongan, itu nambah mereka makin merasa rendah. Orang yang bakal diingat mereka masa sukses, ya orang yang datang pada mereka untuk mengulurkan bantuan. Sikap kau tak salah, dengan tak mau ikut campur itu. Tapi hanya kurang pemahaman aja, kalau kau selalu minta adik-adik kau datang. Tak apa kau datangi mereka dan tanyakan apa air galon masih ada. Tak apa kau datangi mereka dan tanyakan apa beras masih ada. Mereka merasa sendiri, karena mereka tak paham kau minta didatangi. Okelah untuk mereka yang dekat sama kau, pasti mereka ngerti. Kek Gavin, atau Ghifar. Mereka paham dan mereka ngerti gimana caranya minta bantuan ke kau, mereka pun cukup dekat dan udah biasa merendah sama kau. Dari dulu takutnya Gavin cuma sama kau, dari dulu kau yang sering buat dia nangis, udah dipastikan dia takut sama kau." Adinda melirik anak angkatnya. "Kau pun sama, Ken. Semua anak dan menantu Mamah adik-adik kau."


Kenandra menunduk, kemudian ia menelan paksa makanannya. "Tapi aku tak pernah dikirim makanan sama Mamah," sindiran kecil, tapi bermakna iri hatinya yang begitu besar.


Adinda memahami hal itu. "Kenapa harus Mamah kirim, kalau Mamah persilahkan kau tinggal di sini? Yang pahit-pahit tuh, jangan kau balas untuk orang-orang di sekitar kau. Tapi jadikan pengalaman, biar orang terdekat kau sama orang yang kau anggap adik tak merasakan hal pahit serupa." Adinda berbalik menasehati Kenandra.


"Aku tak pernah buat orang terdekat aku ngerasain hal pahit, Mah." Kenandra langsung menunduk dengan mengaduk makanannya.


Hanya obrolan santai, tapi ia merasa begitu menikam hatinya.


"Setidaknya, jangan buat seseorang yang kau anggap adik malah jadi korban kau." Adinda langsung meluruskan pandangannya pada Kenandra dengan sorot kejamnya.


"Kita makan dulu, Mah. Aku kesulitan nelan." Kenandra hanya berani memandang Adinda sekilas.


Ia takut dengan sorot marah ibu angkatnya.

__ADS_1


"Hm." Adinda kembali memandang isi piringnya.


Mereka makan dalam diam, hingga dua-duanya membantu Adinda membereskan dan mencuci peralatan makan kotor tersebut. Sampai akhirnya, Adinda menggiring Givan dan Kenandra ke ruang keluarga.


Awalnya, Givan fokus pada ponselnya. Ia memberi kabar pada istrinya, agar istrinya tidak khawatir padanya. Meski Canda bertanya-tanya kenapa suaminya tidak langsung pulang, tapi akhirnya ia tahu jika suaminya tengah beristirahat dan kelaparan.


Sedikit khawatirnya karena ia tahu bahwa Ai berada di situ, tetapi ketenangan menghampirinya kembali ketika Givan memberitahu bahwa Ai dan keluarganya ada di penginapan. Hari ini, adalah hari terakhir Ai menyelesaikan beberapa dokumen bertanda tangan dengan materai di kantor desa. Semata-mata, hal itu dibuat agar Ai tidak kembali di masa mendatang ke kampung tersebut.


"Janda mana yang kau chat terus." Adinda mengambil ponsel anaknya.


"Tadi aku udah ada cakap, kalau aku rindu Canda." Givan berbicara dengan menahan tawanya.


"Hmm, bulshit kau!" Adinda menaruh ponsel anaknya di atas meja ruang keluarga tersebut.


"Apa yang mau Mamah bahas?" Kenandra menatap serius sejak tadi.

__ADS_1


"Tak ada, Mamah cuma mau ngobrol aja." Adinda sengaja ingin mengemas nasehatnya dalam sebuah obrolan ringan saja.


Karena dilihat dari segi manapun, menurut Adinda kejadian Ria dan Kenandra adalah atas dasar suka sama suka. Karena tidak ada kejadian kesekian kalinya, tanpa laporan dan trauma yang mengikuti. Apalagi jelas, Ria tidak melapor dan malah menyembunyikan hal tersebut pertanda bahwa Ria menikmati hal itu juga.


"Cani minta pisang, Mah." Givan sengaja mengeluarkan kalimat kosong.


"Ya, sedangkan Ria minta nikah. Hal sederhana, kek yang Cani minta. Tapi, itu tak sederhana untuk konsep hidup kau, Ken. Mamah tau itu." Adinda langsung melempar pandangannya pada Kenandra kembali.


"Mamah tak tau kekhawatiran aku." Kenandra memalingkan wajahnya ke sekelilingnya.


"Coba ceritakan, biar kita bisa gotong royong biar beban kekhawatiran kau berkurang." Adinda bersedekap tangan dengan fokus memandang Kenandra.


"Hal terburuknya kalau nanti Bunga tinggal bareng Riska, yaitu punya ayah sambung. Kin pernah tinggal dengan ayah sambungnya, almarhum om Safar. Menurutnya, itu tak lebih baik dari ibu sambung. Apalagi, maaf.... Almarhumah masyik Handa. Ahya, Ahya, Ahya. Cuma Ahya anak perempuan umi Sukma dan cucu perempuan menurut mereka, itu yang buat Kin lebih betah tinggal bareng Mamah dan papah, kalau Mamah dan papah masa itu tak punya banyak bujang. Kalau Bunga harus sama aku, dia otomatis akan punya ibu sambung. Aku tau rasanya bagaimana hidup dengan ibu sambung, jauh lebih buruk daripada tinggal di pesantren yang ketat. Jangankan kebebasan, untuk hal makanan pun ada hitungannya. Makanya kenapa, aku lebih milih tinggal di mes masa kuliah dulu. Padahal, kampus aku sama rumah abi itu paling lima belas menit perjalanan. Abi terobsesi aku ingin jadi dokter, dia limpahkan biaya yang buat istrinya iri ke aku. Aku pun, memang bercita-cita jadi dokter, aku tak merasa terbebani untuk itu. Tapi karena hal itu, karena bunda tau aku punya banyak jatah dari abi, aku dibuat kelaparan kalau di rumah. Mah, aku ini belajarnya tentang kesehatan. Tapi, tiap hari mau tak mau aku makan makanan instan kalau di rumah. Karena apa? Misal masak daging, masak itu hitung kepala. Untuk tiga orang, bunda buat potong enam aja untuk tiga kali makan. Ngertinya aku ini, masa Langi berisik kalau aku makan jatah lauk dis. Cuma untuk dirinya, Langi dan abi. Aku diam, aku lebih milih diam, karena percuma bilang tapi abi tetap tak nambahkan jatah uang belanja untuk bunda. Abi sayang aku, aku tau itu. Tapi dalam bentuk support dalam hal biaya dan penyemangat aja. Ditambah, dari kecil sampai baligh aku sama Kin ini dalam asuhan pengasuh. Sedangkan, aku lihat dengan mata aku sendiri kalau Langi diasuh dengan tangan lembut bunda. Mau aku tak iri, tapi aku cuma punya cara pandang seorang anak masa itu. Aku takut, Mah. Misal nanti Bunga aku bawa tinggal bareng ibu sambung, ditambah lagi misal ibu sambung itu punya anak baru dengan aku. Fokus dia pasti ke anak barunya, bukan ke Bunga. Kalau Bunga tetap dipegang baby sitter, pikiran iri anak-anak kek yang aku rasain, pasti dirasakan Bunga juga. Setidaknya, sama Givan dia diasuh sama-sama dengan baby sitter. Katakanlah, Givan dan Canda ini hanya guru pembimbing. Karena sebenarnya, mereka ini dipaksa mandiri dari kecil. Rasa irinya pasti tak ada, karena mereka semua diperlakukan sama semua. Dari Key sampai anak bayinya, siapa dari mereka yang tak pakai jasa baby sitter? Tak ada! Aku khawatir, Bunga ngerasain rasanya jadi anak tiri." Kenandra langsung menunjamkan telunjuknya ke atas meja.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2