Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM51. Usaha-usaha yang diketahui


__ADS_3

"Hallo, Bang. Gimana kemajuan di sana, Bang?" Givan menghubungi kakak angkatnya.


"Sabar, Far. Abang ceritakan kalau udah komplit aja, kalau begini takut malah salah paham. Bukti-bukti pun belum kuat dan belum lengkap."


Padahal Givan amat penasaran, tapi Kenandra tidak mau menceritakan tentang hasil penelitian dalam misi mengungkapkan sebuah tabir tersebut. Tapi siapa tahu, duda beranak satu tersebut malah tengah mengerjai adik ipar Givan. Ia cukup dibuat bingung dalam misi tersebut, hingga akhirnya ia memilih untuk mencari hiburan bersama Ria.


"Ughmmm." Mulut Ria dibekap oleh telapak tangan lebar itu.


"Apa itu, Bang?" Givan mendengar suara itu dari seberang telepon.


Kenandra tertawa geli memandang Ria. "Tak apa-apa, Van. Udah dulu ya?" Kenandra berbicara dengan ponselnya.


"Oke, assalamu'alaikum...."


Tut.....


Kenandra mematikan panggilan telepon tersebut, tanpa menjawab salam dari Givan. Ia berbalik memandang Ria dengan alis terangkat sebelah, setelah menaruh ponselnya secara asal saja.


Dughhhhh.....


"Ughhhhhhh....." Kenandra langsung melepaskan telapak tangannya dari mulut Ria, lalu ia memegangi tengah-tengah tubuhnya.


"Rasain! Iseng betul!" Ria bangkit dari atas ranjang miliknya.


Kenandra meringis kesakitan, dengan mengusap-usap tengah-tengah tubuhnya. Adik kecil yang begitu lemah pikirannya, ternyata menyimpan sejuta pemberontakan dan tenaga yang ekstra.


"Nakal kau yeee?!" Kenandra memandang marah Ria.


"Kau pun nakal ye?" Ria merapikan hijabnya.

__ADS_1


Kenandra hanya diam, senyum manisnya mengerikan, dengan memperhatikan Ria dengan seksama. Adik kecil tersebut, ternyata begitu menarik. Hanya saja, adik kecil itu ternyata seperti tidak minat sama sekali padanya. Gurauan dewasanya pun, diberontak habis-habisan oleh Ria. Harus menggunakan cara lain, agar Ria tertarik padanya.


Dalam misi mengungkapkan kebenaran, ia pun menyelipkan misi untuk memikat hati Ria. Ia ingin, Ria harus bisa mengejarnya karena hal lain. Ia ingin, adik kecil tersebut memiliki rasa padanya.


"Canda, mau ke mana?" Givan mencekal lengan istrinya.


"Ke mama, mau main." Canda melanjutkan kakinya untuk mengenakan sendal karet tersebut.


Siang hari seperti ini, Ghifar tidak ada di rumah. Givan sedikit tenang, karena istrinya tidak akan bertemu adiknya. Canda hanya bisa bertemu dengan istri Ghifar saja.


"Aku ke mamah ya?" Givan pun meminta izin untuk ke rumah ibunya.


"Iya." Canda melangkah lebih dulu melewati pintu samping. Sedangkan Givan, ia lebih dulu mengunci pintu rumah dan berjalan melewati pagar depan rumahnya.


Rasa tidak senang menyelimuti hatinya saat ini. Givan tidak suka, ada orang lain yang duduk di kursi tamu ibunya tersebut.


Kenapa Ai kini lebih sering berada di rumah ibunya? Givan bertanya-tanya seorang diri, apakah ibunya memihak pada perempuan tersebut?


Pemerasan.


Givan berasumsi, bahwa Ai kini memanfaatkan kesalahannya. Ai menjadi semena-mena, apalagi perihal ekonomi yang selalu ia pinta dari pihaknya.


"Periksa sendiri aja, Ai. Pesan taksi online aja, pergi ke rumah sakit biasa. Terus pulangnya ke sini lagi, Mamah pengen tau hasilnya." Adinda duduk santai dengan mengeluarkan ponselnya.


"Kan ada A Givan, Mah." Ai memandang Givan penuh harap.


"Aku mau antar Canda ke gudang konveksi." Givan menarik alasan asal-asalan.


Canda anti sekali mengecek usahanya sendiri, selalu saja Givan yang turun tangan untuk mengecek, atau mengupgrade mesin sablon kain yang sudah rusak. Canda hanya semangat di awal saja, apalagi dengan support dari ibu mertuanya. Setelah usahanya berjalan, ia melimpah semua tanggung jawab perusahaan pada suaminya. Canda tidak mau dibuat repot dan pusing, meski hasil usahanya kembali ke tangannya.

__ADS_1


Givan pun tidak keberatan, karena usaha tersebut milik istrinya sendiri. Yang milik mantan suami istrinya saja ia kelola, apalagi milik istrinya yang melahirkan banyak anak untuknya.


Adinda melirik anak sulungnya, ia pun merasa aneh dengan alasan dari anaknya tersebut. Karena ia tahu sendiri, bahwa menantunya adalah ratunya rebahan.


"Aa punya usaha konveksi juga?" Kerakusan Ai membulat dalam hatinya.


"Punya Canda." Givan masih berdiri di ambang pintu, dengan bersedekap tangan.


"Canda punya usaha sendiri?" Ai makin penasaran. Karena ia berpikir, bahwa Givan sengaja membuat usaha konveksi untuk istrinya. Jika ia menjadi pendamping Givan, ia pun pasti mendapatkan usaha yang mungkin serupa dengan Canda.


"Punya banyak Canda tuh. Ada konveksi, mebel Jepara, distributor peti mati dan ikan air tawar, ada ladang kopi, kebun sawit, sawah padi setahun panen empat kali juga." Adinda menyebutkan semua usaha yang benar-benar uangnya masuk ke rekening Canda. Meski usaha peti mati, ikan air tawar dan kebun sawit atas nama anaknya, tapi sisa dari biaya untuk anak-anaknya masuk ke rekening Canda. Ini adalah amanat, yang dikembangkan oleh Givan. Karena Givan merasa, tidak ada haknya untuk menikmati uang hasil usaha milik mantan suami Canda.


Sedangkan ladang kopi dan sawah produktif, itu adalah mahar dari Givan untuk Canda saat mereka rujuk. Dengan tanah yang dijadikan mahar, Givan pun merasa tidak berhak untuk menikmati uang hasil ladang yang dipergunakan untuk mahar pernikahannya dulu.


Sedangkan uang-uangnya, uang dari segala macam usahanya. Ya tetap kembali untuk Canda, anak-anak mereka, biaya hidup mereka, fasilitas hidup mereka, biaya pendidikan anaknya, biaya asuransi kesehatan maupun aset mereka dan sisanya ditabung untuk membangun usaha baru. Uang Canda dibiarkan utuh, karena ia merasa mampu menghidupi Canda dan memenuhi segala kebutuhan Canda.


"Terus, usaha Aa apa aja?" Ai makin tertarik untuk mengetahuinya.


Tanpa ia sadari, Adinda tengah menyimpulkan bagaimana seorang Ai. Ia tetap meladeni, agar lebih paham arah tujuan Ai masuk ke keluarganya ini.


"Tambang batubara dua, grosir material, gudang kayu dan mebel di sini. Main saham juga ya, Van?"


Givan mengangguk, ia tidak mengerti maksud ibunya. Tapi, ia mencoba mengikuti langkah dari ibunya. Ia yakin, ibunya tengah melakukan sebuah misi rahasia dalam dibongkarnya beberapa usaha-usahanya itu.


"Bantu ibu mertuanya kelola galon juga. Galon samping rumah ini kan, paling berkembang di desa ini. Ada ladang jahe di Lampung, papah juga ada main jahe di sana. Sama pengelola limbah peternakan jadi pupuk di Cirebon ya, Van?" Adinda pun menyebutkan usaha yang membuatnya salut pada anaknya tersebut. Karena Givan begitu cerdas mengelola limbah peternakan, yang sebelumnya menjadi perdebatan warga sekitar, karena limbah peternakan miliknya cukup mengganggu.


Empat belas usaha penghasil keuangan anak sulungnya tersebut disebutkan semua. Belum tanam modal di beberapa tempat dan pembelian saham yang Givan lakukan rutin untuk memperbanyak pundi-pundi rupiahnya itu.


Bahkan Adinda menikmati uang hasil jerih payah anak sulungnya tersebut. Givan mengulurkan dana besar-besaran, saat usahanya merugi karena suatu bencana. Anak yang paling membuatnya pusing tersebut, ternyata yang paling berjaya dari anak-anak yang lainnya.

__ADS_1


Ai makin dibuat ternganga mendengar banyak usaha yang dipegang oleh laki-laki yang dulu pernah mencintainya tersebut. Rasa sesal karena tidak tahan dengan perlakuan Givan dulu, kini merakit ambisinya untuk bisa mendapatkan Givan kembali. Ia berpikir, mungkin ia akan bisa menahan fantasi Givan di ranjang, demi kehidupan yang lebih baik.


...****************...


__ADS_2