
"Mas, mamah sama Ghifar sampai rumah sakit belum ya? Telpon mereka dong." Canda merengek kembali ketika mereka baru selesai sarapan bersama.
"Ghifar udah bilang, nanti dia kabari. Ehh, perut aku kok lapar terus ya? Gara-gara obat kah?" Givan merasa perutnya yang baru diisi dengan bubur rumah sakit, merasa panas dan terasa lapar.
"Aku pun sama. Keknya obat di sini mengandung n**** makan deh, Mas." Canda melirik ke arah dadanya, yang tengah dinikmati Cala. Bayi tersebut ikut sarapan juga pagi ini.
Saking menikmatinya, Cala sampai memejamkan matanya sambil menikmati makanan pokoknya itu.
"Keknya, bisa jadi. Aku udah bebas makan belum ya? Pengen beli cemilan entah roti tawar atau yang lain tuh, hawanya lapar aja." Givan bangkit dan mengusap-usap perutnya.
"Coba ke dokternya aja, Mas. Sekalian mintain lepas infusan aku." Canda merasa ruang geraknya amat terbatas karena tangan kanannya yang dipasangkan selang infus sekarang.
Terhitung dari sebulan yang lalu, Canda merasa sakit di beberapa titik karena selama itu selang infus dipindahkan beberapa kali karena pembengkakan. Ia merasa sudah bosan, beraktivitas dengan selang infus yang ikut serta tersebut.
"Oke, oke. Kau duduk aja ya? Awas jatuh." Givan mendekatkan salah satu bantal Canda, yang hampir jatuh dari brankar.
Givan langsung membicarakan keluhannya. Ia pun mengutarakan, tentang istrinya yang merasa terganggu dengan selang infus tersebut.
Dokter meminta Givan untuk pengecekan lebih dalam, tentang keadaan lambungnya. Karena kemarin, lambungnya sempat terluka karena asam lambung yang terlampau banyak karena Givan sering tidak tepat waktu untuk makan.
Givan pamit pada dokter tersebut, untuk meminta izin pada istrinya dulu jika ia ingin meninggalkan istrinya sejenak untuk pemeriksaan lagi. Masalah n**** makan, Givan sudah mendapatkan sebabnya dari dokter tersebut. Memang dari beberapa obat, reaksinya untuk mengundang rasa lapar Givan. Agar ia tidak telat untuk makan, bahkan tidak membiarkan perutnya kosong agar asam lambungnya tidak melukai lambungnya karena tidak adanya makanan untuk diolah.
"Jangan lama-lama, Mas." Canda menganggukkan kepalanya, setelah mendengar kalimat dari suaminya.
"Tak katanya sih, kek USG gitu." Givan menyempatkan diri untuk mencium putri bungsunya yang sudah terlelap, dengan bibir yang masih terus bergerak.
"Telpon aja kalau kau kewalahan urus Cala. Tapi aku janji langsung balik kok, kalau udah selesai pemeriksaannya. Kalau aku ada keperluan nebus obat dulu pun, aku kabari kau kok." Givan tidak tega meninggalkan istrinya sendiri, dengan anaknya yang cukup rewel tersebut.
"Iya, Mas. Terus kapan infus aku dilepas?" Canda melirik tanan kanannya.
"Nanti katanya menjelang makan siang. Bentar ya? Aku tinggal dulu." Givan keluar kembali dari kamar inap istrinya.
Ia bergegas untuk memenuhi pemeriksaannya, agar lekas selesai dan ia bisa kembali ke istrinya.
Canda mulai menguap, ia jenuh karena tidak ada yang mengajaknya berbicara. Anaknya pun masih aktif menikmati makanan pokoknya, meskipun matanya sudah terpejam sempurna.
__ADS_1
"Udah sih, Dek. Biyung mau rebahan nih." Canda mengajak berbicara anak yang tengah terlelap tersebut.
Bayi yang masih kecil dan merah itu tidak merespon, ia tetap menikmati kenyamanannya. Hingga ponsel Canda berdering, membuat bayi itu tersentak tapi tetap terlelap.
"Sayang, sayang." Canda menggoyang-goyangkan dekapannya pelan.
"Ghifar...." Canda melirik ke layar ponselnya yang menyala.
"Hallo, Far." Canda menyahuti panggilan telepon tersebut dalam nada pelan.
"Aku sama mamah udah sampai ya. Udah ya, aku cuma mau ngabarin itu aja." Ghifar tidak mau membuat keluarganya khawatir, karena memikirkan ia dan ibunya yang dalam perjalanan.
"Terus, keadaan papah gimana?" Inilah yang Canda pikirkan sedari semalam.
"Eummm.... Baik, Canda. Darahnya malah rendah, ya mungkin jatuh karena biasanya darah tinggi terusan darah rendah." Ghifar kentara sekali tengah memilih alasan untuk itu.
"Kau serius? Kenapa ada eummm?" Canda merasa ragu dengan jawaban adik iparnya.
"Bentar ya? Aku video call nih, aku lihatin keadaan papah biar kau tak khawatir." Ghifar mengubah panggilan suara tersebut.
Tak lama, terlihat gambar wajah Ghifar yang begitu lelah nampak di layar ponsel Canda.
"Ya ampun, Far. Untungnya aku tak jadi sama kau, kau nambah tua nambah jelek aja."
Bukannya merasa terhina mendengar penuturan Canda, Ghifar malah tertawa lepas. "Ya untungnya pun, aku dapatnya Aca bukan kau." Ghifar membalikkan kalimat Canda.
"Mana papah aku, Far? Kangen betul aku." Canda sudah tidak sabar, untuk melihat keberadaan ayah mertuanya.
Gambar ayah mertuanya yang tengah duduk bersila di atas brankar, dengan istrinya di tepian brankar. Menunjukkan keadaan Adi yang membaik, dengan suapan nasi dari istrinya.
"Papah, I love you," ucap Canda dalam panggilan telepon tersebut.
Adi dan Adinda mencari sumber suara, sampai akhirnya mereka melihat ke arah Ghifar yang tengah memegang ponsel.
"Canda kah itu, Far?" tanya Adi kemudian.
__ADS_1
"Iya, Pah. Video call," jawab Ghifar kemudian.
"Sehat-sehat, Dek," ungkap Adi kemudian.
"Bawa sini, Far," pintanya pada Ghifar.
Ghifar mendekat, dengan letak kamera yang ditukar. Canda tersenyum lebar, setelah melihat wajah ayah mertuanya.
"Papah gimana kabarnya?" tanya Canda dengan memperhatikan senyum manisnya.
"Baik, Dek. Sehat-sehat, Dek. Jangan banyak pikiran, biar cepat pulih." Adi berpesan, dengan mengambil alih ponsel Ghifar.
"Papah sehat juga kan? Papah bisa jalan kan? Papah tak setruk kan?" Adi cukup tersinggung, mendengar penuturan menantunya.
"Kok kau bilang begitu?" Adi sampai mengerutkan keningnya.
"Ya soalnya, kata Mamah tuh takutnya papah setruk soalnya jatuh lagi."
Adinda menepuk jidatnya. Setelah ini, ia tidak akan berbicara sembarangan dengan Canda.
Adi melirik tajam istrinya. Adinda hanya bisa meringis kuda, ia tidak mampu memberikan alasan atas kekhawatirannya.
"Papah bisa bolak-balik ke kamar mandi sendiri dari malam, Canda. Kau tenang aja, kau jangan banyak pikiran di sana." Setelah ini, Adi berpikir untuk menyidang istrinya. Ia tidak mengerti, kenapa istrinya bisa berpikir bahwa dirinya terkena setruk.
"Alhamdulillah, jangan sakit-sakitan Pah. Papah belum ajak Cala ke ladang, anak-anak aku harus kenal ladang, biar dia tau di mana sumber dananya berasal."
Ghifar cekikikan mendengar penuturan Canda. "Bisa-bisanya kau bawa-bawa sumber dana, Canda." Ghifar hanya mampu geleng-geleng kepala, meski tidak melihat wajah Canda dalam ponsel.
"Pasti sehat, Papah yang tua kadang butuh Mamah untuk selesaikan masalah. Papah pusing, kalau udah menyangkut tentang anak-anak. Papah kadang tak bisa tengah-tengahi masalah anak, kadang Papah terlalu egois kalau udah menyangkut anak Papah sendiri." Dari pengakuan Adi, Canda langsung memahami bahwa kejadian ayah mertuanya jatuh, penyebabnya karena anak-anaknya.
"Masalahnya apa sih, Bang?" Adinda menimpali pertanyaan.
Ia belum tahu apapun. Ia datang dan langsung mengurusi suaminya yang tengah menikmati makanannya.
"Masalahnya......
__ADS_1
...****************...