
"Bang, Keith kan punya penghasilan. Kalau Abang sayang anak-anak aku sama Keith, yang terpenting kan Abang jangan putus kerjakan Keith, biar dia tetap mampu nafkahi aku dan anak-anak."
Givan mengerutkan keningnya. "Gini deh. Memang Keith serius sama kau? Atau kau yang baper aja? Keith tak pernah ngelamar kau ke Abang secara baik-baik, dia pernah minta untuk jalin hubungan dengan kau dengan cara gurau ke Abang."
Ria terdiam kaku. Ia seperti mendapat berita buruk dari orang terdekatnya, tapi malah ia mendengarnya lebih dulu dari mulut orang lain.
"Abang tak mungkin datang-datang ke Keith, terus minta dia untuk nikah sama kau. Ya memang, Abang paham kau harus dapat yang kaya, yang lebih dari Abang. Tapi, kalau memang ada yang datang ya Abang pertimbangkan. Kalau memang setelah cari tau, Abang ngerasa memang dia pantas dapatkan kau. Ya nanti Abang bilang dan ceritakan ke ibu, tentang kau yang dilamar laki-laki yang kerja sama Abang. Itu juga kan, bisa jadi pertimbangan ibu. Lain serius, lain cuma diajak pacaran. Keith minta restu ke Abang itu, biar dia dapat izin untuk macarin kau. Pacaran loh, Ria. Tak pacaran aja, kalian anteng di kamar. Apalagi pacaran, pasti kau bisa-bisa lupa pakai CD deh. Lama kau kenal Keith, nyatanya tak mampu untuk ngenal sisi lain dari Keith kan? Dia mau, ya dia pasti berani ambil resiko nikah lah. Orang tiap kali dia nanya ke Abang, dia selalu bilang ya boleh kali untuk jalani hubungan aja dulu. Kesannya kek mau coba-coba, kalau niat ya harusnya dia bilang aku mau nikahin, gini-gini, perasaan aku begini-begini, aku yakin karena Ria begini-begini. Bukannya tiap ngobrolin kau, selalu beralasan untuk jalani hubungan aja dulu. Apa-apaan itu sih, buat rugi aja. Udah aja sana temenan, ngamer tiap malam pun silahkan aja, sebosennya, yang terpenting jangan sampai jebol. Biar kau paham, bahwa bosen itu nyata. Jangankan berteman, bersentuhan fisik sesering mungkin, pacaran se*s, orang yang menikah resmi aja sesekali beli sarung untuk variasi karena bosan." Givan begitu terbuka mengatakan sisi kebosanan dalam rumah tangga, berharap agar Ria lebih memikirkan tentang menjalin hubungan dengan seorang laki-laki.
"Manis itu cuma di awal aja, namanya juga barang baru. Memang, rumah tangga yang romantis itu tak kurang. Tapi, rumah tangga yang merasakan kebosanan itu lumrah. Sekalipun cintanya setengah mampus, tapi namanya bosan ya diapakan lagi coba?! Karena tak pernah ingin untuk ganti istri, atau mainan perempuan lagi, ya otomatis jalan keluarnya variasikan dengan istri. Kalau kakak kau tak drama terus juga, mungkin anyeb aja rumah tangga Abang ini. Berwarna, karena dramanya ada aja. Itu kek tantangan dan hiburan tersendiri. Karena sampai sekarang, jus bengkoang pun tetap hambar rasanya. Ditambah gula, malah rasanya agak gila."
Ria terkekeh kecil. Ia teringat dengan rengekan kakaknya setiap berkunjung ke rumah ibunya ini, jus bengkoang yang manisnya alami tetap diburu Canda dan rasa yang Canda cari tidak pernah ia dapatkan. Bahkan, Ria sampai muntah-muntah karena mencicipi jus bengkoang hasil kerepotannya untuk memenuhi masa ngidam kakaknya.
"Jadi sampai sekarang rasa itu tidak ditemukan kah?" tanya Ria yang membuat Givan tergelak lepas.
"Tak pernah ditemukan bengkoang yang manis alami pas dijus itu, rasanya pasti buat mual. Mendingan, langsung dikunyah. Sampai si Cendol nyusahin ipar-iparnya, suruh nyoba buat jus bengkoang karena mungkin aja kalau pakai tangan ipar itu rasanya manis. Nyatanya tak juga, tetap agak gila dan buat mual." Givan masih tertawa, setiap kali teringat akan kegilaan istrinya.
"Ini obatnya, Bu. Kalau habis, WA aja, Bu."
Givan melongok ke arah ruang keluarga. Begitupun dengan Ria, karena ia merasa kenal dengan suara tersebut.
"Ehh, ada di sini kau?" Ken terkejut, melihat kepala Givan muncul dari kamar tersebut.
"Tadi kau sama Canda, Bang. Canda mana?" Givan kaget, karena teringat akan kakak angkatnya yang tadinya menemani istrinya makan bakso.
__ADS_1
"Ke mamah." Keith menunjuk bangunan yang berada di depan ruko tersebut tanpa dosa.
Givan langsung panik, sampai ia melupakan Zio yang ia ajak ke sini. Ia sejak tadi mewanti-wanti Canda, agar tidak berkunjung ke rumah ibunya. Karena ia tahu, Awang dan Nafisah masih berada di sana.
Sayangnya, gerak langkahnya sudah telat. Canda sudah berada di dalam satu ruangan dengan Nafisah dan Awang. Mereka saling memandang, hingga tatapan terakhir dilontarkan pada Givan.
"Siapa mereka, Mas?" tanya Canda bingung. Karena sekian lama ia berumah tangga dengan Givan, ia tidak mengetahui saudara jauh yang memiliki wajah asing menurutnya.
"Papah di sini, Dek," sahut Adi yang baru masuk kembali ke dalam rumah, dari kegiatannya mengecek burung ternaknya di malam hari seperti ini.
Ia mendengar dirinya dipanggil berulang kali oleh menantunya. Tapi ia tengah sibuk mengunci kembali kandang burung tersebut, membuatnya enggan untuk menyahuti Canda karena khawatir burung-burung peliharaannya akan kaget.
"Ehh...." Adi terhenyak melihat ketegangan di hadapannya.
Givan langsung terkekeh geli, dengan merangkul istrinya. Ia tidak mengerti, kenapa istrinya malah fokus akan hidangan dalam acara yang ada.
"Mamah udah simpan, memang mamah belum ke sana kah?" Adi langsung berjalan mendekati menantu dan anaknya.
Canda menggeleng. "Tak ada. Tadi ketemu pun, mamah ke Ghifar. Aku di teras rumah Ghavi lagi makan bakso sama bang Ken juga, aku tawarin mamah tak mau. Ini masih utuh, buat Papah aja deh." Canda menaikan bungkus bakso dari tangannya.
"Oh, iya-iya. Tolong siapin." Adi mengambil kesempatan untuk merangkul Canda, kemudian membawa menantunya masuk ke dapur.
Ia menyerahkan keadaan pada Givan, agar terlihat kondusif kembali. Adi mengorbankan perutnya yang harus diisi kembali, padahal ia baru saja makan. Mau bagaimana lagi, hanya itu yang bisa mengunci menantunya agar tidak kaget melihat kakak Ai berada di rumah ini.
__ADS_1
"Minum Papah, Dek. Tolong ambilkan air hangat." Adi menunjuk dispenser yang tersambung dengan listrik. Air dingin atau air panasnya beroperasi non stop.
Canda mengangguk. Ia langsung mengurus sajian untuk ayah mertuanya, seperti ia mengurus ayahnya sendiri yang tak pernah ia ketahui rupanya karena perpisahan orang tuanya yang terjadi sejak ia bayi.
"Sini, temani Papah makan." Adi menepuk kursi makan yang berada di sebelahnya.
"Kau beli di mana ini? Besarnya bakso ini." Adi mengaduk semangkuk bakso yang berada di hadapannya.
"Di tempat biasa, Pah. Aku baru pulang dari pasar malam, terus makan bersama di rumah Ghavi deh. Soalnya Tika ada nitip, jadi aku unboxing makanan di sana."
Adi terkekeh, mendengar makanan yang diunboxing oleh menantunya.
"Terus kau jajan apa aja?" Adi mulai menikmati bakso, dengan latar belakang suara Canda yang terus bercerita.
Di ruang keluarga, Givan sudah duduk di sofa bersama Awang dan Nafisah. Ia mengerti sopan santun, ia mencoba menghormati tamu yang ada dengan mengajak mereka berbicara.
"Itu istri aku, Canda." Givan membuka obrolan, meski urat masamnya kentara jelas sekali.
"Ohh, iya-iya. Untuk masalah dulu...." Awang menjeda kalimatnya.
Ia paham, bahwa Givan menyimpan dendam padanya.
...****************...
__ADS_1