Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM42. Makan di teras


__ADS_3

Canda menggeleng. "Tak apa, Mas."


Givan tahu, tak apanya istrinya adalah ada apa-apa. Ia ingin istrinya terbuka seperti biasanya, bukan seperti dulu saat mereka baru menikah. Ia tidak mau rumah tangganya dinaungi dengan suasana tegang, ketika mereka tengah menikmati waktu bersamanya.


"Kok tak apa? Biasanya jujur Biyung tuh." Givan kembali menubrukan bibirnya ke pipi istrinya.


Canda menghela napasnya, kemudian menutupi wajah suaminya. Ingin menjadi Canda yang kemarin pun bagaimana, ia sudah terlanjur dibuat dingin oleh kelakuan Givan di belakangnya. Canda masih meyakini bahwa Ai begitu spesial di hati suaminya, ia pun meragukan tentang pengakuan suaminya tentang keadaan Ai.


"Tak kangen kah, Canda? Tak butuh suami kah, Canda?" Givan langsung tersinggung, ketika Canda menjauhkan wajahnya ketika Givan terus menciuminya.


"Minum obat mag dulu ini, Van." Adinda masuk dan memberikan satu butir tablet berwarna hijau tersebut.


Givan langsung membuka mulutnya. Ia sudah kesekian kalinya menelan obat tersebut, tapi rasa mualnya tak kunjung reda.


"Tunggu setengah jam, terus kau makan dulu." Adinda keluar kembali dari kamar tersebut.


Ia mencoba biasa saja, melihat putra sulungnya yang begitu berdempetan dengan menantunya. Jangankan kegiatan mesra seperti itu, bahwa ia pernah memergoki anak sulungnya dan menantunya tengah menyatukan batinnya.


"Makanya kalau malam itu istirahat, jangan ke Ai terus. Kalau memang mau ke dia, ya udah tak usah pulang. Udara dingin, bisa masuk angin dan mencret mendadak karena hawa dingin." Canda memperhatikan wajah suaminya dari samping.


Ia sengaja menyindir suaminya, agar Givan tahu bahwa dirinya sudah mengetahui tentangnya yang sering datang ke kamar tinggal Ai di malam hari. Berbeda dengan Givan yang menyangka bahwa istrinya pun selalu mengikutinya, ia yakin Canda pura-pura tertidur saat ia meninggalkannya di kamar.


"Kau kan liat sendiri, bahkan aku tak pernah masuk ke kamarnya. Aku ada perlu, aku ngomong depan kamarnya. Sampai hari ini pun, aku tak punya kontaknya. Aku pengen ngasih tau ke dia, ya aku ke dia. Aku tak mau Ai punya kontak telepon aku, nanti dia buat risih aku."


Kok bisa menikah siri, tapi tidak tahu kontak telepon pasangannya?


Canda masih mengurung pertanyaan tersebut di benaknya, ia tidak ingin membangkitkan emosi suaminya yang masih lemah tersebut. Givan harus memiliki banyak tenaga untuk marah-marah.


"Liat sendiri gimana?" Canda mengerutkan keningnya.


"Ya kau liat sendiri kan, kalau aku tak pernah masuk ke kamar Ai?" Givan masih mengira bahwa Canda membuntutinya.

__ADS_1


"Aku tak tau."


Givan langsung mempercayai, jika ilmu feeling itu ada. Givan langsung meyakini bahwa insting istrinya cukup tajam. Padahal aslinya, ada mulut lain yang mengatakan tentang sebenarnya.


"Coba bilang kalau ngerasa gimana-gimana, atau muncul pertanyaan apa keraguan. Jangan diam-diam aja. Kita pernah kah lewatin masa diam-diam aja? Enak tak? Tak enak kan? Ya sama, aku pun tak enak. Ceplas-ceplos, langsung negur, kan enak. Aku bukan peramal, kau pun bukan dukun, jadi tak mungkin sama-sama tahu isi hati pasangan kita." Givan mencoba menasehati istrinya halus.


Canda lebih milih diam, hanya bola matanya yang hidup dan melirik ke sana ke mari. Canda tidak bisa mengatakan semua informasi yang ia genggam, karena sejujurnya ia benar-benar sudah tidak mempercayai pengakuan dan cerita dari suaminya.


Karena dari awal, ucapan suaminya seolah membenarkan tindakannya sendiri. Padahal dirinya paham, bahwa ia salah dengan dendamnya. Namun, ia malah melakukannya. Lebih-lebih, harga dirinya sebagai suami digadaikan sendiri dengan mengeluarkan senjata biologisnya.


"Kita bisa-bisa pisah lagi, kalau kau tetap gini. Aku berusaha memperjuangkan kita loh, Canda." Givan menggenggam tangan Canda.


Canda menarik tangannya, ia menghela napasnya lagi. Ia hanya coba melebarkan kesabarannya, agar tidak ceroboh lagi.


"Kita sama-sama lagi ya, Canda?" Givan mendekap tubuh istrinya.


Canda terdiam tanpa respon, ia membiarkan suaminya mendekapnya dengan hangat tersebut. Ia tidak menolaknya, karena ia pun rindu akan kehangatan yang suaminya berikan. Ia pun tak membalasnya, karena ia teringat akan pengakuan suaminya yang hendak melakukan dengan Ai, bahkan sudah mengeluarkan senjatanya. Canda masih tidak menyangka, bahwa suaminya semudah itu melenyapkan komitmen mereka.


"Aku pikirkan dulu, Mas." Canda menyalakan kembali layar ponsel suaminya.


"Aku tunggu, Canda." Givan bersandar pada lengan istrinya, dengan melirik ke arah layar ponsel yang menampilkan gambar makanan yang begitu menarik tersebut.


Givan tidak menyangka bahwa istrinya yang amat patuh dan penurut ini, ternyata memiliki sisi lain yang begitu dingin.


"Pakai pembayaran debit aja, Canda. Aku tak punya uang cash."


"Ya, Mas.


Menunggu selama beberapa menit, kini Canda tengah menikmati makanan dan sesekali menyuapi suaminya di teras rumah. Karena makanan itu berkuah dan cukup panas, hawa terbuka seperti itu menambahkan kenikmatan dengan angin semriwing yang mengeringkan keringat.


"Loh, udah pindah tempat aja? Aku udah dapat tenaga medis plus infus dehidrasinya juga, eh udah ngebakso aja." Rauzha langsung menyapa dua orang yang tengah menikmati makanan bersama itu.

__ADS_1


"Tak apa pasang aja, Za." Canda pun mengenal dokter spesialis tersebut.


"Obat aja deh, aku tak mau diinfus." Givan sudah membayangkan tangannya begitu nyeri di setiap gerakannya.


"Habisin ini aja, Bang. Kulit kau masih nampak dehidrasi." Rauzha mengajak seorang perawat dari rumah sakit tempatnya bekerja itu.


Dengan susah payah dan banyak pertanyaan, akhirnya Rauzha mendapatkan salah satu tenaga medis yang biasa ditugaskan untuk mengontrol pasien yang rawat inap di rumah. Tentu pasien seperti ini harus merogoh kocek lebih.


"Nurut, Mas." Canda sedikit tegas, agar suaminya menurutinya.


"Ya udah deh." Bibir manyun Givan, memberikan sedikit efek menggelikan.


Canda kembali meraup wajah suaminya dan terkekeh kecil. Kadang-kadang, ia merasa begitu nyaman dengan suaminya. Kadang juga, ia mendadak teringat semua tingkah negatif suaminya.


Givan sedikit meringis, ketika sebuah jarum menyelami kulitnya. Sensasi nyeri seperti ini, yang membuatnya semakin tidak suka dengan hal-hal yang berbau rumah sakit. Ia bahkan mendadak teringat dengan istrinya yang lemah dan selang infus yang selalu dipindahkan selama beberapa hari di rumah sakit, pasca melewati operasi caesar dan menunggu pemulihan.


"Bawa obatnya tak?" Tanya Canda, dengan kembali suaminya.


"Bawa kok. Tapi harus benar-benar berkala dan sesuai aturan nih." Rauzha mengeluarkan empat macam obat dari dalam tasnya.


"Jangan stress ya, Van? Jangan kecapean dulu, jangan banyak rencana untuk pergi dulu. Bed rest, Bang. Biar lekas pulih dan kerja lagi.


"Gimana tak stress, istri anyeb terus." Givan menyindir istrinya.


"Angetin dong." Rauzha memeluk dirinya sendiri sebagai isyarat.


Givan melirik istrinya, ia tidak yakin istrinya masih mau berhubungan biologis dengannya. Tapi Givan pun paham, bahwa dirinya memiliki kewajiban itu dan harus memenuhinya.


Ia tidak mungkin terang-terangan mengatakan bahwa ia ingin memenuhi batin istrinya. Tapi ia pun merasa ingin menagih sendiri, lantaran sudah telat satu hari dirinya tidak memenuhi kebutuhan batin Canda yang masih penuh tersebut.


Tatapan dalam dari suaminya membuat Canda bingung seorang diri. Kenapa suaminya menatapnya begitu dalam?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2