Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM95. Negosiasi


__ADS_3

"Aku cuma tau Farhad aja yang bilang sendiri ngasih sepuluh juta, karena merasa memakai," timpal Givan kemudian.


Hal itu pun, sudah disampaikan Givan ke Kenandra. Pesan teks dan bukti transfer dari mobile banking Farhad ke rekening Ai pun sudah disertakan.


"Iya, setelah ditelusuri kan pembayaran itu tak cuma dari Farhad dan kau aja. Si Setiawan juga ikut membayar, senilai lima juta."


Pemikiran Givan mengerucut. Ada kemungkinan bahwa yang membayar, adalah yang memakai tubuh Ai. Ia langsung berpikir, anak yang dikandung Ai adalah kemungkinan anak Farhad atau anak Setiawan. Karena tiga orang yang mabuk berat tersebut, tidak mampu menegakkan kepalanya. Bisa diartikan, bahwa dua orang yang mabuk berat dan tidak membayar tersebut adalah orang yang tidak memakai Ai.


"Eummm...." Ai menunduk bingung.


"Iya, nominal transfer dari Farhad itu enam puluh juta. Nominal dari Setiawan itu, senilai lima puluh juta. Farhad juga bilang, kalau enam puluh juta itu, lima puluh jutanya dari A Givan." Ai memandang Givan sekilas.


"Kalau terbukti Givan bukan ayah dari anak kau itu, Givan bebas dari tanggung jawab ya? Kan ada akad juga di sini?" Kenandra selalu bisa membuat Ai diam menunduk.


"Iya kan, Ai?" Kenandra menekankan menunggu jawaban.


"Kan A Givan yang buat aku begini, Bang. A Givan secara tak langsung buat aku hamil dan dijamah beberapa laki-laki." Ai tetap memaksa hal itu.


"Loh, kan ada pembayaran. Kok Givan disalahkan lagi?" Kenandra tidak habis pikir di sini. "Harusnya kau minta tanggung jawab juga dong ke laki-laki yang lain? Kan lebih tepatnya, mereka yang hamili kau. Biasanya kau hamil sih, itu kan karena kesalahan kau sendiri."


Aku menghela napasnya. Kepalanya kembali cenut-cenut, dengan perutnya yang dilanda rasa kurang nyaman. Ai merasa tubuhnya tidak baik-baik saja.


Ia menyerah di sini. Membuat dirinya hamil dan datang ke sini ternyata malah membuatnya terjebak dalam masalah. Ia sudah pasrah, ia sekarang memilih untuk menerima saja.


"Ya udah, terserah aja." Ai menjawab lirih.

__ADS_1


"Kok terserah?" Kenandra kini bingung karena Ai tiba-tiba memasrahkan dirinya.


"Mau dapat keadilan atau gak, udah terserah aja. Terserah kalian, aku pasrah." Ai murung.


"Loh?"


Kini, mereka semua serentak menggaruk kepalanya. Mereka bingung, karena sudah dibuat repot sedemikian rupa. Namun, akhirnya Ai pasrah pada keadaan.


"Pak, Saya berikan kompensasi aja. Saya minta semuanya dibereskan aja, nanti biar biaya Saya urus di belakang." Kenandra terang-terangan mengatakan hal tersebut.


"Tak bisa, Pak Dokter. Udah kena hukum, jadi yang kemarin ya harus dijalankan dulu proses hukumannya. Kalau yang ini, bisalah tak naik ke kasus. Tapi untuk khamar dan khalwat ini, kena hukuman juga. Kira-kira, khamar empat puluh cambuk, empat ratus gram emas dan empat puluh Minggu masa kurung, karena mereka kan terbukti meminum khamar tidak hanya satu kali saja. Lalu, untuk khalwat hukuman paling umumnya adalah sepuluh cambuk, seratus gram emas murni dan sepuluh bulan masa tahan." Salah satu petugas yang tengah berbicara tersebut menoleh mengarah pada Ai. "Kalau tak paham tentang khalwat. Khalwat adalah perbuatan di dalam tempat tertutup dan tersembunyi, antara dua orang berlainan jenis, yang bukan mahram dan tanpa ikatan perkawinan, dengan kerelaan kedua belah pihak yang mengarah pada perbuatan zina. Nah, itu kan dilakukan Bang Givan dan Dek Ai. Tidak melakukan kan? Tadi sudah di ruangan. Yang Dek Ai berbuat, biar tidak dihitung di sini. Karena, tidak menyangkut Bang Givan dan juga tidak dilakukan di sini dan Dek Ai juga bukan orang sini. Kita buat clear masalah yang itulah. Nanti, Dek Ai dihitung tentang fitnah, khamar dan khalwat saja. Bang Givan dihitung khamar dan khalwat saja. Untuk uang jaminan anak Dek Ai, Dek Ai sendiri mintanya gimana? Dek Canda ikhlas memberi lima juta sebulan, untuk kebutuhan anak Dek Ai, karena secara tidak langsung sudah membuat Dek Ai mengandung. Sudah, begitu saja. Bagaimana? Apa ada yang tidak berkenan? Kurang setuju?" Putusan yang langsung ditegaskan di sini.


"Penentuan hukumannya kapan itu, Pak?" tanya Adi, pada petugas yang menjabarkan tadi.


Adi mengangguk tanda mengerti.


"Apa Saya tidak bisa hanya melakukan hukuman fitnah saja? Tidak dengan khamar dan khalwat?" Ai ingin dirinya tidak terlalu dibebani.


"Bagaimana ya?" Petugas memandang keluarga Adi's Bird.


"Sebenarnya sih bisa, kalau Bang Givan tidak berkehendak menaikan kasusnya. Tapi, Bang Givan memaksa di sini. Masih di sini, Saya rasa bisa tutupi kasus itu. Untuk para petugas hukum, Saya mohon maklumnya aja ya?" Kepala desa memasang senyum ramah.


Petugas saling memandang, sampai akhirnya mereka mengangguk.


"Biar Saya dapat hukuman yang setimpal, Keuchik." Givan sudah tetap pada pendiriannya.

__ADS_1


"Aa enak cuma dapat hukuman ini aja. Pikirin bagaimana aku, A? Aku cambuk udah sampai seratus dua puluh. Belum lagi ditambahkan dengan hal-hal lain. Posisi habis nifas, apa aku bakal bisa bernapas nanti?" Ai terlihat marah pada Givan.


"Nanti dapat pengurangan, kalau Dek Ai bisa nunjukin bukti-bukti bahwa Dek Ai tidak benar melakukan hal itu. Atau, melakukan tapi tidak mencangkup semua hal yang dilarang. Bisa dikurangi nanti." Penjelasan tersebut datang dari petugas hukum lagi.


"Saya gak punya bukti, Pak. Saya nyerah, terserah aja. Yang penting, jangan terlalu memberatkan Saya." Ai sudah lelah dengan tekanan mental dan pikiran ini. Ia dibuat setengah gila, dengan semua hal yang berhubungan dengan kebodohannya ini. Ia benar-benar menyesal, karena sudah membawa dirinya ke sini.


"Bagaimana, Bang Givan?" Petugas hukum kembali menyerahkan semuanya pada Givan.


Givan terlihat tengah berpikir. "Memang tidak bisa kah, kalau udah diproses cuma aku?"


"Ya tak bisa, Bang Givan. Bang Givan melakukannya dengan siapa, ya orang tersebut kena juga. Lain jika kejadiannya pemerkosaan, Bang Givan pelaku, Bang Givan kena, tidak dengan Dek Ai yang sebagai korban," jelas petugas yang menanyakan tadi.


"Gimana ya?" Givan memandang kedua orang tuanya dan melirik istrinya.


Ia bingung di sini, satu sisi ia ingin mendapatkan efek jera untuk dirinya sendiri. Sisi lain, ia merasa patut dihukum karena sudah membuat keadaan menjadi seperti ini.


"Apa bisa naik masalah lain, biar Givan tetap dihukum? Penipuan, atau bagaimana? Karena kan, Givan membiarkan Ai diserbu laki-laki lain. Tidak sesuai perjanjian akad begitu." Kenandra mengajukan usulannya.


"Yaaa, nanti malah Dek Ai kena hukuman lain. Prositusi, menjajakan diri," sahut kepala desa.


Benar juga. Mereka semua saling memandang dengan rasa bingung. Mediasi ini, cukup menyelesaikan satu masalah. Namun, persiapan hukum yang sudah disusun matang terasa begitu percuma karena Ai malah pasrah pada keadaan. Belum lagi, karena Ai kini meminta agar proses itu tidak dilanjutkan. Karena, ia merasa cukup diberatkan dengan hukuman yang akan diberikan nanti.


Kini, ia malah berpikir untuk meninggalkan kampung itu saja.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2