Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM167. Menawarkan rumah pusaka


__ADS_3

"B***** kau lebih besar dari aku, Bodoh. Makanya anak-anak kau dominan kau semua." Givan menoleh ke belakang dan meraup wajah istrinya yang sudah basah karena air mata itu.


"Mana ada!" Canda semakin keras menangis.


Mereka sudah seperti anak kecil yang bertengkar heboh.


"Halah! Nyatanya baru berapa hentakan, kau udah main hujan-hujanan aja." Givan menarik bukti nyata yang ia pahami.


"Kan aku keenakan, Mas!" Canda yang mulai ngotot di sini.


"Ya iya! Karena aku lebih dominan ngendaliin permainan, jadi b***** kau tak begitu nampak menggebu-gebu. Nyatanya pun, baru diendus lehernya aja udah berkabut aja itu wajah. Gayanya kau sok tak menikmati sapuan aku, sombong betul kau jadi perempuan. Besok-besok, aku tak mau ajakin. Kau mau, kau minta. Aku mau jadi mahal lepas ini, kesal aku kau nyepelehin aku terus." Gerutunya bercampur dengan emosinya.


Canda memeluk perut suaminya yang duduk di tepian ranjang dengan memunggunginya itu. "Tak mau! Mas aja yang minta duluan, jangan aku." Canda malah teringat ketika ia mengemis kebutuhannya dari Nalendra.


"Tak! Kapok aku. Kau tak minta, aku pun tak bakal ngemis. Bisa ng***k sendiri aku." Givan bangkit dan berjalan ke arah sofa.


"Mas jangan pindah, aku mau tidur." Canda seperti anak kecil, yang memohon ibunya untuk tidak keluar dari kamarnya.


Ia bangkit dan mengejar Givan. Ia menarik-narik tubuh tinggi berisi Givan, untuk kembali ke ranjang mereka.


Ingin melanjutkan marahnya pun, nyatanya Givan malah tertawa geli. Ia melihat Canda seperti itu, justru membuatnya merasa bahwa Canda benar-benar membutuhkannya.


"Aku tak mau loh, Canda." Givan berusaha menahan tawanya dan menahan tubuhnya agar tidak bergeser.


"Tak mau, Mas. Mas jangan pindah." Canda sesenggukan dan bermandikan air matanya. Ia begitu payah menangis, dengan menarik-narik lengan suaminya.


"Janji dulu." Givan ingin pertengkaran mereka berakhir, meski ia sempat mengatakan hal-hal yang tidak baik tadi.


"Janji apa?" Tangisnya terjeda, ia mendongak memandang wajah suaminya.


"Janji tak begini-begini lagi. Tak suka aku ribut-ribut, kau tak pernah mau ngertiin aku. Padahal aku udah nurutin kau, aku udah mah dengan syarat kau." Givan merasa masalahnya ada pada istrinya.


"Iya aku janji, aku minta maaf juga. Ayo tidur, jangan pindah tempat. Tidur sama aku, peluk aku, temenin aku tidur. Mas jangan pergi, aku tak mau tidur sendirian." Canda menangis berbicara, dengan mendekap tubuh suaminya.

__ADS_1


Givan menyambut pelukan istrinya dengan kehangatan. "Aku pun minta maaf ya? Kasian betul istriku sampai mandi air mata begini." Givan mengusapi air mata istrinya, kemudian memberikan kecupan manis di dahi istrinya.


"Aku cinta betul sama Mas, Mas jangan suka ngambek-ngambek begini. Aku sedih, aku tak bisa lihat Mas begini." Canda belum mampu menyelesaikan tangisnya.


"Iya, Sayang. Aku tau itu. Jadilah penurut, jadilah yang terbaik, senangkan hati aku. Jangan buat aku tersinggung terus, aku tak suka kau mikirin orang lain masanya kita lagi menikmati waktu kita. Kau mau kah aku benar-benar tak akan minta hal itu ke kau, sebelum kau minta ke aku?" Givan menggunakan suara lembutnya lagi untuk menenangkan istrinya.


Canda menggeleng. "Ganti-gantian aja, jangan aku yang minta terus."


Givan terkekeh renyah, kemudian mengambil kecupan manis di bibir istrinya. "Yuk tidur." Ia merangkul istrinya ke ranjang kembali.


Pertengkaran mereka selalu seperti ini, hanya beberapa menit tapi begitu menguras emosi. Keributan itu pun, berakhir dengan hal manis dan kasih sayang yang semakin kuat.


~


"Van, sini dulu." Adi memanggil anak sulungnya, yang tengah menyuapi Cani di sore hari ini.


Sudah dua minggu lamanya, Awang dan Nafisah mengurus Ai di masa pemulihannya. Beberapa kali Ai dirujuk kembali ke rumah sakit setempat, karena Ai mengalami penurunan kesehatan.


"Bentar, Pah." Givan celingukan mencari seseorang yang mau meneruskan tugasnya untuk menyuapi anaknya. Ia sadar dirinya tidak mampu mengobrol dan fokus pada anaknya.


"Papa tuh, Dek. Panggil yang kuat." Givan menunjuk Ghifar, untuk mengalihkan perhatian anaknya dari kakeknya.


Sejak tadi, Cani merengek meminta untuk datang ke kakeknya.


"Papa...," panggil Cani kencang.


"Eummm." Ghifar berjalan menghampiri, karena arah rumahnya tepat di depan Cani berdiri.


"Abis beli apa, Far?" tanya Givan kemudian.


"Beli rokok, buat my destiny. Ada apa?" Ghifar memperhatikan kakaknya yang membawa semangkuk makanan.


"Bawa Cani, sama suapin. Aku dipanggil papah, Canda pagi mandi sholat Ashar. Pengasuh Cani lagi disuruh Canda beli sesuatu ke toko besar." Givan langsung memberikan semangkuk makanan tersebut pada Ghifar.

__ADS_1


"Hm, hm, hm." Ghifar hanya mampu geleng-geleng kepala, saat Givan langsung pergi dari hadapannya.


"Ke kak Ra yuk?" Ghifar langsung mengajak Cani ke arah rumahnya.


"Mau sama kakek, Pa." Cani menunjuk kakeknya yang duduk di bawah pohon mangga rumahnya sendiri.


"Nanti ya? Temenin Papa dulu." Ghifar berhasil membawa Cani pergi bersamanya.


"Gimana, Pah?" Givan sudah sampai dan langsung duduk di samping ayah sambungnya.


"Awang mau jual rumah orang tuanya, untuk biaya bayar denda Ai. Hukum cambuk Ai mau ditukar sama denda aja katanya."


Givan langsung teringat akan bangunan tua yang pernah ia datangi. "Aku tak mau beli, Pah." Givan langsung menolak. Ia tidak ingin kembali teringat dengan kejadian yang sudah ia maafkan dan ikhlaskan itu.


"Tuh, gimana?" Adi garuk-garuk kepala.


"Lagian, mana cukup lah. Denda Ai besar loh, Pah. Rumahnya paling berapa puluh juta aja itu." Karena Givan tahu sendiri berapa banyak biaya denda yang harus ia bayarkan kemarin.


"Ya sama jual isi rumahnya aja." Adi memperhatikan wajah anaknya dari samping.


"Udahlah! Kasih tau aja, tak usah jual-jual gitu. Hukum cambuk tak sakit kok, cuma ngagetin aja. Rasa panasnya kalau udah selesai dicambuknya, bukan pas lagi dicambuknya." Givan membagi rasa yang ia nikmati beberapa waktu yang lalu.


"Ck, namanya kakak sayang adiknya. Ya gimana coba, Van?" Adi meluruskan pandangannya lagi pada bunga yang mekar di waktu Ashar saja itu.


"Minta Canda aja gitu, berapa sih berapa. Untuk ringanin hukumannya aja, jangan untuk cover semuanya. Awang suruh ngomong ke Canda, jangan lewat aku. Kalau lewat aku, Canda berpikir nanti aku yang gimana-gimana ke Ai." Givan mencari keamanan untuk dirinya sendiri.


Givan menoleh ke arah ayah sambungnya. "Papah biasanya kasian, biasanya kasih. Kalau istri aku bukan Canda pun, aku bakal kasih-kasih aja. Istri aku Canda, aku tak bilang ya dia doanya udah beda nanti. Dia kemarin aja jujur, dia doakan aku tak selamat kalau tujuan aku pergi itu untuk zina dengan perempuan lain." Hal itu terjadi, ketika malam hari Givan pergi izin untuk mengurus beberapa urusan pekerjaannya.


"Nah itu. Gavin ngamuk besar, dia tak mau Papah sama mamah keluar uang banyak untuk Ai itu. Dia bilangnya, kau aja tak peduli. Ngapain Papah sama mamah harus peduli katanya." Adi sadar, akan salah satu anaknya itu yang memiliki sifat lebih perhitungan lebih dari dirinya.


Bahkan, ketika Adi mengatakan hutang pada anaknya itu. Gavin tidak segan-segan untuk menagihnya, sekalipun pada orang tuanya sendiri.


"Mana sih Awangnya? Biar aku ngomong sama dia." Givan turun dari bangku panjang itu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2