Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM6. Keraguan


__ADS_3

"Makasih untuk semalam ya, A?" ucap Ai, yang berpenampilan yang cukup lesu. Lingkar mata hitam, dengan tubuh lelahnya begitu terlihat jelas.


Canda sudah tidak bisa menguasai dirinya. Ia langsung berasumsi, bahwa suaminya membohonginya. Hentakan langkah kuat, dengan kecepatan kaki yang berbalik ke arah lift, cukup menjelaskan sikap marah Canda kali ini.


"Canda...!" panggil Givan, ia mencoba meraih tangan istrinya yang sudah lima langkah di depannya.


"A...." Ai malah mencekal tangan Givan.


Givan menoleh cepat, dengan menghempaskan tangannya kasar. "A! A! A! Niat betul ya kau?!" Givan menunjuk wajah ayu Ai.


"Aku beristri! Kau pahami itu!" gertak Givan cepat.


Sejurus kemudian, ia langsung berlari mengejar istrinya. Sesulit ini ia mempertahankan rumah tangga dengan istrinya, bertahun-tahun ia mencoba bersabar beradaptasi dengan watak istrinya. Ia tidak mau, kehadiran wanita ini membuat rumah tangganya berakhir di pengadilan agama.


"Canda...." Tangannya terulur mencoba menggapai pundak ringkih istrinya.


"Canda Pagi! Denger dulu!" Givan terbiasa meninggikan suaranya.


Bentakan, adalah identitas dirinya.


Canda terus memencet tombol lift, yang tengah berjalan tersebut. Ia ingin melarikan diri lebih dulu, sebelum suaminya mencekalnya.


"Canda!" Akhirnya, Givan bisa membelenggu Canda dalam satu tarikan.


"Pulangin aku!" Canda memukuli dada suaminya.


Givan sekuat tenaga menahan dua tangan istrinya yang terus bergerak tersebut. "Tak akan!" tegas kepala keluarga itu.


Dengan keadaan istrinya yang kurang kondusif seperti ini. Akhirnya, Givan memilih untuk kembali ke kamar hotel.


Pikiran Canda semakin semrawut. Ia teringat akan kepanikan suaminya semalam, ia mulai berpikir bahwa Givan kalap mencarinya, karena khawatir perbuatannya di luar kamar dimata-matai oleh Canda.


Aktivitas fisik hangat dan singkat, kini menjadi prasangka terburuk Canda. Ia seperti dikelilingi oleh kecurigaannya sendiri.


"Setiap kali kita bahas Ai, Mas selalu berucap bahwa Mas sakit hati sama dia. Tapi hari ini, aku percaya dengan tebakan aku sendiri, kalau memang hati Mas belum selesai sama dia," tuduhannya penuh marah.


Menurut Givan, menjelaskan pun percuma. Karena keadaan istrinya akan menganggap dirinya selalu salah. Lebih baik, ia memutar otak untuk menenangkan istrinya lebih dulu. Karena menurutnya, itu adalah langkah yang paling benar.


Ternyata hal itu salah untuk Canda. Dengan diamnya suaminya, berarti suaminya mengiyakan hal tersebut. Secara tidak langsung, Givan membenarkan ucapan Ai.

__ADS_1


"Mas, kalau udah tak sanggup komitmen sama aku. Kalau Mas pengen ngejar dia lagi, lebih baik kita selesai aja. Kita cerai." Canda sesenggukan dalam pelukan suaminya.


Givan hanya menghela nafasnya. Ia bingung dengan istrinya, yang mudah sekali meminta cerai darinya. Bahkan dulu saat perceraian dengan istrinya terjadi, Candalah yang memprosesnya. Givan tidak pernah sama sekali, ingin atau hendak menceraikan Canda.


"Kita punya anak lagi aja." Pendapatannya, daripada bercerai. Lebih baik dan lebih bagus, Canda hamil anaknya lagi.


"Apa Mas pengen anak juga dari Ai, makanya minta begitu sama aku?" Canda menatap nanar suaminya.


Ketidakpercayaan dirinya pada suaminya semakin menjadi.


Givan mengatur nafasnya, ia mencoba melebarkan sayap kesabarannya. Ia tidak boleh terpancing emosi, karena akan berakibat buruk pada keharmonisan rumah tangganya sendiri.


"Daripada cerai, lebih baik aku hamili kau lagi." Givan membingkai wajah istrinya, kemudian mengusap air deras yang membuat mata istrinya terlihat bengkak.


"Jangan negatif thinking terus, nanti sakit sendiri. Ucapan suaminya tak dipercaya, tapi lebih percaya sama perkataan orang yang pengen kita berjarak." Secara tidak langsung, Givan mengatakan bahwa ucapan Ai itu tidaklah benar.


Namun, apakah sampai di otak istrinya yang terkenal polos dan lugu?


"Memang Mas ngomong apa? Bahkan Mas tak ngomong apapun." Mata polos di usia tiga puluh empat tahun tersebut membuat kesabaran Givan habis.


"Astaghfirullah." Givan memilih untuk menyandarkan kepalanya pada pundak mungil istrinya.


"Sana lah!" Canda merasa risih, dengan suaminya yang bagaikan anak kucing tersebut.


"Kok gitu sih, Sayang?" Givan merasa pikiran istrinya mulai teralihkan.


Ia memasang wajah memelas, yang begitu menggemaskan. Di usianya yang ketiga puluh sembilan, ia masih terlihat bugar dan prima. Apalagi dengan ekonomi yang berkecukupan, keriput di wajahnya bahkan sungkan untuk datang.


"Sana sama Ai aja!" Canda berlari ke arah ranjang.


Givan terkekeh kecil, istrinya tidak kalah menggemaskannya seperti anak-anaknya. Ia bertekad untuk membuat istrinya tidak lagi memiliki keraguan padanya, dengan Ai yang jera untuk menyapanya.


Ya, Givan berpikir untuk memberi pelajaran yang lebih membuat kapok Ai. Dengan langkah selanjutnya ini, Givan ingin Ai berpikir bahwa dirinya tidak seperti yang ia kira.


Karena, Givan merasa bahwa Ai berpikir bahwa dirinya masih mencintai dan mengejar perempuan tersebut. Pelajaran kecil yang membuat suara Ai habis, tetap tak menimbulkan prasangka buruk pada Ai. Ai malah berpikir, bahwa sang mantan kekasih itu benar ingin memiliki banyak waktu dengannya.


"Sama Cendol aja deh." Givan bergerak mendekati istrinya.


"Aku bukan istri Mas lagi, kita proses cerai aja." Canda memeluk sebuah bantal dengan berbaring miring.

__ADS_1


"Masa? Yakin? Aku sih, No! Kamu yes ya?" Givan menanggapi dengan candaan.


Ia memeluk istrinya dari belakang, di atas tempat tidur tersebut. Perut laparnya ia tahan, sampai misi membuat mood istrinya kembali baik tercapai.


"Tau ah!" Canda memberi cubitan di tangan suaminya yang melingkar di perutnya.


"Apa ah?" Givan menyibakkan bagian belakang hijab istrinya, kemudian meniup bagian tengkuk istrinya.


Ini semua, dalam misi mengguraui istrinya. Bukan karena dirinya ingin memenuhi syahwatnya lagi.


"Mas!!!" Canda mencoba melepaskan pelukan suaminya, karena ia malah tergoda dengan tiuapan di tengkuknya itu.


"Apa, Canda?" Givan membalikkan tubuh istrinya begitu mudah.


Ia menggunakan nada rendahnya, sampai bass dalam jakunnya membuat suaranya terdengar seksi. Canda menangkap hal lain dari suaminya, yaitu keminatan suaminya yang mulai tinggi kembali.


"Tak mau ah! Sana!" Canda meraup wajah suaminya.


Antara kesal bercampur geli. Givan memilih tertawa renyah, melihat wajah istrinya yang bersemu merah.


"Salting nih ceritanya? Hmm, hatimu masih terYayah-Yayah rupanya." Givan mencium pipi kanan istrinya cukup lama.


Yayah adalah panggilan untuknya dari anak-anaknya.


"Tapi sayang, Mas tak terBiyung-Biyung." Canda manyun saja.


Masalah awal yang membuatnya ragu pada suaminya mulai redam. Waktu kebersamaan seperti ini, nyatanya lebih bisa membuat keadaan hatinya nyaman daripada penjelasan suaminya, yang mungkin akan membuat air matanya banjir memenuhi bantal hotel tersebut.


Tapi, tidak disangka juga. Lubuk hatinya yang paling dalam, masih berprasangka bahwa suaminya masih begitu mencintai Ai Diah. Ia merasa miris pada dirinya sendiri, banyak anak yang ia beri ternyata tak mampu mendapatkan rasa cinta dari suaminya.


Namun, apakah benar seperti itu?


Atau memang, hanya perasaan sensitif seorang perempuan, ketika melihat mantan pacar suami saja? Ia merasa kalah dari mantan pacar suaminya, yang tidak memberi banyak kenangan, tapi mewarnai keindahan yang abadi pada hati suaminya.


Ia semakin miris, karena suaminya sampai saat ini tidak memberinya kalimat penenang atau penjelasan yang pasti akan isi hati suaminya. Suaminya seolah merahasiakan tentang mantannya yang bersemayam di hatinya tersebut.


Namun menurut Givan, menjelaskan pun seolah percuma. Karena Canda, tidak yakin dan tidak percaya dengan pengakuan dari mulutnya.


Suami istri tersebut, terhalang oleh tembok keraguan. Givan membutuhkan kepercayaan dari istrinya, dengan Canda yang membutuhkan keyakinan dari suaminya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2