
"Ya ampun, anak Cendol." Givan kewalahan, kala anaknya mengamuk dengan tangis kecilnya yang lepas. Terdengar begitu pilu, Givan merasa amat bersalah telah membuat anak tersebut menangis.
"Kalau rewel, anak Cendol. Kalau tak rewel, disebutnya anak ayah." Canda hanya geleng-geleng kepala, melihat kericuhan yang ada.
Givan tidak meladeni ucapan Canda. "Adek mau apa nih? ASI Biyung tak mau, sufor tak mau. Kenyang kah, apa lapar?" Givan membenahi caranya untuk menggendong anaknya.
"Jalan-jalan itu, Van. Sana kau jalan ke ujung, nanti balik lagi. Sambil ayun-ayun dia pelan, itu tuh ngantuk tuh." Sebelumnya pun, Adinda sudah pernah melihat kejadian serupa.
"Eummm, ngantuk aja ngamuk. Diayun gitu, Nak? Bentar-bentar, Ayah pakai kain gendong dulu." Meskipun anaknya hanya dua koma tiga kilogram, tapi cukup membuat kebas tangannya jika terlalu lama menggendongnya.
Ghifar hanya tersenyum, melihat Givan yang direpotkan anaknya sendiri. Kemarin dirinya yang selalu repot dengan bayi Canda, kini peran tersebut diambil alih oleh suaminya Canda.
Ghifar tidak merasa dimanfaatkan sama sekali. Ia paham, bahwa kakaknya cukup kacau karena Canda tidak kunjung sadar. Ghifar pun paham, Canda pun belum pulih dan butuh pertolongan untuk mengurus bayinya.
"Kau tak kasih tau, kalau dia ngantuk," tegur Givan, kala melewati Ghifar yang tengah bersantai dengan kopi panas pesanannya.
"Karena aku pun tak tau caranya buat anak itu tidur. Kau udah bolak-balik pun, dia tetap bakal nangis. Coba aja, kau putari rumah sakit ini tiga kali pun, dia tetap merengek aja." Ghifar tahu, jika mata anak itu sepenuhnya belum terpejam. Maka, anak itu akan terus menangis sampai benar-benar kelelahan dan tertidur. Perawat di kamar bayi pun, melaporkan hal yang serupa.
"Ya betul-betul kek Givan kecil itu. Kebiasaan kek gitu, benar-benar lepas sampai usia dua tahun setengah. Sebelum itu, dia hampir tiap hari begadang. Terus, kalau siang hari pasti banyakan tidur. Percaya tak, dari kecil sampai usia dua tahun setengah itu, dia tidur siang tiga kali sehari. Meski tak dikelonin pun, dia pulas. Pagi jam sembilan, dia tidur. Bangun jam sebelas, malam siang mainan. Jam satu dia tidur, sampai jam tigaan. Nanti abis mandi Ashar, dia tidur lagi. Setelah Maghrib baru bangun dia. Udah tuh seger, aktif dia mulutnya, sampai jam dua atau jam tiga dini hari tuh, baru lah tidur malam dia. Apalagi pas disapih ASI, malam jadi siang, siang jadi malam. Sampai Mamah tuh kurus betul badannya, cuma empat puluh kilo aja, karena tiap hari begadang." Adinda pun sampai sekarang merasa, bahwa Givan adalah satu-satunya anak yang paling menguras energi dan emosinya. Tapi siapa sangka, anak yang paling bandel, justru ia paling sukses.
__ADS_1
"Dari kecil kau nyusahin, Bang," sinis Ghifar, dengan melihat kakaknya yang berkeliling kamar.
"Dari pada kau, dari kecil ngerusuh terus. Ngintilin orang besar aja kau." Givan teringat ketika masa kecilnya tidak lagi bebas sejak Ghifar bisa berjalan.
"Nyatanya kau balik lagi ke aku, kalau aku jatuh." Ghifar pun ikut membahas tentang masa kecilnya.
"Ya kasian, Dodol! Kau nangis kencang betul! Satu RT dengar semua kalau kau jatuh terus nangis." Givan membocorkan kekesalannya sejak dulu.
"Memang Ghifar begitu, Mas?" tanya Canda kemudian.
Givan melirik ke istrinya. "He'em, nakal tapi cengeng. Waktu kecil tangannya ringan betul, gaplok-gaplok aja. Tapi setelah digigit tokek, jadi ramah ya tangan kau, Far?" Givan terkekeh dengan memperhatikan adiknya.
"Terus gimana akhirnya tokeknya, Far? Kalau tokek kan gigit tuh tak lepas-lepas. Lepasnya, katanya kalau petir besar aja. Bisa-bisanya sih mainan tokek?" Canda membenahi pakaian mereka yang baru selesai dilaundry, dengan menyimak cerita Ghifar.
"Tokeknya diluruskan di jalan rata, sama tangan Ghifarnya juga. Terus lepas gigitan tokeknya," terang Givan kemudian.
"Anak laki-laki itu badeg, Canda. Mana Mamah kebanyakan anaknya laki-laki. Jangankan tokek, kadal yang kecil panjang aja suka dibawa pulang ke rumah. Mainan bunglong, berburu iguana. Tokek ya banyak, udah kek peternakan tokek. Minus tak cari buaya aja mereka." Adinda mengingat kekesalannya pada anak-anaknya yang sering membawa binatang ke dalam rumah.
"Kok Chandra sama Zio tak ya, Mah? Ikan aja, mereka tak pernah nyari di irigasi. Pengen ikan, ya beli. Pada beli ikan ****** dua ribuan, ikan hias kecil lima ribu tiga. Tak pernah aku cari mereka, terus ketemu mereka lagi jaring ikan pakai besek bekas tahlilan. Mereka ada di toko ikan, di tempat sewa PS, lagi main bola di RT sebelah paling jauh." Canda mengusap-usap dagunya, mengingat kembali kenangan saat anak laki-lakinya tengah bandel-bandelnya.
__ADS_1
"Padahal dari dulu pun ada PS, tapi mereka tak pernah tertarik. Berapa kali coba, mereka masuk ke ladang kopi dan pulang Maghrib. Udah gelap aja pikiran Mamah, ini anak-anak hilang ke mana. Alhamdulillahnya sih bisa pulang sendiri, meski bikin was-was orang tua. Mana Giska ikutan lagi. Bilangnya main di lapangan depan, lapangan yang sekarang dibuat rumah kalian tuh. Eh tak taunya, di lapangannya tak ada." Adinda geleng-geleng kepala.
"Tak ada yang bandel-bandel kek dulu, Mah. Sekarang sih, pada bandel main HP. Disuruh udah main HP-nya, malah jadi diemin orang tua, harusnya sih Kaf dipondokan juga kek Kal." Ghifar teringat kebiasaan anak laki-lakinya yang anteng di dalam rumah.
"Kenapa sih Kaf dipondokan lebih dini? Udah setahun kan dia berarti di pesantren?" Canda selalu bertanya tentang itu, tapi Ghifar tak membukanya.
"Minta lepas infus aja, Canda. Kau udah tak apa, biar enak aktivitasnya. Ini kan kau cuma lagi observasi aja, besok pagi boleh pulang kalau kau terus membaik." Adinda membantu menantunya untuk membenahi pakaian mereka, kemudian memasukan ke dalam koper.
"Mas, tolong panggilkan perawatnya." Givan langsung mengangguk dan berjalan ke luar ruangan dengan bayinya yang berada di dekapannya. Benar menurut Ghifar, bayi itu terus merengek sampai benar-benar kelelahan menangis.
"Kal dipondokan lebih dini, karena dia mau ambil kedokteran nantinya. Kalau dia SMA masih di pondok pesantren, takutnya dia tak bisa ngejar materi umumnya. Pendidikan MA sama SMA kan beda, jadi dia nanti keluar pondok itu ya pas masuk SMA. Nanti di perguruan tingginya, dia tak susah menyesuaikan pendidikan umumnya." Ghifar membuka alasan tersebut.
"Oh, ya ampun. Tapi betul juga sih ya? Anak-anak aku tak ada yang mau jadi dokter, mereka pada mau jadi kek ayahnya aja. Lebih-lebih Key, dia malah nanya begini, memang aku harus kerja besar nanti? Kan kocak betul pertanyaannya, kalau ditanya besarnya mau jadi apa. Atau, kalau ditanya cita-citanya apa. Dia cuma mau jadi anak ayah sama Biyung aja udah, begitu katanya. Tak muluk-muluk kehidupannya, makanya mas Givan berpikir untuk nikahin Key begitu dia dapat gelar sarjana. Nanti biar suami Key suruh urus usaha ibunya Key yang kerjasama bareng mas Givan, dengan hak kuasa dari Key, jadi suaminya tak mungkin berani jual-jualin aset."
Adinda dan Ghifar manggut-manggut. Mereka menyimak cerita Canda dengan perlahan.
"Terus, rencana kau tentang anak laki-laki kau gimana? Berat jadi Chandra ini loh, kalau Zio tak terlampau berat. Karena Chandra ini, dia wali dari adik-adiknya. Bukan cuma pas kalian tak ada, tapi setelah kalian tiada pun Chandra tetap bakal jadi wali pengganti orang tua adik perempuannya. Bilamana adik perempuannya tak diperlakukan dengan baik sama suaminya, terus suaminya udah ditegur tapi masih tak ada perubahan, Chandra yang berhak ambil adik perempuannya dari suaminya. Kedudukan wali Chandra ke adik-adiknya, tak akan pernah putus. Ngerinya lagi, adik-adiknya perempuan semua. Coba nanti gimana dia di cerita baru?" Seketika, Ghifar membuat Canda memikirkan hal itu.
...****************...
__ADS_1