Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM56. Keith Malik


__ADS_3

Dalam kerumitan keputusan musyawarah untuk diselesaikan di desa tersebut, nyatanya di Kota Jepara tidak kalah rumitnya. Kenandra terus memutar ulang CCTV, yang terpasang di depan pintu karaoke room tersebut. Sesulit ini, ia mendapatkan copyan rekaman CCTV tersebut. Namun, nyatanya membuat dirinya paham akan rekaman itu lebih sulit.


Diawali dengan masuknya Givan, berakhir dengan Givan yang keluar lebih cepat juga dengan ponsel genggam yang selalu menempel di telinganya. Sampai selang dua jam lamanya, barulah tiga orang laki-laki keluar dengan saling membantu untuk bisa berjalan, lalu dua orang laki-laki keluar bergantian dengan jeda waktu sekitar lima belas menit. Ia mengingat ulang cerita Givan, yang mengatakan bahwa temannya yang bernama Farhad yang fotonya ia kantongi, keluar setelah Givan. Tapi nyatanya, orang tersebut keluar paling terakhir.


Entah Givan yang salah mendapat informasi, atau Farhad yang berdusta pada Givan. Kenandra masih menimbang-nimbang, akan kesimpulan yang ia ambil. Yang jelas, ia sudah mengantongi bukti CCTV tersebut.


Mungkin orang-orang berpikir, bahwa begitu mudah meminta izin untuk mengambil potongan CCTV. Nyatanya ia membuktikan sendiri, meminta potongan CCTV tersebut sampai memakan proses kurang lebih satu bulan. Belum lagi, ia setelah ini harus mencari manusia-manusia yang berada di dalam CCTV tersebut.


Siapa nama tiga laki-laki tersebut? Apa pekerjaan dan tempat tinggalnya?


Kenandra hanya mengantongi informasi tentang Farhad dan Setiawan saja. Sembari mengulik rekaman CCTV pun, ia mencari informasi tentang dua laki-laki tersebut.


Karena ia berpikir, bahwa dua laki-laki tersebut yang memungkinkan memakan Ai. Kondisi Setiawan dan Farhad yang mampu berjalan sendiri, menimbulkan pemikiran Kenandra bahwa dua orang tersebut tidak mabuk berat.


Tapi tetap saja, tiga laki-laki yang berjalan sempoyongan itu dicari identitasnya. Ia tidak mau ada kekeliruan, dalam menguak misteri drama Ai ini.


"Bang.... Aku ada undangan ke Singapore." Ria mendekati laki-laki fokus memperhatikan layar laptop tersebut.


Kenandra melirik sejenak penampilan Ria yang sudah rapi tersebut. Lalu, ia kembali memperhatikan pekerjaannya.


"Undangan apa? Sama siapa?" tanyanya datar.


"Pembukaan galeri karya lukis, sama Keith Malik."

__ADS_1


Mendengar nama laki-laki disebut, seketika Kenandra langsung menatap tajam wajah Ria. "Kau tanggung jawabku di sini ya, Ria! Jangan aneh-aneh deh. Sama Keith segala kau! Kau hamil, akulah yang ditarik." Kenandra si posesif itu, bahkan langsung membentak Ria.


Karena Ria sering kedapatan tidak ada di kamar inapnya saja, Kenandra sampai mengambil kamar twin bed. Masing-masing tempat tidur berukuran 100×200 cm, dengan dua tempat tidur yang disekat dengan sebuah meja nakas saja. Hal itu membantunya mengontrol Ria, meski sering kali dirinya yang malah tidak terkontrol.


"Aku tak mungkin hamil lah. Nikah aja belum."


Menurut Kenandra, terkadang Ria begitu positif untuk menilai seorang laki-laki. Memang kemarin-kemarin Keith tidak menyentuhnya, tapi siapa tahu saat nanti Keith memiliki setan merah yang lebih kuat dari sebelumnya.


"Ada Ai yang tak nikah bisa hamil. Menikah bukan patokan perempuan bisa hamil, karena tak menikah pun perempuan bisa hamil. Mungkin kemarin kau ke Singapore sama abang ipar kau, yang buat Keith jadi segan sama kau. Tapi pas nanti kau ke sana sendiri, Keith bakal merasa punya banyak kesempatan untuk memperdaya kau."


Namun, Ria malah mengibaskan tangannya.


"Halah, aku sekamar sama Abang aja buktinya tak hamil kok."


Contoh nyata itu ditarik, yang membuat Kenandra bingung untuk menasehati perempuan tersebut.


"Kemarin Abang sidang buat Bunga, aku tak permasalahkan Abang fokus apa tak ngurus masalah mbak Canda. Setiap orang punya urusan masing-masing dan berbeda, Bang." Ria menghembuskan napasnya perlahan, dengan berjalan ke arah ranjang.


Kakak iparnya pun tidak sampai seperti ini, tapi Kenandra sampai sebegitunya padanya. Ria hanya tidak paham saja, bahwa Kenandra khawatir disalahkan jika tidak bisa menjaganya dengan baik.


"Ya kan Abang bawa kau juga, Ria! Ke Cirebon bawa kau, sekalipun sidang buat Bunga juga bisa kontrol kau." Kerongkongannya sampai sudah begitu kering jika tengah adu mulut dengan Ria.


"Udah! Udah! Malas aku!" Ria menarik selimutnya kembali, untuk menutupi tubuhnya yang sudah berbalut pakaian rapi.

__ADS_1


Ia mengurungkan niatnya untuk pergi ke bandara dan menuju ke Singapore. Meski Kenandra bukan siapa-siapa, tapi ia merasa begitu takut untuk melanggar aturannya.


Ia termenung, ia mulai tidak bisa mengerti akan dirinya yang aslinya pembangkang. Tetapi, sekarang tidak berani membangkang terhadap Kenandra.


Ada apa dengan teman satu kamar, tapi lain ranjangnya itu?


"Canda, kau sama siapa misal aku harus dipenjara?" Givan sudah membayangkan dirinya dihakimi oleh aparat desa, lalu dibawa ke pihak berwajib.


"Ambil sel VVIP, Mas. Biar Mas bisa sambil mandiin anak aku."


Adinda mengatur napasnya beberapa kali. Jika dalam posisi serius lalu Canda melawak seperti ini, rasanya ia ingin memasak seorang Canda saja.


"Mau tak mau, kau harus mandiri dulu, Canda. Untungnya Mamah pandai ngomong, jadi sidang di desa bisa ditunda sampai minggu depan. Kita bisa ngobrol dulu, biar kita bisa mutusin untuk dibawa ke desa, atau kekeluargaan aja," timpal Adi dengan memperhatikan menantunya tersebut.


Sebenarnya, yang Canda takutkan adalah ketika ingin tidur malam tanpa teman tidur. Ia takut ketika dirinya masa penyembuhan pasca operasi, sedangkan tidak ada yang mengurus anaknya. Ada ibunya, ada ibu mertuanya, tapi Canda lebih nyaman anaknya diurus suaminya. Karena sekalipun Givan berisik, tapi ia tidak banyak mengatur Canda. Canda merasa bebas, jika di rumahnya hanya ada suaminya yang mengurus anaknya.


"Coba kita telpon bang Ken, Pah. Kita obrolin ini baiknya gimana kan? Udah ada kemajuan belum? Karena nunggu tes DNA pun agak lama nih, masih bulan depan, baru aku bisa bawa Ai ke rumah sakit yang di kota besar. Sedangkan, identitas lima laki-laki itu masih belum dikantongi, apalagi pengakuan mereka. Takutnya, mereka udah banyak informasi, sedangkan kita milih jalur desa. Sayang kan, kalau usaha mereka di sana sia-sia aja."


Mereka semua setuju dengan penuturan Givan. Jika memang harus dengan proses hukum, ini tetap harus dibicarakan agar posisi Givan juga kuat. Pikir mereka, agar hukumannya tidak memberatkan Givan. Bukan karena sayang pada Givan, tapi mereka kasihan dengan Canda.


Canda terlihat begitu membutuhkan suaminya, meski terkadang rasa kesalnya menyudutkan untuk mendiamkan suaminya. Namun, sejauh ini pelajaran berharga telah Givan kantongi. Karena istrinya kini, benar-benar tidak mau disentuh dalam hal intim lagi, karena permasalahan yang ada. Givan mengambil kesimpulan, bahwa istrinya kini jijik padanya.


Tetapi, Canda hanya terbayang ketika suaminya mencumbui perempuan lain. Moodnya seketika hancur, ketika ajakan suaminya datang bertepatan dengan bayang-bayang akan suaminya menggagahi perempuan lain itu pun berseliweran.

__ADS_1


"Ayo, coba video call sama Ken. Kita obrolin, mumpung masih banyak waktunya," ucap Adinda dengan menyodorkan layar ponselnya yang sudah bebas dari kode.


...****************...


__ADS_2