Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM192. Keputusan bersama


__ADS_3

"Aku keberatan, Pah." Givan menggeleng setelah membaca isi surat tersebut.


"Loh, kenapa?" Adi heran dengan pendapat anak sulungnya.


"Ini aset Papah, aku tak ada hak. Toh, di tambang aku kan modal Papah banyak betul." Givan mengembalikan secarik kertas tersebut pada saudaranya yang lain.


"Kau anak Mamah, Van. Kau ada hak di sini," ungkap Adinda tegas.


"Iya, aku tau. Cuma, aku rasa udah cukup dari modal awal. Aku tak minta ini, Mah. Aku bukan anak Papah, aku bukan keturunan Papah." Givan cukup tau diri untuk itu.


"Kau jangan panggil aku Papah, kalau kau bukan anak Papah. Dari kecil kau Papah suapi, ceboki, masih dibilang bukan anak Papah. Jangan bikin orang tua tersinggung, Van. Ini udah keputusan Papah dan Mamah." Adi memberi ketegasan untuk anaknya.


"Kalau begitu, aku tak mau tanda tangan. Dengan Papah minta tanda tangan aku, berarti Papah kan butuh persetujuan aku."


Adi ingin mengutuk anaknya yang dari kecil sudah berani membangkang tersebut. "Sulit dikasih paham kalau anak Hendra itu!" gerutunya jelas.


Adinda menoleh ke arah suaminya. Ia tidak suka jika Givan disebut dengan anak mantan suaminya, ia lebih rela jika Givan disebut anaknya. "Anak aku!" Adinda menepuk punggung suaminya.


"Oh, iya-iya." Adi mengiyakan saja, untuk mencari keamanan dirinya.


"Apa alasannya kau harus nolak?" Adinda memusatkan perhatian dan pertanyaannya pada anaknya.


"Ya karena aku bukan anaknya Adi Riyana, sedangkan pengembang terbesarnya kan Papah. Kasarnya, Mamah cuma founder dari Papah, sedangkan Papah owner di sini. Mamah cuma kasih ide, usahakan dana, Papah yang terjun ke lapangan. Mamah kasih masukan, kasih saran pembangunan pengembangan, sedangkan Papah lagi yang mengembangkannya langsung di lapangan. Menurut aku, ya aset itu milik Papah. Meski ada kerja sama Mamah sebagai istrinya Papah di sini. Aku kan cuma anak Mamah, bukan anak kandung Papah. Di awal pun, aku udah dapat bagian ladang yang rata. Nah, ditambahkan dengan modal untuk tambang aku aja. Menurut aku, itu udah cukup untuk aku. Aku tak minta begini-begini lagi, tambahkan aja untuk anak yang harus lebih membutuhkan untuk masa depannya yang belum terbentuk. Kek Gavin, atau Gibran." Pemikiran matang Givan, merasa bahwa dirinya tidak membutuhkan support aset orang tuanya lagi untuk masa depannya.


"Kami juga dapat pembagian ladang yang rata, Bang. Menurut Papah, pembagian ladang itu untuk awal kita merintis begitu. Niat Mamah sama Papah begitu dengan ladang-ladang kita. Kalau memang kita harus jadi pengusaha di bidang usaha lain, setidaknya kita punya tabungan masa depan di ladang kopi kita. Karena ladang kopi ini kan hasilnya lama, empat tahunan kita baru merasakan hasilnya." Gibran angkat bicara mengenai pembahasan ladang yang kakak sulungnya bawa.

__ADS_1


Anak laki-laki yang ketampanannya di atas Givan itu bertutur lembut dan halus, ia berharap pendapatnya diterima dengan baik, bukan dipandang sebagai penentang.


"Iya, Bran. Tapi Abang keberatan dengan nilai yang dipukul rata itu. Abang anak orang lain, Abang tak mau hal ini jadi pembahasan kalian di belakang. Kalian pasti berpikir, bahwa Abang tak pantas dengan nilai aset yang sama dengan kalian dengan kedudukan anak tiri aja. Kalau memang anak tiri, ya udah tentukan nilainya dengan kedudukan Abang di mata hukum. Hanya sebagian, seperempat atau sepertiganya dari nilai itu begitu," terang Givan kembali.


"Udah! Udah! Kasih Chandra. Bukan kami mengharapkan nilai aset dengan nilai yang Papah dan Mamah tuliskan. Tapi, kami tak mau bahas beginian lebih dalam. Untuk apa coba??? Kalian masih sehat. Kalau memang hanya untuk pendataan aja, ya udah di mana aku harus tanda tangan? Aku tak mau ada debat-debat begini." Ghifar menggulir pandangannya satu persatu ke arah saudara-saudaranya. "Abang maunya nilainya berapa? Sisanya, nanti dikasihkan ke Chandra. Kek waktu aset yang aku punya, abusyik turunkan ke cucu laki-laki keturunan pertama dari anak bersangkutan." Ghifar memantapkan pandangannya pada Givan.


"Iya udah, begitu aja. Kalau Bang Givan tuh nanti kebanyakan drama dan cerita, satu konflik tentang Ai aja hampir dua ratus episode belum kelar-kelar. Apalagi, kalau ditambah buntut dari aset. Lama lagi nanti tamatnya. Udah ada, Pah. Sisanya kasih ke Chandra. Biar selesai gitu, tamat tak cacat," ujar Ghavi dengan cepat.


"Gimana ya lain?" Adi menanyakan anak-anaknya yang lain.


"Aku setuju-setuju aja, Pah. Aku tak masalah, suami aku sekarang udah lagi kaya juga." Celetuk Giska yang membuat semua orang terkekeh geli.


"Gimana, Cut?" Adinda mengusap bahu anak tirinya.


"Udah! Udah! Tak ada protes lagi. Suratnya minta diperbaharui aja, Pak. Atau, gimana baiknya?" Keputusan Adi tidak bisa diganggu gugat.


"Tulis tangan boleh, Pak. Biar Saya bantu, nanti tinggal ditambahkan dengan materai saja." Notaris menyimak obrolan mereka sedari tadi.


"Tapi, Pah." Givan masih kurang setuju dengan keputusan yang diambil bersama tersebut.


"Udah, kita ambil kesepakatan ini biar tak ada perdebatan lagi. Kalian semua setuju kan?" Adi menunjuk semua anaknya.


"Setuju, Pah," sahut semuanya serentak.


"Oke, biar Papah perbarui isinya. Berapa nilai dari seperempat nilai dari milik Givan, Pak?" Adi berbicara pada notaris kembali.

__ADS_1


"Saya hitung ulang dulu, Pak."


Mereka semua akhirnya membubuhkan tanda tangannya dengan sukarela. Surat keterangan pembagian aset tersebut akhirnya rampung, dengan seorang nama cucu yang begitu mahal di mata mereka. Kelak pada masanya, Chandra akan diberitahukan tentang usaha yang harus ia kembangkan nantinya.


Mereka semua bubar, saat anak-anak mereka merengek mencari keberadaan orang tua mereka. Tangis heboh anak yang mencari orang tuanya tersebut, sebagai akhir obrolan hari ini di kediaman Adinda dan Adi.


Para keturunan Adi dan Adinda melakukan aktivitasnya seperti biasanya, tanpa memikirkan tanda tangan mereka yang berada di atas materai. Mereka tidak mengharapkan harta benda milik orang tuanya, mereka hanya menginginkan orang tuanya hidup abadi membimbing mereka di dunia ini.


"Van, Nadya gimana tadi?" Adinda menahan anak sulungnya hendak pergi dari halaman rumahnya.


"Pulang, Nak. Tuh Papa tuh, sana pulang sama Papa." Givan mengalihkan perhatian Ra dari dekapannya.


"Papa, pulang." Ra merengek ke arah Ghifar yang berjalan ke arah mereka tersebut.


"Yuk, pulang. Main sama siapa sih ke sini? Nahda tak ikut kok Ra ada di sini?" Ghifar menggandeng tangan anak perempuan tersebut.


"Sama kak Jasmine." Ra melangkah pergi bersama Ghifar.


"Nadya gimana tadi, Van?" Adinda mengulangi pertanyaannya.


"Udah pulang, Mah. Zio tak mau ketemu lagi sama Nadya, responnya kurang baik. Aku pun tak nyangka, Zio tak mau dengar apapun tentang keburukan orang tuanya. Pemikirannya ini matang sekali, Mah. Dia....." Givan menceritakan semuanya tentang sisi lain dari anaknya tersebut.


Adinda manggut-manggut menyimak, dengan sesekali bertanya ulang untuk memastikan yang ia dengar. Tidak banyak percakapannya dengan Zio, membuat Adinda sedikit sulit mengenali diri anak yang tertutup sejak kecil tersebut. Padahal, ia merasa tidak pernah membeda-bedakan cucunya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2